
Makan siang telah siap dihidangkan, Sarah dan Daniah yang membantu Bi Asmi untuk menyiapkan semuanya. Rencananya, mereka akan makan siang bersama, bahkan Sarah tak mengizinkan Juna untuk pergi dulu.
Sementara Daniah yang berprofesi sebagai baby sitter Shaka, tak mementingkan perutnya terlebih dahulu, dia mengambil baby Shaka dari gendongan Alva. Agar mereka semua menikmati makan siang dengan khidmat.
"Shaka sama Mbak Daniah dulu ya, Nak," ucap Chilla sambil mengelus kepala putranya itu. Shaka sudah kembali terlelap.
"Iya Mommy, Shaka mau bubu siang dulu sama Mbak Niah," Daniah yang menjawab dengan menirukan suara anak kecil. Membuat semua orang mengulum senyum, kecuali ayah muda itu.
Alva hanya memasang wajah datar seperti biasa.
"Niah, nanti gantian sama saya," Mona ikut menimpali, sebelum akhirnya wanita berkepala tiga itu, mengajak Shaka ke kamarnya.
Semua orang sudah duduk di meja makan. Sarah dan Pram juga ikut bergabung di sana. Rasa-rasanya, rumah mereka akan sepi, karena kedua orang paruh baya itu akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah besar Jonathan, yang hanya berjarak lima langkah dari rumah mereka.
Jangan nyanyi!
__ADS_1
"Sayang, makan ini. Sayur ini bagus untuk melancarkan ASI-mu. Supaya gizi Shaka juga tercukupi. Mama sengaja membuatnya." Sarah menyodorkan satu mangkuk sayur daun katuk ke arah putrinya itu.
Dia sengaja membeli daun katuk pagi tadi di tukang sayur keliling, karena mengingat Chilla yang tengah menyusui, berharap dengan mengonsumsi sayur tersebut, ASI yang Chilla keluarkan bertambah lancar.
"Iya, Sayang. Terus jangan dibagi-bagi juga sama yang lain, cukup buat Shaka saja," Mona menimpali dengan menggoda Alva. Membuat lelaki yang sedang minum air putih itu tersedak tiba-tiba.
"Kak, hati-hati," ucap Chilla sambil mengelus punggung lebar itu, dan Alva hanya mencebikkan bibirnya.
Membuat Mona terkekeh sendirian dan Juna yang tersenyum tertahan. Sementara yang lain tidak tahu, apa yang dimaksud wanita paruh baya itu.
Alva yang lebih dulu selesai mengambil alih piring Chilla, lalu menyuapi istrinya itu dengan telaten, tanpa protes Chilla menerima semua perlakuan itu dari Alva. Sesuatu yang begitu disyukurinya.
Sampai semuanya sudah menandaskan nasi serta lauk pauk. Juna pamit pada semua orang saat Bi Asmi membereskan semua yang ada di atas meja, sementara yang lain belum mau beranjak dari sana. Karena obrolan yang tercipta begitu saja.
Tiba-tiba Jonathan mengeluarkan dompetnya yang berada di saku celana rumahannya. Tanpa berkata apapun, sebuah kartu dia lemparkan ke arah Alva.
__ADS_1
Kartu debit.
Melihat itu, kening lelaki tampan itu berubah berlipat-lipat, dan dengan pikiran yang dipenuhi tanda tanya.
"Untuk apa, Pa?" tanya Alva sambil membolak-balikkan benda tipis itu.
Jonathan menghela nafas. "Papa dan Mama bingung mau memberi kado apa untuk Shaka. Jadi Papa berikan uang saja untuknya, di dalam kartu itu ada uang satu milyar."
Alva dan Chilla melebarkan bola mata mereka, untuk apa Jonathan memberi banyak sekali uang untuk Shaka, padahal Alva juga masih mampu untuk menafkahi anak dan istrinya itu.
"Itu untuk masa depan, Shaka. Papa pakai namamu dulu, karena nama Shaka belum bisa digunakan," timpal Jonathan lagi.
Dan keterkejutan mereka semakin bertambah, saat Pram juga ikut memberikan sebuah kunci ke hadapan mereka. "Papa dan Mama juga bingung. Rumah dan mobil sudah ada, kalau beli lagi pasti mubazir. Jadi kami putuskan untuk memberikan satu toko berlian untuknya, kelola lah dengan baik."
Dada Alva sesak, nafasnya tersengal-sengal, dia seperti butuh nafas buatan. "Kalian ingin membuatku menganggur? Dia baru saja lahir, dan sudah jadi baby boss?"
__ADS_1
"Kenapa tidak?" Kompak mereka semua.