Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
99 persen dan 1 persen


__ADS_3

Dua hari terasa cukup untuk Alva terlepas dari pekerjaannya. Hari ini, lelaki itu akan mulai bergulat kembali dengan tumpukan-tumpukan kertas, gulatan yang membuat otaknya memanas dan terasa di peras.


Kalau di suruh memilih, dia lebih suka bergulat diatas ranjang dengan istri kecilnya, mau sehari semalam, ia pastikan tidak akan pernah ada kata bosan.


Juna, asisten yang di limpahkan tanggung jawab penuh selama Alva tidak ada. Kini terlihat menjemput seperti biasa, karena Alva dan Chilla memutuskan tinggal di apartemen untuk sementara.


Awalnya kedua orang tua mereka kompak menolak, namun kembali lagi pada keputusan Alva sebagai kepala rumah tangga, membuat mereka tak bisa seenaknya memerintah. Dan keputusan final, Alva akan membeli sebuah rumah dekat dengan orang tua mereka.


Ia akan memulai kehidupan barunya, berdua dengan sang istri, sambil menanti sosok bayi mungil hadir di tengah-tengah mereka.


Tak hanya Alva, gadis berponi itupun ikut terlihat rapih, dengan balutan dress berwarna peach, rambut dibiarkan tergerai indah, selalu membuatnya mempesona.


"Jun, hari ini Chilla akan ikut denganku. Aku minta, begitu aku sampai, kumpulkan semua karyawan, karena aku akan memperkenalkan Chilla sebagai istriku." Jelas Alva, menatap penuh cinta gadis manis yang tengah tersenyum ke arahnya.


Lelaki itu mengusap surai hitam milik istrinya, dan meninggalkan kecupan disana.


"Baik, Tuan." Juna mengangguk patuh, lalu membukakan pintu mobil untuk Tuannya.


Chilla membawa sekotak strawberry, untuk menemani perjalanannya menuju perusahaan. Entahlah semenjak hamil, ia selalu merasa lapar, tetapi anehnya ia hanya ingin sesuatu yang terasa segar. Begitu duduk, tubuhnya langsung di hinggapi tangan besar Alva yang melingkar sempurna.


Kepala bersandar di bahu, sedang mulutnya minta di suapi strawberry yang ada di tangan Chilla. Sedang mendefinisikan dunia milik berdua.


Alva memonyongkan bibirnya, buah kecil yang memiliki rasa asam manis itu masih ada disana. Terus memajukannya hingga menyentuh mulut istrinya.


Tahu maksud Alva, Chilla melirik ke arah kursi kemudi. Membuat lelaki yang memiliki tingkat kesabaran rendah, menarik paksa tengkuknya dan menelusupkan buah itu kedalam mulut istrinya. Lumaat-lumaat sebentar, lalu melepas diri.


"Bagaimana? Enakkan?" Tanyanya dengan wajah khas tanpa dosa, menjilati bibirnya yang basah, bekas penyatuan dengan bibir sang istri.


"Ayo bilang enak." Titah Alva memaksa.


"Iya sayang ini enak, enak sekali, membuatku mau lagi dan lagi." Ucap Chilla di lebih-lebihkan.


Alva mengulum senyum. "Padahal aku hanya ingin menyuapimu dengan bibir hanya sekali, tapi karena kau begitu senang, ayo coba lagi, pakai bibirmu."


Eh! Sepertinya Chilla sudah salah bicara.


"Ayo buktikan, katanya kau mau lagi." Nadanya mulai merengek.


"Sayang disini—"


"Jangan hiraukan saya, Nona." Potong Juna, tahu kalau gadis itu merasa tidak enak kepadanya. Sedangkan lelaki tidak tahu malu itu hanya tersenyum tipis, menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Apa Kak Juna juga mau?" Tanya Chilla setelah melakukan apa yang Alva inginkan.


"Hei, siapa yang mengizinkanmu bicara dengannya? Bahkan kau menyebut nama lelaki lain didepanku? Kau tidak ingat semalam?" Sambil mengunyah strawberry Alva protes.

__ADS_1


"Bahkan Kak Juna juga tidak boleh?" Tanya Chilla.


"Haish. Dua kali kau mengucapkannya, entah sebanyak apa hukumanmu sekarang. JU—NA." Alva mengeja. "Empat huruf, kau menyebut dua kali, berarti empat di kali dua." Lelaki itu menghitung, lalu menunjukkan jarinya menjadi angka delapan. "Kau harus menciumku delapan kali." Tegas Alva.


"Sayang, tapi tidak disini."


"Kenapa? Kau malu menciumku di depan lelaki lain? Jangan-jangan kau menyembunyikan sesuatu dengan Juna?" Menyipit dan menyelidik.


Muah muah muah..


Akhirnya Chilla memberikan yang Alva mau tanpa membantah, masa bodo Juna melihatnya, bukankah memang sudah sering lelaki itu memergoki kelakuan Alva.


Menyeringai lalu mengusak kepala Chilla ."Pintarnya, tapi kenapa hanya di pipi, disini belum, yang disini juga mau." Menyentuh bibir, mengerucut.


Haish, kenapa suamiku tambah agresif seperti ini?


Muah. Alva yang lebih dulu menyambar seraya memberi sedikit tekanan.


"Kau terlalu lama." Menyender kembali di bahu Chilla, sambil mengendus-endus leher putih itu. Sedangkan Chilla hanya bisa meneguk ludahnya dengan wajah kikuk, merasakan tubuhnya meremang-remang tidak karuan.


"Tuan, apa anda tidak mau pergi bulan madu?" Tanya Juna tiba-tiba, karena jujur saja, Juna akan lebih tenang jika bekerja tidak ada lelaki tempramental satu ini, apalagi mereka sudah menjadi suami istri, ah pasti akan banyak drama kedepannya. Lebih baik ia lelah karena bekerja, daripada harus menonton sajian kemesraan mereka.


Nana Sayang, tolong aku.


"Ah iya Sayang, apa kita tidak pergi bulan madu?" Tanya Chilla antusias, ia juga ingin merasakan bulan madu seperti pengantin baru pada umumnya.


Chilla mengangguk cepat.


"Baiklah, Jun siapkan tiket bulan madu, pilih tempat yang paling romantis, indah dan pastinya nyaman untukku melakukannya, bila perlu yang tidak ada orang." Terang Alva.


Hei, pergi saja sana ke kuburan.


"Sayang kenapa memilih yang tidak ada orang?"


"Agar kita bisa fokus, Sayang."


"Fokus apa? Apa kita akan belajar disana?"


Alva membenarkan posisi tubuhnya. "Hem, kita akan belajar gaya baru. Yang pastinya membuatmu selalu mendesaah sambil menyebut namaku."


Plak! Chilla reflek menggeplak tangan suaminya, mulai mengerti arah tujuan pembicaraan Alva.


"Kenapa memukulku? Kau mau jadi istri yang durhaka?"


"Haaa! Maaf, maaf. Aku tidak sengaja Sayang." Mengusap bagian yang telah di pukulnya. Lalu muah muah agar tidak marah.

__ADS_1


"Sudahlah, kembali ke bulan madu. Jadwalkan dengan kegiatan 99 persen di kamar dan 1 persen di luar."


Apa-apaan dia ini? Untuk apa pergi bulan madu jika 99 persen hanya didalam kamar?


"Juna." Pekik Alva melihat asistennya hanya bergeming.


"Ah, baik Tuan."


Mulut Chilla tak berhenti menganga. "Sayang, kenapa kegiatan di luar hanya 1 persen? Dan kebanyakan didalam kamar? Bukankah itu membosankan?"


"Tidak akan, selagi bersamamu." Berkedip nakal dan tersenyum menggoda.


Mendengarnya saja Chilla sudah bergidik ngeri, apalagi kalau sampai itu benar terjadi, ah tidak sebisa mungkin ia harus menggagalkan keinginan Alva.


"Tapi Sayang, kita mau melakukan apa?" Bertanya dengan sedikit kesal, namun langsung berubah merendah saat Alva menatapnya dingin.


"Kau ini tahu tidak apa tujuan bulan madu?"


"Bukankah nama lain dari jalan-jalan?"


"Hah, tidak hanya itu, tujuan sebenarnya adalah fokus." Tunjuk Alva pada hidung mancung istrinya. "Fokus membuat bayi, tanpa ada yang mengganggu. Sekarang kau mengerti?"


"Tapikan kita sudah memilikinya."


"Haish, ya kita fokus membesarkannya lah. Kau ini bagaimana? Harusnya kau sebagai ibu mengerti, kalau dia senang saat kita menjenguknya."


Bedebah, mereka ini membicarakan apa?


Chilla nampak mencerna ucapan Alva. "Apa itu artinya dia akan berkembang dengan baik didalam sana?"


Klak! Alva menjetikan jarinya. "Tebakanmu benar, jadi ingat, saat aku memintanya jangan pernah menolak, selain kau berdosa, kau juga menyakiti baby kita, karena dia akan menangis." Ujar Alva di bubuhi wajah sedih. "Tapi aku percaya, kau adalah Mommy yang baik, kau tidak akan melakukan itu pada baby kita kan?"


Mendengar itu, Chilla mengembangkan senyum. "Tentu saja tidak, kalau begitu Chilla akan menuruti semua apa kata Kakak." Ucapnya seraya memeluk erat kepala Alva.


Juna terlihat memijat pelipisnya. Mulutnya sudah gatal ingin mengumpat. Sebenarnya suaminya yang terlalu pintar, atau istrinya yang bodoh, kenapa percaya begitu saja, dasar pasangan, ah aku ingin memaki mereka.


Wajah kesal Juna terbawa hingga mobil itu mulai memasuki area perusahaan. Di lihatnya halaman penuh oleh orang-orang yang membawa kamera, berkerumun menunggu seseorang orang datang, dan bisa di tebak mereka adalah para pemberondong berita viral, tetapi untuk apa mereka ada disana?


"Jun, ada apa ini?"


...****************...


Jangan lupa hari ini hari Senin, tekan like, komen, vote dan berikan hadiah kalian🎉🎉🎉


Mau jadi strawberrynya🙈🍓

__ADS_1




__ADS_2