
"I promise, this is the last one, honey," Alva meremat pantatt Chilla yang tengah berdiri menghadap tembok, bergerak cepat karena pusakanya siap meluncurkan bisa, yang dapat membuat Chilla kenyang selama 9 bulan.
Di mata Alva, tubuh Chilla terlihat semakin indah dari arah belakang, membuat lelaki itu terbang dan mabuk kepayang. Himpitan sempit di bawah sana, benar-benar tak mampu membuat Alva berpaling. Ingin terus menyusurinya, lagi dan lagi.
"Ahh, sayang rasanya aku ingin meledak," pekik Chilla diantara desaahannya, ia sudah tak sanggup lagi, dan detik selanjutnya cairan itu benar-benar meleleh, deras membasahi pangkal pahanya.
Dan di susul auman keras Alva, yang juga telah mendapatkan pelepasannya. Nafas keduanya memburu, peluh mengucur menjadi satu. Alva masih berdiri tegak, sedangkan Chilla terkulai lemas dalam dekapan lelaki itu.
"Kita mandi bersama." Ucap Alva setelah memberi jeda. Menggotong tubuh mungil Chilla, melangkah menuju kamar mandi dengan tubuh telanjangnya.
Tak mampu menjawab apapun, Chilla hanya mengalungkan tangannya di leher Alva dan menyenderkan kepalanya di dada, gadis itu benar-benar lelah dan sudah tidak memiliki tenaga.
*********
Selesai makan malam dan hujan mereda, Alva berniat mengantarkan Chilla untuk pulang, gadis itu tidak boleh terus di apartemennya, karena besok, ia akan mulai sibuk dengan segala perencanaan yang sudah ia siapkan.
Yola harus secepatnya ia singkirkan, dan setelah itu, ia akan memberikan gadisnya kejelasan.
Mengingat itu, entah kenapa Alva jadi tidak sabar dengan hati yang berdebar-debar. Cih, ini menjijikan, rutuknya pada diri sendiri dengan senyum yang tak tertanggal.
Keduanya sudah didalam mobil, entah kenapa semenjak Alva bilang akan mencoba untuk mencintainya, Chilla merasa dirinya memang begitu di cintai lelaki itu.
Alva memang kerap posesif, tapi ini berbeda, Alva memperlakukannya sebagai seorang kekasih, bukan lagi sebagai adik.
"Kenapa kau terus tersenyum, hem?" Tanya Alva, melirik sekilas gadis di sampingnya yang terus mengulum senyum tak habis-habis, sama seperti dirinya.
"Kau senang, membuat tenagaku habis?" Seloroh Alva kembali buka suara, Chilla terkekeh mendengarnya, bukannya dia yah yang kehabisan tenaga, lihat, bahkan lelaki itu masih terlihat segar bugar sampai sekarang.
"Eumm... Chilla cuma bilang, Chilla bahagia sama Kakak," ucapnya lalu tertunduk, tak bisa di bohongi, sudut bibir Alva tertarik ke atas, ada bahagia yang menyelinap ketika mendengar pernyataan gadisnya. Kekanakan sekali memang, tetapi beginilah hormon jatuh cinta, alasan sederhana yang membuat kita senantiasa tersenyum.
Cih, mungkin benar, aku sudah mencintaimu, lihat aku jadi bodoh seperti ini. Kata-kata itu hanya mampu ia ucapkan didalam hati.
Hingga tak berapa lama kemudian, mobil yang mereka kendarai sampai di kediaman rumah Chilla. Lagi, Alva menepikan mobilnya cukup jauh, agar tak terjangkau oleh satpam rumah gadisnya.
Sebelum keluar, Alva lebih dulu menggenggam tangan Chilla, hingga gadis itu berbalik dan kedua mata mereka sukses bertemu, saling menatap dan mengunci satu sama lain.
__ADS_1
Alva mengikis jarak. Dan mulai memejamkan mata, saat bibirnya menyapa benda lembut itu lagi, satu tangannya menahan tengkuk hingga ciuman itu terasa lebih dalam. Sedalam rasa yang menggelora, yang tengah ia rasakan sekarang.
Sesaat keduanya hanyut dalam perasaan yang sama, sulit di devinisikan, tetapi terasa membahagiakan.
"Tsk," pagutan itu terlepas, tetapi tangan Alva masih senantiasa menggenggam jemari mungil itu. Mengecup sekilas, dan mulai menatap netra jernih milik gadisnya dengan tatapan teduh.
"Sayang dengarkan aku baik-baik... Tadi adalah percintaan terakhir kita, karena mulai besok aku akan sibuk, jadi bersenang-senang lah dengan sahabatmu itu. Jangan macam-macam, dan jangan lakukan apapun yang membuatku kecewa..."
"Karena saat aku mengatakan untuk mencoba mencintaimu, aku tidak berpikir untuk mundur, aku akan jadi satu-satunya lelakimu, dan kau." Alva menuding hidung Chilla, "Hanya milikku, itu artinya apa yang telah menjadi milikku, tidak akan bisa di miliki oleh orang lain, kau mengerti?"
Mata Chilla terbuka lebar, dengan mulut sedikit menganga, debaran di jantungnya seolah ingin meledak mendengar semua ungkapan Alva untuknya. Bahkan tadi Alva memanggilnya sayang dengan begitu mesra.
Chilla mengangguk antusias, ia membalas genggaman tangan Alva tak kalah erat, ia percaya, usahanya tidak akan sia-sia. Alva akan segera mencintainya, dan mereka akan hidup bahagia. Ya, itu tujuannya.
"Aku tidak tahu ini perasaan apa, yang jelas aku akan marah jika kau berani bertemu lelaki lain di belakangku, aku akan merasakan sakit, jika kau dekat dengan mereka, dan aku akan kecewa jika kau menyembunyikan sesuatu dariku..."
"Jika kau menyebut ini adalah cinta, katakanlah seperti itu. Jadi, aku minta, apapun yang terjadi nanti, jangan pernah pergi, dan tetap genggam tanganku seperti ini..."
Alva menautkan jari-jarinya dengan milik Chilla semakin kuat, karena ia sudah semakin yakin akan perasaannya. Ia akan memperjuangkan Chilla, apapun resiko yang akan di tempuhnya.
Rasanya perang itu akan segera di mulai, antara dirinya dan Yola, bahkan dengan sang Papa sekalipun.
Dan ini adalah pertama kalinya, ia akan menentang sang Papa, demi siapa? Ya, demi gadisnya yang benar-benar akan membuatnya gila, jika mereka tak bisa bersama. Gadis yang selalu memberikan warna dalam hidupnya, gadis yang sudah hidup bersamanya selama 18 tahun, adik kecilnya, Chilla.
Mata Chilla memerah dan berkaca-kaca, "Tentu saja, bukankah ini yang Chilla harapkan?" Gadis itu membalas tatapan Alva tak kalah dalam, mencoba mencari kebohongan didalam sana, tetapi nihil, ia tidak menemukannya.
Dan itu semua sukses membuat hati Chilla berbunga, seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan didalam sana.
Kecil, Chilla mengulum senyum, detik selanjutnya, Chilla menangkup kedua rahang Alva, mengikis jarak untuk mempertemukan kembali bibirnya dengan bibir lelaki itu. Mengecapnya dengan perlahan, untuk menikmati rasa manis dan lembut secara bersamaan.
Pelan, Alva mulai membalas, ia tersenyum di sela-sela ciuman mereka, ia benar-benar merasa lega setelah mengungkapkan semuanya.
Tetapi bukankah ini baru awal dari hubungan mereka yang sesungguhnya? Karena setelahnya akan ada beberapa tembok besar yang menghadang, sanggupkah keduanya melalui itu bersama-sama?
Kita akan bahagiakan Chilla?
__ADS_1
*******
Pukul 7 lewat 15 menit, Chilla sudah menapaki tangga yang menuju kamarnya, yang berada di lantai dua. Tetapi langkahnya terhenti, begitu Bi Inah asisten rumah tangganya, memanggil dari bawah.
"Ada apa Bi?" Tanya Chilla menoleh dengan mata yang menyipit.
Dengan wajah antusias, wanita paruh baya itu segera mendekat, membawa dua buah buket bunga yang berbeda. Ia menyerahkan itu ke tangan Chilla, sesuai pesan orang yang telah mengirimnya.
"Loh ini dari siapa?" Tidak mungkin, semua ini dari Alva kan? Karena jelas-jelas lelaki itu bersamanya seharian.
Mendengar pertanyaan itu, Bi Inah mengulum senyum, senang, anak gadis yang telah di asuhnya sejak kecil sekarang sudah besar, dan sebentar lagi pasti memiliki pacar.
"Tadi Tuan Satria dan Den Bryan kesini Nona, mereka bilang ingin mengucapkan selamat, atas kelulusan Nona, tapi karena Nona tidak ada, mereka menitipkannya pada Bibi." Ucap Bi Inah apa adanya.
Karena setelah tahu, kalau hari ini adalah hari kelulusan gadis itu, dengan penuh semangat Satria langsung memesan buket bunga untuk gadis yang di cintainya, bahkan ia berniat untuk mengajak Chilla makan malam romantis berdua. Sama halnya dengan Bryan, ia kira Chilla sudah pulang ke rumahnya, tetapi ternyata ia salah. Lagi-lagi, keduanya kecewa pada orang yang sama.
"Oh, kalau gitu makasih ya Bi," ucap Chilla dengan reaksi datar. Tidak terkejut, ataupun senang.
Dari apa yang dilihatnya, Bi Inah dapat menyimpulkan, bahwa anak majikannya, tidak tertarik pada kedua pemuda yang mendekatinya.
Heleh, ganteng-ganteng kok ra ene sing nyantol.
"Sama-sama Nona,"
Dengan tersenyum gadis itu berbalik, melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kamar. Sebelum masuk, Chilla menatap tong sampah yang ada didepan kamarnya. Ia mematung sejenak, lalu dengan perasaan bersalah, Chilla meletakkan kedua buket bunga indah itu disana, tanpa membaca untaian kata yang di tulis Bryan dan Satria.
"Maaf, Chilla nggak bisa,"
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Kakak kalo udah senyum manis banget yah, jadi pengen coba belalainya, eh
__ADS_1
Btw pada seneng nggak liat Kakak pacar mau berjuang?