
Siang hari ini terlihat begitu cerah, awan berarak di langit yang membiru, menemani sang surya yang tengah menyinari dunia. Panas sinarnya benar-benar menyengat, membuat siapa saja, pasti memilih berada di dalam ruangan atau berteduh di halte pinggir jalan.
Namun, semua itu tak menyurutkan semangat Nana, untuk membawakan makan siang untuk sang pacar. Ya, karena selalu sibuk bekerja, gadis itu berinisiatif untuk membawakan Juna sesuatu. Berharap lelaki itu akan senang dan bertambah semakin mencintainya.
Dengan langkah riang, Nana menapaki bumi yang berpijar. Hingga sampai di perusahaan, gadis itu baru menelpon sang pacar.
Di ruangan Alva, Juna nampak mengulum senyum. Saat ia melihat teleponnya berdering dan menunjukkan satu nama yang istimewa di hatinya.
Ia berdehem pelan, baru menggeser icon hijau di layar. "Halo?" Sapanya dengan suara secool mungkin.
"Halo Kak. Aku di depan perusahaan, bawain Kakak makan siang, aku titipin aja apa gimana?" Balas Nana, ia berteduh di bawah pohon rindang. Menghalau sinar matahari yang begitu terang menyinari bumi.
"Sudah datang kenapa tidak masuk? Aku akan menjemputmu." Ucap Juna langsung bangkit dari duduk.
"Eh, nggak usah. Biar aku yang ke ruangan Kakak." Tolak Nana.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Ya nggak apa-apa lah, emangnya kenapa?"
"Yasudah, bilang saja ke resepsionis, biar mereka mengantarmu." Final Juna, dan Nana langsung mengiyakan permintaan kekasihnya itu, lalu memutus panggilan telepon. Bersamaan dengan itu, Silvia mengetuk pintu, izin untuk masuk.
Setelah bertanya pada resepsionis, Nana melangkah menuju lift, awalnya salah satu dari wanita muda itu ingin mengantar, tetapi Nana menolak.
Ting!
Bunyi pintu lift terbuka, Nana buru-buru melangkahkan kakinya keluar. Lalu mengikuti petunjuk yang resepsionis itu berikan, tentang letak ruangan bos besar, yang pastinya ada sang pacar.
Gadis itu mengembangkan senyum, ia kembali menata penampilannya sebelum bertemu Juna. Ia melangkah dengan anggun, tetapi anehnya pintu ruangan itu sedikit terbuka.
Dengan dada yang berdebar-debar, dan senyum yang mengembang, Nana mengetuk pintu seraya menyembulkan kepalanya.
"Per—"
__ADS_1
Deg!
"KAK JUNA!" Pekik Nana marah, membuat kedua orang yang sedang berada di ruangan tersebut terlonjak kaget.
Bukan tidak punya alasan gadis manis berambut sepinggang itu berteriak. Saat ia menyembulkan kepala, hal yang ia lihat adalah sang pacar yang sedang memegang pinggang seorang wanita.
Lantas, dengan nafas memburu, Nana masuk tanpa meminta izin pada kekasihnya, ia langsung menarik pergelangan tangan Silvia hingga di ambang pintu.
Plak!
Tangan mungil itu terangkat, mengayun dan landas di pipi mulus Silvia yang terhalang blush-on.
"Dasar pelakor! Seenak jidat ngrebut pacar orang lo yah. Emangnya lo nggak laku apa? Hah? Lo tuh cantik, tapi sayang kelakuannya kaya setan!" Cercau Nana dengan amarah yang memuncak, tak hanya Silvia yang terkejut mendengar makian serta tamparan itu.
Pun dengan Juna yang terlihat melongo, menyaksikan kelakuan bar-bar pacarnya.
"Maksud anda apa, Nona?" Ketus Silvia tidak terima dituduh seperti itu. Tadi ia hanya menyerahkan berkas kerja sama, lalu saat ia berdiri, tak sengaja kakinya tergelincir, dan Juna reflek menangkapnya. Tapi kenapa dia malah ditampar dan dituduh sebagai pelakor?
"Dih, najiss! Pake belaga polos. Harusnya gue yang nanya, kenapa lo ada di ruangan pacar gue hah? Lo siapa?" Tudingnya tak kenal takut, tak peduli meski Silvia terlihat jauh lebih tua darinya. Yang namanya pelakor tetap pelakor, nggak ada kenal usia. Batin Nana mantap.
"Heh, udah ditampar masih aja ngelirik-ngelirik cowok gue. Pergi sono, mau gue gibeng? Jangan lo pikir gue takut yah. Umur aja yang tua, tapi kelakuan kaya bocah." Maki Nana sekali lagi, bola matanya nyaris loncat dengan tangan yang bertolak pinggang.
"Sayang." Panggil Juna ingin melerai, ia sudah sangat kesulitan untuk menelan salivanya sendiri melihat tingkah Nana dari tadi.
"Sayang?" Beo Silvia lagi, belum mengerti sama sekali.
"Diem! Kak Juna juga apa-apaan sih pegang-pegang cewek lain? Sengaja biar aku liat?" Rengek Nana lengkap dengan bibir mengerucut manja. "Jahat tahu nggak!"
"Na, aku bisa jelasin!"
"Jelasin apa? Jelasin kalo kamu punya hubungan sama dia?" Tunjuk Nana tepat di depan wajah Silvia. Niat ingin marah, wanita itu malah menonton perdebatan Nana dan Juna.
"Bukan seperti itu, Nana. Kita—"
__ADS_1
"KITA?" Intonasi semakin tinggi. "Jadi Kakak beneran punya hubungan sama dia, sampe ada kata 'kita' segala? Berarti ucapan Kakak waktu bohong? Katanya cuma cinta sama Nana, mana buktinya? Kenapa sekarang kaya gini? Kakak cuma mainin hati Nana, iyah?" Rancaunya tanpa henti, bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Siap menumpahkan bulir-bulir bening tanda kekesalannya.
"Kakak jahat banget tahu nggak! Harusnya dari dulu sampe sekarang Nana nggak percaya sama Kakak. Kakak tuh emang bener-bener buaya. Cocok sama dia!" Lagi, tangannya menuding ke arah Silvia yang sedari tadi bergeming. Kali ini ia sudah terisak-isak, terprovokasi oleh pikirannya sendiri.
"Nana. Dengerin aku dulu!" Pinta Juna mencoba meraih telapak tangan gadisnya. Tetapi sayang, tangan besar itu langsung di tepis, bahkan menyisakan rasa sakit, karena Nana benar-benar sangat kuat.
"Nggak usah pegang-pegang aku, pegang dia aja sana!" Ucapnya dengan sesenggukan. "Apa lo liat-liat! Pergi sana, udah diusir juga masih aja disini, nggak tahu malu banget sih." Sindirnya pada Silvia yang nampak mengulum senyum kecil.
Merasa lucu dengan tingkah abege yang ternyata kekasih dari lelaki di depannya. Juna menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ada rasa malu, bercampur senang melihat kecemburuan Nana.
Apalagi saat melihat gadis itu tanpa segan menampar Silvia. Wah, sepertinya kelak Juna tidak akan bisa selingkuh dari gadisnya, bisa-bisa pas bangun tidur burung Juna sudah hilang entah kemana.
"Mas, aku pergi dulu yah." Ucap Silvia iseng dengan mengedipkan sebelah mata, genit.
Tidak tahu, kalau tingkahnya justru membangunkan macan yang hampir saja terlelap. "Dasar pelakor nggak tahu diri!" Memekik seraya menarik kuat rambut Silvia yang dikuncir membentuk cepolan, hingga wanita itu mengaduh kesakitan.
"Aw! Tuan tolong!" Pekik Silvia meminta pertolongan dari amukan Nana.
"Jangan harap lo bisa minta pertolongan sama pacar gue, cewek udik yang suka ngumbar selangkangaan, gue nggak takut sama lo." Nana semakin menjambak rambut indah itu, hingga terlihat sangat acak-acakan, ia tidak peduli lagi pada Juna yang berusaha melerai.
"Sayang, cukup!" Pinta Juna seraya menarik tubuh Nana supaya menjauh dari Silvia, tetapi seperti dirasuki setan, tangan Nana terus menggapai-gapai. "Sini lo! Pelakor!"
"Sayang dia bukan pelakor!" Tegas Juna, sambil memeluk pinggang Nana yang masih terus ingin berlari ke arah Silvia.
"Kamu belain dia?"
"Bukan belain, tapi emang dia bukan pelakor, dia sekretaris Tuan Alva."
"Apa?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like dan komennya, biar Dede othor makin semangat anu, eh anu🙈
__ADS_1
Ada yang kangen Juna nggak?