
Sepulang sekolah, Beby berniat untuk ikut ke markas yang biasa menjadi tempat untuk Genk motornya berkumpul, karena dia tidak membawa Jordy alhasil Beby menumpang pada Yosi.
Dia pun berniat untuk menceritakan semua kejadian kemarin pada ketiga sahabatnya itu. Rasanya dia tak sanggup jika harus memendamnya sendiri, padahal apa susahnya menerima Shaka sebagai suaminya?
Tapi Beby tetaplah Beby, gadis kepala batu yang sulit sekali diberi tahu, bahwa pucuk daun itu lebih bergairah dari pada daun tua yang hampir jatuh ke tanah.
"Sini gue aja yang nyetir!" ucap Beby pada Yosi yang sudah mengambil motornya dari parkiran.
Yosi langsung turun, dan menyerahkan kunci itu pada Beby. Keduanya melandas ke jalan raya bersama Ale dan juga Bambang.
Beby yang sedang labil-labilnya menarik gas cukup tinggi secara tiba-tiba, membuat Yosi yang berada di belakangnya hampir saja terjungkal dan reflek memeluk tubuh Beby sangat erat.
"Goblokk! Kalo mau mati jangan ngajak-ngajak ngapa, Beb!" maki gadis itu, jantungnya seperti mau copot, untung dia langsung berpegangan.
"Lu yang goblokk bege! Ngapain pegangan tette gue?" Beby memekik, karena merasa buah dadanya diremass oleh Yosi, kurang ajar!
Mendengar itu, Yosi langsung nyengir dan menurunkan tangannya, lalu beralih memegang pinggang Beby. "Sorry, Beb. Gue reflek." Ucap gadis itu cekikikan.
Sementara Beby lagi-lagi teringat dengan Shaka, teringat saat lelaki tampan itu dengan sengaja mengulum jambu kristalnya yang unyu-unyu dengan penuh kelembutan. Dan hal itu membuat tubuh bagian bawahnya berkedut tiba-tiba.
Sialan, sialan! Otak gue konslet beneran gegara tuh orang. Dijampe apa sih gue, sampe keinget Tyrexnya mulu. Lama-lama gue yang bakal p*rkosa dia, kalo gini ceritanya.
Beby terus merutuk, fokusnya terbagi pada jalanan dan benda panjang milik Shaka. Hingga dia malah salah arah, harusnya belok ke kanan Beby malah terus lurus ke depan.
"Beb!" Yosi memukul punggung Beby untuk menyadarkan sahabatnya itu.
Namun, Beby masih bergeming, dia terus menjalankan bebek besi itu sesuai kehendaknya.
"Beby!!!" teriak Yosi lebih kencang, dan pukulan itu semakin terasa.
Membuat Beby seketika tersadar, bahwa jalan yang dilaluinya itu salah. Kan, beneran otak gue udah ke cuci sama si Tua Bangka, jalan aja ampe salah.
Tanpa menanggapi ucapan Yosi, Beby segera memutar arah, untuk kembali ke jalan sebelumnya. Yosi yang ada di belakangnya hanya bisa mengernyit bingung, ada apa sih dengan sahabatnya? Kesambet kali yah?
__ADS_1
Hingga tak berapa lama kemudian, akhirnya mereka sampai di sebuah gedung yang di depannya dipenuhi dengan jajaran motor.
Beby dan ketiga sahabatnya sudah bergabung semenjak mereka masuk ke SMA, itu artinya mereka hampir tiga tahun menjadi Genk motor di sana.
Keempat orang itu masuk setelah menyapa semua teman-teman mereka, lalu duduk di sofa.
Beby segera menyandarkan kepalanya yang terasa berat, lalu menatap ke samping di mana Yosi berada. "Yos." Lirih gadis itu dengan bibir mengerucut.
"Ape?" balas Yosi.
Namun bukannya menjawab, Beby justru melirik ke arah Ale dan Bambang. "Le, Bam!" lirihnya lagi tambah mengerucut.
"Ngapa sih lu?" tanya Ale dengan kening yang mengernyit, dia merasa Beby jadi banyak teka-teki yang membuatnya pusing.
"Iya lu kenapa? Lu juga belum cerita yang masalah dikawinin itu, cerita lah," timpal Bambang pula.
Beby menegakan duduknya terlebih dahulu, lalu menatap ketiga sahabatnya. Dia menghela nafas panjang. "Itu dia yang bikin gue pusing."
"Ya pusingnya kenapa Beby?" tanya Yosi pelan-pelan.
"Emangnya lu dijodohin sama siapa sih? Jelek orangnya?" tanya Ale penasaran.
Beby menggeleng.
"Miskin?"
Beby menggeleng.
"Tua?"
Beby mengangguk.
"Aduh, tinggal sebutin siapa orangnya, Beb. Gue malah jadi ikutan pusing!" keluh Yosi.
__ADS_1
"Itu abangnya Gattan," jawab Beby lirih dengan mimik wajah sedih.
"WHAT?" kompak ketiga orang itu.
"Gila, abangnya Gattan lu tolak? Pengusaha sukses, ganteng, mapan, bodi aduhai, ya Tuhan... Lu carinya yang kaya apa Beby?" rutuk Yosi langsung menjabarkan kelebihan Shaka.
Kalau seumpama dia yang dijodohkan, belum ditanya saja rasanya dia ingin menjawab IYA.
Siapa yang tidak mengenal lelaki tampan nan mapan itu?
Beby mendesah kecil. "Lu tahu siapa yang gue suka." cetusnya.
Yosi tepuk jidat. Sementara Ale dan Bambang melongo dan saling pandang.
"Lu masih suka sama Daddy-nya Gattan?" tanya Bambang.
Dengan bibir mencebik Beby mengangguk. "Ya, apa salahnya sih?"
"Ya salah lah Beby, lu udah dinikahin ama anaknya, Daddy Alva udah jadi mertua lu, lah lu nya masih kagak terima aja. Lagian gantengan Kak Shaka kemana-mana." Cetus Yosi menggebu.
Lalu dibenarkan oleh Ale dan Bambang.
"Love is blind, Yos!"
"Itu mah bukan buta lagi, kagak punya mata!" Ale menimpali, rasanya dia juga ikut heran. Lelaki tampan nan mapan saja bisa kalah dengan pesona pria tua.
"Terus sekarang lu maunya gimana?" tanya Yosi.
"Gue pusing, gue udah dicekokin pisang tanduknya Yos, Le, Bam."
"Lu udah jebol?" tanya Bambang dengan kening mengernyit.
Beby menggeleng. "Hampir."
__ADS_1
"Terus yang lu bikin pusing apa?" timpal Ale dengan mulut menganga.
"Gue suka sama bapaknya, tapi penasaran sama pisang tanduk anaknya, huaaaaaa!"