
Akhirnya rombongan satu angkot itu sama-sama mengantar Chilla ke rumah sakit. Sesekali ibu hamil itu mengerang dengan meremat kuat tangan Alva, tetapi tak lama dari itu rasa sakitnya mereda.
Hingga tak berapa lama kemudian mereka semua sampai di rumah sakit yang Alva maksud. Di sana, beberapa perawat sudah menunggu, membawa brankar untuk membawa Chilla masuk ke dalam ruang persalinan yang sudah disiapkan.
Satu ruangan VVIP.
Juna ikut berjalan tergesa, dia menghampiri Alva dengan raut wajah kebingungan. Apalagi wajah sang Tuan kini terlihat sangat pias, karena terlalu cemas memikirkan Chilla dan buah hatinya.
"Tuan, ada apa?" tanya Juna, seraya mensejajarkan diri, mengikuti langkah Alva.
Lelaki itu menghentikan langkahnya dan menoleh, dia tidak ingat kalau ada Juna yang mengikutinya. Betapa sialnya dia menjadi pelupa, dia harus marah-marah pada semua orang, saking cemasnya.
"Sialan! Kau ini kemana saja sih?" Alva memukul bahu Juna secara reflek.
Juna yang tidak tahu apa-apa tak menghindar, dia hanya meringis menerima pukulan keras itu.
"Saya kan dari tadi mengikuti anda, Tuan," balas Juna apa adanya.
Menyadari itu, gigi Alva saling bertautan dengan tangan yang terkepal kuat, gemas pada dirinya sendiri.
"Ya Tuhan, Jun. Istriku mau melahirkan, dia sedang kesakitan. Sekarang telepon Mama dan semua keluarga, aku mau menemani Chilla."
Juna yang masih belum paham situasi hanya bisa melongo. "Apa? Melahirkan, bagaimana bisa?"
"Sudah jangan banyak tanya! Lakukan saja perintahku," cetus Alva.
"Baik, Tuan."
Alva hendak berbalik, tetapi seketika dia ingat orang-orang yang menunggunya di depan sana. Mereka pun ikut panik tadi, bahkan Alva belum mengucapkan terima kasih.
"Oh ya, itu orang-orang yang mengantar istriku sampai ke rumah sakit, beri mereka imbalan masing-masing satu juta. Ucapkan rasa terima kasihku."
"Satu juta?"
Alva mendengus.
"Sekali lagi kau bertanya, ku tebas lehermu, Jun."
Setelah itu, Alva buru-buru ke ruangan istrinya. Dia berlari dengan tergesa, ingin secepatnya berada di samping gadis itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa jam kemudian...
Di ruangan VVIP.
__ADS_1
Semua persiapan persalinan sudah lengkap, tinggal menunggu pembukaan secara sempurna. Di sana, ada Mona, Sarah dan juga Alva yang menemani Chilla, serta seorang dokter dan beberapa perawat yang akan membantu persalinan ibu hamil itu.
Situasi semakin panik. Bukan, bukan karena terjadi sesuatu pada ibu hamil itu. Aura di sekitar ruangan semakin bertambah riuh, hanya karena satu lelaki yang berdiri di samping Chilla, sedari tadi dia terlihat tidak sabaran.
Dia terus mengoceh kemana-mana, sedangkan matanya senantiasa basah. Dia tidak bisa seperti ini, melihat Chilla yang kesakitan sama saja menyiksanya.
"Sayang, sabar yah. Maaf membuatmu seperti ini, aku janji setelah ini akan menjadi suami yang lebih baik lagi." Alva mengelus punggung Chilla, gadis itu tengah memiringkan badannya, sesekali mengerang lirih. Terkadang terlihat baik-baik saja, dan begitu seterusnya.
"Iya, Kak. Kamu sudah bicara seperti itu lebih dari sepuluh kali," gumam Chilla, dia sudah tidak memiliki tenaga untuk meladeni Alva.
Frekuensi kontraksi semakin terasa, lebih cepat datang ketimbang tadi. Punggungnya terus berdenyut, rasanya benar-benar tidak karuan, hingga Chilla terus menggigit bibir bawahnya, saat rasa sakit itu menghujam membelit tubuhnya.
"Aduh, Kak," rintih Chilla, sambil mencengkram erat sprei.
"Kenapa, Sayang. Apa rasanya sangat sakit?" Alva beralih mengelus puncak kepala Chilla, lalu mengecupinya bertubi-tubi.
Setiap rintihan gadis itu begitu meyayat hati Alva. Dia benar-benar ikut tersiksa.
"Aku tidak apa-apa. Tapi berhentilah bicara, Sayang. Aku jadi pusing," Chilla berbicara dengan suara parau sambil meringis.
"Baiklah, aku akan berhenti bicara. Tapi aku mohon, jangan terluka, jangan! Aku mohon jangan." Alva menggenggam erat tangan Chilla, lalu menempelkannya di pipi, dia terisak kecil.
"Kau pasti bisa, Sayang. Kau kuat, aku akan turuti semua kemauanmu, tapi asalkan kau tidak meninggalkanku."
Hening sesaat...
"Ma!!!"
Mona dan Sarah saling pandang lalu geleng-geleng kepala. Pun dengan beberapa perawat di sana, mereka kompak melipat bibir ke dalam, menahan tawa.
Tidak berani bersuara.
"Hadeuh! Mama ikut pusing dengernya, udah deh Alva, diem dulu kenapa sih kamu tuh. Sabar, sabar!" Mona memijat pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut.
"Ma, Mama tidak tahu kan Chilla dari tadi kesakitan." Alva sesenggukan dengan cuping hidung yang sudah memerah, sedangkan Chilla tak bisa berkomentar apa-apa, dia sedang mengumpulkan tenaga untuk mengeluarkan bayinya.
Lilitan di perutnya sudah semakin terasa.
"Memang seperti itu, Alva. Namanya juga lagi pembukaan." Sarah ikut menimpali, menenangkan menantunya itu.
"Apa tidak bisa langsung saja, Ma?" Alva mulai ngawur.
Mendengar itu, Mona langsung melotot tajam.
"Langsung kepalamu! Chilla bahkan sudah minum obat supaya pembukaannya dipercepat. Udah jangan ngoceh terus, berdoa aja yang banyak."
__ADS_1
"Sayang."
"Ngghhh..."
"Aduh, Ma. Bagiamana aku bisa tenang kalau seperti ini. Coba diperiksa lagi." Alva menatap ke arah dokter dengan tatapan memohon, dia sudah tidak tahan melihat Chilla yang terus-terusan menahan sakit.
"Ya Tuhan... Anak satu ini emang ngerepotin yah."
"Dok, cepat periksa lagi, apa anakku sudah bisa lahir apa belum. Kasian istriku." Alva berbicara dengan suara parau, hingga dokter Susan akhirnya mengangguk patuh.
Dia mulai memeriksa kembali pembukaan.
"Belum, Tuan. Nona masih dalam tahap pembukaan sembilan, sebentar lagi juga sempurna," jelas dokter Susan apa adanya.
Berharap informasi yang dia berikan membantu Alva untuk bersikap lebih tenang.
Namun, ternyata harapan wanita itu pupus. Karena Alva justru terlihat semakin frustasi, dia menggigit kepalan tangannya, lalu meninju udara.
"Sebentar laginya itu kapan? Dari tadi sebentar lagi terus," protesnya.
"Alva! Sana deh keluar, disini bikin Chilla tambah pusing aja," usir Mona, ikut tidak tahan dengan tingkah calon ayah itu.
"Mama, ini kan anak dan istriku, aku mau menemaninya di sini," berbicara lemah lembut dan tidak bertenaga.
"Kalau gitu diem. Mingkem dulu itu mulutnya."
Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, Alva mengangguk patuh. Tetapi tak lama dari itu, remasan di tangannya membuat lelaki itu kembali gelisah.
"Sayang! Rasanya sakit sekali, aku tidak tahan!" Jerit Chilla dengan lelehan air mata.
Wajah Alva pucat pasi, dia menggenggam erat tangan Chilla, dan dokter Susan langsung menyiapkan persalinan. Karena sepertinya bayi sudah siap dilahirkan.
Mona keluar seorang diri, setelah dia mengusap puncak kepala Chilla memberi kekuatan, sedangkan di samping kanan dan kiri ibu hamil itu, ada sang suami dan juga sang ibu.
Malam itu menjadi saksi, Chilla yang terus menjerit berusaha mengeluarkan buah hatinya untuk melihat keindahan dunia, dengan bantuan semangat orang-orang tercintanya, termasuk Alva.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daddy sabar Daddy 🥱🥱🥱
Kasih hadiah dong buat Baby Al😍😍😍
Oh ya ini, aku bawa yang terbaru, baru netes kemaren, cerita salah satu anaknya si Kakak pacar
Wkwk ini aja baru lahir, yang sebelah udah gede aja🤣🤣🤣
__ADS_1