
Alva dan Chilla baru saja keluar dari apartemen, tetapi bisakah kalian menebak, kelakuan bumil satu ini? Ya, dia sama sekali tidak melepaskan diri dari suaminya.
Bahkan lelaki itu tidak memakai dasi dan membiarkan dua kancing kemeja kerjanya terbuka, memudahkan Chilla bisa mengendus aroma tubuhnya. Tak hanya itu, sesekali tangannya juga menggerayangi dada Alva, mengusap, menyesap, meremass sesuka hati, membuat lelaki itu frustasi, karena istri kecilnya mulai tidak bisa diajak kompromi.
Keduanya masuk ke dalam mobil. Dengan tersenyum lebar, Chilla kembali merapatkan tubuhnya, mengusal memeluk Alva. Kali ini, entah kenapa ia tidak memikirkan Juna yang ada di depan sana. Ia hanya mengikuti nalurinya yang ingin terus dekat-dekat dengan suaminya.
"Jalan, Jun. Aku sarankan jangan melihat ke belakang, dari semalam dia memang seperti ini." Ucap Alva menyerah, dari semalam tubuh bagian bawahnya terus dibuat sesak oleh Chilla.
Tetapi gadis itu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Alva malah ditinggal tidur, bahkan saat ia berusaha menggoda Chilla, gadis itu tidak merespon sama sekali.
Hanya terdengar gumaman, kalau ia tidak boleh memakai baju, atau bumil itu tidak akan bisa tidur.
Merasa kasihan, akhirnya Alva mengalah, ia tidak pernah berpikir seperti ini sebelumnya, tetapi mengingat Chilla tengah mengandung buah hati mereka, yah ia terpaksa mengubur dalam-dalam egonya.
Juna mengangguk patuh, tanpa menoleh ke belakang ia menjalankan mobil, dan membawanya keluar dari area apartemen.
"Kakak benar-benar sangat wangi." Ucap Chilla girang, setelah menghirup aroma tubuh itu, lalu tangan mungilnya menelusup, memainkan benjolan kecil di dada Alva.
Diputar-putar seperti lelaki itu memainkan miliknya, Chilla mulai cekikikan merasa gemas. Sedangkan, entah sudah semerah apa wajah Alva sekarang.
Belalainya menggeliat-geliat, sedangkan rasa geli itu tak habis-habis Chilla berikan untuknya.
"Chilla, bisakah kau berhenti?" Bukan kalimat tanya, melainkan perintah. Nafasnya sudah memburu, ia benar-benar tidak kuat menahannya.
"Kenapa? Inikan keinginan baby kita, kalau Kakak tidak mau yasudah." Menarik tangannya keluar, dengan mimik wajah sedih, membuat Alva tidak tega, ah ia benci kondisi seperti ini.
Akhirnya Alva menahan tangan mungil Chilla, lalu memasukannya sendiri ke dalam dada miliknya.
"Yah, silahkan. Lakukan apa saja yang kau suka, ini demi baby kita." Ucap Alva lemah.
Seketika, binar mata Chilla kembali bersinar, ia mengembangkan senyum. "Benarkah?" Dan Alva mengangguk pasrah. Dengan senang hati, Chilla kembali menciumi dada suaminya, hingga bekas kemerah-merahan nampak sedikit menghias di dalam sana.
Sumpah demi apapun, Juna ingin tertawa terbahak-bahak, melihat wajah bosnya yang terlihat begitu frustasi. Kalau saja ia tidak sayang nyawanya, maka ia akan melakukannya sekarang juga.
**************
__ADS_1
Tak butuh waktu lama.
Mereka akhirnya sampai di perusahaan. Dan Alva sudah tidak bisa menahannya, rasa itu sungguh menyiksa jika tidak disalurkan, dengan cepat lelaki itu membawa Chilla ke ruangan pribadinya.
"Lakukan sekali saja, aku benar-benar tidak sanggup, Sayang." Alva memohon, lalu dengan cepat melucuti pakaiannya, pun dengan milik Chilla. Padahal agendanya beberapa menit lagi, lelaki itu akan melakukan meeting dengan para karyawannya.
Lantas Alva membaringkan tubuh polos itu di pusara ranjang, dengan senyum merekah ia mengangkat kaki Chilla naik ke atas pundaknya.
Memulai pemanasan agar gadis itu merasa basah, belalainya yang sedari tadi sudah membengkak, semakin terlihat menegak.
Dirasa cukup, Alva mulai menyatukan dirinya dengan sang istri. Memompa tubuhnya tidak sabaran, hingga suara-suara erangan mulai terdengar.
Ini siksaan!
Juna mengeratkan gigi gerahamnya, dengan tangan memegangi telinga, sudah hafal apa yang sedang terjadi di dalam sana. Bilangnya hanya ingin bicara sebentar, nyatanya malah mendesaah, mengerang dan melenguh bersama.
Sialan!
Tok tok tok...
Suara pintu ruangan Alva diketuk, tanpa pikir panjang Juna membukanya, dan dengan cepat kembali menutup. Dilihatnya Silvia sudah siap untuk jadwal meeting hari ini, tetapi yang menjadi CEO malah sedang asyik bercinta dengan sang istri.
"Memangnya ada apa, Tuan? Bukankah Tuan Alva sudah datang?" Tanya Silvia heran, pasalnya iapun melihat, lelaki itu masuk ke dalam ruangan bersama istrinya.
Juna hanya melebarkan senyumnya, berharap Silvia mengerti akan kodenya.
Dengan kikuk Silvia mengangguk, mulai paham. "Ah iya. Baik Tuan, saya akan beritahukan pada yang lain."
*************
Setelah jam makan siang, Alva tak langsung kembali ke perusahaan. Lelaki itu sengaja mengajak Chilla hari ini, karena ia ingin membawa gadis itu untuk bertemu Satria.
Alva tidak bisa membiarkan kesalahpahaman itu terus terjadi, ia ingin pertemanannya dengan Satria kembali baik-baik saja, dan utuh seperti semula.
Sam sudah memberitahu, kalau satu pekan ini, Satria mulai membantu perusahaan keluarganya, hingga ia bisa dengan mudah menemui lelaki itu.
FU Group.
__ADS_1
Alva turun dari mobil dengan menggandeng tangan istrinya. Ia berjalan ke meja resepsionis seperti akan melakukan kunjungan.
Awalnya sedikit ragu, takut Satria tidak mau bertemu. Namun, gadis manis di sampingnya selalu menenangkan, dan membuatnya yakin semua akan kembali seperti semula.
Percayalah.
Di lantai 35, Alva dan Chilla menginjakkan kakinya, satu staf mengantar mereka hingga ke depan pintu ruangan Satria.
Baru satu kali ketukan, pintu itu sudah terbuka, menampilkan sosok pria yang biasanya dengan tingkah konyolnya, kini justru terlihat dingin.
Alva dan Chilla saling melirik, gadis itu kembali mengangguk lalu mengulas senyum.
"Apa kabar Sat?" Tanya Alva lebih dulu. Karena ia selalu merasa bersalah, atas apa yang menimpa mereka.
"Heuh, kau tidak perlu basa-basi, apa tujuanmu datang kemari? Apa kau mau menyalahkanku atas berita itu? Kau mau melontarkan banyak pertanyaan seperti para wartawan kemarin?" Ucap Satria tanpa menjeda, pasalnya saat berita itu tersebar, inisial SA menjadi perbincangan, dan entah darimana wartawan itu tahu kalau keduanya berteman, hari itu juga perusahaan keluarganya langsung ramai.
Alva menghembuskan nafasnya. Ia tahu Satria masih marah. "Sat, aku kemari bukan untuk membahas yang tidak ingin aku bahas. Sebagai seorang teman, dan seseorang yang tumbuh bersamaan, aku mau meminta maaf..."
"Setelah kau membuat kepercayaanku hancur, kau baru mau minta maaf?" Cibir Satria, ia mengambil gelas yang berisi air putih dari atas mejanya, dan meneguknya sedikit.
"Sat, aku tahu. Salahku memang besar, dan sulit dimaafkan. Tetapi ingat, sebenar-benarnya pertemanan, akan selalu saling memaafkan kesalahan temannya. Aku tidak bisa seperti ini terus, Sat. Aku selalu di hantui rasa bersalah padamu..."
"Pada saat itu, posisiku sulit, Sat. Aku bodoh, aku gila, aku tidak bisa membedakan yang mana cinta sesungguhnya. Aku seperti pengecut, sampai pada akhirnya, aku sadar. Saat melihat gadisku disentuh orang lain, aku tidak terima, saat dia menyebut lelaki lain, aku tidak suka, dan saat dia menghabiskan waktunya tanpa bersamaku, aku membenci itu..."
Alva kemudian terduduk dan berlutut, membuat Chilla melebarkan matanya. "Sat, aku tahu kau mencintai Chilla. Pun dengan aku, aku juga mencintainya, bahkan di rahimnya sudah ada buah hati kami. Aku mohon, dengan sangat aku mohon, Sat. Ikhlaskan dia berada di sampingku, aku bisa gila jika tanpanya, aku seperti tidak memiliki nyawa jika kemarin aku tidak bisa mendapatkannya... Aku mohon."
Lalu bugh!
Tiba-tiba Satria melayangkan bogem mentah ke arah wajah Alva, membuat Chilla berteriak histeris. "Bang Sat!!!"
Namun, lelaki itu malah terkekeh, tidak merasa bersalah sama sekali. "Kau memang badjingan, kau pecundang gila, kau brengsekk, Al." Lagi, Satria tak berhenti untuk terkekeh. "Tapi kau tetap temanku."
Deg!
Alva mengangkat kepalanya, sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah. Dengan tenang Satria berjalan ke arahnya, dan mengulurkan tangan, membantu Alva untuk bangkit.
Chilla dan Alva bingung, tetapi kebingungan itu langsung terjawab saat Satria langsung memeluk Alva. Menepuk punggung itu sekilas lalu melepaskannya.
__ADS_1
"Bahagiakan dia, aku ikhlas peri kecilku bersamamu. Aku sudah memaafkanmu, Al. Tapi, aku menunggu hari ini, menunggu kesungguhanmu ingin terus bersama Chilla." Satria mengembangkan senyum, membuat kedua orang di depannya merasa tak percaya sekaligus lega.
Dan pada akhirnya, sebesar apapun masalah kita dengan seorang teman, jika dalam hati keduanya memiliki niat baik untuk saling memaafkan, maka semua masalah akan selesai.