Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
MIC (Maaf)


__ADS_3

Karena Beby membawa motor. Shaka memutuskan untuk pulang bersama istrinya. Sementara Robby diizinkan untuk pergi, setelah dia memberi informasi kalau ada Gattan pun sempat berada di lokasi.


"Dia sudah pulang?" tanya Shaka.


Dan Robby segera mengangguk. "Sudah, Tuan. Tadi dia sempat saya cekal, tapi setelah itu saya lepaskan, karena Tuan muda Gattan berjanji untuk pulang." Jawab lelaki itu apa adanya.


"Baiklah. Terima kasih ya, Rob. Aku pulang dengan istriku. Pagi nanti kamu jemput saja yah ke apartemen," jelas Shaka sambil mengusap lembut rambut istrinya.


"Baik, Tuan."


Setelah kepergian Robby, kini fokus Shaka teralihkan pada Beby yang senantiasa melingkarkan tangannya di sepanjang perut Shaka. Dia benar-benar merasa bersalah, karena keluar tanpa meminta izin pada suaminya.


"Abang, maaf," ucap Beby lirih, lalu melesakkan wajahnya di dada lelaki tampan itu.


Mendengar itu, Shaka mengulum senyum. Tapi bukan senyum biasa, melainkan bibit jahil tersemat di sana. "Susah banget ya, By?"


Seketika Beby mendongak. Tidak mengerti dengan ucapan Shaka. "Susah apanya, Bang?" Tanyanya dengan raut yang masih sama. Pias dan tak ceria.


"Iya susah banget buat ngabarin Abang kalo kamu mau keluar. Apa perlu Abang pasang pelacak di tubuh kamu, supaya setiap kita jauhan, Abang bisa tahu kamu kemana tanpa kamu kasih kabar?"


Nyes!


Hati Beby langsung terasa ngilu. Ucapan Shaka benar-benar menohok, langsung menghujam dadanya. Dan hal itu sukses membuat Beby kembali diselimuti oleh rasa bersalah. "Maaf, Abang. Beby salah...." Ucapnya dengan suara lirih. Lalu menunduk lagi, mengeratkan pelukannya pada Shaka.


Tidak peduli pada tatapan orang-orang yang melintas, Beby terus seperti itu. Ingin membuktikan pada Shaka bahwa dia benar-benar menyesal.

__ADS_1


Dan Shaka masih dengan sikap jahilnya. Ingin tahu seberapa dalam Beby menganggapnya ada.


"Apa perlu juga kamu Abang bikin nggak bisa jalan tiap malam. Supaya kamu diem aja di apartemen sambil nunggu Abang pulang?" Suara Shaka terdengar lembut, tetapi seolah didalamnya mengandung cambuk.


Kali ini Beby bergeming. Tidak mampu untuk menjawab apa-apa. Selama ini, antara dia dan Shaka, memang tidak pernah ada masalah. Bukan, bukan karena tidak ada. Tapi Shaka selalu mengalah padanya.


Bahkan Beby sangat paham betul bagaimana sikap Shaka yang selalu memprioritaskan dirinya di atas segalanya. Everything is about you. Lelaki satu ini tidak pernah absen untuk memberi kabar, bahkan jika bisa setiap detik, mungkin Shaka akan melakukannya.


Tapi bagaimana dirinya?


"Jawab, By. Kamu maunya Abang gimana sama kamu? Biar kita sama-sama enak. Abang enak, kamu enak. Abang tiap hari ngasih kamu kabar, bahkan dengan kalimat yang sama. Itu semua untuk apa sih, By? Itu semua karena Abang sadar, nunggu tuh nggak enak...."


Jleb!


Berhasil. Shaka berhasil membuat gadis kecil yang memeluknya ini menangis untuk pertama kalinya. Air mata Beby tiba-tiba merembes mendengar ucapan Shaka, otaknya seketika mengajaknya untuk berpikir keras. Kenapa bisa dia bersikap egois seperti ini?


Menyadari itu, Shaka menelan ludahnya kasar. Namun, ada rona bahagia di pipinya. Dia suka Beby yang menangis seperti ini, itu artinya dia penting kan di hati istrinya?


Shaka membalas pelukan Beby. Lalu mengecupi puncak kepala gadis itu. Selamanya, dia tidak akan pernah bisa benar-benar marah.


"Abang yang minta maaf. Maaf Abang kerjanya terlalu lama, bikin kamu bosen nunggu. Abang sayang, By. Abang ngomong gini karena Abang nggak mau By kenapa-napa. Jadi, tolong, kemanapun By pergi, kasih tahu Abang, supaya Abang nggak cemas." Shaka kembali mengecup kepala Beby, kali ini terasa lebih dalam.


Dan hal itu sukses membuat tangis Beby pecah. Gadis itu menangis sesenggukan di dada bidang Shaka. Shaka tak melarangnya, biarkan gadis ini meluapkan kekesalannya dengan menangis sampai benar-benar lega.


Hingga saat itu tiba. Shaka menarik tubuh Beby, dan memberi jarak di antara keduanya. Dia mengusap jejak basah gadis itu lalu mengecupi wajahnya. Dan terakhir di bibir.

__ADS_1


Muah, muah, muah.


"Kita pulang yah. Jangan nangis lagi, nanti nggak cantik," ucap Shaka sambil memegang dagu runcing istrinya.


Gadis itu mengangguk, Shaka membuka jasnya dan memakaikannya di tubuh Beby, hingga tubuh mungil itu tenggelam. Shaka mengulum senyum, pun dengan Beby yang jadi terlihat malu-malu.


Cup!


Kecupan itu menjadi akhir mereka berada di lokasi itu. Karena detik selanjutnya, Shaka melandaskan motor sport itu ke jalan raya. Membelah malam kota Jakarta yang terlihat lebih indah.



Tanpa segan Beby memeluk perut Shaka erat. Dan Shaka pun memeluk lengan itu dengan satu tangannya. Mereka terus mengulum senyum, dan saling melirik di kaca spion.


Dan sepanjang perjalanan, mereka terus seperti itu. Menciptakan kenangan indah. Hanya berdua.


*


*


*


Gue juga mau dipeluk, Bang😩😩😩


Reader Kakak pacar, doain kakak pacar yah. Dia lagi sakit, kena si kopeetttt😭😭😭 Semoga lekas sembuh kesayanganku😚😚😚

__ADS_1



__ADS_2