
Satu bulan kemudian...
Semua fasilitas yang telah diblokir oleh sang ayah kembali dibuka. Seminggu yang lalu, ia telah kembali ke apartemen.
Seperti dulu, tinggal sendiri dan bebas melakukan apapun. Namun, kali ini ia akan dipantau, kalau saja ia melanggar satu kali lagi ucapan ayahnya.
Maka lelaki itu tak segan-segan untuk menendangnya dari rumah, tanpa membawa apapun. Dia diancam menjadi gembel.
"Huwek."
Terdengar dari arah kamar mandi, wanita berambut panjang itu tengah memuntahkan kembali makanannya. Sudah tiga hari ini, ia memang mengalami keanehan pada tubuhnya.
Setelah sarapan, ia kerap muntah-muntah. Bahkan, mood swing kadang melanda, entah sebab apa, ia menjadi kesal sendiri.
Dan jangan lupakan, jadwal menstruasinya yang sudah lewat 3 Minggu dari tanggal biasanya.
Yolanda, wanita itu menepuk-nepuk tengkuknya. Saat rasa mual itu terus menyapa, perutnya seperti di aduk-aduk. Diiringi denyutan yang semakin terasa di kepalanya.
Ia membuka air keran. Mencuci mulutnya saat rasa yang menyebalkan itu mereda.
Wanita itu sangat benci kondisi seperti ini. Dengan tubuh yang terasa lemas, ia bersandar di dinding. Menatap nanar ruang kosong di sekelilingnya.
Tiba-tiba air matanya mengalir, dadanya naik turun seiring nafasnya yang terdengar memburu. Ia bukan wanita bodoh yang tidak mengerti tanda-tanda apa ini.
Bagaimana kalau dia benar-benar ada di perutku?
Makin menangislah saat ia memikirkan itu semua. Perlahan, ia terduduk di lantai yang dingin. Sedingin hatinya yang membeku, karena keangkuhan yang ia pupuk.
Ia terus bertanya pada dirinya sendiri. Bagaimana? Aku harus apa? Haruskah?
Tak tahan hanya menduga-duga, ia segera lari ke arah lemari, memakai pakaian yang sedikit lebih sopan, dan menyambar tas serta kunci mobil.
Pagi itu, tujuannya adalah apotek, dia ingin membeli alat tes kehamilan. Untuk memastikan benar atau tidaknya, apa yang ia pikirkan.
Semoga saja itu semua salah. Semoga saja segala ketakutannya tidak terjadi.
Tapi bagaimana kalau benar?
Mau jadi apa dia, kalau sampai Mario tahu dirinya hamil, bahkan tanpa seorang lelaki?
Ia melampiaskan kekesalannya, mencengkram dan memukul kemudi dengan keras. "Arghhh..." Yolanda berteriak kencang seraya terus terisak-isak.
Ia benci menjadi lemah. Ia benci ketakutan. Ia benci sifatnya yang seperti ini, ia benci sungguh benci.
Tak lama kemudian, mobil itu berbelok di sebuah apotek kecil di pinggiran kota. Ia segera mengatakan apa yang ia butuhkan.
Tanpa menunggu lama, Yolanda mendapatkan alat tes kehamilan itu. Ia membelinya lima sekaligus.
"Terimakasih." Ucapnya lalu kembali melangkah ke arah mobilnya.
__ADS_1
Begitu dia sampai di baseman apartemen. Kaki jenjang itu segera berlari menuju kamar, ia sudah tidak sabar.
Masuk ke dalam kamar mandi, dan mencoba alat itu. Menunggu sekitar beberapa menit. Dengan tangan yang gemetar, dan harap-harap cemas Yolanda mengintip hasil tespek tersebut.
Ku mohon jangan.
1
2
3
Semuanya menunjukkan hasil yang sama.
"Arghhhhhh....." Dilemparnya benda kecil itu ke sembarang arah. Tergeletak berserakan di atas lantai, dengan tanda dua garis merah.
Yolanda kembali menangisi takdirnya. Wanita itu yakin, ini bukanlah benih teman lelakinya di club, karena dia benar-benar lelaki yang sangat antisipasi, ia memakai pengaman saat melakukannya.
Ini adalah benih Daniel. Ya, ini miliknya yang kala itu tak sengaja menyemai di dalam rahim Yola.
Saat wanita itu kepergok sang ayah. Bahkan sebelum itu ia sudah tidak meminum pil penunda. Pil itu habis dan dia lupa membelinya.
Yolanda kembali berteriak, mengacak-acak rambutnya, bahkan sesekali memukul perut rata itu merasa tak terima.
Tak terima ada nyawa lain di rahimnya.
Di rumah luas yang hanya di huni oleh 3 orang. Terlihat mereka baru saja menyelesaikan makan malam.
Tidak, hanya kedua sejoli itu. Sedangkan Rani, sang asisten rumah tangga sudah makan lebih dulu.
"Sayang, ada berkas yang aku kerjakan, kamu tidur duluan saja yah. Nanti aku buatkan susu dulu." Ucap Alva pada sang istri yang duduk di sampingnya.
Mereka memang makan berdua, tetapi ingat kebucinan lelaki satu ini? Ya, dia tidak membiarkan tangan sang gadis menyentuh piring dan sendok.
Dia sendiri yang menyuapi Chilla, dan memastikan gadis itu makan dengan cukup. Agar nutrisinya terserap dengan baik, dan tersalur ke buah hati mereka.
"Lama nggak?" Tanya Chilla setelah ia menandaskan segelas air putih yang Alva berikan.
"Tidak Sayang. Aku janji, begitu selesai aku langsung ke kamar." Balas Alva seraya mengusak puncak kepala gadisnya dan meninggalkan kecupan manis di sana.
Setelah itu, ia kembali menggendong sang istri masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Rani yang membereskan meja makan.
Disela langkah Alva, Chilla mencolek hidung, lalu meraba-raba bibir lelaki itu, bibir yang kerap menyesapnya tiada henti, dan membuat gairah tubuhnya mengudara.
"Sayang jangan menggodaku. File ini benar-benar harus cepat aku selesaikan." Rengek Alva mulai merasakan hasratnya terpancing, akibat sentuhan lembut istrinya.
Mendengar itu, Chilla justru terkekeh. Ia memang hanya ingin menggoda suaminya. Tidak lebih.
Lantas dengan gerakan cepat, gadis itu mengecup pipi Alva. "Kakak terlihat menggemaskan. Semangat yah."
__ADS_1
Lelaki itu mengulum senyum, tak mau kalah, ia juga ikut mencium pipi Chilla, dan sedikit memberi gigitan gemas.
Setelah membuatkan istrinya susu, dan memberi beberapa usapan di punggung gadis itu.
Alva kembali ke ruang belajar, berkutat dengan file yang baru setengah ia kerjakan.
Hingga setengah jam berlalu, ternyata lelaki itu belum mampu untuk menyelesaikan. Bahkan pikirannya kembali buyar, oleh suara pintu yang di ketuk dari luar.
"Masuk!"
Dan seseorang benar-benar masuk setelah mendengar perintah itu. Satu gelas kopi di tangannya terlihat mengepul, aromanya yang khas begitu menyeruak ke seisi ruangan.
Dengan senyum mengembang, Rani mendekat ke arah Tuannya. Lalu meletakkan kopi tersebut di meja Alva.
"Tuan, saya buatkan anda kopi, karena sepertinya anda akan begadang." Ucap Rani perhatian.
Lelaki itu bergeming, Ia hanya sibuk dengan layar menyala di depannya. Namun, hal itu tak membuat seorang Rani menyerah, wanita yang sudah cukup umur untuk menikah itu, tetap berdiri di samping meja Alva.
Membuat lelaki tempramental itu jengah.
"Siapa yang menyuruhmu membuatnya?" Cetus Alva akhirnya.
Mendengar itu, bibir Rani terangkat. "Tidak ada, Tuan. Saya berinisiatif sendiri membuatnya untukmu."
"Lalu, kau berharap apa? Kau berharap aku meminumnya?"
Pelan, Rani mengangguk, ditanya seperti itu hatinya semakin merasa senang.
Tanpa berkata apapun lagi, Alva mengangkat gelas itu. Membawanya menuju mulut, tetapi bukan untuk diminum, melainkan ia meludah disana. Menunjukkan bahwa dirinya begitu jijik.
Dan Rani jelas tahu apa yang dilakukan lelaki itu, bibir yang semula melengkung ke atas berubah datar seketika.
"Lihat dengan matamu!" Dengan kasar, Alva membuang gelas itu ke tempat sampah.
Ia sudah cukup sabar selama sebulan ini, membiarkan Rani bertingkah sesuka hatinya. Tetapi ternyata lama semakin lama, wanita ini semakin tidak tahu diri.
Alva menyunggingkan senyum, melihat wajah Rani yang berubah pias. Ia bangkit, lalu melangkah ke arah pintu melewati pembantunya itu.
"Kau boleh tidur nyenyak malam ini, karena esok aku tidak ingin melihat wajahmu lagi! Dan ingat..." Alva menjeda dengan tersenyum sinis. "Aku tidak menyukai kopi, aku lebih suka susu asli."
Glek!
Rani dipecat!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maafkan, malem-malem baru nongol.
Adakah yang kangen Yolanda?
__ADS_1