
Dengan mata yang berkaca-kaca, Chilla menatap ibu dan ayahnya secara bergantian. Pram tersenyum, sebesar apapun rasa kecewanya pada sang putri, ternyata tak mampu menandingi rasa sayangnya selama ini. Biarlah, kesalahan itu ia tutup rapat-rapat, ia sudah berjanji untuk benar-benar memaafkan Chilla dan Alva. Terlebih, lelaki itu bertanggung jawab pada putrinya.
Dan hari ini, haru itu menyeruak ke dasar hati Pram, putri kecilnya, gadis satu-satunya yang ia jaga selama 18 tahun, seolah berubah menjadi sosok wanita dewasa, tak terasa tanggung jawabnya kini sudah beralih pada menantunya, yaitu Alva.
Kedua mempelai di minta maju ke depan untuk acara sungkeman. Banyak doa-doa baik di rapalkan untuk Chilla dan Alva. Semoga langgeng, dan terus bahagia hingga menua bersama. Pram sudah melepas Chilla, ia memberikan gadis itu sepenuhnya untuk di jaga oleh Alva. Gadis manis itu terlihat sangat bahagia, hingga ia terus menyeka ujung matanya saat memeluk Pram dan juga Sarah, namun percayalah, yang keluar adalah air mata bahagia.
Akhirnya acara sakral yang menjadi prosesi utama itu selesai, di tutup dengan doa.
"Kau cantik hari ini."
Ucapan itu membuat pipi Chilla semakin merona menahan malu. "Tapi ingat, hanya hari ini." Sambung Alva sambil terkekeh.
Chilla langsung mencebik, meninju keras dada Alva. "Jahat banget." Ungkapnya.
Lagi, lelaki itu semakin terkekeh lebih keras, sambil mengusal-usal wajah, beradu dengan hidung Chilla, hingga tamu yang ingin mengucapkan selamat, menghentikan kelakuannya.
Kedua pengantin itu mengucap syukur, karena acara sore ini berjalan dengan lancar. Semua orang terlihat bahagia, sama seperti mereka. Sambil menikmati hidangan, alunan lagu mulai mendayu, suara merdu dari penyanyi papan atas, menjadi teman main para tamu undangan yang asyik saling berbincang.
Sebenarnya ada beberapa orang yang bertanya-tanya, kenapa Alva membatalkan pertunangannya dengan Yolanda, dan malah menikahi gadis lain. Namun, melihat Mona yang memperlakukan Chilla dengan penuh kelembutan, pertanyaan-pertanyaan itu menguap entah kemana.
Chilla siap melemparkan buket bunga yang ada di tangannya ke belakang. Sang sahabat, Nana tampak tak ikut berpartisipasi, sedari tadi dia hanya terus memaki pakaiannya, rasanya ia sudah gerah dan tidak betah. Gadis itu lebih suka memakai kaos atau kemeja dan sejenisnya.
"Satu, dua, tiga!"
Semua gadis yang berkerumun berbondong-bondong, saling berebut, ingin menjadi ratu selanjutnya. Namun, Juna yang sedang kebetulan lewat, reflek meraih bunga yang akan jatuh ke arahnya.
Para tamu undangan riuh, ada yang terkejut, dan ada yang tersenyum melihat itu. Seketika perhatian mereka berpaling pada lelaki yang tengah memegang bunga.
__ADS_1
Chilla menepuk lengan Alva berkali-kali, tak menyangka yang dapat adalah asisten suaminya. "Kak, Kak Juna yang dapet." Ucapnya girang sambil bertepuk tangan, merasa gemas. Yang di ajak bicara hanya menggedikan bahu, acuh.
Sedangkan Juna terlihat kikuk, ia sama sekali tidak berpikir untuk ikut berebut bunga tersebut. Tapi kenapa malah ia yang dapat.
Para gadis mengerubungi Juna, lelaki yang terlihat masih melajang, membuat Nana yang berdiri tidak jauh darinya, jadi kesal sendiri. Ya, sejak hari itu, keduanya sudah sepakat untuk saling berkomitmen dan menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Gadis itu melengos, dengan kaki menghentak lantai, ia hendak berlalu, tetapi secepat kilat tubuhnya membeku, ketika seseorang meraih pergelangan tangannya dan langsung berlutut di depannya.
Juna, lelaki itu sedari mencari Nana, kebetulan lewat ia malah mendapat bunga, ia tahu gadis itu tengah kesal, menahan cemburu, lalu dengan langkah buru-buru Juna menjegal Nana yang akan pergi meninggalkan pesta.
"Untukmu." Ucap Juna sungguh-sungguh, tidak ada kata romantis, tetapi perlakuan itu membuat para tamu yang hadir jadi gaduh. Beberapa gadis ada yang kecewa, dan yang lain kompak berteriak, terima, terima, membuat pipi Nana merona, dan berubah salah tingkah.
Sementara lelaki yang berdiri di pelaminan, tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia yang sudah bosan menarik lengan Chilla, dan membawa gadis itu untuk kabur dari atas sana.
"Sayang kita mau kemana?" Tanya Chilla, mensejajarkan diri dengan langkah Alva. Ia terlihat kesusahan dengan gaunnya.
"Kita akan bersenang-senang."
Merasa tak sabaran, dengan seringai Alva mengangkat tubuh mungil itu, lalu membawanya ke arah kamar. Mereka tidak tahu, kalau ada dua pasang mata yang tengah menatap mereka dengan tatapan lucu.
Lalu dimana Satria? Entahlah, lelaki itu sepertinya masih kecewa.
Alva memilih kamar yang di tempati oleh Chilla, begitu sampai, ia langsung duduk di atas ranjang, sedangkan tubuh gadis itu berada di pangkuannya.
Lelaki itu merapatkan tubuh, lalu menghadapkan wajah Chilla hingga tatapan mereka bertemu. Jantung mereka berdetak kencang, saling bersahutan. Seolah masuk ke babak baru, rasa membuncah itu lebih hebat dari sebelumnya.
Binar-binar itu tampak saling mengungkapkan perasaan satu sama lain.
Hingga saat Alva menyatukan bibir mereka, Chilla masih bergeming, tak percaya kalau akhirnya bisa menikah dengan lelaki yang begitu di cintainya. Alva mengalungkan lengan itu di lehernya, sedangkan tangannya bergerilya, mencari pusat resleting gaun yang di kenakan istri kecilnya. Lumataan-lumataan itu begitu lembut, namun lama kelamaan terasa semakin menuntut.
__ADS_1
Dengan sendirinya Chilla membuka mulutnya, membiarkan lidah Alva bermain dan berselancar didalam sana. Terpaan nafas mereka saling memburu, ditengah decap manis yang terasa menjadi satu.
Debaran hebat, ditambah rasa cinta yang sudah saling terungkap, membuat kegiatan panas itu menjadi berbeda. Kini, ada hati yang bermain, tak hanya saling menginginkan kehangatan tubuh, namun ada kedamaian dalam jiwa membuat kebahagiaan itu terasa utuh.
Tanpa melepas pagutan, Alva membawa tubuh gadisnya bermuara di pusara ranjang, gaun yang Chilla kenakan bukanlah sebuah halangan, sudah dua minggu ia menahannya, hari ini, ia ingin menyatukan diri, secepatnya.
Bibir itu mulai berlarian, mencari muara yang akan di tujunya.
Namun, suara pintu terbuka dengan kasar mengagetkan keduanya, terlihat Mona dan Sarah masuk dengan geleng-geleng kepala, membuat Chilla reflek mendorong dada suaminya. Dan menaikan kembali gaunnya yang sudah turun sebatas dada.
"Lagi apa disini, hah?" Tanya Mona dengan berkacak pinggang, semua orang mencari kesana-kemari, ternyata sepasang pengantin itu ada disini.
Alva lebih dulu menarik nafas dan membenarkan letak jasnya. "Chilla bilang, dia lelah, Ma. Jadi Alva mengajaknya ke kamar." Bohong Alva, tetapi seakan sudah hafal kelakuan sang putra, Mona tidak percaya, di tambah apa yang baru saja di lihatnya.
"Lelah, lelah. Tapi di ajak main juga ujungnya. " Cibir Mona, beralih menatap Chilla yang sedang tersenyum tipis. "Chilla beneran lelah?" Tanyanya.
Sebelum menjawab Sarah lebih dulu menyambar. "Sayang, kalau lelah bilang kami berdua yah, atau kamu duduk saja, kasiankan yang mau ngasih ucapan selamat, jauh-jauh dateng pengen liat kalian." Jelas Sarah, bukan apa, mereka berdua adalah bintangnya hari ini, semua orang datang pasti ingin melihat dan mengucapkan selamat pada pasangan pengantin baru tersebut.
Pelan, Chilla hanya mengangguk menanggapi ucapan ibunya.
"Ingat, jangan mau kalo di ajak enggak-enggak sama dia." Tunjuk Mona pada Alva dengan ekor matanya.
Dengan senyum malu-malu, Chilla menjawab. "Nggak apa-apa Mama Mona, Chilla juga seneng kok, kalo di ajak enggak-enggak sama Kakak."
Eh!
Mendengar itu, Alva tersenyum penuh kemenangan, sambil mengacungkan jari jempolnya, ia berkedip nakal, sedangkan Mona dan Sarah menghela nafas panjang, kompak geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Hah, kalian berdua ini memang cocok, yang satu suka semena-mena, yang satu penurut nggak ada duanya."
...****************...