
Nana mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya saat penutup itu terbuka, mulutnya yang di sumpal pun merasa lega, tetapi dimana dia sekarang. Kenapa terasa sangat asing begini, tempat dimana tidak ada orang yang berlalu lalang untuk bisa di mintai pertolongan.
Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat takut sampai harus menitikan air mata. Keberanian yang biasanya ia tonjolkan, seolah tak bisa untuk di gunakan.
Ma, Pa, Nana takut.
"Hai Nona manis," sapa satu orang yang berkepala plontos yang telah membuka penutup itu.
Sedangkan dari ujung sana, satu orang lagi yang telah mengejarnya itu keluar, dengan senyum yang sangat menyeramkan, tato-tato di tubuhnya, menambah kesan yang sangat menakutkan.
"Mau apa kalian?" Pekik Nana dengan suara yang bergetar. Ia mencoba mengusir ketakutan yang bersarang.
Satu orang itu mendekat, meraih dagu runcing Nana, gadis itu melengos, "Kami tidak akan melakukan apapun padamu Nona, kami hanya menjadikanmu pancingan, agar gadis yang bos kami benci itu datang kemari," jelasnya.
Mendengar itu, Nana membelalakkan mata, jadi yang diincar adalah sahabatnya, "Siapa bos kalian, hah?"
"Jangan berteriak seperti itu, sebentar lagi dia akan datang, untuk memberi pelajaran pada sahabat manismu itu." Tangan besar itu membelai pipi mulus Nana, terasa sangat mengganggu dan semakin membuatnya ingin cepat terlepas.
"Jangan macam-macam kalian dengan sahabatku," pintanya dengan mata melotot, padahal detak jantungnya berdetak lebih kencang, dan peluh sudah membanjiri pelipisnya.
Kedua orang itu menyeringai, "Kalau begitu, kami yang akan macam-macam padamu, apa boleh?" Tanya yang satu dengan nada meledek.
Nana beringsut mundur, saat kedua orang itu berjalan ke arahnya, tangan Nana tak bisa di gerakan sama sekali, karena terikat dengan kencang.
"Kalian mau apa?" Semakin berteriak histeris.
"Kami akan mencicipimu sedikit saja, jadi tenanglah,"
Grep!
Satu tangan itu sudah menangkap pundak Nana, gadis itu meludah hingga mengenai tangan yang dipenuhi tato itu.
"Kurang ajar, kau mau cari mati?"
Plak!
Suara tamparan keras terdengar nyaring, pipi mulus itu memerah, menyisakan taplak tangan yang telah menamparnya, terasa sangat panas dan juga kebas.
"Aku lebih baik mati, dari pada merasakan tubuhku di nikmati oleh pria badjingan seperti kalian,"
"Uh, kelihatannya kau cukup pemberani, kita lihat, seberapa besar nyalimu untuk melawan kami, haha,"
Suara robekan kembali terdengar, dan baju Nana sudah nyaris tanpa lengan, tali braa itu bahkan sudah putus, bahu mulus yang belum pernah tersentuh oleh siapapun itu terpampang jelas, membuat jiwa-jiwa pria kehausan itu semakin berkobar.
Air mata Nana semakin mengalir deras, diiringi tubuh yang bergetar hebat, ia semakin beringsut mundur kala tangan besar itu ingin menjamah tubuhnya.
Namun, sebelum itu terjadi tiba-tiba 'Bugh'
Satu batu bata melayang mengenai kepala si plontos, ia meringis merasakan nyeri di belakang kepalanya, siapa yang berani menyusup kemari, apa itu gadis yang bosnya inginkan.
Menyadari itu, kedua orang itu saling tatap lalu kembali menyeringai.
"Sepertinya sahabatmu sudah datang," bisik si tato tepat di telinga Nana.
"Jangan apa-apakan dia, ku mohon," pinta Nana berurai air mata.
Ya Tuhan, aku mohon selamatkan aku dan juga Chilla.
Sedangkan di balik tembok, tubuh Chilla semakin terasa kaku, kala suara langkah kaki semakin terdengar lirih mendekat ke arahnya. Ya, memang dia yang tadi melempar batu bata ke arah dua orang menyeramkan itu.
Ia tidak tahan, melihat Nana yang sebentar lagi akan ternodai, sebenarnya siapa yang melakukan ini? Dan apa yang dia inginkan.
Chilla mencengkeram erat pucuk bajunya, ia menggigit bibir bawahnya kuat, kakinya tak bisa di gerakan sedikitpun, ia hanya bisa menangis sekarang.
Tap
Tap
Tap
Dan bunyi langkah kaki itu seperti lagu kematian untuknya.
__ADS_1
Dan hap!
Mulut gadis itu di bekap oleh seseorang, ia nyaris berteriak, namun orang yang membekapnya menyuruh Chilla untuk diam.
Chilla membelalakkan matanya, saat tahu siapa orang yang telah membekapnya.
Kak Juna.
"Nona cepat pergi dari sini, biar saya yang menghadapi mereka," ucap Juna dengan yakin. Akan ia pastikan dua gadis ini, tidak akan ada yang terluka.
Chilla mengangguk cepat, tanpa bicara gadis itu berlari menjauh, mempercayakan Nana pada lelaki itu. Tidak sia-sia ia menelpon dan mengirimi Juna pesan. Karena pada akhirnya lelaki itu datang.
Beberapa menit yang lalu...
Di ruang meeting
Alva bergerak gelisah sambil memperhatikan seseorang yang sedang presentasi didepan sana. Entah ada sesuatu apa, tapi itu justru membuat konsentrasinya terpecah, tiba-tiba ia memikirkan gadisnya.
Apa yang sedang dia lakukan?
Gelagat itu jelas, sangat kontras di mata Juna. Tak berbeda dengan Alva, hati Juna seolah berkata ada sesuatu yang tidak beres, tapi ia tidak tahu itu apa.
Akhirnya Juna mendekat ke arah bosnya itu, sedikit berbisik untuk menanyakan perihal kenyamanan Alva.
"Hubungi Chilla, hatiku tidak tenang sama sekali memikirkannya," pinta Alva dengan suara pelan.
Juna mengangguk patuh, setelah ia meminta izin untuk keluar, ia langsung merogoh ponselnya yang di atur dalam mode senyap.
Benar saja, disana banyak sekali panggilan tak terjawab dari wanita Tuannya. Dan terakhir ia lihat ada sebuah pesan dari Chilla, pesan yang mampu membuat rahangnya mengeras.
Tak memperdulikan apapun lagi, Juna langsung berlari ke arah baseman kantor, menginjak pedal gas, dan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju tempat yang Chilla tunjukkan.
Aku harap, aku tidak terlambat.
Dan disinilah ia sekarang, berhadapan dengan dua orang yang tubuhnya dua kali lipat lebih besar. Namun, entah karena perasaan apa, Juna sama sekali tidak gentar.
"Hei anak muda... Ada urusan apa kau kemari?" Tanya si plontos dengan lantang, yakin, kalau lelaki itu juga yang melemparkan batu bata itu keatas kepalanya.
Juna mengatur nafas, ia tidak boleh gegabah karena ia sendirian.
Namun, saat melihat Nana yang terlihat ketakutan, membuat sudut hatinya ikut merasakan nyeri, terlebih baju gadis itu sudah terlihat compang-camping. Ia yakin, sebentar saja ia tidak datang, ia akan menyesal.
Juna memejamkan mata sejenak, lalu memandang keduanya dengan mata yang memerah, rahangnya mengeras, "Aku datang untuk gadisku." Ucapnya lantang.
Nana membelalakkan matanya, dan sejurus dengan itu Juna menyerang dengan membabi-buta, tak peduli lagi dengan keselamatan nyawanya, ia terus berusaha memukul mundur lawan-lawannya.
Juna terpelanting, tetapi secepat mungkin ia kembali bangkit, rasa amarahnya semakin membuncah, mendengar Nana yang berteriak histeris.
Juna memberikan tendangan keras kearah perut salah satu bedebah itu, telak, lelaki bertubuh besar itu tersungkur.
Satu tangan Juna mengambil balok, dan mengayunkannya untuk menebas kedua orang yang akan melukai calon gadisnya.
Tak tinggal diam, si pria bertato melemparkan batu ke arah Juna. Tepat, pelipis itu mengucur deras darah segar.
"KAK JUNA,"
Sedangkan di tempat lain, Chilla mencoba mencari jalan keluar, seingatnya tadi, ini bukanlah jalan yang dilaluinya.
Gadis berponi itu berjalan mengendap-endap, seraya kepalanya ikut celingukan, ia sama sekali tidak tahu, kalau ada sepasang mata yang tengah mengawasinya dari arah belakang.
Bibir itu menyeringai, saat mangsanya bergerak sendirian, di tangannya ia menggenggam pisau tajam, siap mengoyak tubuh gadis manis itu.
Semakin dekat, ia semakin mengacungkan pisaunya tinggi-tinggi. Sambil tersenyum penuh kemenangan.
Aku akan sedikit memberimu pelajaran Chilla, terimalah...
Prak!
Chilla berjengit kaget saat mendengar suara dari arah belakang, ia langsung memutar tubuhnya, dan mulutnya kembali di buat menganga saat melihat Alva sudah ada disana, dengan memegangi seseorang yang wajahnya terbungkus topeng.
"Kak,"
__ADS_1
Alva hanya mengangguk sekilas, lalu kembali pada seseorang yang sedang ia pegang erat kedua tangannya. Dari ukurannya ia bisa tahu, kalau orang yang akan mencelakai Chilla, adalah seorang wanita.
"Lepaskan," pinta seseorang itu, ia berusaha menarik tangannya dari cekalan Alva.
Namun, tidak bisa, ini terlalu kuat. Secepat kilat Alva menarik topeng seseorang itu, mata Alva membulat sempurna. Benar dia adalah seorang wanita, dan lucunya dia adalah orang yang sangat di kenal oleh Alva dan juga Chilla.
Beraninya.
Tak berbeda dengan Alva, Chilla pun dibuat terkejut. Yoona?
"Ada masalah apa kau sampai mau melukai Chilla?" Cetus Alva, merapatkan tubuh wanita itu ke tembok, dan berganti mencengkram dagunya kuat-kuat. Sama seperti yang ia lakukan pada Kakak wanita itu.
"Itu tidak ada urusannya denganmu," pekik Yoona dengan suara yang menggema.
"Kalau begitu, jangan harap aku mengampunimu." Alva semakin memberikan tekanan, seraya mengancam, apapun akan ia lakukan untuk gadisnya. Akan sangat bersalah, jika saja Chilla terluka karena Yoona.
"Cepat katakan!" Bentak Alva tak sabaran. Matanya menungkik tajam, menghunus sampai ke jantung wanita itu.
"Heuh, kau melindungi selingkuhanmu sampai sebegitunya? Sedangkan pada Kakakku, kau tidak peduli sama sekali, aku ingin dia mati," teriaknya di ujung kalimat, seraya berusaha memukul tangan Alva.
Nafas Yoona semakin tersendat, kala tangan Alva turun ke lehernya, mendengar Yoona yang menginginkan Chilla mati, membuat darah dalam tubuh Alva semakin mendidih.
"Kak, jangan." Pinta Chilla, ia sudah begitu takut melihat Nana yang hampir saja terluka, sekarang ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, kemarahan Alva yang sesungguhnya.
"Kak, Kakak bisa membunuhnya," rengekan itu berhasil membuat Alva mengendur, dilihatnya tubuh mungil itu bergetar dengan bahu yang sudah naik turun.
Namun, tak serta merta Alva melepaskan Yoona begitu saja, "Cepat katakan, selagi aku masih baik padamu,"
"Dia merebut Bryan dariku," teriaknya dengan lantang.
Uhuk! Yoona langsung terbatuk, saat Alva mencekik dan melepaskannya secara bergantian.
"Kali ini kau aku lepaskan, tapi jika kau bertindak bodoh lagi, hanya karena seorang lelaki, maka aku tidak akan segan lagi, aku akan memasukkanmu kedalam jeruji besi..." Ucap Alva dengan penuh penekanan, berharap apa yang ia katakan, bisa membuat wanita satu ini berhati-hati dalam bertindak.
Ia segera mengambil langkah besar untuk meraih tubuh gadisnya, menelusupkan wajah Chilla masuk kedalam dada bidangnya.
Dan semua itu tidak luput dari pandangan mata Yoona, secepat mungkin ia merogoh benda pipih miliknya, namun Alva tidak bodoh dengan pura-pura tidak tahu.
Sekali lagi, ia menendang tangan Yoona dengan keras, hingga ponsel itu terpelanting, dan jatuh entah kemana.
"Cepat pergi dari sini, sebelum aku berubah pikiran," ucap Alva dengan tenang, namun percayalah semua itu mengandung banyak ancaman.
Dengan gigi yang bergemeletuk, dan tangan yang mengepal kuat, Yoona pergi meninggalkan area petarangan kosong tersebut.
"Awasi dia," ujar Alva pada bawahan yang telah di bawanya. Ia tidak sendiri, ia membawa 5 orang terlatih sekaligus, begitu Juna mengabari kalau Nana dan juga Chilla dalam masalah.
Alva menggenggam tangan gadisnya, mengayunkan langkah untuk pergi melihat Juna yang tengah menyelamatkan Nana.
Perkelahian telah usai, wajah Juna tampak babak belur, dan tubuh yang berlumuran darah. Namun sampai titik darah penghabisan ia masih berdiri cukup tegak, karena ada dua orang yang membantunya, dan ia yakin itu adalah orang suruhan Alva.
Juna membantu Nana untuk melepas ikatan di tangannya, dan membantu gadis itu untuk berdiri. Pemandangan yang begitu memilukan, gadis yang biasanya terlihat garang, kini terlihat sangat lemah.
Tak habis pikir, bahwa hari ini akan datang, hari yang membuatnya harus merasakan takut yang begitu besar.
Chilla dan juga Alva baru saja sampai, dan mereka berdua langsung disuguhkan dengan sesuatu yang sangat menyedihkan, tak ingin membuang waktu, Chilla langsung melangkahkan kakinya, berniat memeluk sahabatnya itu.
Namun, langkahnya terhenti, begitu Alva mencekal pergelangan tangannya, lelaki itu menggeleng, dan menunjuk Juna dengan ekor matanya.
Yakin, bahwa sang asisten memiliki perasaan pada gadis yang telah menjadi sahabat kekasihnya.
Tak tahan melihat Nana yang terus menangis dengan tubuhnya yang nyaris terbuka, Juna melepaskan jasnya, tanpa segan ia memakaikannya di tubuh Nana, hingga gadis itu akhirnya mendongak.
Uraian air mata luruh, membasahi seluruh wajahnya, dengan cepat Juna merengkuh tubuh ramping itu masuk kedalam dekapannya. Seolah ingin memberikan ketenangan, dan meleburkan segala ketakutan.
"Menangislah, dan percaya padaku, mulai saat ini, aku akan selalu ada untukmu,"
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
__ADS_1
Mumpung hari Senin, yuk beri vote dan hadiahnya, kali ini persembahin untuk Mamas Juna yang udah berhasil selametin Nana😍😍😍