Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Kecewa


__ADS_3

Beberapa jam di apartemen Yola sebelum Alva dan kedua orang tuanya datang...


"Ah, my Daniel jangan keluarkan didalam." Ucap Yola sembari mendesaah dibawah tubuh Daniel, puncak itu akan segera mereka dapatkan. Dan serentak, saat lelaki itu menghentak kuat, dan menekan miliknya, suara lolongan, di susul gemetar kaki Yola karena merasakan orgasmeenya, menjadi akhir dari percintaan mereka siang ini. Daniel mencabut diri dan memuntahkan laharnya diatas perut Yola.


Wanita itu menghirup nafasnya pendek-pendek, mencoba menormalkan aliran darahnya yang baru saja mendapat sengatan karena pelepasan.


Kemudian, dua orang yang belum memakai busana itu, berganti duduk di meja dapur, mengaliri tenggorokan mereka yang terasa kering, dengan air dingin.


"Jadi dia yang memintamu datang kesini?" Tanya Yola, ia meletakkan gelas itu di atas meja, beralih menatap Daniel yang sedang memakan satu buah apel.


"Hem, dia akan menjebakmu, Baby." Balas Daniel, membuat senyum sinis di bibir Yola muncul.


"Dan kau menyetujuinya?"


Daniel mengunyah apel itu, tetapi tak langsung di telannya, ia justru merampas bibir Yola, dan memasukan apel itu ke dalam mulut wanitanya. Yola tidak menolak sama sekali, baginya Daniel selalu mengajarkan sesuatu yang baru, dan itu menyenangkan.


Daniel tersenyum miring. "Tentu saja, dia akan datang dengan orang tuanya saat kita bercinta."


"Cih, apa dia ingin melihat milikmu yang besar?" Remeh Yola, dengan tatapan meledek.


Daniel terkekeh mendengarnya. "Mungkin saja, tapi akan aku pastikan dia yang akan terjebak dengan permainannya sendiri." Ucap Daniel yakin.


"Apa? Kamu punya rencana?"


"Hem."


"Apa?"


Daniel merapatkan tubuh, lalu berbisik di telinga Yola. "Akan ku beritahu, setelah kita main satu kali di atas meja."


************


Sinar matahari menjadi bukti bahwa pagi telah menyapa penduduk bumi. Hari itu, Chilla sudah menyiapkan segala keperluannya untuk pergi dengan sang pacar, ia hanya membawa seperlunya saja, berkas-berkas yang sekiranya penting, dan dia butuhkan untuk mengurus pernikahannya dengan Alva.


Ma, Pa maafin Chilla.


Di letakkannya surat itu di atas meja belajarnya.


Ia dan Alva sudah sepakat, bahwa mereka akan pergi setelah Pram dan Sarah berangkat bekerja, dan waktunya hanya 30 menit lagi.


Bi Inah, sang asisten rumah tangga di minta memanggil anak majikannya untuk sarapan, dengan menapaki anak tangga, Bi Inah sampai di kamar Chilla.


Sedangkan si empunya kamar sedang kembali merasakan mual. Ya, sejak hari itu hingga hari ini, ia selalu begini, ia merasa tubuhnya baik-baik saja, hanya rasa mual itu kadang menyerang tiba-tiba. Namun, ia tidak pernah bercerita pada siapa-siapa.


Tok tok tok


Suara ketukan di pintu tak Chilla hiraukan, ia terus memuntahkan apa saja yang di telannya, hingga cairan kekuningan yang terasa pahit itu menyetak di ujung tenggorokannya.


"Nona, saatnya sarapan," ucap Bi Inah untuk kesekian kali, namun tetap tidak ada sahutan apapun. Sudah biasa keluar masuk di kamar Chilla, akhirnya wanita paruh baya itu memutuskan untuk mengecek keadaan sang Nona.


Di lihatnya pintu kamar mandi terbuka, dan untuk kesekian kalinya, wanita itu menyaksikan anak majikannya muntah-muntah. Ia sedikit curiga, terlebih gadis itu beberapa kali menitip mangga muda saat dirinya ke pasar, atau hanya sekedar meminta satpam rumah, untuk membeli rujak buah. Dan masih banyak keanehan lagi yang membuat Bi Inah curiga.


Opo meteng yo? Lah tapi karo sopo?


Huwek...


Chilla memegangi perutnya, lalu mencuci mulut saat ia merasa sedikit lega. Dan saat dirinya berbalik, Chilla dibuat terkejut, karena asisten rumah tangganya sudah berdiri disana.


"Bi Inah, bikin Chilla kaget aja," cetusnya seraya memegangi dada.


"Eh Non maaf, dari tadi saya sudah ngetok pintu, tapi Nona nggak jawab-jawab." Terang Inah tidak enakan, melihat Chilla sedikit memasang wajah kesal.


"Nggak apa-apa Bi, sarapan udah siap yah?"


"Nggih Non, Nona sudah di tunggu Nyonya sama Tuan di meja makan."


Chilla mengembangkan senyum, jari jempol dan jari telunjuknya membentuk huruf o. "Oke." Lalu lekas turun ke bawah.


Chilla baru saja ikut bergabung di meja makan bersama ayah dan ibunya, ia langsung di sapa oleh Pram dan juga Sarah dengan wajah cerah.


"Kamu sudah rapih pagi-pagi begini, mau kemana?" Tanya Sarah, mulutnya berbicara, tetapi tangannya sibuk melayani sang suami.


Chilla berkedip genit, "Iya Ma—"


Lagi, rasa mual itu kembali menyerang saat ia terus menghirup aroma nasi yang begitu menusuk, ia langsung menutup mulutnya, dan ngacir ke arah wastafel.

__ADS_1


Pram dan juga Sarah saling pandang, menatap punggung mungil Chilla yang sedang berusaha memuntahkan sesuatu yang ada dalam perutnya sambil menepuk-nepuk tengkuk.


Bi Inah semakin yakin, bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan Chilla, gadis berponi tersebut tidak mungkin hanya mengalami sakit biasa. Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian, Bi Inah mendekat ke arah kedua majikannya.


"Nyonya, Tuan," panggilnya lalu menunduk.


Sarah yang ingin menghampiri Chilla, jadi urung, mendengar pembantunya memanggil.


"Ada apa Inah?" Itu suara Pram, ia lebih dulu menyambar dari pada sang istri, Sarah kalah cepat padahal ia sudah mangap-mangap tadi.


Bi Inah menggenggam erat serbet yang ada di tangannya, ia merasa kegugupan telah melanda dirinya, hingga udara di ruangan tersebut terasa tak cukup. Bagaimana kalau ternyata dugaannya salah?


Selagi Chilla masih sibuk dengan mual di perutnya, akhirnya Bi Inah menceritakan apa yang di lihatnya, semua keanehan yang terjadi secara tiba-tiba pada diri Chilla. Bukan ingin mengadu, namun alangkah lebih baiknya jika Sarah dan Pram tahu, pikir Bi Inah.


Sarah menutup mulutnya yang sedikit menganga dengan kedua tangan, sedangkan Pram hanya membatu di tempatnya.


Tidak mungkin.


"Inah, kamu tidak bohongkan?" Tanya Sarah mencoba meyakinkan, bahwa semua itu tidaklah benar.


Namun, sebelum Inah menjawab, Chilla datang, berdiri diantara ketiganya dengan raut kebingungan. Kenapa semua orang menatap ke arahnya dengan tatapan seperti itu?


Terlebih ibunya, kini Sarah langsung menghadap ke arah Chilla dengan air muka yang tampak serius. Menelisik tubuh Chilla dari atas hingga bawah, terlihat lebih berisi, batin Sarah.


"Chilla, Mama mau tanya, tapi Chilla harus jawab jujur yah, apa benar kamu sering muntah-muntah saat pagi hari seperti ini?" Tanya Sarah dengan bola mata yang sudah nampak memerah. Namun, tetap ia tahan, karena percaya pada putrinya, bahwa gadis itu tidak mungkin melakukan itu semua.


Entah Chilla menyadari atau tidak, ia justru menggangguk dengan wajah polosnya.


Pram memejamkan matanya sejenak, melihat jawaban putri semata wayangnya.


"Apa benar, kamu juga suka menitip pada Bi Inah mangga muda?" Lanjut Sarah pada pertanyaan kedua.


Lagi, Chilla menggangguk, namun kali ini sedikit ragu, karena melihat tatapan ayah dan ibunya mulai berbeda, ada kilatan amarah dan kecewa disana.


"Chilla, jawab Mama dengan jujur, kamu—hamil?"


Deg!


Chilla terhenyak dengan netra yang membola, reflek ia memegangi perutnya yang terlihat masih rata. Matanya yang memerah memandang ke arah ayah dan ibunya secara bergantian. Ia menggigit bibir bawahnya, ia tidak tahu harus menjawab apa, karena iapun tidak tahu bahwa ada nyawa lain yang bersemayam dalam rahimnya.


"Chilla jawab Mama!" Sarah sedikit membentak.


Dan Chilla hanya bisa menggeleng, tanda ia tidak tahu.


Nafas Sarah memburu, kedua tangannya terangkat dan memegang bahu putrinya. Matanya memancarkan rasa penasaran yang menggunung.


"Jawab Mama Chilla, benar kamu hamil?" Tanya Sarah sekali lagi, ia harap anaknya berkata tidak dengan lantang. Namun, seperti menelan empedu, Sarah di hadapkan kembali dengan kekecewaan.


"Chilla tidak tahu Ma, Chilla tidak tahu." Gadis itu terus menggeleng, air matanya luruh, bukan karena tidak mau menerima arti hadir janin itu, tetapi posisinya serba salah, dan entah kenapa ia merasa takut sekarang.


Tangan Sarah sedikit mencengkram kuat. "Jadi benar kamu melakukannya? Kalau kamu menjawab tidak tahu, ada kemungkinan kamu hamil Chilla."


Gadis berponi itu bergeming, terus terisak tanpa mau menjawab, lidahnya terasa kelu. Hingga akhirnya, Pram yang sedari tadi hanya terduduk dengan lesu, meraih pergelangan putrinya dan menyeretnya keluar dengan sedikit kasar.


"Katakan, siapa badjingan yang berbuat ini padamu, tunjukkan dimana rumahnya." Ucap Pram dingin, dan hal itu sukses membuat Chilla semakin menangis kencang.


"Pa, maafin Chilla." Isak itu tercekat.


Seketika Pram mengentikan laju kakinya tepat di depan pintu, beralih menatap Chilla yang terus menangis di belakang tubuhnya. Kata maaf itu seolah menjadi bukti, bahwa putri mereka memang telah melakukan perbuatan hina itu. Darah dalam tubuh Pram mendidih hingga ke puncak ubun-ubun.


"Alasan apa kamu melakukan ini, hah? Kurang apa Papa dan Mama mendidikmu? Apa kami terlalu memanjakanmu, kamu jadi semena-mena seperti ini?" Teriak Pram dengan lantang. Ruang sunyi itu pecah oleh suara bass-nya, tak ada yang mampu untuk menegakkan kepala sekarang, semuanya diam dan senyap.


Bahkan Sarah, hanya bisa mematung di tempatnya, menonton sang suami yang tengah meluapkan kekecewaannya pada putri mereka. Dadanya pun terasa sesak, air matanya tak bisa di hentikan, mengalir deras seperti takkan pernah habis.


"Chilla, Chilla cinta sama dia Pa,"


PLAK!!!


Satu tamparan keras melayang, Chilla memegang pipinya yang terasa panas dengan air mata yang bercucuran, tetapi tamparan itu tak berarti apa-apa sekarang, ketimbang rasa kecewa yang ia torehkan di hati kedua orang tuanya. Ia telah melemparkan kotoran ke wajah mereka berdua.


"Omong kosong. Cinta tidak begini, Chilla. Harusnya kamu sedikit lebih pintar, dan gunakan otakmu. Sekarang katakan siapa badjingan itu?" Memekik dengan sorot mata yang semakin menajam.


Suara teriakan Pram yang begitu kencang, sampai ke telinga Mona dan juga Jonathan. Kedua orang yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing itu, langsung memutuskan untuk melihat, apa yang sebenarnya terjadi dengan tetangga sekaligus sahabat mereka itu.


Begitu mereka sampai di halaman rumah Pram, keduanya dibuat terperangah, melihat Chilla yang sedang menangis, dan sang ayah yang terlihat sangat marah.

__ADS_1


"Katakan Chilla, siapa pria berandal yang menghamilimu?" Sentak Pram untuk kesekian kali, melihat putrinya yang hanya bergeming sambil terus terisak dan meremat kedua tangannya yang terasa mengeluarkan keringat dingin.


"Pa," lirih Chilla, "Chilla minta maaf, Pa,"


Pram mengguncang kedua bahu Chilla."Papa, tidak hanya menyuruhmu minta maaf Chilla, kami ingin tahu siapa ayah dari anak itu, SIAPA???


"ALVA."


"Alva ayah dari anak itu."


Semua orang melihat ke sumber suara, tak terkecuali Sarah, ia langsung melipir keluar dan melihat ke arah seorang lelaki dengan nafas yang terengah-engah karena telah berteriak sekencang-kencangnya, mengakui bahwa janin yang di kandung Chilla, adalah hasil buah cinta mereka.


Ya, lelaki itu adalah Alva. Merasa lama menunggu gadisnya di dalam mobil, akhirnya Alva memutuskan untuk mengintip, namun reaksinya tak berbeda jauh dengan kedua orangtuanya, ia terperanjat, mendengar Pram yang menanyakan ayah dari anak yang di kandung gadisnya.


Mona sedikit terhuyung, namun segera di tangkap oleh Jonathan, nafasnya terasa tercekat, mendengar dengan jelas pengakuan Alva.


Alva berjalan menuju Pram dan juga Chilla, ia sedikit melirik ke arah kedua orang tuanya, namun ia tidak berhenti, kini tujuannya adalah sang gadis, ia tahu Chilla tengah merasa takut sekarang, dan ia tidak mau Chilla merasakan ketakutan itu hanya sendiri.


"Om,"


BUGH!


Baru satu kata yang Alva ucapkan, pukulan telak langsung Pram berikan, ia menyerang dengan membabi-buta hingga membuat lelaki muda itu tersungkur keatas tanah. Namun, dengan sisa tenaganya Alva bangkit, lalu bersimpuh di kaki Pram.


Dan Pram memberikan kembali tendangannya, membuat Chilla memekik. Alva berusaha bangkit, kembali terduduk dan merendah serendah-rendahnya.


"Om, aku minta maaf, tapi aku janji, aku akan bertanggung jawab." Ucap Alva meyakinkan, ia tak peduli pada setetes darah yang mengalir dari sudut bibirnya akibat pukulan Pram, yang ia mau sekarang hanyalah restu dari pria paruh baya tersebut.


Pram menaikkan satu alisnya. "Jangan kamu—"


"Om, aku dan Chilla memang bersalah, tapi kami benar-benar saling mencintai, tolong,"


"Aku tidak—"


"Jangan larang kami Om, kami mohon izinkan kami menikah," tukas Alva.


"Lalu bagaimana dengan Yola?" Timpal Jonathan tiba-tiba. "Kamu juga harus bertanggung jawab padanya."


Alva melirik sekilas sang ayah, rasa benci itu semakin memuncak, di saat seperti ini ayahnya masih membahas tentang Yola. Sial!


Lelaki muda itu berbalik kembali menghadap ke arah Pram. "Om, percaya padaku, aku hanya melakukannya dengan Chilla, dan mengenai pengaman itu." Melirik Jonathan tajam. "Itu memang milik Alva, tapi aku menggunakannya saat bersama Chilla Om. Tolong percaya pada Alva." Terangnya dengan begitu jujur. Ia runtuhkan sejenak rasa gengsinya.


Terisak, lelaki itu benar-benar lemah sekarang, Alva terus merengek seperti anak kecil yang minta di belikan mainan pada kedua orang tuanya. Ia tidak tahu lagi harus dengan apa ia membuktikan kesungguhannya terhadap Chilla, kesalahannya memang begitu besar, tetapi ia sudah meyakinkan diri untuk menebus kesalahan itu.


Tak ingin membuat Alva hanya sendiri menghadapi sang ayah, Chilla yang masih menangis ikut terduduk di samping lelaki itu.


"Pa, tolong restui kami, Kak Alva sudah berjanji akan bertanggung jawab, Pa," Tak ada kata lain selain maaf yang terlontar dari mulut keduanya.


Pram menarik satu sudut bibirnya keatas. "Heuh, kalian ini lucu."


"Pa, aku mohon." Pinta Chilla dengan bibir yang terus bergetar.


"Kalian renungi—"


"Kami akan merenungi kesalahan kami Om, tapi aku benar-benar minta restu Om sekarang." Potong Alva. "Aku berjanji akan menjaga Chilla dan anak kami."


"Kalian ini—"


"Pa, please. Chilla janji nggak akan kecewain Papa sama Mama lagi." Chilla mengikuti Alva, untuk terus memohon.


"Cukup—"


"Pa, Om."


"HAISH, BERHENTILAH MENYELA!!! AKU HANYA INGIN MENYURUH KALIAN SECEPATNYA MENIKAH."


Haa? Kompak Chilla dan Alva.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


Kumaha?

__ADS_1


__ADS_2