Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Ya Allah Gusti!


__ADS_3

Setelah keluar dari rumah sakit. Alva membawa kijang besi itu untuk pulang ke rumah. Rumah besar Jonathan, karena semalam keduanya sudah sepakat, untuk tinggal di sana sampai setidaknya anak mereka lahir.


Alva juga merasa lebih tenang jika sang istri ada yang menemani kala dia bekerja, belum lagi kandungan Chilla yang semakin membesar, membuatnya semakin was-was meninggalkan istri kecilnya itu.


"Kak, Kak Juna ambil cuti berapa hari?" Tanya Chilla pada sang suami yang tengah fokus menyetir.


Sekilas, Alva menoleh, mengusap puncak kepala Chilla. "Tiga hari, Sayang. Ada apa?" Tanyanya.


"Aku mau babymoon, Kak," ungkap Chilla, setengah merengek. Menyuarakan keinginannya untuk babymoon bersama sang suami.


Chilla ingin momen hamil ini semakin terasa berkesan, dengan melakukan hal-hal kecil, untuk dikenang. Dan sebagai bentuk rasa syukurnya, bisa merasakan anugerah terindah ini, mengandung buah hati.


Buah cintanya dengan Alva. Aku tidak pernah berpikir akan sebahagia ini, hidup bersama orang yang aku cinta, dan mencintaiku, serta memiliki kamu. Gumamnya sambil mengelus perut, tempat dimana malaikat kecilnya tengah berkembang.


"Sayang, apa tidak sebaiknya kita tidak berpergian dulu, nanti kalau kau kelelahan bagaimana? Baby sudah semakin besar lho," terang Alva apa adanya. Dia bukan tidak mau, dia bukan tidak punya uang dan waktu, dia hanya takut saja, takut terjadi sesuatu pada istri dan juga calon anaknya.


"Babymoonnya di halaman rumah belakang aja, Kak. Nggak usah kemana-mana." Terang Chilla seraya mendekat, menyenderkan kepala di bahu sang suami, membuat Alva menyunggingkan senyum.


"Memangnya kita mau apa di sana Chilla?"


"Bikin kemah-kemahan," balas Chilla enteng dan Alva malah terkekeh, gemas dengan pemikiran gadis satu ini.


"Kita buat tenda gitu?" Tanya Alva, dan mengangguk cepat adalah jawaban Chilla.


"Memangnya kita mau main apa di tenda?" Bisik Alva menggoda, membuat Chilla langsung mengangkat kepalanya, dan menatap lelaki tampan itu.


"Apa aja," balasnya singkat, karena belum mengerti dengan arah pembicaraan Alva.


"Termasuk itu?" Wajah Alva terlihat sangat sumringah kalau sudah mengarah kesana. Matanya sekilas melirik dada Chilla yang semakin tumpah ruah.


"Ish, mesum terus." Ketus Chilla seraya menabok lengan lelaki itu. Bibirnya mengerucut, membuat Alva selalu tidak tahan untuk tidak mengecup benda kenyal itu.


"Kau kan tahu sendiri, aku suka yang mesum-mesum, Sayang," makin mencebik lah bibir Chilla dengan tangan yang terlipat di depan dada, dan Alva justru tergelak, menusuk-nusuk pipi Chubby istrinya.


Setelah dia memarkirkan mobilnya di halaman luas rumah orang tuanya.

__ADS_1


Alva tidak tahan lagi, ia menahan Chilla yang hendak keluar, dan langsung menyerang bibir sang istri dengan brutal.


Sedangkan tangannya masuk ke dalam dress gadis itu. Merayap untuk mengelus perut buncit istrinya, dan semakin naik hingga ke atas dada.


Erangan kecil terdengar, saat Alva semakin memainkan lidahnya di atas tubuh Chilla, menuntut lebih dari sekedar ciuman.


"Ada satpam rumah, Kak." Rengek Chilla seraya melirik lelaki paruh baya yang tengah berjaga, sedangkan lelaki tampan itu memilih tak peduli, ia terus melucuti pakaian bagian atas sang istri, untuk menggapai benda kesukaannya.


Daging tanpa tulang menyembul dari balik penyanggahnya, bahkan luber sampai tak mendapat tempat, membuat mata buas itu tak lagi memiliki kesabaran.


"Milikmu semakin besar, Sayang." Bisik Alva seraya melepas pengait bra di belakang punggung Chilla. Nafas hangat itu menerpa, membuat bulu roma Chilla meremang seketika.


Gadis itu mendesah kecil. "Ke kamar aja yuk, Kak." Ajak Chilla, ia bisa melihat sudah sebesar apa gairah Alva ingin memakannya.


Netra pekat itu sudah menggelap, seiring ciuman panas mereka yang terjadi begitu saja.


"Kalau di kamar aku tidak yakin melakukannya hanya sekali. Aku harus ke kantor lagi, Sayang. Kita bermain cepat saja yah." Belum sempat mengangguk ataupun menolak, Chilla sudah ditarik ke arah kursi belakang.


Alva merebahkan tubuh itu di bawah tubuhnya. Tanpa ba bi bu, Alva kembali memulai pemanasan, dia menyesap gundukan yang tengah menegang hebat itu.


Alva menundukkan dirinya, membuat pemanasan itu lebih cepat dan bergairah, lidahnya melesak masuk ke inti sang istri, mengulumnya lembut membuat Chilla menjerit nikmat.


"Kak," lenguh Chilla seraya mengangkat pinggulnya. Desiran itu merayap, meluluhkan kesadarannya.


Sedangkan benda kenyal itu semakin berputar-putar, seperti memiliki rasa yang memabukkan, Alva tak berhenti untuk bermain-main di area sensitif itu.


Hingga saat cairan hangat itu mulai keluar, Alva bergegas menyatukan diri, tubuh Chilla bergetar, Alva selalu tahu bagaimana caranya, membuat percintaan ini terasa berbeda dan sangat mengesankan.


"Permainan sesungguhnya baru akan dimulai, Honey." Erang Alva seraya memompa tubuhnya pelan-pelan, memberikan kenyamanan pada sang istri yang tengah memasang wajah sensual.


Lelaki itu bergerak lembut, membuat guncangan di sekitar tidak terlalu kuat. Sedangkan suara nafas yang menderu, dan lenguhan yang terdengar syahdu. Mengisi kesunyian di dalam mobil itu.


Mulut Chilla menganga, dan langsung disumpal oleh ibu jari Alva. Lelaki itu semakin mengerang hebat, tatkala pelepasan hampir menyerang dirinya, himpitan sempit, seolah mengurut pusakanya yang terbilang besar, kokoh dan terpercaya.


Sedangkan di luar sana, Jonathan nampak memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil Alva, ia baru saja pulang dari rumah temannya, bersama sang istri, Mona.

__ADS_1


Entah membicarakan apa, keduanya tertawa lepas, hingga saat mereka keluar dari mobil, dan mendapati mobil Alva terparkir, bahkan berguncang sesekali, tawa mereka menyurut, berganti dengan kernyitan di dahi.


Jonathan memanggil sang satpam rumah, Pak Yanto namanya. Yang dipanggil langsung mendekat, dan menunduk memberi hormat. "Ada apa, Tuan?"


Ditanya seperti itu, Jonathan langsung menunjuk mobil sang putra yang belum berhenti bergerak-gerak. Aneh, sepanjang sejarah baru kali ini dia melihat mobil seperti itu.


Sedangkan Pak Yanto hanya bisa garuk-garuk kepala. Sedari tadi pun dia merasakan hal yang sama, bertanya-bertanya, kira-kira apa penyebab mobil Alva bisa berguncang seperti itu, sementara pemiliknya belum keluar juga dari sana.


"Coba periksa." Titah Jonathan, curiga.


Namun, sang satpam malah bergeming, ragu untuk melakukan perintah Tuannya.


"Ada apa, Pak?" Tanya Mona, ikut buka suara, kenapa jadi banyak teka-teki dan penuh misteri seperti ini.


"Anu Nyonya, di dalam sana ada Tuan Alva sama Nona Chilla, dari tadi mereka belum keluar," terang lelaki paruh baya itu sedikit gugup. Dia pun penasaran, tapi tidak berani untuk memeriksa mobil yang terkesan horor itu.


"Apa? dari tadi?" Sentak Mona dengan membelalakkan mata.


"Iya Nyonya, mobil itu juga bergerak-gerak dari tadi, saya menyaksikannya sendiri."


Mendengar itu, Jonathan dan Mona saling memandang dan kompak berteriak. "YA ALLAH GUSTI!!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan bosen yah, jangan yah😂😂😂


Maaf yah upnya agak lama sekarang, aku lagi memprioritaskan si Kaisar dulu, soalnya dia ikut lomba #Pacarkubukanmanusia


Bila berkenan, yang baik hati, sumbangkan jempol kalian untuk dia juga. Dia juga nggak kalah seru lho, bucin-bucin tapi nggak mau ngaku gitu, kaya kakak pacar pas awal-awal.


Cung disini yang udah baca kisah Kaisar dan Airish, aku selalu menunggu kalian disana😍😍😍


Salam bernganu 👑


__ADS_1


__ADS_2