
Berkas kerja sama antara Antarakna Group dan L Group telah di kirim, lelaki itu memberikan waktu 3 hari untuk mereka berpikir. Akan Alva pastikan, L Group tidak akan menolak proyek kerja sama ini, proyek yang lebih menguntungkan perusahaan dengan ruang lingkup yang masih cukup sempit itu.
Alva sengaja memancing, agar David sang Presdir mempertimbangkan satu syarat yang ia berikan.
"Jun,"
Mendengar namanya dipanggil, lelaki dengan mata coklat pekat itu mendekat, berdiri memberi jarak aman, dari jangkauan sang Tuan.
"Siang ini, aku akan menjemput Chilla, luangkan jadwalku untuk hari ini saja," berdiri dan memasukan kedua tangannya di kantong celana.
"Baik Tuan, tapi, apa saya juga ikut?"
"Tentu saja, kau harus banyak belajar dariku bagaimana cara berkencan, supaya kau cepat dapat pacar," ucap Alva setengah meledek, memandang ke arah Juna yang terlihat masam.
"Apa? Kau mau memakiku?" memajukan wajah tepat didepan Juna.
"Tidak Tuan,"
Dasar bos gila!
*******
Matahari benar-benar melakukan tugasnya, terik dan menusuk kepala, membuat siapa saja merasa meleleh jika berlama-lama berada di luar sana.
Tapi tidak bagi jiwa-jiwa muda seperti mereka. Dengan langkah riang semua menghambur ke arah gerbang sekolah. Berdesakkan ingin keluar lebih dulu, termasuk gadis manis itu, ya hari ini adalah hari yang ditunggu oleh kelas XII, yaitu pengumuman kelulusan mereka.
Gadis manis bernama Chilla sudah berpisah dengan sahabatnya, karena Nana langsung di jemput oleh ibu dan ayahnya, untuk merayakan momen kelulusannya.
Sedangkan Chilla? Sebelumnya dia sudah melakukan panggilan video dengan Pram dan juga Sarah. Memberitahu bahwa putri semata wayang mereka kini sudah lulus SMA.
Bryan setengah mengejar gadis itu, tetapi langkahnya kalah cepat, karena Chilla sudah masuk lebih dulu, kedalam mobil yang ia kenal sebagai Kakak dari gadis itu.
Kak Alva lagi? Sebenarnya seberapa dekat mereka?
"Sayang," menghambur ke pelukan Alva tanpa segan, membuat lelaki berparas tampan itu menyunggingkan senyum.
Senang, kalau gadis itu berinisiatif sendiri untuk melakukannya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu sesenang itu?" Tanya Alva, menatap netra yang kerap membuatnya seperti terhipnotis.
"Tentu saja, hari ini hasil kelulusanku di bagikan," pipi itu semakin merona, dengan senyum yang tak pernah tertanggal.
"Benarkah?"
"Iya, Kalian harus memberiku selamat," Chilla melirik Alva dan Juna bergantian, tetapi Alva langsung menarik dagu gadis itu. Hanya aku, hanya lihat aku, dan hanya beritahu aku, begitulah kira-kira arti dari apa yang ia lakukan.
"Kau mendapat peringkat?"
Chilla mengangguk antusias, merasa bangga dengan apa yang di perolehnya. Tentu saja.
"Chilla dapet peringkat ketiga,"
"Really?"
"Yah ketiga puluh, hebatkan?" Melepas pelukannya dan bertepuk tangan riang, dengan wajah menggemaskan.
Pfffttt...
Sambil menyetir, Juna menahan gelak dan tawanya mendengar penuturan Chilla. Tingkah gadis itu, memang suka bikin pengen cubit ginjalnya.
Gemas melihat Chilla, Alva menangkup wajah gadis itu dan menggigit hidungnya hingga mengaduh, "Kau membohongiku,"
__ADS_1
"No, Chilla benar-benar dapet peringkat ketiga Kakak," usap-usap sambil terkekeh. Ia memang sengaja bercanda, ingin melihat reaksi Alva.
"Kalau tidak percaya, lihat ini," Chilla menyodorkan amplop yang di bagikan wali kelasnya pada Alva, agar lelaki itu bisa melihat sendiri hasil kerja kerasnya belajar. Dan sebagai wujud balas dendam, kala itu ia tidak bisa bertemu dengan sang pacar.
Tak menggubris, Alva justru menarik kembali tubuh Chilla masuk dalam pelukannya. Mencium pipi gadis itu tanpa keraguan, meski ada Juna di depan sana.
"Kalau begitu aku akan memberimu hadiah," ucap Alva tepat di telinga gadisnya. Sengaja menghembuskan nafasnya disana, membuat bulu-bulu halus Chilla meremang seketika.
"Benarkah? Apa itu?"
"Tubuhku," bisik Alva menyeringai.
Bugh!
"Itu bukan hadiah," pekik Chilla dengan memajukan bibirnya.
Alva terkekeh, "Bukankah kau selalu senang jika mendapatkannya,"
"Apa yang Kakak bicarakan, disini ada Kak Juna," bicara dengan suara pelan, tetapi tetap saja, orang yang didepan sana sudah terlanjur mendengar pembicaraan mereka.
Yang Juna bisa lakukan sekarang hanyalah mengelus dada.
"Aku tidak peduli, bahkan kita bisa melakukannya disini,"
"Heiiii," berteriak marah.
Alva memasang wajah dingin, dan tatapan yang menajam, tidak suka jika gadis itu menentangnya.
Melihat itu, Chilla langsung mengatupkan bibirnya.
"Maaf,"
Lelaki itu tak menanggapi untaian kata maaf dari Chilla, ia justru mengambil dompetnya, mengambil satu slip benda, yang kerap membuat mata kaum hawa berbinar bahagia.
Black card?
"Untukmu," ucapnya datar.
Mengernyit bingung, ia bahkan tidak pernah meminta apapun pada Alva. "Untukku? Untuk apa?"
"Hei, jelas saja untuk belanja, aku belum pernah memberimu uang jajankan, ini," Alva meraih tangan Chilla, membiarkan sarang duitnya itu di pegang oleh gadisnya.
"Hahhh, apa itu artinya, Chilla boleh menghabiskannya?" Canda Chilla, dengan memamerkan gigi-giginya yang putih dan berbaris rapih.
"Habiskanlah, sebagai gantinya kau tidak boleh tidur selama 3 hari 3 malam bersamaku,"
Glek!
Tak hanya Chilla yang merinding, Juna pun ikut bergidik ngeri mendengar ucapan bosnya, sudah gila apa? Memang sebesar apa kekuatan Alva, sampai berani mengatakan itu.
"Kalau begitu tidak jadi,"
Mendengar itu, Alva terkekeh, pastilah gadis disampingnya ini sudah berpikir yang tidak-tidak.
"Kita hanya bermain, Sayang," goda Alva dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak mau, aku tidak mau,"
Alva semakin gencar menggoda, ia membisikkan kata-kata yang membuat Chilla semakin beringsut takut, bagaimana tidak? Ia jelas tahu bagaimana perkasanya Alva jika menyangkut perihal bercinta.
***********
__ADS_1
Grand Mall
Salah satu pusat perbelanjaan yang menjadi favorit Chilla dan juga Nana, tetapi kali ini ia tidak bersama gadis itu, melainkan dengan sang pacar yang tiba-tiba mengajaknya untuk berbelanja.
Dari bahan-bahan makanan, pakaian dan segala kebutuhan Chilla. Alva meminta gadis itu untuk membeli semuanya.
Dan disinilah mereka sekarang, di toko pakaian yang menawarkan dress-dress cantik, untuk para wanita kalangan atas.
"Bagaimana dengan ini Kak?" Chilla memperlihatkan satu dress selutut warna peach, kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.
Alva menggeleng, baginya itu terlalu pendek, tidak cocok untuk gadisnya, karena orang-orang akan melihat kaki jenjang itu, jika Chilla memakainya.
Gadis itu kembali memilih, dan meminta penilaian Alva, tetapi begitu seterusnya, sampai 10 baju, belum ada satupun yang pas di mata lelaki itu.
Chilla mulai kesal, akhirnya dengan kaki yang mengentak-hentak lantai, ia duduk disamping Alva dengan bibir yang mengerucut.
"Hei, kau kenapa?" Tanya Alva dengan wajah tanpa dosa.
"Tidak tahu," melipat tangan di dada, membuang muka, sama sekali tidak ingin melihat ke arah lelakinya.
Alva mengulum senyum, tahu gadisnya tengah kesal. Akhirnya lelaki itu berdiri, ia sendiri yang akan memilih satu dress yang menurutnya sangat cocok untuk Chilla. Dan pilihannya jatuh pada dress panjang, berwarna gading.
Lelaki itu menarik lengan Chilla, untuk masuk kedalam ruang ganti dan mencobanya. Tak banyak bicara, gadis itu hanya melangkah patuh.
Alva ingin ikut masuk, tetapi sang pelayan mencegahnya lebih dulu.
"Tuan, anda—"
"Apa? Dia calon istriku," ucapnya sinis, tak peduli pada pelayan toko itu, Alva langsung masuk menyusul Chilla.
Sedangkan Juna, kembali mengulang perkataan bosnya, calon istriku? Calon istriku? Calon istriku? Dia mengakuinya? Cih, mengaku kalau orangnya tidak ada.
Chilla tersentak kaget, karena tiba-tiba ada orang masuk, ia langsung menghentikan laju tangan yang sedang membuka kancing kemejanya.
"Kakak? Kakak sedang apa disini?" Tanya Chilla, setelah dirinya melihat siapa yang datang.
"Tentu saja membantumu untuk ganti baju," balasnya santai.
"Hah?"
Lelaki itu mendekat, tak peduli dengan raut wajah kekasihnya yang terlihat gelisah, memikirkan bagaimana jika pelayan toko itu tahu, ia masuk berdua dengan seorang lelaki.
"Kak, jangan mengada-ada—"
Belum sempat meneruskan kalimatnya, Alva sudah lebih dulu meraih bibir ranum itu, benda kenyal yang ingin selalu di sesapnya. Dengan penuh kelembutan Alva melumaat, dan memberi gigitan-gigitan kecil sebagai pemanis.
Perlahan tapi pasti, kancing kemeja itu sukses terbuka oleh tangan lihai Alva, menyisakan penutup dari dua gundukan sintal yang tengah berhimpitan dengan dada Alva.
Karena lemas, dress yang Chilla pegang jatuh ke lantai, ia menikmati ciuman yang Alva berikan, tak hanya sekedar itu, kini Chilla mulai membalas, mengikuti irama bibir Alva yang tengah berselancar diatas bibirnya.
Ingin rasanya suara desaah itu keluar dengan leluasa, tetapi ingat akan tempat Chilla hanya bisa menahannya, dengan menggigit bibir bawah.
Apalagi kini lidah Alva tengah menyapa leher jenjangnya, menyesap hingga tanda kemerahan berhasil tercipta tepat dibelakang tengkuknya.
Nafas keduanya memburu, sensasi panas dingin itu tercipta begitu saja, tetapi Alva tak melanjutkannya, ia mengambil dress itu dan menyuruh Chilla memakainya.
"Aku ingin melihatnya disini, tidak perlu keluar,"
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...****************...