Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Malaikat kecil


__ADS_3

Pagi kembali menyapa.


Dan tepat hari ini, Alva dan Chilla telah menyandang status baru, yaitu sebagai ayah dan ibu.


Semalam, telah lahir anak pertama mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Malaikat kecil, yang akan mengisi hari-hari mereka selanjutnya.


Meski sempat bertaruh nyawa, merasakan sakit yang luar biasa, dan mengeluarkan seluruh tenaganya, tak dipungkiri pekikan tangis buah hati mereka, membuat Chilla menangis haru, merasa bahagia.


Akhirnya, bayi mungil yang diberi nama Arshaka Dastan Antarakna, telah berhasil ia lahirkan, buah cintanya dengan Alva.


Tak berbeda dengan Chilla, tangis Alva langsung pecah, otot-otot dalam tubuhnya melemas begitu dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, malaikat yang selama ini mereka tunggu, keluar dari rahim istrinya.


Arshaka lahir dengan selamat, dia hadir ditengah-tengah mereka, dan mulai saat itu juga, Alva telah menjadi sosok seorang ayah yang akan mengenalkan dunia pada putranya.


Di samping box bayi yang ada di ruangan itu, Alva berdiri, memandangi wajah tampan sang anak yang tengah terlelap, wajah perpaduan antara dirinya dan juga Chilla.


Dengan sayang, Alva mengusap pipi yang terlihat memerah milik baby Shaka. "Anak Daddy." Gumamnya.



Baby Shaka hanya menggeliat geli merasakan sentuhan Alva, membuat lelaki itu tersenyum, ia masih tidak percaya, akan secepat ini dunianya berubah, berubah menjadi sempurna.


Tidak ada yang dia inginkan lagi, selain bisa bersama Chilla untuk selamanya, dan membesarkan Baby Shaka bersama-sama dengan wanita yang dicintainya itu.


Senyum di bibir Alva masih belum memudar, seiring pintu diketuk dari arah luar.


Saat Alva mengizinkan seseorang itu untuk masuk, dari arah pintu. Mona, Jonathan dan juga Pram masuk ke dalam secara bergantian.

__ADS_1


Sedangkan Sarah yang menemani Alva semalaman untuk menjaga Chilla, terlihat terlelap di atas sofa.


"Sayang, bersihkan dirimu, dan makanlah lebih dulu. Biar Shaka dan Chilla kami yang jaga," ucap Mona seraya menyerahkan baju ganti dan paper bag yang berisi makanan.


Lelaki itu mengangguk, lalu menyempatkan diri untuk mengecup pipi putranya. "Shaka, Daddy tinggal dulu yah."


Bayi mungil itu tak merespon apapun. Dan Alva langsung pamit pada semua orang untuk membersihkan tubuhnya, menitipkan anak dan istrinya yang terlelap di pembaringan masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang harinya Baby Shaka terbangun, dia menangis kencang karena lapar, dengan hati-hati Mona mengangkat tubuh rapuh itu untuk dialihkan ke gendongan Chilla.


Tirai ditutup seiring Chilla memberikan ASI pada anaknya. Alva yang belum pandai menggendong Baby Shaka hanya bisa memperhatikan.


Dia mengusap-usap rambut Chilla, seraya menatap Baby Shaka yang begitu lahap menghisap pucuk kesukaannya. "Ih, kok Shaka juga suka miminya Mommy sih, sama kaya Daddy."


Mendengar itu, Chilla terkekeh kecil. Bersyukur ASI-nya tidak sulit untuk keluar, dengan bantuan Alva semalam, kini Chilla bisa menyusui Baby Shaka dengan lancar.


Membuat ibu muda itu merasa gemas, lalu dengan cepat dia mengecup puncak kepala Shaka sekilas.


"Daddy juga mau dicium sama Mommy," rengek Alva, membuat orang-orang yang ada dalam ruangan itu geleng-geleng kepala dengan uluman senyum.


Ikut merasakan bahagia, atas kehadiran Shaka di keluarga mereka.


Cup!


Satu kecupan melandas di pipi Alva, tetapi lelaki itu tidak akan pernah merasa cukup, selagi Chilla menyusui putra mereka. Alva menahan tengkuk Chilla, dan melumaat bibir wanita itu.

__ADS_1


Chilla menyambut antusias, hingga dia tak tinggal diam, dan membalas ciuman Alva yang terasa begitu lembut, menari-nari di atas bibirnya.


Tak terlalu bising, ternyata mereka mampu mengatasi decapan itu agar tidak terlalu keras, karena kini Baby Shaka kembali menutup mata, dengan mulut yang masih bergerak untuk menghisap makanannya.


Hingga saat oksigen dalam tubuh mereka terasa kosong, Alva lebih dulu melepas pagutan itu. Bibirnya terasa kebas, dengan nafas yang terdengar memburu.


Alva mengusap bibir ranum Chilla menggunakan ibu jarinya, lalu mengulum senyum. "Rasanya masih selalu sama, manis." Ucap Alva.


Pipi Chilla merona, dia menunduk dan melihat Shaka yang sudah terlelap. "Kak, Baby Shaka sudah tidur lagi."


"Kalau begitu, aku panggil Mama dulu." Ucap Alva. Membuat Chilla cemberut, dari semalam lelaki itu menolak untuk menggendong baby Shaka.


"Kenapa tidak Kakak saja?" tanya Chilla dengan bola mata yang terlihat sendu.


Melihat itu, Alva mengusap puncak kepala Chilla dan mengecupnya.


"Aku takut Chilla, kepalanya lembek sekali. Kalau tiba-tiba lepas bagaimana?"


"Haish, ya tidak lah Kakak. Kakak harus hati-hati memegangnya."


"Ah, aku belum bisa, Sayang. Nanti saja yah, aku pasti akan belajar menggendongnya."


Chilla hanya bisa menghembuskan nafasnya secara perlahan, mendengar alasan Alva. Sedangkan lelaki itu keluar memanggil Mona, untuk memindahkan Baby Shaka ke dalam box bayinya.


"Cih, Daddy-nya Shaka penakut yah?" Cibir Chilla.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jitak aja si Daddy, Mom. Aku ikhlas🥱



__ADS_2