Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Kedatangan Jonathan


__ADS_3

Lingerie merah itu telah teronggok entah dimana.


Karena nyatanya, pakaian dengan kain tipis berenda itu tak bertahan lama di tubuh Chilla.


Ruangan dengan AC menyala seolah tak berarti apa-apa, karena peluh dari hasil kegiatan panas mereka benar-benar telah mengalahkannya.


Alva tergolek di samping tubuh sang gadis, setelah melepas penyatuan mereka, memeluk erat perut itu, hingga membuat Chilla menghadap ke arahnya.


Sekejap, mereka hanya saling tatap dengan nafas yang memburu. Chilla yang merasa malu, akhirnya memutus lebih dulu pandangan itu.


Satu tangan Alva bergerak, mengusap lembut tubuh mulus yang kini telah penuh dengan mahakaryanya.


Hingga berhenti tepat di satu tanda yang ia buat, yaitu di dada.


"Kau tahu arti dari tanda ini?" Tanya Alva memecah keheningan diantara mereka, yang masih berburu oksigen untuk mengisi rongga-rongga udara.


Mendengar pertanyaan Alva, Chilla kembali menoleh, menatap wajah tampan yang ada didepannya, lalu menggeleng lucu dan berkata, "Tidak tahu,"


Alva menyunggingkan senyum, "Ini artinya tanda kepemilikan," jelasnya.


"Apa itu artinya selama ada tanda ini, Chilla akan selalu jadi milik Kakak?"


Pelan, Alva mengangguk, "Dan selama itu pula, tidak ada yang boleh melakukannya selain aku,"


Chilla mengembangkan senyum, "Kalau begitu, buatlah sebanyak mungkin. Dan jangan pernah terputus,"


Alva terkekeh mendengar permintaan Chilla, gadis polos yang mudah sekali diprovokasi pikirannya. Dan saat itu pula, Alva kembali membuat satu tanda.


"Kau suka?" Tanyanya.


Chilla menggeliat geli, lalu mengangguk.


"Aku menyukai semua yang Kakak berikan untukku." Balas Chilla seraya mengalungkan tangannya di leher Alva.


Sontak saja pernyataan itu membuat Alva kembali pada otak mesumnya, lelaki itu mengecup gemas tubuh Chilla. Membuat gadis itu bergerak kegelian.


"Bagaimana? Apa kau juga menyukai yang ini?"


Chilla terkekeh, "Kakak geli,"


Namun, semua itu tak membuat Alva berhenti, ia terus mencumbui tubuh itu, hingga Chilla berteriak ampun. Barulah, Alva tak melanjutkan kembali keisengannya.


"Kau masih meminum pil itukan?" Tanya Alva saat keduanya kembali di posisi awal. Dengan penuh perhatian, ia menyibak rambut Chilla ke belakang.


"Masih, memangnya kenapa?" Balas Chilla seraya balik bertanya.


"Baguslah, jangan pernah melupakannya, karena jika itu terjadi, akan ada Alva junior didalam sini," ucap Alva seraya mengusap perut rata Chilla.


Bukannya takut, mata Chilla justru berbinar bahagia, membayangkan wajah Alva juniornya jika benar-benar ada dalam perutnya. Pasti sangat lucu batinnya.


"Kalau dia laki-laki, pasti sangat tampan seperti kakak. Dan pada saat itu, kita akan jadi keluarga yang bahagia," ujarnya spontan, pikirannya menerawang jauh ke masa depan.

__ADS_1


Tentang indahnya berumah tangga dengan lelaki yang sangat ia cinta, memiliki anak-anak yang lucu, serta menua bersama. Wajah Chilla terlihat sumringah.


Dan kebahagiaan itu tertangkap jelas di mata Alva.


Lain dengan Chilla, sudut hati Alva justru berkedut tak menentu. Awalnya ia hanya ingin bercanda, tetapi begitu melihat binar kebahagiaan di mata Chilla yang sudah membayangkan masa depan mereka, rasa sakit itu datang secara tiba-tiba, benarkah mereka akan bahagia?


Sedangkan Alva tak mampu untuk menjanjikan apa-apa, sekali lagi, ia bagai pecundang yang hanya bisa berkata-kata tanpa bertindak nyata.


Belaian lembut itu mengendur, hingga dapat Chilla rasakan pergerakannya. Ia melirik sekilas, sedikit tahu kini air muka Alva telah berubah.


Hingga membuat dirinya menjadi merasa bersalah, sepertinya ia telah salah bicara.


"Sayang, maaf. Chilla salah ngomong yah?" Ucap Chilla hati-hati.


Mendengar itu, Alva tersadar. Dengan cepat ia menggeleng. Tidak seharusnya ia menunjukkan sikap seperti ini didepan Chilla.


"Lupakan saja. Kau tidak salah apa-apa, sebaiknya kita bersiap-siap untuk makan malam. Dan setelah itu aku akan mengantarmu pulang." Ucap Alva, ia bangkit dari ranjang setelah mengecup manis pipi kanan dan kiri Chilla secara bergantian.


Chilla hanya mampu meneguk ludahnya kasar, terpaku dengan perubahan sikap Alva, tak bisa berbuat apapun, akhirnya dia menuruti kata-kata Alva, bersiap untuk makan malam berdua.





Pagi menjelang siang, Antarakna Group di hebohkan oleh kedatangan sang Tuan besar, Jonathan.


Tak ada kabar apapun, lelaki paruh baya dengan penuh karisma itu tiba-tiba saja sudah berdiri di depan perusahaan. Semua karyawan berbaris rapih di tempat mereka masing-masing.


"Selamat pagi Tuan," sapa para karyawan dengan ramah.


Jonathan hanya tersenyum seraya mengangguk kecil sebagai tanggapan.


"Apa perlu saya panggilkan Tuan Alva, Tuan?" Tanya seorang pria yang telah lama mengabdikan dirinya pada Jonathan.


Lelaki itu sengaja di tempatkan di pusat oleh Jonathan, dengan tujuan memantau Alva, dan memberikan laporan kepadanya, jika memang ia meminta.


"Tidak perlu, biar aku yang ke ruangannya," balas Jonathan sembari meneruskan langkah.


Pria itu hanya mengangguk sekilas, dan tetap setia di belakang Tuannya.


"Apa ada wanita lain, selain Yola yang pernah datang kemari?" Tanya Jo di sela-sela langkahnya menuju lift.


"Hanya ada Nona Chilla Tuan, selain itu tidak ada." jelas sang pria.


"Chilla?" Jonathan membeo.


"Iya Tuan, Tuan Alva memperkenalkan Nona Chilla kepada semua karyawan sebagai adiknya, jadi dia bebas keluar masuk di kantor ini,"


Tak curiga sedikitpun Jonathan hanya menganggukkan kepalanya. Karena cukup tahu, bagaimana hubungan antara sang putra dengan gadis bernama Chilla, dan ia pun yakin kalau Alva tidak mungkin melakukan hal bodoh, sampai harus bermain-main dengan seorang wanita. Demi menolak perjodohannya.

__ADS_1


Sedikit berbincang, akhirnya tak lama kemudian, mereka pun sampai. Di ruangan tertinggi, yang ada di gedung ini.


Tok tok tok...


"Masuk!"


Pintu langsung terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya, yang berniat menemui sang putra.


Juna langsung menunduk hormat, sedangkan Alva melayangkan tatapan datar pada sang ayah.


"Kenapa tidak bilang jika ingin kemari? Apa Papa ingin membuat semua orang berasumsi, kalau aku ini anak yang tidak tahu diri? Anak yang tidak tahu sopan santun, karena tidak menyambut kedatangan orang tuanya?" Tanya Alva ketus, ia menghentikan aktivitasnya sejenak.


Mendengar itu, Jonathan justru terkekeh, sebisa mungkin ia tidak mau terpancing untuk marah pada sang anak. Cukup kemarin, ia tidak ingin terulang lagi.


"Untuk apa? Bukankah Papa hanya mengunjungi putra Papa, lagi pula, Papa hanya ingin memberimu sedikit kejutan." Balas Jo seraya mendudukkan diri di sofa. Bersikap santai seolah hubungannya dengan sang anak baik-baik saja.


Alva tak menanggapi ucapan Jonathan, ia justru beralih pada sang asisten, menyuruh lelaki itu menyingkir dengan ekor matanya.


Tanpa harus mengkode lebih lama, Juna mengerti akan perintah sang atasan, ia izin keluar untuk memesan minuman dan makanan.


Kini, di ruangan besar itu hanya tersisa dua lelaki berbeda generasi, dengan wajah yang terlihat sebelas dua belas.


Keduanya terdiam cukup lama, Jonathan sibuk dengan tatapannya yang meneliti setiap sudut ruangan yang nampak tak berbeda. Sedangkan Alva berkutat dengan pikirannya.


"Al, kamu tidak lupa bukan sebentar lagi ulang tahun Papa," ucap Jo memecah keheningan.


Mendengar pertanyaan ayahnya, Alva hanya mengangguk, meski sebesar apapun ia berteriak tidak suka pada sang ayah. Nyatanya, rasa sayangnya sebagai seorang putra tetaplah sama. Ia tidak mungkin melupakan hari spesial orang yang telah mengenalkan dunia kepadanya.


"Papa, berniat mengadakan pesta kecil-kecilan, hanya sekedar makan malam bersama. Papa mengundang keluarga Om Pram, dan juga keluarga tunanganmu," terang Jo.


Mendengar nama Pram, Alva mulai mengangkat kepalanya. Itu artinya akan ada Chilla juga disana. Bersama keluarganya, dan juga keluarga Yolanda.


"Papa sengaja kemari, supaya kamu mau datang, karena itu akan jadi kado untuk Papa. Dan ingat, bersikaplah lebih baik didepan semuanya,"


Jonathan bangkit, melangkah ke arah putranya dan tepat saat ia berdiri didepan sang anak, Jonathan menepuk bahu kekar itu pelan.


Alva ingin ikut berdiri, namun secepat kilat Jonathan menahan.


"Teruskan saja pekerjaanmu, Papa hanya ingin melihat-lihat," ucap Jonathan, ia memutar badan dan melangkah pergi begitu saja.


Menyisakan sang putra dengan segala pikiran yang berkecamuk dalam otaknya. Karena sampai saat ini, ia masih selalu bertanya pada dirinya sendiri.


Tentang apa itu cinta? Dan cinta itu apa?


Benarkah perasaannya terhadap Chilla bisa disebut sebuah cinta? Atau justru rasa yang lainnya?


Aku tidak mengerti ini apa!


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...****************...


Papa Jo nggak ada kerjaan banget, dateng gitu doang🙄


__ADS_2