Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Interogasi


__ADS_3

"Aku tidak setuju."


Semua mata tertuju pada Jonathan, orang yang baru mengucapkan kalimat penolakannya pada keputusan Pram.


Kita timpuk Papa Jo yuk!


Membuat kobaran api di dada lelaki muda itu semakin besar, tangannya terkepal kuat, hingga otot-ototnya terlihat semakin nyata.


"Apa maksud Papa?" Menatap tajam ayahnya tersebut. Ia tak habis pikir, kenapa lelaki itu selalu menentang dirinya.


Jonathan terlihat tersenyum sinis. "Bagaimana pun, Chilla sudah Papa anggap seperti putri Papa sendiri. Mendapati kelakuanmu yang seperti ini, Papa tidak akan setuju begitu saja. Lebih baik, dia di nikahkan dengan pria lain. Karena Papa yakin, badjingan sepertimu tidak bisa merasakan apa itu cinta, itu hanya omong kosong."


Sumpah demi apapun Alva benci sekali mendengarnya, wajah Alva terlihat memerah, bahkan ia mengeratkan gigi gerahamnya, tanda kesal. Sebenarnya dia anak kandung Jonathan apa bukan? Alva jadi berpikir, bahwa sebenarnya ia bukanlah anak yang diinginkan lelaki tua itu, hingga seluruh hidupnya seolah teratur dan tidak boleh bahagia. Dasar Jonathan gila! Makinya.


"Kalau itu yang Papa pikirkan, aku akan membawa Chilla pergi bersamaku." Ucap Alva yakin, ia meraih tangan Chilla dan menautkan jari jemari mereka kuat. Tidak akan yang memisahkan kami berdua, itulah yang ingin Alva tunjukkan.


"Hei, kamu mau membawa putriku kemana?" Kini ayah Chilla kembali buka suara.


Hingga kedua pemuda itu beralih menatap ke arah Pram dengan wajah memohon. Bantu kami.


"Om, aku tidak akan membiarkan Chilla di miliki siapapun, hanya aku yang akan menikahinya. Karena anak yang di kandung Chilla, adalah anakku. Jadi hanya aku yang boleh menjadi suaminya." Tegas Alva, matanya sudah kembali berkaca-kaca.


Pram melengos. "Kalau begitu mintalah pada Papamu, jangan kepadaku."


"Aku tetap tidak setuju." Tukas Jonathan, melipat kedua tangannya didepan dada.


"Pa!" Pekik Alva dengan nafas memburu, alisnya saling bertaut dengan bola mata menyalak tajam. Kalau saja Jonathan bukan ayahnya, ia pastikan lelaki tua itu sudah habis di tangannya.


Jonathan berjalan santai ke arah keduanya. Menggedikan bahu. "Ada apa?"


Mendapati pertanyaan ayahnya, sontak saja Alva bangkit, rahangnya mengeras, bahkan ia tak segan memberikan tatapan itu pada Jonathan.


"Berhentilah bersikap seperti ini, karena apapun yang terjadi, aku akan tetap menikahi Chilla." Ujar Alva penuh penekanan.


Mendadak Jonathan tergelak. Membuat Chilla dan Alva terlihat saling melempar pandangan. Lelaki tua itu tersenyum meledek ke arah putranya.


"Segila ini kamu untuk mempertahankan Chilla?" Tanya Jonathan masih dengan raut wajah yang sama, wajah tanpa dosa karena sudah membuat Alva kesal setengah mati.


"Hem, Alva bahkan bisa lebih gila dari ini, jika Papa masih berusaha memisahkan kami."


Lagi, Jonathan terkekeh geli, di susul tawa yang pecah kedua wanita paruh baya, yang sedari tadi menonton aksi suami-suami mereka, mengerjai dua pemuda yang sudah berani bermain api di belakang mereka semua.


Bibir Pram berkedut, detik selanjutnya ia menepuk pundak Jonathan dengan keras. "Sudahlah Jo, hentikan dramamu itu. Kau tidak lihat, wajah putramu sudah sekesal apa?"


Masih terkekeh, Jonathan menjawab. "Aku suka melihatnya Pram, berandal kecil ini memang perlu di beri pelajaran."


Alva mengernyit bingung, kenapa semua orang malah tertawa sesenang itu, di tengah rasa frustasinya menghadapi sang ayah.


Dan kebingungan itu semakin bertambah, kala Jonathan berkata. "Berandal kecil yang malang, menikahlah, Mama dan Papa merestuimu." Tepuk-tepuk pundak lalu kembali tergelak, mengingat wajah pias putra semata wayangnya, yang seumur-umur baru pernah ia lihat, hanya karena ingin mendapatkan seorang wanita.


Alva masih belum mengerti ini semua, tak langsung mengiyakan ia justru bertanya, "Pa, apa maksud ini semua? Apa kalian semua membohongi kami?"


"Hei, kalian berdua yang membohongi kami semua!" Ucap Pram tegas.


Bibir Alva langsung mengatup, sedangkan Chilla mulai mencerna semuanya. Kedua orang tua mereka sudah merestui hubungan mereka berdua. Itu artinya, ia dan Alva bisa menikah.

__ADS_1


"Sayang, kita akan menikah." Pekik Chilla girang, bahkan ia langsung memeluk erat lengan Alva, lelaki yang masih tidak mengerti situasi yang sedang ia hadapi. Sebenarnya apa yang terjadi?


Semua yang menonton hanya terkekeh sambil geleng kepala, melihat tingkah Chilla, si manis yang ceria, yang mampu meluluhkan hati si angkuh yang dingin dan sulit sekali diajak bicara.


"Masuklah, sebelum kalian menikah, kalian perlu di interogasi." Ujar Jonathan, lalu melangkah kedalam rumah Pram, dan di susul oleh Mona.


Saat melewati Alva dan Chilla, wanita paruh baya itu lebih dulu menepuk-nepuk pundak sang putra. "Berbahagialah sayang." Ucapnya penuh kelembutan.


Dan disinilah mereka sekarang, duduk berkerumun di atas sofa ruang keluarga milik Pram. Semuanya berpasangan, karena Chilla dan Alva juga di minta duduk berdampingan.


Pertama kali, Jonathan berdehem. Membuat semua orang mengangkat kepala.


"Kita mulai saja interogasinya, ingat! Kalian harus menjawabnya dengan jujur, kalau tidak, kalian tidak boleh menikah!" Tegas Jonathan, menunjuk dua anak muda yang duduk didepannya.


"Pertama, jangan kalian pikir kami tidak tahu hubungan yang kalian jalin selama ini, hanya saja, kami tidak tahu terlalu mendalam, kami tidak berpikir kalau kalian sampai nekat melakukan hal senista itu..."


"Papa Jo, Chilla minta maaf." Potong Chilla merasa bersalah.


Sedangkan Alva terus bertanya-tanya, darimana Jonathan tahu, hubungannya dengan Chilla. Padahal kemarin, ia masih mempercayai Yolanda, dan mengatainya gila.


Jonathan hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. "Kalian memang bersalah, tetapi kami sebagai orang tua, tidak mungkin tidak memaafkan kesalahan kalian berdua, jadi... Jawab dengan jujur, dimana pertama kali kalian melakukannya?"


Glek!


Chilla dan Alva saling melirik satu sama lain, mereka bergeming, haruskah mereka menjawab pertanyaan itu dengan jujur sejujur-jujurnya.


"Hei, kenapa kalian diam?" Sentak Jo.


Tak hanya Chilla dan Alva, bahkan semuanya ikut kaget, hingga Pram melemparkan bantal sofa ke arah sahabatnya itu.


"Maaf Pram, habisnya mereka tidak mau menjawab pertanyaanku." Bela Jonathan. "Ayo jawab! Memangnya kalian tidak mau menikah?" Lanjutnya, beralih pada Chilla dan Alva. Si pembuat masalah.


"Aaa..." Chilla sudah mangap, tapi ia merasakan rematan tangan Alva di bawah sana, gadis itu melirik ke samping, diamlah! Begitulah arti tatapan lelakinya.


"Sayang kalau kita tidak menjawab, kita tidak boleh menikah, jadi kita jawab saja apa adanya, kalau kita melakukannya di apartemen Kakak." Ceplos Chilla dengan bola matanya yang indah.


Haish! Ingin rasanya Alva lari dari rumah ini membawa Chilla pergi, kenapa pakai acara interogasi segala sih? Kalau boleh memilih, ia lebih suka berkelahi.


Mulut-mulut tua itu menganga, mendengar kejujuran Chilla.


"Wow, jadi kalian melakukannya di apartemen Alva, pantas saja dia jarang pulang, ternyata ada yang bikin betah disana." Timpal Jonathan sambil geleng-geleng kepala, so tidak habis pikir.


"Oh jadi, pakaian dalam yang waktu itu Mama temukan, itu milik Chilla?" Mona ikut-ikutan dengan mata melebar.


Alva memejamkan matanya. "Ma!"


"Sayang, tidak apa-apa, kita harus jujur." Chilla mengusap lengan Alva, menenangkan sang pacar, yang sedari tadi terlihat gusar.


"Papa juga pernah mengintip dari jendela, waktu Alva mengantar Chilla pulang malam-malam, tapi Chilla tidak lekas turun dari mobil, apa yang kalian lakukan?"


"Pa, yang seperti itu apa perlu di tanyakan?" Cetus Alva semakin meninggikan pita suaranya.


"Kak—" lagi lagi Chilla menenangkan.


Ck! Laki-laki tempramental itu hanya berdecak keras, seraya menelan salivanya dengan kasar.

__ADS_1


"Kita tidak melakukan apapun Papa Jo, hanya..." Chilla membuat gerakan tangannya saling mematuk. "Ciuman perpisahan." Jawab Chilla dengan senyum polos.


Semua orang terkekeh pelan, tetapi tidak dengan Alva, ia justru memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Kenapa gadisnya tidak mengerti sama sekali, bahwa mereka ini sebenarnya sedang di kerjai.


"Lalu, berapa kali Alva bisa melakukannya dalam sehari?" Kini Sarah ikut buka suara, melihat wajah Alva yang seperti itu, ternyata menyenangkan juga.


Pipi Chilla merona, lalu menggeleng kecil. "Yang ini Chilla tidak tahu, Chilla tidak pernah menghitungnya." Jawabnya jujur sambil mengulum senyum malu-malu.


Astaga! Ingin ku teriak, ingin ku menangis.


Mendengar itu, bukan lagi bantal yang Pram lempar, tapi sepatu kulit yang ia pakai, hingga mengenai tubuh tegap Jonathan. "Sepertinya putramu ingin membunuh putriku." Pekiknya kesal. "Apa dia maniac?" Timpal Pram lagi. Tidak bisa membayangkan berapa kali Alva melakukannya dalam sehari. Sampai tak terhitung berapa jumlahnya.


Jonathan terkekeh. "Sepertinya iya, kalau tidak, mana mungkin benih yang ia tanam sudah jadi sekarang."


"Pa, Alva rasa cukup, ini memalukan!" Cetus Alva. Kalau tidak di hentikan, ia benar-benar bisa gila, menghadapi pertanyaan yang hanya akan memojokkan dirinya.


"Lho, Chilla saja menghadapinya dengan santai, kenapa kamu terlihat kesal?"


Alva membuang nafasnya dengan kasar, lalu kembali menatap nyalang. "Pa!" Merengek dengan wajah memelas.


"Baik-baik, sesi interogasi kita tutup. Karena kami baik, dua minggu lagi kalian akan menikah, dan sebelum itu terjadi, kalian tidak boleh bertemu..."


"KALIAN DIPINGIT!!!" Ucap mereka kompak dan serentak.


Terhenyak, Alva melebarkan bola matanya dan menggelengkan kepala. Tidak bisa, ia tidak bisa kalau tidak bertemu Chilla, apalagi selama itu.


"Ma, masa seperti itu?" Merasa keberatan, Alva meminta kelonggaran pada sang ibu.


"Kalau tidak begitu, bisa-bisa Chilla mengandung anak kembar karena terus di seruduk oleh anumu, Mama benar-benar tidak tahu Alva, anumu ternyata bisa setajam itu, sudahlah ikuti saja!"


"Tapi Ma,"


"Tidak ada tapi-tapi. Chilla sayang kalau Kakak meminta bertemu, jangan mau yah, kali ini Chilla harus menolak, jangan selalu menuruti anak nakal ini." Tegas Mona.


Mendengar itu, Chilla mengangguk sambil melirik Alva, ingin melihat reaksi wajah lelakinya. Tepat, seperti yang ia bayangkan, Alva terlihat sangat frustasi sekarang.


Mona menjetikan jarinya. "Nah, bagus. Chilla memang anak Mama yang pintar. Eh tapi ngomong-ngomong, anu Alva sudah sebesar apa sekarang?"


"MAMA!" Pekik lelaki itu seraya menghentak-hentakakkan kakinya diatas lantai.


Mendadak semua orang terkekeh, merasa lucu, melihat tingkah Alva yang kekanakan.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


Asik kawin👻


Yok tebak kenapa Papa Jo udah tahu?


Dan cung yang kemarin nyangka Papa Jo yang intip-intip di jendela?


__ADS_1


__ADS_2