
Pagi ini, Juna terlihat mondar-mandir didalam ruangan Alva. Pasalnya sudah menjelang siang, sang Tuan belum juga datang.
Semalam ia dikabari untuk tidak menjemput Alva, karena lelaki itu akan datang sendiri, tetapi sampai jam segini, lelaki yang kemarin terlihat tidak baik-baik saja itu belum memunculkan batang hidungnya.
Dengan gusar, akhirnya Juna memilih menelpon sang Tuan.
Berdering...
Namun, sudah sebanyak mungkin, tetap tidak ada jawaban sama sekali. Tak ingin hanya menduga-duga, akhirnya Juna meninggalkan kantor, berniat untuk melihat sendiri keadaan Tuannya.
"Sil, tolong urus semuanya yah, Tuan sepertinya sedang tidak enak badan," ucap Juna pada sekertaris Alva.
Wanita dengan usia tiga puluhan itu mengangguk patuh pada perintah Juna, orang kepercayaan bosnya.
Setelah mengatakan itu, Juna langsung melajukan mobilnya, keluar dari baseman kantor menuju jalan besar.
Karena tak ingin terlalu lama, Juna menggunakan kecepatan cukup tinggi, hingga tak berapa lama kemudian, sampailah ia di apartemen sang Tuan.
Ting tong!
Lagi, tak ada sahutan apapun, dengan rasa cemas yang sudah mendarah daging, Juna menekan password yang sudah ia hafal malam itu dengan jari-jarinya.
Begitu pintu terbuka, ia melihat sekeliling, nampak sepi, bahkan seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.
Tak berhenti di ruang tamu, akhirnya Juna bergerak untuk memeriksa kamar.
Klek!
Pencahayaan terlihat masih meremang, namun Juna masih tetap bisa melihat dengan jelas, bahwa diatas sana, tubuh yang biasanya berdiri dengan tegap, kini tengah terbujur lemah.
Melihat itu, Juna langsung mendekat, dan cepat-cepat memeriksa suhu tubuh Alva yang terasa sangat panas.
Bahkan sampai mengigau dan terus memanggil nama gadis kecilnya.
"Chilla,"
"Tuan, ini saya Juna. Kita ke rumah sakit saja yah," ajak Juna tak tega.
Alva melirik sekilas, pandangan matanya seolah kabur, ia tetap bergumam memanggil nama Chilla.
"Chilla, sayang,"
Tanpa mendengarkan Alva, Juna membantu lelaki itu untuk bangkit, karena ia berniat membawa Alva untuk ke rumah sakit.
Karena setidaknya, disana sang Tuan bisa dirawat lebih intensif.
Alva sedikit memberontak, menyadari ternyata Juna ada didepan matanya.
"Jun, aku mau Chilla," lirihnya lemah.
"Tuan, tapi anda harus segera ditangani, demam anda tinggi,"
"Panggilkan Chilla Jun," tak menggubris perkataan Juna, Alva justru meminta Chilla untuk datang.
Ia tidak ingin apapun saat ini, yang ia mau gadis kecilnya, ya hanya dia.
Tak berkata apapun lagi akhirnya Juna menghubungi Chilla dengan ponsel milik Alva. Setidaknya, dengan adanya gadis itu, pasti mampu untuk membujuk bosnya.
Baru satu getaran, Chilla sudah mengangkat teleponnya.
"Kakak ada apa?" Tanyanya, kini gadis itu masih di sekolah. Tepatnya di kantin.
"Nona, ini saya Juna. Tuan demam, dan terus memanggil nama anda. Kalau bisa—"
"Chilla bisa, Chilla akan kesana!" Potong Chilla cepat, mendengar Alva sakit benar-benar membuatnya cemas.
__ADS_1
Dari semalam ia sudah bisa menebak, kalau lelakinya sedang tidak baik-baik saja. Tapi seolah memiliki tenaga lebih, Alva terus saja mengelak dan berkata tidak.
"Na, Chilla pulang duluan yah, kak Alva sakit," ucap Chilla kepada sang sahabat.
Meskipun telah selesai ujian, seluruh siswa kelas XII masih dipinta untuk datang, untuk hanya sekedar mengisi data kehadiran.
Nana mengangguk-angguk mengerti, tanpa mereka ketahui, ada sepasang telinga yang menangkap pembicaraan mereka dengan begitu jeli.
[Kak Alva sakit, cepat datang sebelum gadis licik itu.]
Tulisnya dalam sebuah pesan.
Dengan langkah besar Chilla keluar dari gerbang sekolah, mencari taksi untuk mengantarkannya ke apartemen sang pacar.
Begitu dapat, Chilla langsung meminta supir untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, karena disamping perasaan khawatir yang semakin mencuat, jarak dari sekolah ke apartemen juga cukup jauh.
"Pak, lebih cepat sedikit," pintanya.
Chilla kembali melangkah dengan tergesa, setelah taksi itu telah sukses membawanya ke tempat Alva.
Tanpa ba bi bu lagi, Chilla langsung menekan password, dan sedikit berlari ke kamar Alva.
Deg!
Jantung Chilla mencelos, ketika melihat disana sudah ada Mona dan juga Yolanda, tak lupa juga sang asisten yang siap siaga yaitu Juna.
Ia memandangi satu persatu, tak terkecuali lelaki yang tengah terlelap dibawah selimut tebal itu.
"Sayang, kamu juga tahu kalau Alva sakit?" Tanya Mona seraya mendekat ke arah Chilla.
Mendengar itu, Chilla lebih dulu menelan salivanya, lalu menganggukkan kepala dengan nafas yang masih terengah.
"Kakakmu sudah tidak apa-apa, dia sudah ditangani oleh Dokter, untung tadi Alva memberi tahu Yola kalau dia sakit, jadi Mama langsung menghubungi Dokter keluarga. Kamu tidak perlu khawatir lagi, dia sedang istirahat," Terang Mona seraya mengelus puncak kepala Chilla dengan sayang.
Pelan, Chilla mengangguk, ada rasa kecewa begitu melihat Yola tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.
Sekaligus bercokol dalam otaknya, satu pernyataan, benarkah Alva menghubungi Yola? Tapi kenapa lelaki itu menghubunginya juga. Untuk apa?
Juna yang mengetahui kebenarannya tak bisa menjelaskan apapun pada Chilla, padahal ia tahu dari raut wajahnya, gadis itu tengah merasakan kecewa pada Alva.
"Kalau begitu, Chilla pulang saja," ucap Chilla akhirnya, tak ingin berlama-lama dalam perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba saja menyerang.
"Kenapa buru-buru sekali Chilla?" Tanya Yola yang kini tengah duduk disamping pembaringan Alva, tangan lentiknya dengan lihai membelai wajah sang tunangan dengan begitu penuh perhatian.
Dada Chilla semakin sesak, sebisa mungkin bulir yang sebentar lagi akan tumpah ia tahan hingga ia bisa keluar dari dalam sana.
"Chilla masih punya urusan lain, Ma, Kak Yola dan Kak Juna, Chilla pamit,"
Chilla memutar langkah setelah menyalimi tangan Mona.
Tetapi langkahnya terhenti begitu Juna memanggil dan menawarinya tumpangan. Entahlah, sepertinya mulut Juna gatal ingin menjelaskan.
"Nona, biar saya antar," ucap Juna.
Tanpa berbalik Chilla mengangguk, karena sebenarnya air matanya sudah luruh begitu saja tanpa bisa di cegah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam ini, Chilla kembali mendapatkan pesan dari sang kekasih, untuk itulah sekarang ia berada disini.
Didekapan Alva yang keadaannya sudah cukup membaik. Siang, saat Juna mengantarnya pulang, lelaki itu telah menjelaskan, bahwa Alva sama sekali tidak menghubungi Yola, ia juga tidak tahu, karena tiba-tiba saja seorang Dokter datang dan disusul oleh Mona serta wanita itu.
"Juna bilang kau menangis, benarkah?" Tanya Alva tanpa melonggarkan pelukannya, kini wajah keduanya saling beradu, dan mengunci satu sama lain.
"Apa kak Juna mengadu?"
__ADS_1
"Tidak, tapi aku yang bertanya." Balas Alva seraya mengelus lembut wajah cantik gadis muda itu.
"Aku melihat, saat kau keluar dari sini kau hampir saja menangis, jadi aku menanyakannya," sambung Alva.
Mendengar ungkapan Alva, Chilla membulatkan mata dan mencebikkan bibirnya.
"Jadi, sebenarnya kakak tahu saat aku datang? Lalu kakak juga tahu kalau kak Yola mengelus pipimu? Seperti ini?"
Chilla bertanya dengan nada menggebu, ia juga mempraktekkan bagaimana tunangan lelaki itu mengelus lembut pipi kekasihnya yang siang itu tengah terbaring lemah.
Ada amarah yang memuncak, begitu tahu kebenarannya, bahwa Alva sebenarnya sadar, namun diam saja tanpa berusaha menghindar.
Tahu kalau gadisnya sedang cemburu, Alva terkekeh, lalu menangkap tangan itu dan menggenggamnya.
"Aku suka melihat kau cemburu, lagi pula, sentuhannya tak sehebat sentuhanmu," goda Alva dengan senyum menggodanya.
Mendengar itu Chilla mengerucutkan bibirnya, hingga membuat Alva gemas dan mematuk bibir imut itu.
"Tapi, apa keadaan kakak sudah baik-baik saja?" Tanya Chilla mulai melunak, dari yang ia rasakan, suhu tubuh Alva masih cukup hangat. Belum normal, seperti biasanya.
"Beri aku vitamin, baru aku akan sembuh," seringai itu mulai menghiasi wajah Alva, bahkan lelaki itu meremas bulatan yang ada dibalik baju Chilla.
"Ih mesum," keluh Chilla.
"Bukankah kau ingin aku cepat sembuh?" Tanya Alva semakin mendekatkan wajahnya, sehingga Chilla reflek memundurkan kepala.
Namun percuma!
Karena kini, lelaki itu sudah sukses menggapai bibir miliknya, menggigit kecil dan melumaat dengan penuh kelembutan.
Chilla yang sudah semakin handal dalam berciuman akhirnya mulai membalas, menyerang tak kalah kuat seperti apa yang selalu Alva lakukan padanya, dari mulai membelit sampai menghisap lidah lelaki itu masuk kedalam mulutnya.
Bahkan karena merasa tidak terima, Yola telah menyentuh lelakinya, Chilla menciumi seluruh wajah Alva.
Lalu dengan nalurinya, kedua tangan Chilla memegang rahang Alva, matanya terpejam, menikmati setiap sensasi yang ia ciptakan sendiri.
Untuk beberapa kali ini, Alva hanya mampu mengimbangi, permainan sang gadis yang semakin hari, semakin menantang dirinya sebagai seorang lelaki.
Tangannya tak lagi melingkar apalagi menahan tengkuk Chilla, tetapi tengah sibuk dengan kancing kemeja yang membungkus tubuh gadisnya.
Hap!
"Kakak mau apa?" Tanya Chilla dengan nafas yang memburu akibat ciuman panas mereka, meski ia ingin, namun tidak mungkinkan mereka melakukannya, disaat keadaan lelaki itu sedang tidak baik seperti ini.
Bahkan kemarin malam mereka baru saja melakukannya.
"Aku hanya ingin menyentuhnya," Alva melanjutkan kembali niatannya, hingga kancing terakhir sukses terlepas.
Dan bisa terpampang jelas, dua bulatan yang setengahnya menyembul itu tersorot oleh mata Alva, dirinya bangkit lalu ikut membuka kaos yang tengah dikenakannya.
"Kakak!" Pekik Chilla, pikirannya sudah terlanjur kemana-mana melihat Alva juga melucuti bajunya.
Tetapi Alva tak membalas apapun, ia hanya kembali berbaring disamping tubuh gadisnya. Dan dengan cepat merengkuh tubuh ramping itu, karena ia ingin membenamkan wajahnya sendiri ke dada Chilla.
"Hanya seperti ini, sebentar saja," ucap Alva seraya mengendus aroma tubuh Chilla dalam-dalam.
Dapat ia rasakan sentuhan kulit ini yang begitu menenangkan, sedangkan tubuh Chilla mendadak hangat karena tubuhnya bersentuhan langsung dengan kulit Alva. Hingga tanpa segan ia melingkarkan tangan untuk memeluk leher lelakinya.
Mengukir senyum yang ia harapkan takkan pernah ada habisnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1