
Nana keluar dari ruangan Chilla dengan wajah sedikit murung. Meski sudah ditenangkan oleh sahabatnya, tak dipungkiri dia masih kepikiran tentang dirinya yang sampai detik ini belum juga hamil, padahal dia dan Juna hampir setiap malam mencobanya.
Pikiran-pikiran buruk kembali menghantui.
Dan semua kekhawatiran itu, jelas sekali terlihat di mata Nana. Bahkan Juna bisa melihatnya, karena memang sangat kentara.
Satu tangan Juna meraih tangan Nana, saat mereka sudah berada di dalam mobil, untuk pulang ke rumah. Sementara tangannya yang lain mencengkram kemudi.
"Sayang, kenapa? Pulang dari rumah sakit kok kamu kelihatan murung begitu?" tanya Juna penuh perhatian.
Selama ini, lelaki satu ini memang tak pernah mempermasalahkan apa-apa. Dia hanya menjalani kehidupannya seperti biasa, tanpa menuntut Nana agar ini dan itu.
Karena bagi Juna, yang penting dia sudah berusaha, mengenai hasil? Dia serahkan semuanya pada yang maha Kuasa.
Nana menghela nafas panjang, lalu menatap suaminya yang sedang fokus menyetir, dia menggenggam tangan Juna dan mengecupnya sekilas. "Maafin Nana ya, Kak." Ucapnya tiba-tiba.
Juna menoleh sekilas, lalu mengusap pipi Nana dengan lembut. "Minta maaf untuk apa, Sayang? Kamu kan tidak salah apa-apa." Balas Juna apa adanya, karena dia merasa tidak memiliki masalah apapun dengan istrinya.
"Maaf karena sampai saat ini, aku belum bisa hamil juga." Ucap Nana dengan jujur, gadis ini memang lebih terbuka pada Juna.
Kalau dia sedang marah, ya dia akan marah. Lain dengan Juna yang tipikal pria pendiam, dan lebih memilih memendam perasaannya.
__ADS_1
"Hei, Sayang. Kamu ini bicara apa? Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu, apalagi menuntut kamu untuk segera hamil. Lagi pula, kamu itu sedang kuliah. Kita anggap saja bahwa Tuhan memang memberimu kebebasan untuk mencari ilmu terlebih dahulu, baru nanti kita punya anak," jelas Juna pelan-pelan sambil mengusap surai hitam istrinya.
"Nana takut Kakak bosen."
"Nggak akan! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah bosan untuk hidup sama kamu. Walaupun seandainya kita tidak akan punya anak. Kita bisa memilikinya dengan cara adopsi, aku tidak masalah, Sayang," jelas Juna lagi, dia tidak mau Nana terbebani pikiran-pikiran aneh.
Apalagi sampai menduga-duga dia akan meninggalkan gadis itu, tidak! Tidak akan pernah.
Mendengar itu, Nana merasa tersentuh. Dia memeluk lengan Juna erat, dia begitu beruntung memiliki suami seperti Juna, yang selalu mengerti keadaannya, dan tak pernah menyudutkan kesalahan padanya.
"Makasih ya, Kak," ucap Nana sambil mengukir senyum.
Juna mengangguk dan mengukir senyum pula. "Sama-sama, Sayang. Dan ingat, jangan hanya mengeluh, kita juga harus berusaha. Sampai rumah aku minta dua kali yah." ucap Juna menggoda istri kecilnya.
Dan sesampainya di rumah, Juna benar-benar meminta haknya. Dia langsung menggendong tubuh Nana masuk ke dalam kamar mandi untuk ikut membersihkan diri bersamanya.
Kini, mereka hanya tinggal berdua, dan beberapa asisten rumah tangga. Karena setelah tinggal beberapa hari di rumah Nana, keduanya langsung pindah ke rumah yang Alva hadiahkan untuk pernikahan mereka.
"Kak, aku sudah mandi lho," ucap Nana pura-pura menolak ajakan Juna.
"Tapi kamu punya bayi besar yang perlu dimandikan, Sayang." Juna mengecupi leher Nana hingga gadis itu bergerak kegelian.
__ADS_1
Pasrah sudah Nana pada kelakuan suaminya, tidak ada lagi rasa malu diantara keduanya untuk memandang tubuh polos satu sama lain.
Juna mengangkat tubuh Nana untuk masuk ke dalam bathtub yang sudah diisi air hangat. Namun, mandi hanyalah sebagai alasan, karena kini tubuh keduanya justru sudah menyatu, dengan Nana yang membelakangi tubuh Juna.
Bibir lelaki itu tak berhenti mencecap kulit putih istrinya, berlarian kesana-kemari dengan begitu bebas, sementara tubuh bagian bawahnya terus bergerak, menghentak Nana dengan gelora yang membuncang.
"Kak!" erang Nana, pucuknya yang tengah menegang dimainkan oleh jari-jari lihai Juna. Sedangkan dia terus dibuat sesak karena senjata Juna yang membuatnya melayang jauh ke atas awan.
Mendengar desaahan Nana, Juna semakin bersemangat. Tanpa aba-aba dia mencabut senjatanya, dan membalik tubuh Nana.
"Naik!" Juna menepuk pahanya yang tenggelam dalam air, sementara senjata yang kerap dipanggil Ruben itu masih berdiri begitu tegak.
Patuh, Nana langsung mendudukkan dirinya di pangkuan Juna, Ruben kembali melesak ke dalam sarangnya, Nana sedikit tersentak dan segera memeluk leher Juna.
Kini giliran gadis itu yang bergerak, membawa Juna ke surga dunianya yang begitu indah. Juna mengerang sambil mencengkram pinggul Nana kuat, dan api asmara itu semakin menggelora, begitu pucuk yang terombang-ambing itu Juna lahap, dan menggigitnya gemas.
Nana bergerak semakin cepat, air yang mulai dingin itu kembali menghangat karena aktivitas panas mereka. Ruang sunyi seketika penuh dengan suara-suara erotiss mereka, apalagi saat keduanya hendak mencapai gelombang pelepasan.
"Sayang, come on! Faster, please!" Juna membenahi rambut Nana, dan menyatukan kening mereka. Ruben terasa semakin dicengkeram kuat oleh liang milik istrinya, membuat dia tak berhenti menganga.
Hingga puncak itu datang, dan serentak mereka dapatkan. Nafas keduanya memburu, bahkan sedikit tersengal, tetapi kegiatan mereka seolah tak dapat dihentikan.
__ADS_1
Juna hanya mengambil jeda sebentar, sebelum dia kembali menghujani rahim Nana dengan ribuan benihnya.