Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Hadiah


__ADS_3

Kedua sudut bibir Alva tertarik keatas, begitu ia mendengar suara pintu apartemennya dibuka oleh seseorang.


Ia begitu yakin, kalau itu adalah gadisnya, Chilla.


Malam gelap, seolah terang seperti hati Alva sekarang. Malam ini, ia ingin menuntaskan rindu yang beberapa hari ini sudah terpendam.


Dengan rasa yang bergejolak, ia menatap pada pintu yang knopnya berputar, menandakan seseorang berusaha untuk membuka pintu kamarnya.


Ia mengusak rokok yang ia hisap tadi kedalam asbak.


Dan saat itu juga, gadis manis yang ia tunggu sudah berdiri didepan sana. Dengan mata yang berbinar bahagia, sang gadis lebih dulu menghampirinya.


"Kakak, kangen." Rengek Chilla seraya menghambur dan mendudukan diri di pangkuan Alva, lelaki yang tengah duduk didepan jendela.


Dengan sigap Alva merengkuh tubuh mungil itu, ia menyunggingkan seutas senyum lalu membalas pelukan Chilla.


"Benarkah kau merindukanku?" Tanya Alva melerai, berganti menempelkan keningnya dengan kening milik Chilla. Dan menahan tengkuk itu.


Pelan, gadis itu mengangguk.


"Kau tidak berbuat macam-macamkan saat aku tidak ada?" Tanya Alva lagi, dapat Chilla rasakan hembusan nafas beraroma mint itu menerpa kulit wajahnya.


Membuat bulu-bulu halusnya meremang seketika.


Dengan gerakan cepat Chilla menggeleng, menjawab kalau tidak ada sesuatu yang aneh, yang ia lakukan di belakang Alva.


Alva mengecup bibir ranum itu sekilas, merasa lega, "Baguslah, kalau begitu aku akan memberimu hadiah,"


Alva mengajak Chilla bangkit, dan menyuruh gadis itu untuk menunggu diatas ranjang, sedangkan ia melangkah ke meja nakas, mencari sesuatu yang telah di belinya kemarin, hadiah.


"Bukalah," ucap Alva setelah salah satu hadiah itu sukses berada di genggaman Chilla.


Sebuah kotak kayu dengan ukiran mewah, Chilla yakin didalamnya tak kalah indah dari bungkusnya. Namun, bukan itu poinnya. Yang terpenting adalah siapa yang telah memberikan hadiah ini untuknya.


Dengan perlahan, dan diiringi rasa bahagia yang membuncah. Chilla membuka kotak itu.


Matanya membulat dengan mulut yang sedikit menganga. Benda berkelap-kelip itu begitu indah memanjakan matanya.


Ada haru dalam sudut hatinya.


Benarkah Alva sengaja membelikan ini hanya untuknya?


"Bagaimana, kau suka?" Tanya Alva seraya menyibak rambut Chilla ke belakang, mengelus dan membelainya penuh perhatian.


Chilla mengulum senyum, jelas saja dirinya sangat suka. Dia tidak mungkin menggelengkan kepala.


"Kemari, biar ku pakaikan." Ucap Alva seraya mengulurkan tangannya meminta benda itu, dengan senyum mengembang Chilla menurut.


Ia berbalik, lalu membiarkan Alva memasangkan kalung itu, agar sempurna melingkar di lehernya.


Ini indah, terlalu indah.


Aku tidak ingin malam ini usai, aku ingin selamanya seperti ini, hanya denganmu.

__ADS_1


"Cantik," ucap Alva, ia memandangi wajah gadis didepannya, dengan tatapan teduh yang kerap melumpuhkan perasaan Chilla.


Chilla berbalik, lalu mengulum senyum tak habis-habis, tapi begitu ia ingat dengan Yola, seketika senyum itu menyurut.


"Ada apa?" Tanya Alva.


Ada keraguan dalam hati gadis itu untuk bertanya, tapi rasa keingintahuannya justru lebih besar, ia ingin memastikan.


"Apa kakak membeli benda ini juga untuk kak Yola?" Ia harap Alva menggeleng, atau lebih jelasnya berkata tidak.


Namun, apalah daya. Saat ia harus kembali menerima takdir, bahwa dirinya memanglah yang kedua, Alva mengangguk.


"Tapi bukan aku yang memilihnya,"


Chilla mengernyit bingung, ingin Alva menjelaskan lebih detail, ia tak mau menduga-duga.


"Juna yang memilihkan untuk wanita itu, yang iniβ€”" Alva menyentuh kalung yang melingkar di leher Chilla, "Aku sendiri yang memilihnya, untukmu,"


Mendengar apa yang diucapkan oleh Alva, angan itu kembali melambung tinggi, Chilla mengulum senyum, lalu memeluk erat pinggang lelaki itu.


"Terimakasih sayang," ucapnya seraya membenamkan wajah di dada bidang Alva yang hanya terhalang kain kimono.


Chilla menghirup dalam aroma tubuh lelaki itu. Aroma yang selalu membekas dalam ingatannya, dan hanya pemilik aroma ini yang mampu membuatnya jatuh, sejatuh-jatuhnya.


"Berterimakasih lah dengan benar," ucap Alva tiba-tiba.


Seketika Chilla mendongak, matanya berkedip manja seolah bertanya, aku harus apa?


Alva meraih paper bag yang tadi ia bawa bersama kalung itu, dan menyerahkannya kembali pada Chilla.


Chilla meraih paper bag itu, karena penasaran yang begitu tinggi, ia mengintip isinya, tapi Alva menahan.


"Ganti pakaianmu dikamar mandi, ingat hanya pakai ini, karena dengan ini caramu berterima kasih," ucap Alva dengan tersenyum penuh arti.


Dengan mantap Chilla mengangguk, tak mencurigai Alva sedikitpun. Ia berpikir, mungkin hanya sekedar baju yang terlihat cocok untuknya.


Ia berlalu kedalam kamar mandi, dan membuka isi dalam paper bag tersebut. Begitu ia angkat, matanya menatap aneh.


"Apa ini? Kenapa tipis sekali?" Gumamnya pada diri sendiri.


Ia membolak-balikkan isi paper bag yang ternyata sebuah lingerie merah menyala lengkap dengan sebuah pita.


"Ini sih kayak punya Mama," ucapnya lagi, mengingat pakaian yang kerap ia jumpai di lemari Sarah.


"Tapi buat apa kak Alva menyuruhku memakainya? Apa aku akan terlihat lebih cantik jika memakai ini?"


Hah, akhirnya tanpa banyak tanya Chilla memakai lingerie itu, dan kembali berkaca. Karena ada sebuah pita yang mengait dilehernya, agar terlihat indah, ia menguncir tinggi-tinggi rambutnya.


"Chilla kenapa lama sekali?" Teriak Alva dari luar sana, membuat si empunya nama segera bergegas.


Satu kaki jenjang itu sukses melangkah keluar, dan menampilkan sosok yang begitu mengagumkan di mata Alva.


Hingga membuat mata lelaki itu enggan untuk berkedip, Chilla semakin melangkah mendekat, tetapi terasa begitu lambat karena gadis itu terlihat malu-malu.

__ADS_1


Bagai terhipnotis, Alva tak mampu berbuat apa-apa selain meneguk ludahnya, dan terus memperhatikan Chilla, yang kini sukses berdiri di hadapannya, dengan semburat merah dimana-mana.


Dari pucuk rambut, hingga ke bawah. Seluruhnya menjadi pusat perhatian lelaki itu, sungguh kini hasratnya mulai menggebu.


Dengan tidak sabar Alva menarik tangan Chilla hingga duduk di pangkuannya. Senyum itu kembali terukir, saat menyadari pilihannya begitu pas untuk gadis didepannya.


"Kau terlihat cantik," puji Alva. Membuat pipi itu semakin bersemu merah, semerah lingerie yang membungkus tubuhnya.


Satu tangan Alva membenahi rambut Chilla yang menjuntai tak beraturan, mengelus lembut dari mulai pipi hingga bermuara di dagu runcing milik gadis itu.


Alva terus memandangi Chilla dengan tatapan intens, merapatkan tubuh mereka, hingga dapat Chilla rasakan, sesuatu yang mengganjal dibawah sana menekan anggota tubuhnya.


"Malam ini, aku ingin kau yang memegang kendali," ucap Alva tepat ditelinga Chilla, gadis itu menggeliat geli.


Sekaligus belum mengerti apa yang baru saja Alva katakan, dirinya hanya bisa mengernyit bingung, tak tahu apa yang harus ia lakukan.


Hingga akhirnya, Alva menuntun satu tangan itu kebawah sana.


"Besarkan? Kau yang membangunkannya, jadi kau harus puaskan dia,"


Glek!


Chilla menelan salivanya dengan berat, menatap benda yang kini sudah tersibak dan berdiri dengan tegak.


Benarkah sebesar ini?


Sebelumnya ia tidak terlalu memperhatikan, tetapi begitu ia melihat dengan seksama, ternyata benda yang telah keluar masuk liangnya sangatlah fantastis ukurannya.


Mungkin setara besar dan panjangnya dengan belalai gajah. Batin Chilla yakin.


Chilla menggigit bibir bawahnya, membuat Alva menahan senyumnya. Wajah ini terlihat menggemaskan sekaligus membuat gairahnya membuncah.


"Kulumlah, anggap kau sedang menikmati sesuatu yang kau suka,"


Lama menimang, akhirnya dengan gerakan yang begitu kaku, Chilla mulai menurut apa yang di perintahkan Alva kepadanya.


Awalnya terasa begitu aneh, tetapi lama kelamaan, ini membuatnya gila. Ternyata tidak terlalu buruk, ia menikmatinya, dan begitupun dengan lelaki yang tengah mengerang karena permainannya.


Hingga entah di menit ke berapa. Tubuh keduanya telah menyatu, dengan Chilla yang berada diatas tubuh Alva, sesuai kesepakatan awal mereka.


Dengan nalurinya, Chilla menggerakan anggota tubuhnya sebisa mungkin, memuaskan sang pacar yang kini ada dalam kendalinya.


Alva meraung keras, melepaskan hasratnya yang beberapa hari ini tertahan karena lama tidak bertemu, mulutnya tak tinggal diam, sesekali menghisap kuat benda yang tengah terombang-ambing, hingga membuat Chilla mempercepat permainan.


Erangan keduanya terdengar syahdu, memecah keheningan malam yang dingin membisu.


"Faster honey," pekik Alva disela-sela lenguhannya, bagai tersengat listrik, tubuhnya tersentak hebat.


Aliran darahnya berdesir tak normal, bersamaan dengan pelepasan yang nyaris saja datang, Alva menekan pinggul Chilla, hingga pusaka kesayangannya menyentuh titik denyut Chilla yang terdalam, dan hah.... Kalian pasti tahulah, bahwa kini benih-benih itu sukses bertebaran didalam sana.


Dengan nafas terengah-engah, keduanya saling menatap, melempar senyum satu sama lain, hingga membuat pipi gadis muda itu kembali merona.


Secepat kilat, Alva membalikkan posisi setelah melepas penyatuan mereka. Lalu kembali memulai aksinya, dengan mengulum benda kenyal yang tengah berkedut itu sebagai pembuka.

__ADS_1


"Full servis," ucapnya.


Bersambung....πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2