
Tanpa basa-basi lagi, Mona langsung melangkah ke arah mobil sang putra. Kini, mobil yang terkesan horor itu sudah berhenti bergerak.
Jonathan mengekor di belakang. Begitu sampai, Mona langsung mengetuk kaca mobil anaknya dengan tidak sabaran. Ingin cepat-cepat meluapkan amarahnya.
Suara ketukan itu mengagetkan kedua sejoli yang ada di dalam sana. Tangan Alva yang tengah membantu sang istri mengelap inti tubuhnya dengan tisu, mendadak berhenti.
Dia melihat ke arah luar, dan mendapati wajah Mona dengan raut bersungut-sungut. Dengan gerakan cepat Alva membenahi baju Chilla. Dan membantu gadis itu untuk duduk.
"Sayang, aku sudah bilang. Kita ke kamar aja, Kakak nggak percaya." Ucap Chilla risau, saat melihat gelagat suaminya berubah waspada.
Siaga satu. Gunung merapi akan segera meletupkan laharnya.
"Sudahlah, yang pentingkan sudah selesai, Sayang. Terimakasih yah vitaminnya." Alva mengusak puncak kepala Chilla, dan mengecup kening yang masih berpeluh itu.
Sedangkan di luar sana, Mona tidak berhenti mengetuk kaca mobil sang putra, dengan tangan yang melipat di depan dada. Sorot matanya menajam, dengan bibir yang misuh-misuh, merutuki Alva.
Alva dan Chilla sama-sama keluar, gadis itu menunduk dengan menggigit bibir bawahnya, segan melihat ke arah kedua mertuanya, salah suaminya juga, kenapa mengajak bermain di halaman rumah.
"Ada_" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, jeweran maut Mona sudah melandas ke telinga Alva, hingga lelaki itu menjerit. "Aw! Mama!"
"Abis ngapain?" Sentak Mona. Wanita itu bahkan masih bisa melihat benjolan di bawah sana. Milik Alva yang besar, kokoh dan terpercaya, agaknya masih belum terlelap sepenuhnya.
"Aku tidak melakukan apapun, Mama." Kilah Alva setengah merengek. Ia yakin, akan panjang urusannya, bila sang Mama tahu kelakuannya.
Dan jawaban itu, justru membuat Mona semakin mendelik, tidak mau mengaku, begitu yah? Arti tatapan mata ibu beranak satu itu.
Jeweran itu semakin terasa kuat, Alva kembali menjerit menahan rasa panas dan juga kebas, akibat tangan lentik ibunya.
__ADS_1
Chilla yang melihat itu merasa tidak tega, dia mendekat ke arah Mona. "Mama ini bukan salah Kakak, aku yang salah nggak bisa bujuk Kakak ke kamar tadi." Ucap Chilla mencoba membela.
Dan pernyataan itu, harusnya sudah cukup membuktikan, bahwa Alva telah melakukan sesuatu dengan istri kecilnya.
"Kamu nggak salah Sayang. Yang salah itu suamimu, di dunia ini, wanita itu selalu benar, nggak ada sejarah pria itu menang." Tegas Mona dengan penuh penekanan. Membuat Chilla jadi urung untuk bicara.
Sedangkan Alva mencebikkan bibirnya.
"Mama tanya sekali lagi, abis ngapain?" Ucap Mona lagi dengan suara yang lebih meninggi.
"Iya-iya, lepasin dulu dong, Ma." Keluh Alva seraya memegangi telinganya yang tampak memerah dan hampir saja putus.
"Nggak, sebelum kamu jawab!" Tolak Mona mentah-mentah.
"Iya oke. Abis jenguk baby, Ma. Aku buru-buru, jadi tidak sempat masuk ke dalam rumah." Terang Alva dengan jujur. Mata Mona semakin mendelik, seperti akan loncat dari sarangnya.
Sedangkan Jonathan hanya bisa menghela nafas panjang, seraya mengusap-usap dada. Anak satu ini memang tidak bisa melihat istrinya menganggur. Gumam-gumam seorang ayah yang tampak iri pada putranya.
Tempat saksi bisu, perjalanan cinta Alva dan Chilla. Dari hanya menggesek sampai masuk sedalam-dalamnya.
"Tinggal lakukan apa susahnya?" Balas Alva dengan enteng, seperti tidak ada beban.
"Hei, kamu nggak inget, istri Pak Yanto itu di kampung, nanti kalo si Jerry nya ngebet banget, terus nubruk Bi Sumi gimana? Kamu mau tanggung jawab kalo mereka sampe selingkuh?"
Pak Yanto garuk-garuk kepala. Kenapa malah dia yang menjadi topik pembicaraan para majikannya.
"Alva kan tidak melakukan apapun, kenapa mesti tanggung jawab? Dia bisa bersolo karir, Mama."
__ADS_1
"ALVA!!!" Pekik Mona, kehabisan kata-kata meladeni tingkah putranya.
Jonathan mengusap-usap punggung sang istri dengan lembut. Takut darah tinggi Mona kumat tiba-tiba. "Sabar, Ma. Kita harus ikhlas, anak kita memang terlahir sangat kuat." Ucapnya menenangkan.
Namun bukannya tenang, wajah Mona justru semakin merongos. Membuat lelaki paruh baya itu meneguk ludahnya kasar. Sepertinya dia telah salah bicara.
"Papa urusin tuh anak kuat Papa! Suruh turunin kapasitasnya, kayanya waktu download Tuhan kasihnya kegedean." Cetus Mona, lalu melenggang ke arah Chilla yang masih setia menunduk, mengajak menantunya itu untuk masuk ke dalam rumah.
Jonathan menurut, dia melangkah ke arah Alva, lalu menepuk-nepuk bahu kekar itu. "Papa hanya ingin bilang, lanjutkan perjuanganmu, Nak."
Mendengar itu, langkah Mona terhenti, lalu berbalik kembali menghadap dua pria yang wajahnya terlihat sebelas dua belas itu. "Papa!" Pekiknya dengan mata yang menungkik tajam.
"Ada apa, Ma?"
Tak menjawab Mona justru mendekat dan langsung menjewer telinga Jonathan, menariknya masuk ke dalam rumah.
"Aduh, Ma. Kenapa jadi Papa yang dijewer?" Keluh Jonathan.
"Bapak sama anak, sama aja, sama-sama nggak ada akhlaknya. Inget, malem nggak ada jatah!"
"Yah, Mama...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gimana-gimana? Ada yang kangen sama mereka?
Lempar vote dan hadiahnya yah, biar kita semakin bernganu-nganu 🤧🤧🤧
__ADS_1
Gemes banget pengen cubit anunya🤭