
Di malam yang sama, di tempat yang berbeda. Seorang lelaki memencet bel apartemen sebelahnya, di tangan kanan ia memegang botol, berisi cairan haram, ya ingin ia habiskan malam ini.
Ting tong!
Untuk kesekian kalinya, barulah pintu itu terbuka, menampilkan wanita cantik dengan piyama tidurnya. Wanita itu terperangah, menatap lelaki didepan sana, dengan sebotol minuman di tangannya.
Sejenak keduanya saling tatap, dan detik selanjutnya, wanita itu memutusnya lebih dulu.
"Roni? Ada apa? Tumben malem-malem kesini?" Tanya si wanita yang ternyata adalah Yola. Mata yang sedikit membulat itu terbuka lebar, penasaran.
Sedangkan lelaki itu bergeming, memindai tubuh molek di depannya yang terbungkus kain satin. Hingga akhirnya, membuat Yola tertunduk dengan mengulas senyum, sedikit malu, di pandangi secara intens seperti itu. Apalagi oleh lelaki yang baru beberapa hari ini di kenalnya.
"Yo, bolehkah aku masuk?" Tak menanggapi pertanyaan Yola, lelaki itu justru meminta izin untuk masuk kedalam apartemen wanita itu.
Dengan senang hati, Yola mempersilahkan Roni, membuka pintunya lebar-lebar, karena kebetulan Daniel sedang tidak bertandang ke rumahnya.
Kini, mereka duduk di atas sofa, awalnya berseberangan, tetapi Roni berpindah, duduk di samping wanita itu. Keduanya menjadi sedikit lebih akrab, karena Roni kerap menyapanya didepan, saat Yola ingin keluar.
"Yo," panggil Roni dengan lesu.
"Ada apa Ron, apa kamu ada masalah?" Tanya Yola dengan tatapan menyelidik, dilihat dari sisi manapun, lelaki di sebelahnya ini seperti tengah tertimpa masalah besar.
"Aku pinjam gelas, baru nanti aku ceritakan, kau maukan menemani aku minum?" Pinta Roni, ia mengangkat botol yang ia bawa.
Dengan tersenyum, Yola menjawab, "Hem, tentu saja,"
Yola bangkit, dan berjalan ke arah dapur, untuk mengambil gelas yang Roni minta, sepertinya tidak masalah menemani lelaki itu minum, ia juga ingin have fun, karena akhir-akhir ini, Daniel beralasan sibuk dengan pekerjaan.
Di saat yang bersamaan, lelaki yang duduk di sofa itu, menyelipkan sesuatu dibawah meja, sambil sesekali melihat dapur, takut Yola melihat aksinya. Setelahnya, ia meraih benda pipih miliknya dan mengetikkan sesuatu.
[Saya sudah berhasil memasangnya, anda bisa mendengarkan apa saja, yang ingin anda dengar.]
Sedangkan di luar tempat, seorang lelaki yang di tugaskan oleh Juna untuk mengawasi Yola, itu menghubungi atasannya. Setelah ia melihat seorang lelaki masuk ke apartemen wanita itu.
"Halo Tuan, saya ingin melaporkan, bahwa baru saja tetangga Nona Y, masuk kedalam apartemen wanita itu, dengan membawa sebotol minuman," terangnya dengan sedikit berbisik.
"....."
"Baik Tuan,"
__ADS_1
Kembali lagi dengan Roni dan Yola, kedua orang itu mulai mencecap minuman yang di bawa oleh Roni, kini lelaki itu mulai buka suara, bercerita akan keluh kesahnya, dengan suara sedikit parau, Roni mengatakan bahwa hubungannya dengan sang kekasih telah kandas.
"Kenapa bisa Ron?" Tanya Yola mulai antusias, ia menopang dagu dengan kedua tangannya, sepertinya Roni orang yang asyik untuk di ajak bicara.
"Dia selingkuh, aku memergokinya di sebuah hotel, padahal kita juga sudah sering melakukannya, dan kita sepakat untuk menikah," balas Roni, tatapannya yang tadi lurus ke depan, kini beralih menatap Yola, dengan tatapan yang sulit di artikan oleh wanita itu.
Yola menepuk-nepuk bahu Roni, merasa iba atas kejadian yang menimpa lelaki itu, tetapi tak dipungkiri, ia pun sedikit takut, jika itu terjadi pada dirinya sendiri.
"Sabar, mungkin memang belum jodoh," ucap Yola dengan tersenyum. Sebisa mungkin ia berubah menjadi sosok teman baik untuk lelaki di sebelahnya.
Roni manggut-manggut, lalu mengangkat gelasnya untuk bersulang, ia sedikit menarik bibirnya keatas, tanpa diketahui oleh Yola.
Awalnya wanita itu menenggak sedikit, tetapi lama-kelamaan, Yola ketagihan, apalagi Roni terus menawarinya. Sampai akhirnya ia pun mulai oleng. Karena Roni sengaja, mengambil minuman yang kadar alkoholnya tinggi. Dan ternyata pilihannya tidak sia-sia.
"Yo," panggil Roni, saat kesadaran Yola mulai raib, wanita itu menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum ke arah Roni. Air keras itu mulai bereaksi, hingga membuat Yola mendekati Roni dengan sendirinya.
"Ron," Yola menangkup kedua sisi pipi Roni, dengan tatapan sayu.
"Yo, benarkah Daniel hanya temanmu?" Tanya Roni mulai dengan tujuannya. Secepat mungkin ia akan menemukan fakta dari wanita di sampingnya. Heuh.
Mendengar itu, Yola tersenyum, lalu mengangguk, "Yah, dia temanku, teman sekss Ron," Melingkarkan tangannya di leher Roni.
"Melakukan apa?" Yola masih setengah sadar, matanya berkedip-kedip dan kepalanya terasa melayang-layang.
Yola bukanlah ahli dalam minuman, tenggak beberapa kali, maka ia akan mabuk. Apalagi minuman itu memiliki kadar alkohol yang tinggi.
Secara tiba-tiba, Roni melabuhkan ciumannya di bibir Yola, membuat wanita bergaun tipis itu membelalakkan mata, tetapi detik selanjutnya, ia mulai membalas, terbuai dengan ciuman yang baru pernah di rasainya, sedikit lebih kasar dari Daniel. Namun sukses membuat gairahnya membuncang hebat.
"Kau pernah melakukan ini dengan Daniel Yo?"
Pelan, Yola mengangguk, dan mulai merancau, "Daniel yang terhebat Ron, dia sanggup menggagahiku berjam-jam tanpa henti, aku suka permainannya,"
Mengusal, dan menggerayangi tubuh Roni, hingga lelaki muda itu menyeringai.
"Bagaimana kalau malam ini, kau bermain denganku?" Roni menyelipkan anak rambut Yola ke belakang telinga, membawa gadis itu ke atas awan untuk melayang bersama.
Yola mendongak, tatapannya semakin sayu, tetapi hasrat itu tiba-tiba datang, dan ingin ia raih bersama lelaki yang tengah mendekapnya ini, tak menjawab dengan kata-kata, Yola justru kembali merampas bibir Roni dengan buas.
Melumaat bibir yang sedikit tebal itu atas bawah, secara bergantian.
__ADS_1
Hingga tubuh keduanya sukses berbaring diatas sofa dengan Yola yang menindih tubuh Roni. Kardigan gaun tipis itu di buangnya entah kemana, menyisakan bagian dalamnya saja, yang memiliki tali kecil, di kedua bahunya.
Ternyata mudah sekali, memancing kelinci kecil ini.
Di biarkannya Yola terus bermain dengan bibir Roni, tangan nya meraba-raba, meremas atau apapun, lelaki itu tidak peduli. Bahkan dengan tidak sabaran, Yola menarik kaos yang Roni kenakan. Minuman itu benar-benar membuatnya tidak sadar.
"Yo, tapi bagaimana kalau tunanganmu tahu, kalau kita?" Roni memancing kembali wanita yang tengah mencecapi lehernya itu. Hingga Yola berhenti sejenak, hanya untuk menjawab.
"Dia hanya pecundang Ron, aku tahu dia menyukai gadis lain, tapi aku akan tetap mempertahankannya, dia akan menjadi ATM berjalanku,"
Lagi, Yola terus menyusuri tubuh atletis Roni, dan berhenti pada pusat tubuh lelaki itu yang masih terbungkus oleh celana.
Wanita itu ingin menarik celana rumahan yang Roni kenakan, tetapi secepat kilat, lelaki itu menahannya.
"Ron, aku menginginkannya sekarang," rancau Yola dengan pakaian dan rambut yang sudah acak-acakan.
Roni membalikkan posisi, hingga kini Yola berada dibawah tubuh lelaki itu, "Tidak ada salahnya kan, kita sedikit pemanasan dulu,"
Dengan seringai yang menghiasi wajahnya, Roni mencecap leher jenjang Yola, lidahnya dengan lincah menyusur hingga tubuh wanita itu semakin menegang, hasratnya memang mudah sekali terpancing, mungkin karena seringnya melakukan.
Yola terus mendesaah, saat Roni melumaat gemas daun telinganya, rasanya ia sudah tak tahan, ingin segera menuntaskan.
Wanita itu merengek pada lelaki yang berada di atas tubuhnya, tanpa segan ia membuka pakaiannya sendiri, hingga tubuh itu polos dan terpampang nyata di mata lelaki itu. Ia tak ingat lagi pada dunia, yang ia inginkan hanyalah kepuasan semata.
Tak ingin terjebak dalam posisi yang semakin rumit, Roni hanya memainkan jarinya, di inti Yola yang berkedut dan sudah sangat basah.
Yola benar-benar seperti jalangg yang haus akan belaian, kakinya terangkat lebar-lebar. Namun, Roni tak berniat sama sekali untuk mencicipi. Tak puas dengan yang kecil, wanita itu meminta lebih, dan Roni hanya menambah satu jarinya lagi.
"Terus sayang, aarghhh," meremat ujung sofa, dan tubuhnya ikut bergerak sesuai irama yang Roni berikan.
Yola terus mendesaah hebat, dan saat pelepasan itu ia dapatkan, ia mengerang panjang dengan tubuh yang bergetar. Dadanya naik turun, membusung seiring oksigen yang ia hirup, untuk mengisi rongga-rongga udara dalam tubuhnya.
Membuat orang yang di ujung sana berdecih, mendengarkan suara laknat, yang sedari tadi mengusik gendang telinganya.
Ternyata aku salah menilaimu.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...****************...