Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Sana, jadi tukang sapu saja!


__ADS_3

Akhirnya jantung Nana tak dapat terselamatkan. Organ tubuh yang berdetak itu, seperti merosot jatuh ke dasar yang paling bawah, saat Juna merampas bibir tipisnya.


Setelah ia mengangguk menyetujui ajakan Juna untuk menikah, mereka berdua langsung beradu mulut, tetapi bukan untuk saling berbincang, melainkan saling memberi lumataan-lumataan. Salah satu gelombang kenikmatan.


Lelaki berparas tampan itu sepertinya sudah tidak sabar. Dengan memanfaatkan situasi, ia mengambil DP nya kembali.


Tubuh Juna mencodong ke kursi Nana. Semakin dalam ciuman mereka, semakin turun pula sandaran kursi mobil itu.


Decapan manis yang beberapa kali mereka terima, membuat hasrat bercumbu semakin menggelora.


Tidak pernah belajar, melainkan bentuk reaksi spontan, lelaki itu seperti sudah menjadi seseorang yang begitu ahli, membimbing Nana untuk mengikuti nalurinya.


Mungkin karena ikut-ikutan bos sablengnya, Alva.


Lidah itu melesak, sedangkan saliva mereka tak berhenti keluar dan saling tertukar. Seperti memiliki rasa ternikmat, keduanya tanpa segan terus menelan.


Birahi Juna semakin terasa terpancing, saat Nana dengan tangan lentik itu mengusap lembut tengkuknya.


Mata sipit itu terpejam seiring bulu romanya meremang-remang, karena mendapat sengatan.


Lelaki itu mencium semakin beringas, membuat bibir mungil Nana benar-benar terasa kebas.


Hingga saat oksigen dalam tubuh mereka habis, Nana mendorong dada Juna untuk menjauh, menjeda kegiatan mereka yang tengah menikmati gelora asmara.


Juna mengulum senyum, lalu mengelus pipi Nana yang merona. Ia memposisikan dirinya kembali, duduk dibalik kursi kemudi.


Pelan, Nana menoleh, saat ia merasakan Juna menarik tangannya. "Sini." Titah Juna seraya menepuk paha. Meminta Nana untuk duduk di sana.


"Ngapain?" Cicit Nana, keningnya berkerut sedangkan bola matanya bergerak salah tingkah.


Tanpa menjawab, Juna menarik paksa lengan Nana, dan membimbing gadis itu untuk duduk di atas pangkuannya.


Gadis itu menelan ludahnya kasar, otaknya terus berputar, mencari jawaban kira-kira kegiatan apa yang akan mereka lakukan, dengan posisi seintim ini?


Duduk dengan membuka kakinya, dan menempel pada Juna.


Dan detik selanjutnya, otak Nana berhenti berpikir, saat lelaki itu kembali menarik tengkuknya. Meneruskan kembali kegiatan mereka yang tertunda.

__ADS_1


Tiada bosan, Juna terus menyesap, seperti seseorang yang tengah kehausan.


"Kak!" Tahan Nana, saat tangan Juna lagi-lagi sudah masuk ke dalam kaos rajutnya. Ia merasa masih sangat malu untuk melakukan ini.


"Sedikit, Na." Mohon Juna, dengan raut wajah yang membuat Nana tak bisa lagi untuk menolak.


Akhirnya gadis itu bergeming, mereka kembali memagut, sedangkan tangan besar itu sudah menggerayangi tubuh gadisnya.


Baju kemeja Juna nampak kusut, karena mendapat remasan dari tangan Nana, tepat di dada.


Tak mau kalah, Juna juga memberikan hal yang sama, dengan tangannya yang nakal, ia membuka pengait bra milik Nana, hingga ia dapat menggapai bulatan mungil itu dengan mudah.


Tanpa dipinta Nana melenguh, saat benjolan kecil itu dimainkan, diputar-putar seperti sesuatu yang menggemaskan.


"Ini apa, Na?" Tanya Juna berbisik.


Dengan dada yang membusung, gadis itu menjawab. "Biji salak yang bakal jadi kesukaan Kakak."


************


Juna terjengit kaget, saat satu kotak tisu melayang ke arahnya. Diiringi makian sang Tuan, yang terdengar begitu nyaring, menusuk gendang telinga.


"Berhentilah tersenyum seperti itu, mengerikan!" Cetus Alva dari balik layar laptopnya. Mencibir sang asisten yang tersenyum tidak habis-habis.


Sejak Juna menjemput dirinya, sampai menjelang istirahat makan siang, lelaki itu masih tersenyum lebar tanpa sebab. Membuat Alva muak.


Ada apa dengan asistennya? Wajah yang biasanya datar nyaris tanpa senyuman kini justru terlihat sumringah.


Bahkan rambut lelaki itu disisir dengan sangat rapih, dan tubuhnya terasa sangat wangi.


Pasti ada sesuatu, batin Alva menebak. Kalaupun tidak, Juna tidak akan sampai segila ini untuk menunjukkan lengkungan bibir itu di depannya.


"Maaf Tuan, apa senyum saya mengganggu?" Tanya Juna dengan ekspresi yang tak berubah. Cerah ceria.


"Sangat, sangat mengganggu! Kau sudah seperti nyamuk yang terus berdengung di telingaku. Ingin rasanya aku bunuh." Ketus Alva, melirik sekilas, lalu kembali menatap layar menyala di depannya.


Pekerjaannya jadi tertunda, gara-gara meladeni Juna.

__ADS_1


Bukannya takut, Juna justru tersenyum malu-malu. Berniat membagi kebahagiaan yang tengah menghampirinya dengan Alva.


Tanpa izin, Juna duduk di depan meja Tuannya. Melipat tangan, lalu mencondongkan wajahnya ke depan lelaki itu.


"Mau apa kau?" Tanya Alva terkejut. Mendapati tingkah aneh asistennya.


"Tuan, Tuan tidak mau bertanya kenapa aku terus tersenyum senang pagi ini?" Ucap Juna, seraya menaik turunkan alis.


"Cih, aku tidak peduli." Melengos, berusaha tidak menatap Juna yang benar-benar menyebalkan hari ini.


"Ayolah bertanya, kenapa?" Pinta Juna, terdengar seperti rengekan di telinga Alva.


"Hei, bersikaplah sewajarnya! Kau sudah kehilangan otak yah?"


Pelan, Juna mengangguk. "Tahu tidak Tuan, aku juga kehilangan otak sekarang. Sama seperti anda jika berada didekat Nona."


"Juna!!! Kau cari mati yah?" Pekikan Alva menggelegar seiring suara gebrakan meja yang terdengar sangat keras.


Hampir saja gedung Antarakna group roboh karena CEOnya yang sedang mengamuk.


Seketika Juna sadar akan ucapannya, ia berdiri dan membungkukkan badan beberapa kali, meminta maaf pada Alva. "Maafkan saya Tuan, saya tidak bermaksud mengatai anda. Saya cuma mau bilang kalau saya juga sedang jatuh cinta, sama seperti anda jatuh cinta pada Nona." Terang Juna.


Alva bangkit, ia bertolak pinggang lalu berdecih. "Cih, mau mengaku begitu saja susah sekali!"


"Bukankah anda juga seperti itu?" Spontan Juna membela dirinya.


"Juna!!! Keluar dari ruanganku! Kau ku pecat! Sana! Jadi tukang sapu saja!" Usir Alva. Habis sudah kesabarannya meladeni tingkah Juna.


Glek!


"Tuan..."


"Pergilah, ku hitung sampai tiga... Satu! Tiga!"


"Duanya mana Tuan?"


"Haish! Persetan kau!"

__ADS_1


__ADS_2