
Siang itu, sepulang sekolah seorang gadis SMA mengendarai motor sportnya setelah mampir ke markas teman-teman satu Genk motornya. Dia pulang ke rumah sedikit terlambat, dan itu bukanlah hal baru untuk seorang gadis bernama Beby Amara.
Bebek besi yang biasa dikendarai seorang lelaki kini justru berada dalam kemudinya, motor kesayangannya yang dia beri nama Jordy. Beby terus mengendarai Jordy hingga masuk ke halaman rumah yang luas, yakni tempat tinggalnya.
Dia turun dari motor kesayangannya dan melepas helm. Lalu mengibaskan rambut panjangnya yang sedikit berkeringat. Sebelum masuk ke dalam rumah, dia lebih dulu menghampiri satpam rumahnya yang sedang berjaga. "Mang Uus, Beby beliin permen nih biar nggak ngantuk," dia mengulurkan satu pack permen kopiku pada lelaki paruh baya itu.
"Wah makasih, Non. Repot-repot segala beliin Mang Uus permen," lelaki itu nampak girang, dia menerima uluran itu sambil tersenyum sumringah.
Anak majikannya itu memang kerap membelikan makanan untuknya dan para asisten rumah tangga di rumah ini. Dia dikenalnya baik hati, meski kelakuannya sedikit mirip lelaki. Alias tomboi.
Gadis itu hanya mengangguk, lalu pamit untuk masuk ke dalam rumah. Dia menggendong tasnya di bahu sebelah kiri, sedangkan mulutnya tak berhenti untuk mengunyah permen karet.
Di ruang tv dekat tangga, dia mendapati ayah dan ibunya tengah duduk, dengan malas dia menghampiri dua orang paruh baya yang sudah menatap kesal ke arahnya.
Beby menyalimi kedua tangan itu, lalu kembali melangkah untuk pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
"Beby!" tegur Juna pada putri sulungnya yang masih duduk di kelas 3 SMA itu.
Dia sudah menunggu kepulangan gadis itu, karena ada sesuatu yang akan dia bicarakan, kalau terlambat sedikit saja, sudah dipastikan Beby akan pergi lagi, untuk bermain bersama teman-temannya.
"Kenapa, Pi? Beby mau istirahat," jawabnya dengan wajah lesu, dia sudah bisa menebak, pastilah Juna mau memarahinya karena pulang terlambat.
__ADS_1
Padahal dia sudah terlalu kebal oleh semua nasihat orang tuanya, yang selalu melarangnya ini dan itu, sesuatu yang sangat tidak dia suka. Mengekang kebebasannya.
"Beby, Papi sama Mami mau bicara. Sebentar!" tegas Juna sungguh-sungguh, sedikit sulit memang untuk mengatur gadis satu ini, gadis yang keras kepala.
"Sayang, ayo dong. Anak Mami kan penurut," Nana ikut membujuk putrinya itu.
Beby menghela nafas, dan akhirnya dia patuh. Dengan wajah tertekuk, dia duduk di sofa, berhadapan dengan kedua orang tuanya.
"Papi sama Mami mau ngomong apa?" tanya Beby menatap Nana dan Juna bergantian.
Lelaki paruh baya itu menelan salivanya terlebih dahulu dan menatap istrinya. Di sampingnya Nana mengangguk dan mengelus lengan Juna.
Keduanya berdoa dalam hati, semoga ini memang keputusan yang terbaik untuk masa depan Beby.
Bahkan Beby langsung bangkit dari kursinya. Saking terkejutnya dengan keputusan sepihak kedua orang tuanya itu.
"Papi sama Mami tuh apa-apaan sih? Beby itu masih sekolah, lagian kaya jaman Siti Nurbaya aja pake dijodoh-jodohin segala. Beby bisa cari pasangan sendiri!" protes gadis itu, menolak mentah-mentah ide yang yang menurutnya tidak masuk akal itu.
"Beby, tapi ini demi kebaikanmu. Papi yakin, lelaki yang akan menjadi suamimu itu bisa mendidik kamu supaya menjadi wanita yang lebih baik lagi. Papi akan menjodohkanmu dengan Shaka," tegas Juna.
Semalam Alva yang merupakan mantan bosnya telah mengatakan semuanya, bahwa lelaki itu ingin meminang Beby untuk Shaka putranya. Karena Shaka tidak mau dijodohkan kecuali dengan Beby Amara, putri sulung Juna dan Nana.
__ADS_1
Alva sangat berharap agar Juna mau mengabulkan permintaannya ini, atau Shaka tidak mau menikah. Ada-ada saja memang, tapi begitu lah faktanya.
Malam itu juga Juna langsung berpikir keras atas permintaan Alva, dia mengajak Nana untuk berdiskusi, dia sudah mengenal baik Alva dan keluarganya, pun dengan Shaka, bahkan dia dan Nana sudah menganggap Shaka sebagai putra mereka.
Karena dalam masa penantian menunggu kehadiran Beby dalam rumah tangga mereka, Shaka lah yang menemani hari-hari mereka. Dan pada akhirnya setelah menimang baik buruknya, Juna dan Nana sepakat untuk menerima pinangan Shaka, untuk menjadi menantu mereka.
Masalah ketersediaan Beby biarlah menjadi urusannya.
Sementara Beby yang mendengar nama Shaka sebagai calon suaminya, semakin membulatkan netranya.
"Hah, Si Tua Bangka itu?" ceplos Beby tak percaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah bacanya? Yuk dilike, dikomen, dikasih hadiah Dede othornya, biar makin semangat, anu dan menganukan anu🤣🤣🤣
Beby Amara.
Naik Jordy
__ADS_1