
Hari ini menjadi hari terakhir pertemuan Chilla dan Alva sebelum mereka menginjak hari H pernikahan. Sebelum itu, dua keluarga tersebut berbondong-bondong pergi ke rumah sakit, untuk mengecek kandungan Chilla.
Mereka ingin segera memastikan, benar tidaknya gadis muda itu, hamil anak dari lelaki bernama Alva.
Keduanya di beri kesempatan untuk berdua, didalam mobil milik Alva yang sudah ia siapkan untuk kabur, membawa Chilla kawin lari bersamanya. Hingga tak heran, ada banyak barang yang di bawa lelaki muda itu didalam mobil.
"Kakak kenapa bawa barang sebanyak ini?" Tanya Chilla, melihat adanya kompor, wajan, panci, dua buah koper berukuran besar, beberapa kantong kresek berisi makanan cepat saji, dan masih banyak lagi yang lainnya, yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu.
Alva melirik ke arah kursi penumpang, lalu beralih menatap wajah gadis manis yang duduk disampingnya. "Tentu saja aku membawa semuanya, kitakan berencana pergi tidak hanya sehari."
Mendengar itu, Chilla terkekeh. Benar, tetapi nyatanya mereka gagal.
Cup
"Tapi kita gagal." Ucap Chilla dengan kekehan. Kekehan yang langsung menular ke diri Alva.
"Kau benar. Hah, tahu begini aku langsung minta restu Om Pram untuk menikahimu." Ujar Alva sambil memencet hidung Chilla gemas.
"Kalau begitu, Chilla tidak akan bisa melihat kakak memperjuangkanku." Balas Chilla dengan bola matanya yang berbinar indah.
"Apa? Kau senang melihatku tersiksa seperti itu?" Cetus Alva.
"Tentu saja tidak. Aku ikut tersiksa, tapi aku juga merasa bahagia, karena Kakak bilang, kalau kita saling mencintai didepan semua orang."
Alva mengusak gemas kepala Chilla, sedari tadi mobil mereka hanya bergeming, padahal semua orang tua sudah lebih dulu melandas ke jalan raya. Siapa yang mau di periksa, siapa yang paling semangat datangnya?
"Chilla, apa Om Pram menyakitimu?" Tanya Alva tiba-tiba, sedari tadi ia fokus pada pipi Chilla yang terlihat masih memerah.
Gadis itu mengulum senyum. "Hanya sebuah tamparan, ini tidak berarti apa-apa ketimbang rasa kecewa mereka." Menunduk, kembali merasa bersalah.
Namun, tangan besar itu kembali membuatnya mengangkat kepala. "Maaf, aku membuatmu merasakan ini semua." Manik mata itu bersitatap, mengalirkan sebuah cinta yang terasa saling menguatkan.
Chilla menangkap kedua tangan Alva yang masih setia menangkup kedua pipinya. "Bukan hanya Kakak yang bersalah, kita berdua sama-sama melakukannya. Sekarang, Kakak tinggal membuktikannya saja, untuk menjaga kami berdua."
Lantas, saat Alva mengikis jarak secara tiba-tiba, Chilla hanya bisa membatu di tempatnya. Membiarkan lelaki itu sekali lagi menyatukan benda kenyal milik mereka berdua. Tak hanya sebuah kecupan yang Alva berikan, namun lumataan-lumataan kecil yang membuat Chilla memejamkan matanya dan mencengkram kuat dada Alva.
Lelaki itu meringis, merasakan perih di sudut bibirnya yang terluka. Namun, ada rasa yang lebih membuncah dari pada itu, sebuah candu yang takkan pernah ada habisnya, selalu terasa manis dan memabukan meski sudah sebanyak apapun mereka melakukannya.
Gairah itu semakin tertarik, kala Alva dengan cepat membuka kancing baju Chilla satu persatu, hingga menyisakan pemandangan indah, yang membuat Alva terus meneguk ludahnya.
"Sayang." Panggil Chilla dengan matanya yang terlihat sayu, ia pun merasakan gairah yang sama, tetapi sekarang bukanlah waktunya. Ia ingin melakukannya lagi setelah mereka menikah.
Alva menatap Chilla dengan tatapan teduhnya. Kabut itu jelas menguasai diri lelaki muda itu. "Aku janji tidak akan melakukannya, aku hanya ingin menciummu. Dua minggu kita tidak akan bertemu, dan sebelum itu, aku ingin sepuasnya menikmati hari ini, bersamamu."
Dan sejurus kemudian, bibir Chilla kembali terbekap, di rampas secara kasar oleh Alva yang merasa rindu itu sudah lebih dulu menyapa hatinya. Dua minggu bukanlah waktu yang singkat, akan sangat lama, jika kita berjauhan dengan orang yang tercinta.
Lambat lain Chilla terbuai, membalas ciuman Alva tak kalah dalam, hingga bunyi decapan-decapan menjadi alunan mesra, untuk kedua hati yang sebentar lagi akan berbahagia.
Hingga tak terasa, kini ciuman Alva sudah turun ke leher menuju dadanya. Chilla dibuat melenguh saat cecapan manis itu ia rasakan, di puncak payudaraanya yang terlihat semakin terasa mekar.
Tiba-tiba tangan besar itu mengusap perut Chilla. "Apa dia benar-benar ada disini?" Tanya Alva, mendongak menatap wajah Chilla yang terlihat memerah.
Gadis itu mengulum senyum. Lalu menggeleng, mengerti maksud pertanyaan Alva. "Entahlah, sejauh yang Chilla rasakan, hanya rasa mual, tapi jika berdekatan dengan Kakak, rasa mual itu hilang, lenyap entah kemana." Jelas Chilla apa adanya. Bagi dia, aroma tubuh Alva adalah rasa ternikmat yang tidak ada duanya.
Terkekeh, lalu Alva memberi kecupan-kecupan kecil di perut rata Chilla. Entahlah, ternyata rasanya membahagiakan, begitu tahu Chilla tengah mengandung buah hati mereka. Hingga tak terasa, kecupan itu berganti lumataan yang membekas tanda kemerahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di rumah sakit.
__ADS_1
"Ma, mobil Alva mana? Kenapa dari tadi tidak terlihat di jalan raya?" Tanya Jonathan pada sang istri.
Sedari tadi ia bolak-balik mengecek kaca spion, tetapi tidak ada tanda-tanda mobil yang di kendarai Alva mengikuti laju mobilnya.
"Iya, tadi aku liat ke belakang juga, memang mobil Alva tidak ada." Timpal Sarah, yang ternyata diam-diam ikut mengecek.
Keempat orang paruh baya itu kompak menghela nafas panjang, seolah tahu apa yang dilakukan dua anak muda itu.
Hingga tak berapa lama kemudian, mobil Alva terlihat memasuki kawasan rumah sakit, lokasi yang sudah di kirimkan oleh sang ibu melalui pesan. Alva langsung menancap gas begitu Mona menelponnya berkali-kali, menanyakan dirinya ada dimana, dan terus mengomel karena terlalu lama.
"Maaf Ma, Pa tadi jalanan macet." Alva mencoba mencari alibi. Mencoba meredam raut kesal semua orang.
"Jalanannya yang macet, atau kamu yang sengaja membuat perjalanannya jadi macet?" Cibir Pram pada calon menantunya.
Alva menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal, seperti maling yang sudah tertangkap basah. Ia tidak bisa menjawab apa-apa.
"Yasudah ayo cepat, Dokter Susan sudah menunggu didalam sana, Papa sama Pram disini saja yah." Ucap Mona melerai, akan lama lagi jika mereka malah berdebat. Sedangkan kaum ibu-ibu sudah tidak sabar, ingin melihat calon cucu pertama mereka.
Mona, Chilla dan Sarah sudah ingin melangkahkan kaki mereka, namun langkah itu tercekal oleh pertanyaan Alva. "Ma, lalu Alva bagaimana?"
Mona melengos. Tak mendapat jawaban dengan kata-kata, Alva justru mendapat pukulan keras di kepalanya.
Pletak!
"Aw!" Alva memekik sambil meringis.
"Kamu ini bagaimana? Kamu itukan ayahnya, masa iya cuma duduk-duduk di luar, ayo ikut!" Ketus Mona pada sang putra. Tatapan lembut itu seolah hilang, berganti dengan sorot menyeramkan.
"Iya, Ma." Alva menurut, lalu ikut ke dalam ruangan pemeriksaan. Kali ini, wujud dingin itu seolah mencair, tak mampu berkutik apalagi memprotes.
Disana Chilla langsung di minta untuk berbaring, mereka akan melakukan USG, agar lebih jelas, melihat biji selasih itu berkembang.
Menyadari dokter yang menanganinya itu, melihat tanda cinta dari Alva untuknya, Chilla ikut tersenyum malu-malu.
Sedangkan Mona, kembali memberikan pukulan kepada putra semata wayangnya. Tak habis pikir, baru saja di tinggal sebentar berdua, tetapi totol-totol macan itu sudah hinggap dimana-mana.
"Alva, Alva. Baru juga di tinggal sebentar, itu cupangg udah ada dimana-mana, bisa sabar nggak?" Omel Mona, tak peduli meski ada orang lain yang menonton amukannya pada sang putra.
"Hanya itu, Ma." Jelas Alva apa adanya, memang ia tidak melakukan apa-apakan? Iyakan? Kalian juga tahukan?
"Yakin kamu tadi nggak nyeruduk Chilla?" Seolah tak percaya, Mona bertanya kembali untuk meyakinkan.
"Tidak!" Balas Alva cemberut.
"Mon, sudahlah. Kasian calon menantuku dari tadi di marahin terus." Lerai Sarah, merasa tak tega dengan Alva. Sudah di pukuli oleh suaminya, di kerjai oleh ayahnya sendiri, kini Mona malah menambahi.
"Benar itu, Ma. Apa Mama tidak kasihan pada Alva?"
"Tidak, Mama lebih kasian pada Chilla, terus meladeni bocah nakal sepertimu."
"Ma..."
"Sudahlah, Dokter silahkan lanjutkan pemeriksaannya." Ucap Mona lembut, melihat ke arah Dokter Susan yang hanya menonton sajian gratis di depannya.
Pemeriksaan pun dimulai. Dokter Susan mulai menjelaskan, bahwa satu kantung itu sudah terisi janin yang berusia 6 minggu. Biji selasi itu juga berkembang dengan baik didalam sana, biji yang kuat, meski sudah di tikam pil kontrasepsi.
"Nona, apa Nona meminum pil kontrasepsi?" Tanya Dokter Susan pada Chilla.
"Apa itu Dokter?" Tak menjawab Chilla justru balik bertanya. Sama sekali tak mengerti dengan ucapan wanita yang tengah menanganinya.
__ADS_1
"Itu adalah pil penunda kehamilan, Nona. Sebelum ini, Nona mengonsumsinya bukan?"
Ingatan Chilla langsung tertuju pada pil kecil yang pernah Alva berikan padanya, lelaki itu bilang, kalau ia tidak meminumnya Alva junior akan ada dalam perutnya. Itu berarti, Alva memberikan pil penunda kehamilan untuknya bukan?
Pelan, Chilla mengangguk. "Kakak yang ngasih itu ke Chilla."
Semua mata langsung tertuju pada si biang kerok, satu-satunya lelaki yang ada di ruangan ini. Satu keplakan mendarat kembali di kepala Alva yang malang, siapa lagi pelakunya kalo bukan Mona, sang ibu.
Berkali-kali wanita paruh baya itu geleng-geleng kepala. "Alva, benihmu itu seganas apasih? Sampai pil KB saja tidak cukup untuk mematikannya?" Ketus sang ibu berapi-api.
Bukannya ia tidak terima kalau Chilla hamil anak putranya, hanya saja tidak habis pikir, di beri obat saja masih bisa hamil, bagaimana kalau tidak sama sekali?
Alva meneguk ludahnya, lalu menatap ibunya takut-takut, kenapa Mona jadi menyeramkan sekali, pikirnya.
"Ma, Alva tidak tahu."
"Pinter bikinnya, tapi giliran kaya gini nggak tahu. Pinter yah ngasih Chilla obat penunda, biar Chilla nggak hamil, terus kamu bisa bebas gitu?"
"Ma, bukan seperti itu. Alva juga tidak tahu, kenapa obatnya tidak berfungsi."
Pletak!
"Itu kamunya yang terlalu doyan, obat juga kesel. Baru diminum, kamunya nyeruduk terus, makanya benih kamu di bodo amatin."
"Nyonya, Mona, Ma." Serentak Sarah, Chilla dan Dokter Susan.
"Maaf Bu Dokter, habisnya saya kesal sama anak satu ini, masa sehari nggak bisa di hitung enak-enaknya berapa kali." Ceplos Mona tanpa memikirkan bagaimana wajah putranya yang terlihat memerah, menahan malu.
"Ma!" Pekik Alva.
"Apa? Mama salah? Kamu yang salah, awas kamu berani menyakiti istrimu nanti, Mama bejek-bejek anumu, biar nggak bisa enak-enak." Ancamnya dengan penuh penekanan, kakinya menginjak lantai gemas, seolah benar-benar sedang menginjak sesuatu.
"Nyonya, tenanglah. Kasus seperti ini memang pernah terjadi pada beberapa orang. Dan istilah gampangnya, kita sebut saja kebobolan." Jelas Dokter Susan.
"Kenapa bisa seperti itu, Dok?" Tanya Sarah antusias.
"Kita akan tahu jawabannya dari Nona Chilla. Nona, bagaimana anda meminum pil kontrasepsi itu? Apakah sesuai aturan?"
Chilla mulai mengingat-ingat, karena seminggu ini ia sudah tidak meminumnya lagi. Karena pada saat Alva bicara bahwa hari itu adalah percintaan terakhir mereka, Chilla langsung membuang pil kontrasepsi tersebut.
"Chilla minum, kalo abis—" senyum malu-malu dengan pipi merona. "Kalo abis main sama Kakak aja." Sambungnya.
Dokter Susan melipat bibirnya kedalam, menahan senyum, merasa lucu dengan pasangan muda ini. "Apa Tuan Alva tidak memberitahu cara pakainya?"
Lagi, Mona melirik tajam pada sang putra. Membuat Alva ingin kabur saja, dari tempat yang membuatnya selalu tersiksa.
"Kakak hanya meminta Chilla untuk meminumnya."
"Baiklah, Nyonya dan Tuan, semuanya sudah jelas. Nona Chilla hamil di karenakan aturan minum pil kontrasepsi itu tidak sesuai dengan anjuran, harusnya Nona meminum pil itu setiap hari, jika memang hubungan badan itu terus di lakukan secara rutin. Karena lupa atau tidak minum pil KB pada jam yang sama, dapat meningkatkan risiko terjadinya kehamilan..."
"Jadi, saya ucapkan selamat untuk Nona Chilla dan Tuan Alva, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Saya akan berikan vitamin prenatal guna mendukung perkembangan dan pertumbuhan janin di dalam kandungan Nona."
Mendengar itu, Chilla dan Alva saling mengulum senyum. Karena kalau saling memeluk, bisa-bisa kepala Alva akan hilang, karena terus menerima keplakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Hayukkkk mumpung hari Senin, beri vote dan hadiah kalian untuk Kakak pacar, dan Dede gemes😍😍😍 Kalo mau ngasih tiap hari juga ga papa🤭🤭🤭