Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Mengidam (Anjing)


__ADS_3

Meeting hari ini terlihat tidak begitu berjalan dengan lancar. Karena calon ayah muda, tengah frustasi kembali pada istri kecilnya.


Ia keluar dari ruangan meeting, menggebrak keras pintu, tanpa memperdulikan orang yang ada di dalam sana.


Tak hanya itu, ia melakukan hal yang sama di ruangannya. Bantingan pintu itu membuat Silvia yang kala itu tepat di belakang Alva, terlonjak kaget.


Juna yang sudah hafal dengan tingkah bos gilanya, meminta Silvia yang ingin meminta tanda tangan, terpaksa di tunda untuk sementara. Setidaknya sampai kewarasan Alva kembali seperti semula.


Silvia mengangguk patuh. Kemudian, Juna masuk ke dalam ruangan Tuannya. Terhenyak, dalam sekejap ruang kerja itu sudah nampak kacau. Kertas berserakan di lantai. Sedangkan si pelaku terlihat sangat kesal dengan nafas yang terdengar berat.


"Tuan." Panggil Juna dengan suara terdengar lirih.


Alva melirik tajam, dengan tangan yang bertolak pinggang. Lalu brak! Suara gebrakan meja kembali mengagetkan Juna. Lelaki itu hanya bisa menghela nafas seraya mengelus dadanya.


"Kenapa, Jun? Kenapa tiba-tiba Chilla seperti ini?" Rengeknya pada sang asisten. Peluh terlihat menghiasi dahi Alva, tetapi sama sekali tak di pedulikan oleh lelaki itu. Yang ia pikirkan sekarang adalah perubahan istrinya.


"Maksud, Tuan bagaimana?" Tanya Juna hati-hati, sebisa mungkin ia tidak ingin terjebak dengan pertanyaannya. Bisa-bisa ia di cekik kalau salah bicara.


Alva memejamkan matanya sejenak sebelum menjawab, melangkah ke arah Juna lalu mencengkram erat jas lelaki itu. "Chilla bilang benci padaku, Jun. Dari semalam dia tidak mau melihatku, padahal kemarin kau lihat sendiri, dia tidak mau jauh-jauh dariku. Tapi sekarang? Arghh..." Rancaunya frustasi sendiri.


Lihat, Juna pun tidak bisa menjawab pertanyaan ini, ia bingung, setahunya tingkah ibu hamilkan memang aneh-aneh. Tapi akan lebih aneh, jika suaminya bertingkah berlebihan seperti ini.


"Tuan, mungkin nona Chilla sedang mengidam?" Ujar Juna sedikit terbata-bata.


Mata Alva membola mendengar penuturan Juna. Lelaki itu mengangkat kepala. "Mengidam bagaimana? Kalau dia mengidam pasti dia memintaku membeli ini itu, tapi ini tidak, Jun. Bahkan semalam aku tidur di luar, karena dia tidak mau mencium bau tubuhku. Kalau benar dia mengidam, berarti anakku yang sialan! Aku sampai begadang karena tidak bisa memeluk Chilla." Cengkraman itu mengendur, tatapan lelaki itu berubah sendu, meskipun tadi ia marah-marah.


Ia mengingat dengan jelas tatapan Chilla yang berbeda dari biasanya. Ah, dia tidak pernah berpikir akan seperti ini, sungguh ia tidak mengerti.


Ia kembali melangkah ke kursi kebesarannya. Lalu "Arghh... Sampai kapan ini, Jun?" Berteriak mengagetkan, Juna sampai keselek ludahnya sendiri mendengar pekikan Alva.


"Awas saja! Kalau sudah lahir, dia harus berkelahi denganku! Menyusahkan saja." Gerutunya sambil memijat pelipisnya.


Juna semakin geleng-geleng kepala.


"Sabarlah, Tuan. Setahuku, ibu hamil memang seperti itu?"


"Darimana kau tahu? Kau saja belum menikah?" Cibir Alva cepat.


Hei, aku belum menikah tapi aku juga belajar bagaimana menjadi seorang ayah yang siaga. Tidak seperti kamu! Sialan!


"Kenapa tatapanmu seperti itu? Kau sedang memakiku?" Pekik Alva dengan bibir tertarik sinis.

__ADS_1


Belum sempat Juna menjawab, ponsel milik Alva berbunyi dengan nyaring. Lelaki itu membiarkan begitu saja, karena ia sedang malas, tetapi begitu Juna mengatakan. "Tuan, itu telepon dari Nona Chilla."


"Hah?"


Alva cepat-cepat meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja, lalu mengusap icon berwarna hijau di layar dengan tidak sabaran.


"Halo, Sayang?" Sapa Alva girang, ia berharap Chilla sudah berubah seperti semula. Ia sampai melempar senyum ke arah Juna saking senangnya.


"Sayang kenapa lama sekali mengangkatnya?"


"Ah, iya aku minta maaf. Aku baru selesai meeting. Ada apa? Apa ada yang kau inginkan?" Tanya Alva dengan semangat.


"Sayang, aku ingin mangga muda. Carikan yah, tapi yang dari pohonnya. Jangan beli di pasar."


"Ah, tapi kau sudah tidak membenciku kan?"


"Memangnya siapa yang bilang kalau Chilla benci sama Kakak? Chilla cuma mau mangga muda, itu saja."


Tak ingin masalah makin panjang, Alva langsung mengiyakan saja permintaan istri kecilnya. "Baiklah, aku akan segera pulang membawa mangga muda. Tunggu aku di rumah yah."


"Makasih, Sayang." Ucap Chilla lalu di akhiri kecupan singkat di ujung telepon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi menjelang siang, Alva dan Juna berputar-putar mencari pohon mangga yang berbuah, dari gang besar hingga gang sempit mereka jelajahi semua.


Namun, belum ada satupun yang mereka temukan. Calon ayah muda itu kembali frustasi, menendang-nendang kursi kemudi Juna.


"Jangan pulang sebelum kita menemukannya!" Cetus Alva. Bagaimanapun caranya, ia harus menemukan mangga muda itu, kalau tidak, bisa-bisa Chilla kembali tak mau bertemu dengan dirinya.


Juna melengos. "Baik Tuan." Padahal hatinya sudah merutuki Alva.


Hingga jam 2 siang, mobil itu akhirnya berhenti di sebuah rumah berpagar putih, ada pohon mangga yang cukup tinggi di depan rumah itu. Membuat hati Alva berteriak lega.


Tanpa membuang waktu, Juna memencet bel, hingga si Tuan rumah membukakan pintu untuk kedua lelaki tersebut.


"Permisi, Nyonya." Sapa Juna, mengangguk memberi salam, pun dengan Alva meski tanpa senyum.


"Iya, Tuan. Ada perlu apa?"


Juna melirik Alva, paham lelaki itu tidak mungkin akan bicara sendiri tentang keinginan istrinya.

__ADS_1


Sabar, Jun. Semoga saja anak Nona Chilla tidak mirip denganmu.


"Begini Nyonya. Istri dari bos saya sedang hamil, dia menginginkan mangga muda yang dipetik langsung dari pohonnya, dan kami melihat mangga Nyonya sedang berbuah..."


"Oh, ambil saja, tidak apa-apa, tapi ambil sendiri yah. Suami saya sedang bekerja soalnya." Si tuan rumah langsung menyambar sebelum Juna mengakhiri kalimatnya.


"Terimakasih, Nyonya. Tapi ngomong-ngomong pakai apa yah manjatnya?"


"Biasanya sih, suami saya langsung manjat aja ke pohonnya, nggak pake apa-apa, Tuan."


"Oh begitu."


"Tunggu apalagi, Jun?"


Juna melirik sang Tuan yang sudah tidak sabaran.


Cih! Sialan, dia menyuruhku memanjat? Sebenarnya anak siapa dalam kandungan istrinya.


Si tuan rumah hanya terkekeh, lalu pamit masuk ke dalam untuk mengambil kantong kresek.


Sedangkan Juna mulai melepas sepatu pantofelnya, dan memanjat ke atas pohon mangga tersebut. Awalnya sulit, tetapi setelah berusaha dengan sekuat tenaga, akhirnya ia sampai juga di atas sana.


"Jun, ambil yang banyak." Pinta Alva, seraya mengulurkan kantong kresek itu ke arah Juna.


Tangan Juna berusaha menggapai, tetapi sebelum itu mulutnya berteriak kencang. "ANJINGG!"


Alva terperangah dengan teriakan Juna. "Hei apa maksudmu?"


"A A ANJINGG!!!"


"Berhenti mengataiku brengsekk, atau kau ku pecat!"


Juna menggeleng cemas di atas sana. Lalu berteriak sambil menunjuk dengan tangan bergetar. "Ada ANJINGG di belakang, Tuan!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Daddy ngeselin banget yah


Yuk di vote, mumpung hari Senin💙


__ADS_1


__ADS_2