
Setelah selesai dengan urusan perusahaan. Alva berniat menemani sang istri untuk memeriksakan kandungan. Dari keluar ruangan hingga menuju lobby, Alva sama sekali tak melepaskan diri dari sang istri.
Bagai perangko, Alva merekat di belakang punggung Chilla, berjalan seperti pinguin, membuat perhatian semua karyawan teralihkan.
Beberapa dari mereka menatap iri, ingin juga merasa mencintai dan dicintai. Dan beberapa orang lagi tidak percaya, sang Tuan yang biasanya dingin dengan seorang wanita, kini justru terlihat begitu manis terhadap istrinya.
Tak mau melewatkan kesempatan langka, mereka terus memperhatikan setiap langkah kaki keduanya. Berhenti sejenak dari sibuknya bekerja.
"Sayang geli." Gumam Chilla diiringi kekehan, saat benda lembut itu berkali-kali mengecup lehernya dengan manja. "Lihat, mereka semua memperhatikan kita."
Alva nampak tak peduli, bahkan ia sengaja membiarkan tanda merah di tubuh Chilla terbuka, agar semua orang tahu, kalau dialah yang membuatnya ada di sana.
"Ini hukumanmu, Sayang. Karena sudah menggodaku di ruang rapat." Balas Alva mulai tidak bisa menahan diri. Selalu merasa terpancing, dengan tubuh sang istri yang semakin hari semakin terlihat berisi.
"Apa? Memangnya Chilla melakukan apa?" Menghentikan langkah, lalu melirik Alva yang tengah membalikan wajahnya, hingga pucuk hidung mereka bertemu.
Sebelum menjawab Alva mengusak gemas, mengadu kedua cuping hidung itu hingga keduanya terkekeh bersamaan.
"Apapun yang kau lakukan, semuanya terlihat menggoda di mataku."
Cih, bahasamu mengerikan Tuan. Di belakang sana Juna sudah membatin berkali-kali. Bahkan ia sedari tadi memberi peringatan pada para karyawan, untuk tidak melihat adegan-adegan yang bikin jantung tidak berdetak dengan normal.
__ADS_1
Jomblo mana tahan.
********
Kandungan Chilla yang sudah masuk usia dua bulan, dinyatakan sehat, namun Dokter Susan menyarankan ibu hamil itu meminum susu, agar janin dalam tubuhnya semakin berkembang dengan baik.
Alva langsung meminta Juna mengantarnya ke rumah, setelah ia membelikan istrinya susu hamil, seperti yang disarankan oleh sang Dokter.
"Sayang kenapa beli sebanyak itu?" Tanya Chilla, melihat Juna yang memasukan banyak sekali kantong plastik berisi kotak susu ke dalam bagasi.
"Supaya kau dan dia sehat, Sayang." Balas Alva, mengelus perut Chilla yang terasa sedikit lebih besar. Tempat dimana benih yang selama ini ia tanam, tumbuh dan berkembang.
Ada senyum di bibir lelaki itu saat mengingatnya, calon buah hati mereka yang sebentar lagi akan hadir ke dunia. Sebuah penguat untuk rumah tangga mereka.
Saat mencobanya, ia malah merasa mual, dan akhirnya susu itu terbuang.
"Kali ini kau harus suka, karena aku yang akan membuatnya." Satu kecupan melandas di kening Chilla, bersamaan dengan Juna yang mulai melajukan mobil ke jalan raya.
Sesampainya di rumah, ketiga orang tersebut langsung disambut oleh Rani. Wanita muda itu membantu Juna menurunkan barang-barang dan membawanya ke dapur.
Sedangkan Alva menggendong sang istri masuk ke dalam kamar. Membaringkan tubuh mungil itu di atas ranjang.
__ADS_1
"Aku seperti orang sakit saja." Keluh Chilla, merasa Alva terlalu berlebihan melayaninya. Bahkan perutnya belum terlalu besar dan dia masih sanggup berjalan.
"Kau memang sehat, tapi aku akan selalu membuatmu menjadi Ratu di istanaku. Jadi diamlah, suami ini sedang melakukan tugas mulia." Setelahnya Alva menarik selimut, membubuhinya di tubuh Chilla. "Aku bikin susu dulu. Dan kau, ingat untuk tetap diam di tempatmu, kalau kau sampai bangun tanpa sepengetahuanku, kau akan tahu akibatnya."
Chilla tak menanggapinya dengan serius, ia hanya terkekeh merasa lucu dengan sikap Alva yang menggemaskan.
Lantas lelaki itu berlalu dari dalam kamar setelah meninggalkan beberapa kecupan. Melengang ke arah dapur, dan Juna terlihat sudah selesai dengan tugasnya.
Alva membiarkan lelaki itu pergi, sedangkan dirinya mulai membuat susu untuk sang istri.
Saat ia sedang menuangkan air ke dalam gelas, tiba-tiba Rani muncul, berdiri tepat di sampingnya, tanpa menjaga jarak.
Lelaki itu melirik sekilas, lalu bergeser menjauh.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanyanya seraya melihat ke arah gelas yang sedang dipegang oleh Alva.
"Tidak." Balas Alva singkat, padat dan jelas.
"Bukankah itu susu untuk Nona, kemari biar saya yang membuatnya." Tawar Rani, menengadahkan tangan supaya Alva mengalihkan tugas itu padanya.
Mata lelaki itu semakin menajam tak suka, ia tidak memperdulikan Rani lagi, dan terus mengaduk susu itu, setelah selesai dengan keras ia membuang sendok ke arah tempat cuci piring.
__ADS_1
Membuat Rani terlonjak kaget, reflek mengusap dada.
"Anakku tidak suka buatan orang lain!" Cetus Alva sebelum benar-benar pergi dari sana. Memperingatkan Rani untuk menjaga jarak terhadap dirinya.