Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Aku akan mencobanya


__ADS_3

Happy reading guys❤️❤️❤️ Jangan lupa untuk senantiasa like, komen yah biar Dede othor semangat lanjutin ceritanya 🤗🤗🤗


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ma, berapa hari Mama sama Papa disana?" Tanya Chilla saat Sarah sedang mengemasi barang-barang yang akan ia bawa untuk keperluan luar kota.


Disana, Pram sedang membuka cabang toko perhiasannya yang semakin melebar.


Desain yang ia buat selalu saja menarik pembeli kalangan-kalangan atas. Membuat bisnisnya semakin melonjak naik.


"Paling lama seminggu sayang, soalnya Mama dan Papa juga akan mengunjungi rumah teman Mama," terang Sarah, saat koper berhasil diisikan beberapa baju dan yang lainnya.


"Lalu kapan kita ke rumah Oma?" Tanya Chilla lagi. Kegiatan rutin mereka mengunjungi orang tua Pram, yang hanya tinggal satu-satunya.


Sarah ikut duduk didekat sang putri yang berada di tepian ranjang. Ia telah selesai.


"Mungkin bulan depan," balas Sarah seraya tersenyum tipis dan mengusap kepala Chilla.


Gadis itu nampak berpikir sejenak, "Baiklah," Chilla menyenderkan kepalanya di bahu Sarah.


"Baik-baik di rumah, jangan nakal dan jangan melakukan hal yang aneh-aneh,"


"Mama jangan khawatir, Chilla pasti bisa jaga diri,"


Dan obrolan itu terputus, saat Pram masuk dan menyuruh istrinya untuk segera bergegas, semua barang sudah di masukan ke dalam bagasi, sekali lagi, Pram dan Sarah pamit pada sang putri sebelum benar-benar pergi.


"See you girl," ucap mereka kompak.


"See you Ma, Pa," balas Chilla seraya menggerakan tangannya untuk dadah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cahaya matahari telah hilang, berganti cahaya bulan yang menggantung, dan memantulkan keindahan, di taburi bintang-bintang yang berkelip indah di angkasa, semakin membuat malam ini membiru bahagia.


Dan untuk yang kesekian kalinya, dua anak muda itu kembali bergumul diatas ranjang, menyiratkan gairah yang seakan tak pernah tuntas.


Entah ujung benang itu seperti apa, yang jelas keduanya selalu menikmati momen berdua mereka. Yang satu beralasan tentang cinta, yang satu masih bicara tentang mencoba, padahal jelas dalam sikapnya, bahwa ia tidak ingin sang gadis di sentuh oleh yang lainnya, apalagi kalau bukan cinta namanya?


Tetapi banyak yang mengatakan, kalaupun cinta tidak mungkin ia menodai kesuciannya, namun saat cinta dan ***** menjadi satu? Apa yang bisa kalian perbuat?


Bahkan batin jelas menentang, raga dan kepala pusing bukan kepalang, namun situasi ini hanya merekalah yang paham, tahu ini terlarang, tetapi hasrat dewasa tak bisa ditahan.


Siapalah yang waras, berada dalam satu kamar dengan seorang yang tercinta. Di hadapkan dengan rasa yang selalu mereka coba, dan rasa candu yang sudah kerap menyapa.


Menahannya? Sekali dua kali mungkin bisa, tetapi jika sudah bercumbu sampai meleleh, dan dia meminta lebih saat kita tak lagi di bumi? Masih bisakah kita keluar dari hasrat yang kerap membuncah dengan sendirinya?

__ADS_1


Alva mengarahkan jari jempolnya kedalam mulut Chilla, ingin dikulum dan dihisap, menyiratkan kesan sensual yang membuat Alva semakin gencar untuk bergerak.


Gadis muda itu menurut, pasrah dibawah kungkungan Alva, mengikuti setiap gerak lelakinya yang begitu seirama berhimpitan dengan miliknya.


Bukan hanya hatinya, tubuh Chillapun seolah sudah jatuh pada Alva.


Ia tidak bisa mengatasi perasaannya sendiri, perasaan yang melaju deras semena-mena, hingga membuat Chilla bodoh dan gila, menyerahkan segalanya hanya untuk Alva yang belum jelas memberikan kebahagiaan yang nyata untuknya.


Pelan, Alva menarik jari jempolnya dari mulut Chilla, "Panggil namaku Chil," Titah Alva dengan nafas yang terengah-engah. Ingin namanya disebut, dan senantiasa Chilla ingat ketika mereka bercinta.


"Al," panggil Chilla menurut.


"Yeah honey... Panggil namaku lagi," Alva sama sekali tak menghentikan aksinya, terus membuat Chilla mendesaah, yang terdengar merdu sekali di telinganya.


Chilla membuka matanya yang semula terpejam, menatap dengan tatapan sayu lelaki tampan yang tengah menggagahinya.


"Al, Alva," panggilnya terputus-putus.


Dan blushh, dengan tersenyum lebar hentakan terdalam telah Alva berikan, sejurus dengan semburan bisa yang telah menyemai begitu banyak didalam sana.


Pelan, Alva mencabut diri dari inti yang masih berdenyut hebat, tubuh Chilla gemetar namun segera teratasi begitu Alva memberinya dekapan.


"Terimakasih." Ucapnya seraya mengecup dalam kening Chilla yang masih berpeluh.


Gadis itu hanya tersenyum kecil untuk menanggapi Alva, lalu mengusak wajah, menempel pada dada kekasihnya.


"Kak," panggil Chilla, memecah kesunyian kamar yang masih nampak terang.


Kini, satu tangan Alva terlipat, membentuk sebuah bantalan untuk tempat Chilla meletakan kepalanya.


"Hem,"


"Chilla mau tanya, tapi Kakak jangan marah yah," pinta Chilla seraya menengadah, menatap Alva yang tengah mengembuskan asap rokok keatas menjauh darinya.


Satu alis Alva terangkat. Ingin Chilla menyuarakan apa sebenarnya yang ingin gadis itu tanyakan.


"Apa Kakak sudah mencintaiku?" Tanya Chilla seraya menggigit bibir bawahnya, takut kalau pertanyaan ini akan menyinggung Alva. Seperti waktu itu.


"Belum," balas Alva singkat.


Hati Chilla mencelos mendengarnya, gurat kecewa di wajahnya bahkan tak bisa di sembunyikan, harusnya jangan sekarang ia bertanya, ini terlalu terburu-buru dan gegabah. Pikirnya.


Berbeda dengan Alva yang mengulum senyum. Lelaki itu mengusak rokok yang tinggal setengah kedalam asbak.


"Tapi aku akan mencobanya,"

__ADS_1


Deg!


Chilla tersentak kaget, dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut kekasihnya. Benarkah? Benarkah? Apa dia salah dengar yah?


Alva mengurai rambut Chilla ke belakang dengan penuh sayang, membuat pipi gadis muda itu merona.


"Aku sudah mengatakannya waktu kita bercinta di sofa, apa kau tidak mendengarnya?" Alva buka suara lagi, melihat Chilla yang hanya mampu bergeming dengan tatapan malu-malu, begitu menggemaskan di matanya.


Pelan, Chilla menggeleng, saat itu kesadarannya tidaklah penuh, ia tidak mendengar sama sekali Alva mengatakan kalimat itu.


"Kau begitu menikmatinya yah, sampai-sampai tidak mendengar aku bicara?" Alva terkekeh menggoda.


"Chilla memang tidak mendengarnya," bibir Chilla mengerucut imut.


"Kalau begitu, sekarang dengarlah,"


"Apa?"


Alva kembali terkekeh, gadis polos ini selalu saja menawarkan kebahagiaan untuknya, lihat, dengan mata yang berbinar merayu dan bibir mengerucut itu saja, sudah sukses membuat Alva tertawa.


"Chilla, aku berkata begini karena aku memang belum sepenuhnya mengerti apa itu cinta, tapi dari devinisi yang kau sebut, mungkin semuanya benar, aku pernah merasakannya, dan itu semua hanya bisa aku rasakan, hanya padamu, maka dari itu aku memutuskan untuk mencobanya,"


"Benarkah?" Mata Chilla berkaca-kaca.


"Hem, aku akan mencoba mencintaimu, seperti yang kau bilang. Dan ku harap, kata terluka yang pernah aku ucapkan, itu tidak akan terjadi padamu,"


Tes...


Air mata itu tiba-tiba merembes dari kedua sudut mata Chilla.


"Aku tidak sedang mimpikan?" Tanya Chilla pada dirinya sendiri.


Alva menggeleng, ia mengusap air mata itu dan memberi kecupan di seluruh wajah Chilla, dan terakhir ia menggigit bibir ranum itu, hingga si empunya menjerit.


"Aw!"


"Bagaimana, apa kau percaya ini nyata?"


Pelan, Chilla mengangguk dengan terkekeh.


"Benar, ini nyata, Chilla ngerasain sakit,"


Alva meraih tangan Chilla, mengecupnya sekilas dan menggenggam erat, "Aku tidak tahu, takdir akan membawa kita kemana, tapi yang ku harap kau benar-benar tidak akan terluka, terlebih karena aku,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2