
"Tuan, ini berkas pengajuan kerja sama dari L group," ucap Juna seraya menyerahkan lembar-lembar kertas, yang telah tersusun rapih dalam satu map.
Alva mengangguk sekilas, lalu mulai mengeceknya dengan seksama. Ia berhenti menatap kertas itu, begitu teringat sesuatu.
Alva kembali menghadap sang asisten yang setia berdiri di ujung sana.
"Jun," panggil Alva.
Juna mendekat, dan berdiri tegap disamping Alva, "Iya Tuan,"
"Ada perkembangan apa mengenai Yola?" Tanyanya dengan wajah datar. Walaupun sebenarnya ia penasaran, tetapi tetap saja, baginya tentang Yola adalah sesuatu yang begitu membosankan.
"Belum ada Tuan, karena sepertinya Nona Yola menyadari kalau ada yang membuntutinya. Tapi, kita juga mempunyai praduga, kalau Nona Yola sengaja keluar masuk apartemen, agar seseorang yang diluar sana bisa masuk dengan leluasa, tanpa diketahui oleh orang kita. Dan saat akan keluar, Nona Yola juga memancing orang kita agar ikut dengannya. Begitulah yang kami tangkap, saat beberapa kali mendapati hal yang sama," terang Juna apa adanya.
Orang yang telah mengikuti Yola senantiasa melapor hanya kepada Juna, ia tak mengabarkan apapun pada Alva, karena ini memang permintaan lelaki tersebut. Ia akan menanyakan sendiri, jika memang ingin tahu.
"Lalu, apa langkahmu selanjutnya?" Tanya Alva. Entah kenapa ia ingin semua itu cepat terkuak kebenarannya.
"Kami memiliki beberapa rencana Tuan, saya akan mengirimkan satu orang lagi untuk berjaga di apartemen, dan yang satu mengikuti Nona Yola, agar wanita itu terkecoh. Tapi untuk beberapa hari ini, saya belum bisa untuk melakukan itu semua, agar Nona Yola menganggap bahwa kita sudah tidak mengikutinya," jelas Juna, berharap apa yang dia rencanakan berjalan dengan lancar, dan sesuai.
"Bagus, lain kali berhati-hati lah, jangan lagi buat dia curiga. Kalau tidak, pekerjaan anak buahmu taruhannya," balas Alva.
"Baik Tuan,"
Alva kembali berkutat dengan pekerjaannya, tetapi begitu ia ingin meraih pulpen, ponselnya tiba-tiba saja bergetar, menandakan ada sebuah pesan.
Joker Kelas Kakap group message
Satria Piningit : Hellow brother!
5 menit berlalu, tetapi Alva masih bergeming. Menunggu Samuel membalasnya lebih dulu.
Samudera Hindia : Why?
Alvamaret : ?
Satria Piningit : Hei, kalian ini sombong sekali, mentang-mentang sudah memiliki pasangan, kalian melupakanku.
Samudera Hindia : Mira sedang berkunjung ke kantor ku, jadi tidak usah berbelit-belit, sebenarnya apa yang ingin kau katakan bangsatt?
Satria Piningit : Brengsekk kau Sam! Aku hanya ingin kita bertemu, karena aku ingin mengatakan sesuatu, ini tentang wanita masa depanku.
Satria menambahi emot malaikat diujung pesannya sebagai pemanis.
Alvamaret : Menjijikan!
Alva mengejek.
Satria Piningit : Kau ingin ku hajar Al?
Samudera Hindia : Haish! Benar apa yang Alva katakan, bahasamu itu menjijikan. Lagipula aku sedang tanggung dengan Mira, nanti saja bertemunya.
Alvamaret : Lanjutkan brother!
Satria Piningit : Shitt, Kalian memang badjingan!
Diujung sana Satria mengumpat tak habis-habis pada kedua sahabatnya.
Sedangkan Alva terkekeh, ia jelas tahu apa yang sedang sahabatnya itu lakukan dengan istrinya. Mungkin sedang bercinta di atas meja kerja.
Mengingat itu, tiba-tiba terlintas bayangan wajah Chilla tengah tersenyum ke arahnya.
Alva memandangi wallpaper ponselnya, lalu mengulum senyum.
*******
__ADS_1
"Chil, pulang bareng yuk?" Ajak Bryan untuk yang kesekian kali.
Meskipun tak ditanggapi atau apapun itu, ternyata lelaki itu tak menyerah, ia terus saja mengejar Chilla dengan semua yang ia bisa. Rasa lelah belum menghampirinya.
Chilla tersenyum tipis, "Chilla nggak bisa Bryan, maaf yah,"
Chilla berbalik dan berniat meninggalkan Bryan yang masih duduk diatas motornya. Namun, langkahnya terhenti begitu Bryan berteriak.
Teriakan keputusasaan.
"Kenapa sulit sekali mendapatkanmu Chilla?"
"Kenapa aku tidak bisa sedikit saja, memiliki kesempatan agar bisa dekat denganmu?"
"Aku sudah berusaha menjadi baik, merubah semua sikap burukku, semua aku lakukan untukmu, tapi tidak bisakah kamu melihat?"
Lelaki itu turun dari motornya, berdiri dengan tegak menatap gadis pujaannya. Gadis yang telah sukses membuatnya berubah. Bahkan, hanya gadis itu yang mampu bertahan dalam hatinya sampai saat ini, ia seperti benar-benar menemukan cinta dalam diri Chilla.
Dan hal itu sukses membuat seorang gadis yang sudah lama mengincar Bryan, meremat tangannya geram. Serta menatap penuh kebencian.
Sedetik, dua detik Chilla bergeming. Lalu detik selanjutnya ia mencoba untuk berbalik.
"Aku tidak bisa, sekeras apapun kamu mengejarku, aku tetap bisa Bryan, karena kamu harus tahu, kalau aku sudah menyerahkan hatiku untuk orang lain, aku harap kamu mengerti," terang Chilla akhirnya, ia tidak mau terus seperti ini. Ia ingin Bryan berhenti.
"Apa? Aku harus mengerti apa?" Tanya Bryan seraya mendekat ke arah Chilla.
"Aku sudah punya pacar," ungkap Chilla cepat.
Deg!
Bryan berhenti di tempatnya. Hatinya terasa tercabik-cabik. Beginikah rasanya patah hati? Selama ini ia baru merasakannya, karena biasanya ia yang selalu memutuskan sebuah hubungan, tetapi kini, ia justru di tolak mentah-mentah, karena wanita yang ia cintai sudah memiliki seorang kekasih.
"Aku tidak percaya," lirih Bryan.
Tetapi suara itu masih bisa di tangkap oleh indera pendengaran Chilla.
"Heuh, siapa dia?" Tanya Bryan kembali mendekat ke arah Chilla.
"Kamu tidak perlu tahu,"
"Aku harus tahu, karena jika tidak. Aku akan terus mengejarmu,"
"Dan Chilla akan terus berlari,"
Hap! Bryan mencekal lengan Chilla yang hendak berbalik.
"Ada saatnya kamu lelah," ucap Bryan, menatap dalam, mencari kesungguhan dalam mata gadis itu.
"Dan saat itu terjadi, aku akan berlabuh pada orang yang ku cintai, bukan bersandar di bahumu,"
"Chilla,"
Brakk!!!
Motor sport itu terguling diatas tanah, disusul tangan seseorang merampas lengan Chilla dari cekalan Bryan.
Tatapannya mengintimidasi setiap apa yang dilihatnya, terlebih pada lelaki yang baru saja menyentuh anggota tubuh gadisnya.
"Kak Alva," desis Chilla terperangah.
Alva langsung menyembunyikan gadisnya di belakang punggung. Niat ingin mengajak makan siang, ternyata Alva malah disuguhkan pemandangan yang sangat mengesankan.
"Ada apa kau sampai mencekalnya?" Tanya Alva tak ramah, bahkan mata elang itu menungkik tajam.
"Itu bukan urusan Kakak, karena dia calon pacarku," balas Bryan tak takut. Lalu beralih menatap Chilla yang malah menunduk.
__ADS_1
Mendengar itu, amarah Alva semakin mencuat, bisa-bisanya bocah ingusan ini mengaku calon pacar dari kekasihnya.
"Jauhi adikku!" Pekik Alva tak peduli pada semua mata yang memandang ke arahnya.
Chilla mendongak, tahu kalau Alva pasti tengah menahan amarahnya.
"Kenapa begitu? Memangnya apa salahku, aku hanya ingin mengantar dia pulang,"
"Kau mendekatinya, itu salahmu. Cepat pergi atau ku bakar motormu disini!" Ancam Alva.
Chilla meneguk ludahnya, memandang ke arah Juna yang malah diam saja.
"Kak, cukup kita pergi saja," ajak Chilla seraya memegang erat lengan Alva. Berharap lelaki itu mau menurutinya.
Sedangkan Bryan bergeming, bertanya-tanya kenapa semua orang yang ada disekitar Chilla galak semua? Termasuk orang yang ada di hadapannya.
"Awas kau!" Tuding Alva, lalu menyeret tangan Chilla untuk masuk kedalam mobil.
"Berikan tanganmu," ucap Alva saat mobil mulai melaju ke jalan raya, dari suaranya terdengar jelas, bahwa Alva masih dikuasai amarah.
Chilla hanya bisa menuruti perintah Alva, ia menyerahkan kedua tangannya, lalu Alva mengulurkan tangannya sendiri ke arah Juna meminta sesuatu.
Seperti tahu, tanpa ada suara, Juna menyerahkan sesuatu yang diinginkan bosnya.
Alva mengambil tisu basah yang ia dapat dari Juna, lalu mengelap seluruh bagian tangan Chilla, hingga tangan itu benar-benar bersih.
Bahkan Alva juga mengecupnya bergantian, seolah menghilangkan jejak tangan Bryan.
"Bagian mana lagi yang di sentuh badjingan itu?"
"Ti—tidak ada," terbata Chilla membalasnya.
"Jawab yang benar, biar ku bersihkan semuanya," cetus Alva dengan suara keras.
"Benar sayang, tidak ada. Hanya itu saja," balas Chilla dengan nada takut.
Melihat itu, Juna menahan tawa dan gelaknya seraya terus mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.
Tontonan gratis jomblo, yaitu melihat orang berpacaran bertengkar.
Sedangkan Alva tiba-tiba membuka jas, lalu memakaikannya di tubuh Chilla, hingga tampak bagian atas gadis itu, tertutup dan tak mampu di lihat mata Juna.
"Bagaimana dengan ini, dia tidak menyentuhnya kan?" Bisik Alva seraya menelusupkan tangan dan menggenggam pegangan hidupnya selama ini, benda kenyal tak bertulang yang kerap membuatnya mabuk kepayang.
Pipi Chilla merona, hanya di genggam seperti itu, tubuhnya langsung menegang dan terasa panas, karena tiba-tiba darahnya berdesir dengan hebat.
Dengan cepat Chilla menggeleng, "Tidak sayang, ini hanya milikmu,"
"Tentu saja," balas Alva cepat.
Kalo begitu keluarlah kau tangan nakal. Ingin sekali Chilla berteriak seperti itu, tetapi dia tak mempunyai keberanian sama sekali.
"Kalau sampai dia menyentuhnya, ku potong habis tangannya," ucap Alva tak main-main.
"Iya sayang iya,"
Keluarlah!
Mendengar Chilla yang begitu pasrah padanya, membuat Alva perlahan meredakan letupan amarah di dadanya, dengan seutas senyum ia menyenderkan kepala di bahu Chilla, tanpa memindahkan tangannya.
"Ini sangat nyaman sayang," gumam Alva dengan mata yang mulai terpejam.
Hum, kamu nyaman, aku yang kepanasan.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...