
Bibir Beby manyun, kenapa semua orang menganggapnya gila? Padahal katanya cinta tak pandang usia, dan cinta itu buta. Lalu apa salahnya?
"Salahnya lu tuh suka sama suami orang! Kalo Daddy gue duda sih nggak masalah, nah sekarang posisinya Mommy gue itu masih ada, Beby," jelas Gattan dengan menggebu, ingin pikiran gadis itu terbuka selebar-lebarnya.
Mendapati kenyataan itu, makin mencebik saja bibir Beby. Pupus sudah harapannya untuk bisa bersama dengan lelaki pujaannya yang mirip dengan bias kesayangannya.
Mas Tae, maafin Beby. Gumam gadis itu dalam hati.
"Udah mendingan kita ke kantor Kak Shaka, kita bicarakan semua ini baik-baik, supaya ada jalan keluarnya," Gattan memberi saran, wajah Beby yang semula menunduk, kini terlihat tegak, benar juga apa yang dikatakan lelaki itu.
Tidak ada salahnya dia berbicara dengan si Tua Bangka itu, siapa tahu Shaka mau berbaik hati dengan mengurungkan niat untuk menikahinya.
Akhirnya Beby mengangguk setuju. Gattan langsung mengusir gadis yang duduk di belakangnya, dan menyuruhnya naik taksi karena dia tidak bisa mengantar sampai rumah.
"Gattan kok kamu malah nyuruh aku pergi? Kenapa nggak dia aja yang naik taksi?" tanya gadis itu dengan wajah kesal, melirik Beby tak suka.
"Gue mau anterin Beby ke perusahaan Kak Shaka, nih ongkos pulangnya! Udah jangan bawel." Gattan memberikan selembar uang kertas warna merah pada gadis yang baru saja ia kencani, gadis itu terpaksa menerima dengan bibir mencebik.
"Udah terima aja sih, lagian enak tahu naik taksi itu, adem ada AC nya," Beby ikut menimpali, lalu merebut helm dari kepala gadis itu, dengan cepat dia duduk di belakang tubuh Gattan dan melambaikan tangan.
Gadis itu hanya bisa mendengus, sementara Gattan tak peduli, dia menyalakan mesin motornya dan segera melandas ke kantor sang Kakak.
Tak sampai lama, Gattan dan Beby sampai di depan gedung yang terlihat menjulang tinggi itu, mereka berharap Shaka belum pulang, karena para karyawan sudah terlihat bubar, keluar satu persatu dari pintu perusahaan.
"Lu mau gue temenin nggak?" tanya Gattan.
Beby menggeleng. "Nggak usah, gue bisa sendiri, lu tenang aja. Kalo emang ada apa-apa sama gue, baru lu bantuin gue, oke?" ucap Beby dan langsung mendapat anggukan dari Gattan.
Lelaki itu akan menunggu di lobby perusahaan. Sementara Beby sudah melangkah ke meja resepsionis, kedua wanita yang berjaga bahkan sudah bersiap-siap untuk pulang.
__ADS_1
"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" tanya salah satunya dengan sedikit mengernyit.
Beby langsung mengatakan tujuannya, yaitu mencari pimpinan tertinggi di gedung ini, yaitu sang CEO.
Resepsionis itu langsung menghubungi Shaka, mengatakan bahwa ada seorang gadis bernama Beby mencarinya, entah ada urusan apa. Dengan cepat Shaka langsung mengizinkan Beby untuk naik ke ruangannya.
Tanpa ba bi bu Beby langsung naik ke ruangan Shaka sesuai petunjuk yang di arahkan sang resepsionis, hingga dia bisa melihat sebuah ruangan bertuliskan CEO Antarakna group.
Tak mau menunggu lebih lama lagi, gadis itu mengetuk pintu ruangan Shaka dengan cukup keras. Di dalam sana, senyum Shaka mengembang yakin bahwa yang datang adalah Beby, si Bocah Ingusan.
"Masuk!" Shaka mempersilahkan Beby untuk masuk ke dalam ruangannya, Beby menghela nafas, mengatur emosinya lalu membuka pintu.
Di sana, Shaka masih disibukan dengan beberapa laporan pekerjanya. Dan tanpa basa-basi Beby langsung berdiri di samping meja Shaka. "Gue mau ngomong sama lu!" ucapnya.
Membuat Shaka langsung mengangkat kepala, dan menghentikan aktivitasnya. Dia menatap Beby datar, sementara Beby menautkan kedua alisnya dengan tangan yang melipat di dada.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Shaka lembut.
Mendengar itu, Roby terlihat membulatkan matanya karena terperangah. Tuan Shaka, dijodohkan dengan Nona Beby? Tidak salah?
Sementara Shaka bangkit dari kursinya, lalu mendekat ke arah Beby, mengunci gadis itu ke sudut meja kerjanya. Beby beringsut. "Kamu tahu alasannya? Karena aku tidak menyukaimu!" ucap Shaka santai.
Beby mendelik dan langsung mendorong tubuh tegap Shaka agar menjauh darinya, sementara tangannya sudah bertolak pinggang. "Lu nggak suka, tapi kenapa lu minta nikah sama gue? Lu jangan main-main yah, atau gue bakal aduin ini semua ke Papi sama Daddy Alva." ujarnya menggebu.
"Coba saja, kita lihat Uncle Juna percaya pada siapa, aku atau kamu putrinya. Kamu bahkan diusirkan dari rumah karena menolak perjodohan denganku kan?" tantang Shaka.
Beby mengepalkan tangannya kuat. "Jadi alasan lu mau nikahin gue itu apa?" Pekiknya.
"Supaya mommy dan Daddy berhenti menyuruhku menikah," ujarnya dengan begitu santai, bahkan wajahnya terlihat tak berdosa karena sudah membuat Beby frustasi.
__ADS_1
"Dasar sinting! Nikah itu bukan mainan," maki gadis itu dengan menunjuk wajah Shaka.
"Memangnya siapa yang menganggap semua ini permainan?"
Beby memijat pelipisnya, ternyata selain tua bangka, lelaki ini juga gila. Namun, jika dipikir-pikir ada untungnya juga jika dia menikah dengan Shaka, dia jadi bebas dari omelan ayah dan ibunya.
Dia bebas bermain dengan teman-temannya sepuasnya. Ah, haruskah dia menikah dengan si Tua Bangka gila ini?
"Oke, gue mau nikah sama lu. Asal kita buat kesepakatan. Selama kita nikah, nggak ada yang namanya hubungan badan. Dan jangan pernah ikut campur dengan masalah pribadi masing-masing!" tegas Beby.
Mendengar itu Shaka terkekeh geli. "Tidak ada kesepakatan apapun di antara kita!" tegasnya.
"Maksud lu?"
"Kamu bilang pernikahan itu bukan main-main? Jadi tidak ada kesepakatan apapun, lagi pula siapa yang menyentuhmu? Kamu pikir aku tertarik dengan ukuran dadamu yang kecil?" cibir Shaka.
Membuat Beby seketika meradang, bahkan tertantang. Gadis itu mendengus, lalu melangkah cepat ke arah Shaka, tanpa diduga dia meraih pergelangan lelaki itu. "Kalau begitu, kita menikah sekarang juga!"
What?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah bacanya? Yuk dilike, dikomen, dikasih hadiah Dede othornya, biar makin semangat, anu dan menganukan anu🤣🤣
Kata kalian Kak Shaka ketuaan nggak 🤣
Mau tetep Minho atau mau ganti yang bawah?
Jawab yah, kalo nggak othor mau ngambek 🤧🤧🤧
__ADS_1