Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Menagih hutang


__ADS_3

Pagi menjelang siang, suasana di ibu kota kali ini tengah diguyur air hujan, sejak semalam. Hingga membuat kedua pengantin baru itu semakin memiliki alasan untuk terus mengunci diri di dalam kamar.


Nana mengusal, mencari kehangatan dari tubuh suaminya, melesakkan wajah ke dada bidang itu, dan semakin memeluk Juna dengan erat.


Tak jauh berbeda dengan Nana, Juna pun melakukan hal yang sama, dia memeluk tubuh mungil nan polos itu, kakinya menggesek-gesek, namun nyatanya bukan hangat yang ia rasa, melainkan pusakanya yang kembali bangkit secara tiba-tiba.


Bola mata itu mengerjap, melirik ke arah jam kecil yang ada diatas nakas. Pukul sepuluh pagi, dan mereka masih betah dengan posisi seperti ini.


Masih tak menyangka bisa mempersunting Nana, membuat bibir Juna seketika melengkung sempurna, senyum kecil tanda kebahagiaan.


Juna mengecup puncak kepala Nana dalam, sedalam rasa yang membuncah di hatinya.


"Masih nggak nyangka bisa nikahin kamu." Gumam Juna pada dirinya sendiri, seketika dia ingat, pertemuan pertama mereka berdua.


Terasa konyol, namun berujung jadi cinta. Yah, jodoh siapa yang tahu, bahkan semuanya sudah digariskan sebelum kita lahir ke dunia.


"Aku bahagia punya kamu, Na." Bisik Juna mesra, seraya mengusap-usap surai hitam legam itu.


Juna berusaha melepaskan diri, dia menunduk memperhatikan Nana yang masih terlelap dengan mulut yang terbuka.


Dengan tingkah mesumnya, Juna mempertemukan bibir mereka. Melumaat pelan-pelan, menikmati setiap decap manis itu.


Tidak akan ada yang puas jika menyangkut hal ini, Juna memegang kuat tengkuk Nana, memperdalam ciumannya. Hingga tak berapa lama kemudian, gadis itu merasakan pergerakan diatas tubuhnya.


Saat ia membuka mata, dia bisa melihat netra Juna dari jarak dekat. Saking terkejutnya, Nana langsung mendorong dada Juna kuat-kuat, hingga pagutan itu terlepas begitu saja.


"Kakak ngapain di kamar aku? Dan ahhhhh... Kenapa Kakak telanjang?" Pekik Nana dengan wajahnya yang cemas, dia menarik selimut saat dia terduduk, masih setia menunggu jawaban Juna.


Juna mendesah kecil, lalu mendekat ke arah Nana, gadis itu sontak beringsut mundur, dengan bola mata yang membulat sempurna. "Kakak mau apa?" Sentaknya semakin panik.


"Sayang, kamu ini bicara apa? Apa kamu lupa kita sudah menikah?" Cetus Juna mengingatkan.


Dan ingatan gadis itu langsung berputar-putar, bagai kaset kusut yang sedang disetel ulang, dengan kikuk Nana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehe, kemarin kita baru nikah yah. Aku lupa Kak. Maaf yah." Cengirnya sambil mengangkat kedua jari membentuk huruf v.


Juna menghela nafas, lalu detik selanjutnya tersenyum misterius. Dia menarik selimut yang membungkus tubuh Nana, hingga tubuh polos dengan kulit bercak merah itu dapat Juna lihat.

__ADS_1


"Mau apa?" Tantang Nana, dan Juna semakin tersenyum lebar.


Tanpa ba bi bu, Juna langsung menarik kepala Nana, dan kembali menyatukan bibir mereka. Melumaatnya dengan rakus, seolah esok dia tidak akan mendapat kesempatan untuk menikmatinya lagi.


Tangan langsing Nana menggantung di leher Juna, sedangkan dua kepala itu berulang kali berputar, menikmati sensasi pagutan yang mereka ciptakan.


Nafas keduanya memburu. Mereka memandang satu sama lain dengan kabut gairah yang sama-sama besar.


Juna merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang, sedangkan tangannya menggiring Nana untuk naik ke atas perutnya.


Gadis itu hanya mampu menurut, tak dipungkiri, dia pun menginginkannya lagi.


"Kakak mau punya anak berapa?" Tanya Nana, sebelum permainan itu kembali dimulai.


Juna mengulum senyum, lalu membenahi anak rambut Nana yang menjuntai tak beraturan ke belakang telinga. "Semampumu saja, Sayang. Aku tidak akan memberi patokan." Balas Juna apa adanya.


Memang begitulah yang dia pikirkan.


"Kalau aku mau yang banyak, gimana?"


"Berarti kita harus sering melakukannya." Juna hendak menarik tengkuk itu lagi, tapi secepat kilat Nana menahan, hingga membuat Juna mengerutkan keningnya.


"Hutang apa?"


Bibir Nana mengerucut. "Cih, masa Kakak lupa, Kakakkan punya hutang 10 juta sama aku."


Dan keduanya kembali pada memori hari itu, saat Nana meminta uang ganti rugi gara-gara jidatnya yang terbentur pintu mobil Juna. Dua kali lipat dari menabrak bahu.


Mereka sama-sama terkekeh, merasa lucu.


"Sepuluh kali lipatpun akan aku bayar, Sayang. Yang penting selesaikan dulu yang di bawah sana." Ucap Juna membelai wajah cantik Nana.


Pipi gadis itu bersemu merah, "Mengokey." Dengan malu-malu Nana mencondongkan wajahnya, mulai mencium bibir suaminya.


Sedangkan tangan besar itu, dengan penuh gairah mengusap punggung polos Nana, gadis itu menggeliat geli, dan bergerak-gerak di atas perut Juna.

__ADS_1


Pusaka itu semakin menegak, Juna memutus ciuman mereka dan berganti mengulum biji salak istrinya.


Nana melenguh panjang, saat Juna menghisapnya cukup kuat, darah dalam tubuhnya mendidih, memanas dan mengalahkan dinginnya udara di luar sana.


Dan entah di menit ke berapa. Dua tubuh itu akhirnya menyatu, dengan Nana yang masih setia berada di atas tubuh Juna.


"Gerakan sesuai nalurimu, Sayang." Ucap Juna melihat kebimbangan di wajah istrinya.


Gadis itu mengangguk, dan Juna kembali mengulum senyum. "Jangan lupa, panggil aku sayang."


"Kenapa banyak sekali permintaanmu, Kak?" Protes Nana dengan bibir yang mencebik.


Juna terkekeh, lalu menciumi seluruh wajah istrinya. "Aku ingin melakukan semuanya denganmu, Na. Apapun itu."


Dan kini, giliran Nana yang tersenyum sumringah, tanpa dipinta, gadis itu akhirnya bergerak pelan-pelan di atas tubuh Juna. Sesuai yang disarankan lelaki itu, Nana bergerak mengikuti nalurinya.


Lelaki itu menggeram nikmat, menikmati sensasi percintaan mereka yang didominasi oleh Nana. Mulutnya tak berhenti mengulum pucuk yang tengah menegang hebat itu.


Basah keringat memenuhi tubuh mereka, hingga tak sedikit yang berjatuhan di atas dada Juna yang terbuka.


Nana terus memacu dirinya, mencoba menyenangkan Juna, melihat lelaki itu terus memasang wajah sensual karena ulahnya, membuat Nana semakin bersemangat.


Desahaan itu semakin bergema, Juna menekan pinggul Nana saat gelombang itu semakin terasa akan datang.


"Sayang." Panggil Nana dengan nafas yang terengah, nampaknya ia lelah bergerak di atas sana.


Seolah mengerti, sebelum pelepasan itu nyaris mereka capai, dengan cepat Juna mengganti posisi, menjadikan Nana berada dibawah kendalinya.


"Kita berdoa supaya benihku cepat berkembang di dalam sana." Ucap Juna kembali bergerak cepat, menghentak semakin kuat, hingga lenguhan panjang terdengar.


Juna mendapatkan pelepasan itu lebih dulu, sedangkan Nana masih menggerakan pinggulnya, mencari puncak kenikmatan itu sendiri.


Ia memeluk erat leher Juna, pecah, suara desahaan Nana memenuhi gendang telinga Juna.


Terasa begitu merdu, hingga dia ingin terus mengulangnya setiap waktu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Iya tahu kalian pengantin baru, salam anu👑


__ADS_2