
Setelah makan malam dan bincang-bincang asyik itu selesai. Sarah dan Pram pamit pulang, karena waktu bergulir semakin malam.
Besok, rencananya kedua orang itu akan pergi ke luar kota. Meninjau toko perhiasan mereka yang ada di sana.
Tak berbeda dengan besannya, Jonathan dan Mona juga ikut pamit masuk ke dalam rumah. Setelah wanita paruh baya itu, mengingatkan sang menantu untuk tidak terlalu lama berada di luar.
Mona sempat mengusap-usap perut Chilla, lalu mengajak sang suami untuk beristirahat, meninggalkan sejoli itu hanya berdua.
Chilla memeluk erat tangan Alva, lalu mengajak lelaki itu masuk ke dalam tenda buatan mereka. Namun, sebelum itu, Alva meminta Chilla untuk menunggu.
Gadis itu menurut, setelah Alva mengusak puncak kepala Chilla, lelaki itu melangkah ke arah pos satpam rumahnya, tempat dimana pak Yanto berjaga.
Mendapati Tuannya datang, Pak Yanto buru-buru berdiri. Takut lelaki itu butuh bantuannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Pak Yanto saat Alva sudah berdiri tepat di hadapannya.
Lelaki itu selalu tampak misterius bagi sebagian orang, termasuk pak Yanto. Lihat, Alva berdiri di sana dengan tampang nyaris tanpa senyum, bahkan terkesan dingin.
Berbeda sekali jika sudah bersama istri kecilnya, imut, menggemaskan bahkan sangat manja.
Alva memasukkan kedua tangan ke dalam celana pendeknya. Dia berdehem. "Ada yang ingin aku sampaikan padamu." Ucap Alva.
Pak Yanto mengangguk, mempersilahkan Alva kembali bicara.
"Jangan keluar dari pos satpam selagi aku dan istriku berada di luar. Dan ingat, jangan berani mengintip sedikitpun, kalau kau berani melakukannya, bahkan mengadu pada Mama dan Papa." Alva membuat gerakan memotong leher, dengan matanya yang menungkik tajam.
Membuat pak Yanto merasakan salivanya tercekat di tenggorokan, dengan tubuh yang gemetaran.
"Ba, baik, Tuan." Balasnya dengan terbata.
"Apa?" Alva sedikit mengeraskan suaranya.
"Saya tidak akan melakukannya, sumpah, saya akan menuruti perintahmu, Tuan." Jawab pak Yanto dengan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf v.
Seketika Alva tersenyum lebar, dia manggut-manggut, lalu menepuk bahu Pak Yanto. "Nanti aku transfer uang satu juta ke rekeningmu. Dan ingat, kunci mulutmu rapat-rapat."
Seperti mendapat angin segar, wajah pak Yanto langsung sumringah, dia mengangguk mantap dan berterimakasih pada Alva.
Sedangkan lelaki itu kembali melangkah ke arah istrinya. Melangkah dengan kaki lebar, berharap cepat sampai.
Alva menggenggam tangan Chilla, dia mengulum senyum dan mencondongkan wajah, lalu berbisik. "Ayo kita main tenda-tendaan." Ucapnya girang.
__ADS_1
Chilla yang begitu menginginkan ini semua, terlihat sangat sumringah, dia menurut saat sang suami membawanya masuk ke dalam tenda.
Begitu Alva sukses menutup pintu bangunan mini itu, tanpa diduga, tubuh Chilla langsung diserang, diserang dengan membabi-buta.
Alva menciumi bibir istrinya dengan buas, seperti sudah lama dia tidak merasakan benda kenyal itu. Sedangkan kedua tangannya bertumpu, agar tidak menindih tubuh Chilla.
Dilumaatnya bibir itu atas bawah, lalu lidah itu melesak, meminta akses lebih dalam untuk mengarungi lautan kenikmatan.
Alva mengabsen sederet gigi Chilla yang berbaris rapih, lalu membelit lidah itu dan menyesapnya tanpa ampun.
Suasana sunyi itu berganti ramai, lenguhan Chilla membuat hasrat Alva menggelora seketika.
Sesuatu di bawah sana mulai bangkit, dan Alva terus memancingnya dengan menyusuri leher jenjang sang istri, berlarian dan semakin naik ke atas, tepat di telinga Chilla Alva berhenti, lalu mengulum daun tipis itu dengan ******* manja.
"Ah, Sayang." Chilla mendesaah merasa kegelian, tangannya dengan kuat mencengkram kaos Alva.
Tak berhenti di sana, dengan semangat membara lelaki itu melucuti pakaian sang istri dan miliknya sendiri. Hingga entah di menit ke berapa, keduanya sudah sama-sama polos, tanpa helaian benang sedikitpun.
"Sayang, kenapa menyerangku seperti itu?" Tanya Chilla dengan nafasnya yang memburu.
Alva tak langsung menjawab, dia lebih dulu menarik ikat rambut Chilla, dan membantu gadis itu mengikat rambutnya tinggi-tinggi, hingga leher putih dengan bercak kemerahan itu semakin terlihat indah.
"Aku mau kita menikmati malam ini di dalam tenda, bukankah kita belum pernah melakukannya?" Alva berucap sambil terus mengunci pandangan mata gadisnya.
Pipi Chilla langsung memanas dan memerah, ia yakin pasti Alva sudah melihatnya. Dengan gerakan malu-malu, gadis itu mengangguk, membuat Alva tersenyum lebar.
Alva meminta Chilla untuk duduk dengan tegak, sedangkan dia memposisikan dirinya setengah berdiri, dengan kedua kaki mengapit paha istrinya.
Hingga pusaka yang tengah menegang hebat itu, tepat berada di hadapan wajah Chilla.
Gadis itu meneguk ludahnya, karena posisi ini belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Buka mulutmu." Titah Alva seraya memegang dagu istrinya.
Gadis itu tak langsung menurut, dia hanya berkedip-kedip pelan, mencari jawaban, apa yang sebenarnya akan Alva lakukan.
"Buka mulutmu, Honey." Pinta Alva dengan lembut, seraya mengusap pipi itu dengan sayang.
Patuh, Chilla membuka mulutnya, dan Alva langsung mendorong belalainya masuk ke dalam sana, hingga mata Chilla membulat sempurna.
Mulut itu terasa penuh, dengan wajah sensual, Alva mulai bergerak pelan-pelan.
__ADS_1
"Honey, ini benar-benar nikmat." Rancau Alva sambil mengerang. Dia memegangi kepala Chilla, dan terus mengusak-ngusak rambut gadis itu.
Hingga Alva merasakan tubuhnya hampir meledak. Dia mencabut pusakanya yang terkulum erat oleh mulut Chilla.
Dengan gerakan cepat Alva mengangkat kaki istrinya, dan berganti dia yang menyesap irisan daging tipis itu, daging tipis yang berada di tengah-tengah inti Chilla.
Gadis itu menjerit tertahan, seraya mencengkram lantai yang terbuat dari karpet berbulu.
Alva tak berhenti membuat mulutnya menganga, karena denyutan di bawah sana benar-benar nyata.
Hingga Alva merasa tubuh Chilla siap untuk dirasuki, dia menarik lidahnya, dan menancap senjata laras panjang itu ke dalam sana.
Chilla berganti mencakar punggung Alva, dan detik selanjutnya dia kembali dibuat mendesaah.
Dengan rasa yang masih sama, dan kenikmatan yang semakin berlipat ganda, Alva menggoyangkan pinggulnya.
Belalai itu terasa semakin diurut, dan tertelan oleh liang senggama istrinya.
"Honey, oh Honey." Alva terus mengayuh dirinya, membawa Chilla mencapai ke puncak nirwana tertinggi.
Sinar bulan yang menggantung indah di sana menjadi saksi bisu, betapa hebatnya buncahan lahar panas itu.
Alva dan Chilla sama-sama mengerang panjang, setelah sukses meledak berbarengan.
Alva menyatukan kening mereka, dengan nafas terengah dia mengulum senyum, lalu mengecup bibir ranum Chilla sekilas. "Aku tidak bosan mengatakan ini, aku mencintaimu, Honey."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Engap nggak?
Kalo engap coba kasih hadiah si Kakaknya🤣🤣🤣
Hampir aja Alva manggil Chilla Sweetie, ada yang inget Sweetie itu panggilan siapa buat siapa?
Mampir yah ke karya Kakakku 😍😍😍
Ini tukang nganu🤧 Kata dia nganu dimanapun selalu oke🤣
__ADS_1