Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Terpesona, aku terpesona


__ADS_3

Setelah melewati masa pingitan, dan konferensi pers pembatalan pertunangan, akhirnya hari bahagia itu telah datang. Dalam waktu yang singkat itu, Sarah dan Mona benar-benar menyiapkan semuanya dengan sempurna.


Tepat pukul 4 sore nanti, acara pernikahan antara Alva dan Chilla akan di langsungkan, di salah satu hotel milik keluarga besar Antarakna.


Mengingat saat pagi hari, frekuensi Chilla dalam muntah-muntah lebih tinggi, membuat semua orang memutuskan untuk mengambil waktu di sore hari, disambung hingga malam nanti.


Ballroom itu di sulap, di hias sedemikian rupa, menjadikan kesan mewah namun hangat menyatu didalam sana.


Semerbak segar bunga yang bertebaran di tiap-tiap sudut menjadi penyempurna, serta karpet merah, sudah di gelar sepanjang pintu masuk hingga ke atas pelaminan.


Didepan sana, sudah ada meja dan beberapa kursi yang di hias dengan indah, tempat dimana Alva dan Chilla akan mengikrarkan janji suci mereka.


Tidak ada satu pun awak media yang meliput, karena seluruh sudut hotel, di jaga ketat oleh para penjaga, sesuai yang di perintahkan oleh Jonathan.


Dua keluarga itu sudah berada di hotel sejak pukul satu siang, dan sekarang gadis manis itu tengah di dandani oleh tim MUA profesional. Alva dan Chilla di berikan masing-masing satu kamar terpisah untuk persiapan.


Karena Mona dan Sarah, sudah memberikan satu kamar berbeda, kamar yang sudah di hias untuk malam pertama putra-putri mereka. Yah, walaupun entah mereka sudah melakukannya yang ke berapa, yang jelas malam nanti, adalah malam pertama mereka menjadi pasangan suami istri.


Para tamu undangan sudah nampak memadati ballroom hotel tersebut. Duduk di kursi yang telah di sediakan sesuai dengan undangan. Tak banyak yang di undang, hanya ada teman dan saudara, sekaligus semua pembaca setia yang begitu antusias dengan pernikahan Alva dan Chilla. Udah pada bawa amplop belom? Wkwk


Dan tak berapa lama kemudian, momen mendebarkan bagi kedua mempelai itu datang. Sesuatu yang tidak akan pernah mereka lupakan untuk seumur hidup.


Suara MC mulai menggema, mengumumkan bahwa acara sakral itu akan segera di mulai.


Dengan balutan jas hitam yang melekat ditubuhnya, Alva yang kala itu terlihat lebih gagah dengan polesan natural, sudah duduk di kursinya.



Belum berapa lama, lelaki itu sudah terlihat kepanasan, padahal pendingin ruangan tidak bermasalah sama sekali. Peluh membasahi area kening mengalir hingga ke pelipis, bahkan saat pertama kali ia melandaskan pantatnya, rasa gugup itu tiba-tiba melanda. Jonathan dan yang lain hanya senyum-senyum, melihat putranya yang terlihat sangat tegang.


Hah! Kenapa belum apa-apa aku sudah gugup begini. Ungkapnya dalam hati, sambil terus merapalkan kalimat akad itu, sampai tak terhitung sudah berapa kali ia mengulangnya.


Setelah melihat banyak orang, rasa cemas itu menjadikannya pelupa.


Dan entahlah, antara ingin meledek atau kasian melihat bosnya, Juna mendekat dengan sekotak tisu di tangannya. "Tuan, pakailah. Mungkin sebentar lagi, anda akan lebih berkeringat." Ucapnya ambigu, ingin sekali Juna tersenyum lebar, tetapi sebisa mungkin ia menahannya.

__ADS_1


Alva memicing tajam, meraih tisu itu dengan kasar, dan mengelap dahinya. "Setelah ini, ku pastikan kau tidak bisa menggerakkan bibirmu." Tahu kalau sang asisten tengah menggodanya.


Namun, seolah memiliki keberanian lebih, Juna justru menggedikan bahu, acuh, kemudian berlalu.


Sial, dia pasti sedang meledekku.


Alva menarik nafasnya sejenak, berusaha untuk tetap tenang, tak lama kemudian, beberapa orang terdengar riuh dan mulai melayangkan tatapan mereka ke arah pintu, tak terkecuali Alva, dimana sosok gadis cantik tengah berjalan, dengan di apit oleh Mona dan Sarah. Seketika mata Alva tak mampu untuk berkedip, saat ia melihat dengan seksama, gadis kecilnya terlihat sangat anggun dengan balutan gaun pengantin berwarna putih dan mahkota kecil yang menghiasi kepalanya.



Rona di wajahnya tergambar malu-malu, apalagi saat tatapan keduanya bertemu, jantung Alva langsung berdetak lebih kencang. Debaran ini sungguh dahsyat, apalagi saat senyum manis itu di tunjukkan hanya untuk dirinya.


Ah, Chilla. Rasanya jantungku mau meledak.


Lelaki muda itu terlihat salah tingkah, saat Chilla sudah sukses duduk di sampingnya. Sekali lagi, gadis itu mengulum senyum, membuat darahnya berdesir tak normal, rona itu sungguh berbeda, wajah gadisnya seolah memancarkan cahaya.


Mungkin benar, aura pengantin itu berbeda. Apalagi setelah 2 Minggu mereka tidak diizinkan untuk bertemu. Rasa rindu itu benar-benar menggebu-gebu.


Kalau saja tidak dalam situasi seperti ini, ingin rasanya Alva langsung menerjang tubuh Chilla, memberinya kecupan bertubi-tubi, dan bercinta sepuasnya.


Dan akhirnya MC kembali bersuara, ia menyerahkan acara kepada Pak penghulu yang akan memandu ikrar janji suci itu.


"Kakak." Panggilnya sekali lagi. Hingga cubitan keras dari Mona membuatnya tersentak, Alva langsung menggelengkan kepalanya mencari kesadaran, membuat semua orang terkekeh, merasa lucu. Melihat sejoli, yang sebentar lagi akan resmi menjadi pengantin baru.


Chilla benar-benar terlihat berbeda, gadis itu jauh lebih mempesona, hingga membuat para tamu yang sudah berdatangan berdecak kagum. Alva bisa melihat, pancaran aura bahagia dari mata Chilla, membuat pesona gadis itu berlipat-lipat, dan jauh lebih cantik dari biasanya.


"Nak Alva?" Tanya sang penghulu.


Lagi, lelaki itu hanya fokus pada kalimat di otaknya. Takut-takut akan terlupa, dan membuatnya malu setengah mati.


"Ekhem... Nak Alva, apa sudah siap?" Tanyanya sekali lagi. Kali ini Alva mendongak, setelah beberapa kali menarik nafas dan membuangnya secara perlahan.


"Siap apa, Pak?" Tanyanya kikuk.


"Tentu saja siap menikahi, Nak Chilla. Bagaimana apa Nak Alva sudah yakin?"

__ADS_1


"Yakin, pak." Ucapnya mantap. Membuat beberapa orang tergelak tak terkecuali Pram. Ia sempat terkekeh melihat wajah tegang calon menantunya.


Pak penghulu tersenyum, lalu beralih menatap ke arah Chilla. "Nak Chilla, apa sudah yakin untuk mendampingi, Nak Alva?"


Hah, kenapa pakai ditanya seperti itu segala sih, jelas-jelas Chilla sudah mengandung anakku. Cepatlah Pak! Protes Alva dalam hati.


Bukannya membuat ia tenang, pertanyaan-pertanyaan itu justru membuatnya semakin tegang. Berkali-kali Alva meneguk ludahnya kasar.


Pelan, Chilla mengangguk dengan senyum malu-malu. "Iya." lirihnya.


Semua orang yang menyaksikan tidak mampu untuk tidak tersenyum, apalagi yang suka meledek belalai Kakak pacar, wajah pias Alva seolah hiburan tersendiri bagi mereka. Karena tidak sekalipun mereka pernah melihatnya, dan hari ini, sepertinya menjadi saksi, bahwa ternyata lelaki bernama Alva memiliki rasa takut, cemas dan tegang juga.


Hening.


Wajah Alva semakin terlihat memucat, kala tangannya sudah berjabat dengan tangan besar Pram, dapat lelaki tua itu rasakan, tangan Alva berkeringat dingin dan gemetar.


Pram menghentak.


"Saudara Alvaro Antarakna, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan putri kandung saya Archilla Maharani binti Pramasta Abraham, dengan maskawin emas 24 karat seberat 100 gram, uang tunai 100 juta dan saham sebesar 30 persen, di bayar tunai."


Hap!


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Archilla Maharani binti Pramasta Abraham dengan maskawin tersebut, tunai!"


"Sah?"


"Sah!"


Seolah telah melepas semua beban, Alva merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia menghela nafas panjang, tak habis pikir ternyata mengucapakan kalimat itu begitu menegangkan sekaligus mendebarkan.


Chilla yang disampingnya menitikan air mata, bahkan semua undangan yang hadir, merasa haru dengan suasana khidmat yang tercipta. Gadis yang sudah berubah status itu menyalimi tangan Alva, di sambung lelaki itu yang mengecup keningnya dengan penuh cinta.


Namun, seperti tidak memiliki kesabaran. Bibir ranum Chilla hampir saja di serobotnya, "Eh, eh yang itu nanti aja." Ucap Mona menahan, tahu apa yang akan Alva lakukan.


Kan sudah sah. Cebiknya.

__ADS_1


Mau tidak mau, Alva menarik diri, ia bergerak salah tingkah dengan menggaruk tengkuknya, sedangkan Chilla hanya bisa mengulum senyum dengan kelakuan lelakinya. Tak hanya gadis itu, semua orang ikut terkekeh, baru tahu kelakuan Alva di belakang mereka, suka seenak jidatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2