Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Aku wujudkan


__ADS_3

Lelaki paruh baya itu terduduk di lantai. Menumpu tubuhnya di kedua lutut, meminta pengampunan. Ini memang bukan salahnya, tetapi sebagai seorang ayah, ia tidak mungkin tega, membiarkan putrinya dalam masalah.


Mario, ayah dari Yolanda, langsung mendatangi rumah Jonathan, ia tidak perlu berpikir panjang siapa yang sudah memberitakan perbuatan putrinya.


Ia jelas tahu, lelaki tua itu bahkan sudah mewanti-wanti dirinya, agar Yolanda tidak bertindak bodoh, tetapi sekarang? Yolanda seperti tidak punya telinga, karena mengabaikan nasehatnya hari itu.


"Jo, aku mohon. Aku mohon jangan bawa putriku ke ranah hukum." Pinta Mario mengiba, ia benar-benar merasa gagal sebagi seorang ayah.


Selama ini, ia sudah begitu membebaskan Yolanda, dan selalu sibuk dengan pekerjaannya, ia tidak memantau sama sekali kehidupan sang putri, yang ia anggap baik-baik saja.


Jonathan bangkit dari kursi ruang belajarnya, melihat Mario yang terduduk seperti itu, justru membuatnya merasa tak nyaman.


"Duduklah di kursi." Pinta Jonathan, jika harus berlutut, harusnya wanita medusa itukan? Orang yang telah membuat kekacauan.


Mario patuh, dengan raut wajah penuh rasa bersalah, ia duduk tepat di depan Jonathan. Netra sayu itu tampak berkaca-kaca.


"Jo, aku benar-benar minta maaf, tapi aku mohon berikan Yola satu kesempatan lagi." Pintanya lalu tertunduk.


Sebagai rekan yang sudah cukup lama saling mengenal, Mario tahu bagaimana sikap Jonathan, ia tidak akan segan lagi jika lawannya terus membangkang.


"Apa hari itu kau tidak menasihatinya?" Tanya Jonathan santai, menyesap sedikit teh yang terhidang. Lalu menatap dengan tatapan seksama, mantan calon besannya.


Sebelum menjawab Mario menghela nafas, lalu kembali meneguk ludahnya getir. "Aku sudah menasehati dia supaya tidak mengusik putramu, atau apapun itu. Aku benar-benar sudah memberitahunya, Jo. Tapi dia..." Menjeda, ia menggeleng tak habis pikir. "Dia memilih jalannya sendiri, dia tidak mendengarkanku. Tapi sebagai seorang ayah, kau juga pasti tahu bagaimana rasanya menjadi aku, iyakan, Jo?"


Lagi, Jonathan mengangguk santai. Lalu mencoba untuk menimang.


"Aku mohon, maafkan Yolanda, ini untuk yang terakhir kalinya, kedepannya aku akan mengurus dia dengan baik." Ucapnya yakin.


Jonathan menarik satu sudut bibirnya keatas. "Jangan hanya Yolanda yang kau urus dengan baik, tapi putri bungsumu juga. Kau tahu? Dia juga terlibat, aku tidak tahu dia memiliki masalah apa, tapi nyatanya, dia juga mengikuti jejak Yolanda." Terangnya mencelos.


Mendengar itu, kelopak Mario melebar, rasa terkejut itu seperti tak habis-habis. Kenapa bisa seperti ini? Batinnya.


"Kalo aku tega, aku pasti memberikan kejutan juga padanya, tapi sayangnya dia masih belum cukup umur. Jadi, aku minta jaga dan ajari keduanya. Bukankah kita sudah impas?"


Mario mengangguk cepat.


"Kau sudah mengenalku cukup lama Mario. Jadi, aku rasa, aku tidak perlu lagi memberitahumu tentang prinsipku."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Plak!


Plak!


Plak!


Tangan besar itu berkali-kali menampar pipi mulus Yolanda yang terus basah karena air mata. Sepulangnya dari rumah Jonathan, Mario langsung menjemput sang putri di apartemennya.


Ia membawa beberapa pengawal, sehingga bisa keluar dari kerumunan wartawan yang haus akan berita.


Kemarahannya memuncak, ia sudah tidak punya harga diri lagi di depan semua orang. Khalayak umum pasti sedang membicarakan tentang dirinya yang tidak bisa mendidik anak.


Yolanda terkulai di atas lantai, ia masih terus terisak.


"Bagaimana kau bisa seceroboh itu Yolanda?" Tanya Mario, menatap putri sulungnya dengan mata menajam, sama sekali belum melunak.


Kini keduanya di kamar wanita muda itu, hanya berdua karena Mario tidak mengizinkan sang istri dan anak bungsunya untuk masuk.


"Pa, harusnya Papa sudah tahu kenapa aku melakukan ini semua? Lihat! Bahkan belum lama Alva membatalkan pertunangan, dia malah menikah, dia malah bahagia dengan selingkuhannya, sedangkan aku? Hah, bukankah ini tidak adil?" Cercaunya tidak tahu malu.


"Tapi aku tidak terima, Alva itu brengsekk Pa!"


Plak!


Air mata Yolanda kembali mengucur deras, tetapi bersamaan dengan itu ia tertawa, tawa yang memilukan.


"Apa Papa membelanya? Apa karena Papa takut bisnis Papa akan hancur? Papa memang bukan Papa yang baik buat Yolanda. Yang Papa pikirkan hanya uang, uang dan uang." Ucap Yolanda remeh.


Mendengar itu, darah dalam tubuh Mario semakin mendidih, ia melangkah mendekati Yolanda, dan mencengkram kuat rahang itu.


Wanita muda itu meringis, jari-jari ayahnya benar-benar menacap hingga membuatnya kesakitan.


"Kau tahu siapa yang membeberkan kelakuan busukmu? Itu bukan Alva, tapi Jonathan!" Ucap Mario penuh penekanan, membuat netra Yolanda terbelalak. " Kalau saja aku tidak memohon, dan bersujud di kakinya, kau sudah mendekam di penjara Yolanda. Dan sekarang kau bilang, aku bukan Papa yang baik? Begitukah? Jika iya, maka akan ku wujudkan perkataanmu." Mario melepas cengkramannya dari rahang Yolanda dengan kasar.


Bekas kemerahan itu nampak jelas.

__ADS_1


Kini, Mario berganti membuka sabuk yang terpasang di celananya. Membuat Yolanda kembali melebarkan kelopak matanya, ia beringsut mundur, waspada dengan apa yang akan di lakukan oleh sang ayah.


Sabuk kulit itu sudah sukses di tangan Mario, ia memecutkannya beberapa kali ke lantai. Suaranya terdengar nyaring, dan begitu mengerikan di telinga wanita muda itu.


Ia merutuki ucapannya, ia sudah salah bicara. Pasti ayahnya sangat sakit hati, dan marah kepadanya.


"Kau bilang aku bukan Papa yang baik untukmu kan? Yah, aku memang bukan Papa yang baik. Maka dari itu, jangan macam-macam denganku. Berpikirlah sebelum bertindak, jika kau tidak ingin menyesal."


Dan cashhhhh!


"Arghhhhhh...." Yolanda menjerit, saat pucuk sabuk kulit itu mengenai lengannya, ia semakin terisak kencang, merasakan sakit di sertai rasa perih secara bersamaan.


"Pa, maafin Yolanda, Pa."


Namun, seperti sudah dirasuki roh jahat, Mario tidak memperdulikan apapun, telinganya seakan tuli dengan rengekan sang putri.


Tangannya terus bergerak, mengarahkan sabuk itu ke badan Yolanda. Ia hanya mengikuti emosinya, ucapan Yolanda terus terngiang-ngiang membuatnya tak bisa berpikir waras.


"Pa!"


Cashhhhh!


Untuk yang terakhir kalinya, lantas Mario membuang sabuk itu sembarangan, dan kembali mendekat ke arah Yolanda dan menarik dagu wanita muda itu.


"Kau sudah lihat? Aku bukan Papa yang baikkan? Ha ha ha ha." Tertawa sarkas.


"Pa, maafin Yola." Ucapnya sesenggukan, ia menahan rasa sakit di tubuhnya, dan berusaha untuk tidak bicara yang tidak-tidak.


Sekali lagi ia memaki ataupun mengumpat, ia yakin, Mario akan menghabisinya hari ini juga.


"Heuh? Kau tidak mau mengata-ngataiku lagi?" Mencengkram semakin kuat.


Yolanda menggeleng cepat dengan berurai air mata, ia salah memberi umpan, bukannya mendapat ikan, malah buaya yang menerkam.


"Kali ini aku maafkan, tapi tidak lain kali. Dengarkan aku baik-baik, bersikap patuhlah mulai sekarang, kalau tidak? Aku benar-benar akan menjadi sosok yang tidak pernah kau bayangkan."


Glek!

__ADS_1


Yolanda menelan salivanya berat, sedangkan Mario bangkit, hendak pergi meninggalkannya.


"Sebagai hukuman, kartu debitmu aku blokir selama satu bulan."


__ADS_2