Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Maafkan aku calon istriku


__ADS_3

Saat sudah cukup tenang, Chilla menengadah menatap wajah Alva. Dengan matanya yang cukup sembab, gadis itu mengukir senyum.


Ia berjinjit dan menangkup rahang Alva untuk mengecup bibir lelaki itu sekilas.


Namun, langkah itu sepertinya salah, karena kini Alva menuntut ciuman di bibir Chilla.


Ia menundukkan kepala, dan dengan kemahirannya ia mulai mencecap rasa manis di bibir gadisnya. Meraup dengan kasar hingga keduanya saling terpejam, menikmati pagutan yang mereka ciptakan.


Hingga kini, kesunyian itu beralih dengan suara decapan-decapan yang tak habis-habis.


Alva melumaat kasar bibir bawah dan atas Chilla secara bergantian. Sampai meninggalkan rasa kebas, tetapi Alva belum juga puas.


Lelaki itu menggiring tubuh gadisnya ke atas sofa, hingga tubuh keduanya meringsek secara bersamaan. Kedua tangan Alva menumpu bobot tubuhnya agar tak terlalu menindih tubuh mungil Chilla.


Bersamaan dengan itu, lidah tajam Alva menerobos masuk, mengabsen setiap deretan gigi yang berbaris rapih. Tak hanya tinggal diam, Chilla membalas apa yang Alva lakukan.


Nafas keduanya memburu begitu pagutan itu terlepas, namun tak lama dari itu sebuah rintihan terdengar, kala Alva menggigit gemas ceruk leher Chilla. Sedangkan tangan gadis itu hanya bisa meremat dada bidang Alva menahan rasa yang Alva berikan untuknya.


Kalau sudah begini, Chilla jelas tahu apa yang diinginkan sang kekasih.


Gadis itu menggeliat erotis, dan membusungkan dada. Menyadari itu, dengan cepat Alva membuka setengah pakaian Chilla, dan meraup dua bukitan yang telah berhasil di lucutinya.


Chilla meraung keras, saat Alva menggigit dan menghisapnya dengan manja. Sensasi ini membuat getaran di tubuh keduanya tersulut, tanpa bisa mendefinisikan kenikmatannya dengan kata-kata.


"Sayang," desis Chilla saat Alva terus menusuk-nusuk bagian bawah tubuhnya.


Gadis itu tak ingin hanya jari, tetapi menginginkan yang lebih besar dari ini.


Tahu akan keinginan gadisnya, dengan cepat Alva membuat penyatuan, di atas sofa sana, keduanya kembali berbagi peluh dengan gairah yang menggelora.


Alva begitu tahu cara memuaskan gadisnya, dibawah sana Chilla terus mengerang, merancau meminta Alva memasukan miliknya lebih dalam.


Alva semakin bersemangat, ada gejolak aneh dalam hatinya, rasanya membahagiakan sekali bisa kembali bercinta dengan gadis kecilnya.


Ia mencoba mencari jawaban, namun tak kunjung ada juga. Sampai akhirnya, ia menyerah. Menyerah pada takdir yang akan membawanya.


"Aku akan mencobanya sayang," bisik Alva tepat di telinga Chilla yang tengah mendesaah. Ia menautkan jari-jarinya dan terus memacu kecepatan.


Aku akan mencobanya, mencoba mencintaimu, seperti yang kau bilang. Dan aku harap suatu hari kau tidak akan terluka. Karena kini aku sadar, kau adalah sesuatu yang tidak bisa aku lepaskan.

__ADS_1


Chilla tidak terlalu mendengar dengan jelas apa yang Alva katakan, dirinya sudah di ambang batas kesadaran. Ledakan itu hampir saja meletup, ia meremat kuat kedua telapak tangan Alva, dan melemah saat nirwana telah berhasil di sambanginya.


Bukan lagi basah, sepertinya dibawah sana sudah banjir bandang akibat lahar panas keduanya.


"Lagi?" Tanya Alva seakan tak merasa lelah. Padahal terlihat jelas peluh itu menetes memenuhi dada Chilla yang terbuka.


Gadis manis yang ada dibawah tubuhnya tak menjawab ucapan Alva dengan kata-kata, ia justru menarik kepala lelaki itu untuk sekali lagi meneguk tubuhnya.


Menyadari tingkah gadisnya, Alva mengulum senyum, lalu kembali melancarkan serangan, menuntun keduanya menuju puncak kenikmatan.


******


Sedangkan di lain tempat, Juna kembali membawa mobilnya, mencari hotel terdekat setelah ia membeli sesuatu untuk aktivitasnya malam ini.


Karena keduanya telah sepakat, Yola menyerahkan tubuhnya dan Juna mengatakan semua rahasia Alva.


"Jun, disana," tunjuk Yola pada hotel bintang lima yang berhasil ditemukannya.


Juna tersenyum sumringah, ia mengelus puncak kepala Yola lalu membawa mobilnya ke tempat yang mereka tuju, tempat yang akan menjadi saksi bisu diantara keduanya.


Setelah melakukan check-in Juna langsung menggandeng tangan Yola untuk menuju kamar yang mereka pesan.


Di kamar itu, Juna langsung membuka jas yang melekat di tubuhnya. Menyisakan kemeja yang mencetak jelas otot-otot perut, yang membuat milik Yola berkedut.


Tak langsung pada inti, Juna justru menuangkan anggur yang ia pesan ke dalam gelas, dan mencampurkan dengan sesuatu yang sudah ia beli, lalu memberikannya pada Yola.


Kini, Juna duduk di tepian ranjang, memangku sang wanita yang tengah tersenyum lebar.


"Minumlah, aku sudah mencampurkan obat itu kedalam sini," pinta Juna dengan tatapan yang menghanyutkan.


"Kenapa aku harus meminumnya juga?" Tak langsung menurut, Yola justru bertanya.


"Aku ingin kita sama-sama puas malam ini, kau mau kan bermain denganku sampai pagi?" Ucap Juna mulai menggoda, ia bahkan mendekatkan wajahnya ketika bicara.


Membuat terpaan nafasnya berhasil membangunkan bulu roma milik Yola.


Yola menyambut keinginan Juna dengan anggukan kepala, dengan cepat ia meneguk apa yang ada dalam genggamannya.


Setelah satu gelas itu tandas, Yola lebih dulu merampas bibir Juna, lelaki itu terhenyak, namun secepat kilat ia menetralkan kembali keterkejutannya.

__ADS_1


"Kapan kamu akan bicara tentang rahasia Alva Jun?" Tanya Yola begitu ia menghentikan ciumannya, ciuman yang sama sekali tidak di balas oleh Juna.


Mendengar itu, Juna mendongak, menatap netra Yola yang terlihat sudah begitu mendamba sentuhannya.


"Saat kita menyelesaikan satu permainan," ucap Juna dengan menyeringai.


Lelaki itu mengecup bibir Yola sekilas, membuat Yola tersenyum sumringah. Wanita itu menggigit bibirnya sensual, dan menuntun tangan Juna menikmati bukitan kenyal yang terlihat sangat sintal.


"Aku milikmu malam ini Jun," bisik Yola, lalu dengan cepat menarik Juna untuk berbaring di atas ranjang, dan menindih tubuhnya.


Wanita itu kembali memagut bibir Juna, ini tidaklah sulit, baginya melayani Juna bukanlah apa-apa. Karena dari apa yang di rasakannya, Juna bukanlah seseorang yang ahli dalam memuaskan para wanita. Berbeda sekali dengan Daniel yang kerap membuatnya menyerah.


Dengan sendirinya Yola menurunkan resleting dressnya, memudahkan Juna untuk menyentuh apa saja yang lelaki itu suka.


Namun saat hendak membuka kancing kemeja Juna, tiba-tiba Yola merasakan matanya begitu berat, hingga bayangan wajah Juna terlihat sangat buram, kantuknya telah datang.


Dan pada saat itu, Juna tersenyum lebar.


"Sayang ada apa?" Tanya Juna pura-pura.


Yola tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya, berusaha untuk bertahan. Namun bukannya hilang, ia justru semakin ingin memejamkan mata. Hingga akhirnya ia tak berdaya, dengan sendirinya Yola melepaskan tangannya yang bertengger di kemeja Juna, dan tertidur pulas diatas sana.


Ya, Juna telah mencampurkan obat tidur kedalam minuman Yola. Berpura-pura ingin mengabulkan semua permintaan wanita itu, agar Yola percaya padanya. Dan semua rencana Juna sukses tanpa ada kendala.


"Huh,"


Juna bernafas dengan lega, hampir saja ia khilaf, juniornya sempat bangun, namun seakan tahu kalau liang yang akan di sambanginya ternyata pernah di cicipi oleh pria lain, ia kembali melemas dengan sendirinya.


"Maafkan aku calon istriku," lirih Juna dengan memegang bibir, dan menatap tangannya nanar.


Gara-gara ingin membantu tuannya, ia harus merelakan kesucian bibir dan tangannya yang sempat memegang, ah apa itu tadi benda lembek yang tidak memiliki tulang.


Sejenak ia mencoba menggelengkan kepala, berusaha menghilangkan gejolak yang belum boleh ia rasa. Dan dengan cepat Juna memakai jas dan merapikan kembali pakaiannya.


Tanpa apapun lagi, Juna meninggalkan kamar hotel ini, ya meninggalkan Yola sendiri.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2