
Pakaian kurang bahan itu teronggok sembarangan, sedangkan selimut di buang oleh Alva ke lantai.
Di atas tubuh lelaki itu, sang istri tengah menari-nari dengan lihainya. Menghentak dengan irama yang mendayu, membuat Alva hanya bisa melenguh.
Sebentar lagi, puncak nirwana akan mereka sambangi, seiring dengan denyut nikmat yang tengah mereka arungi.
Alva meremat kuat bulatan besar yang tumpah ruah itu, meminta sang istri untuk diam dan dia sendiri yang mulai bergerak di bawah sana.
Derit ranjang semakin terdengar nyaring, bahkan kain sprei putih itu sudah terlihat banjir.
Karena peluh tanda percintaan mereka tak habis-habis mengalir.
Pipi Chilla bersemu merah, disertai rasa panas yang menerpa. Ia menjatuhkan kedua tangannya disamping tubuh Alva. Sedangkan kepala itu melesak ke ceruk leher suaminya, ia memberikan gigitan manis disana.
Desaah Chilla tertahan, dengan kuat ia memberikan tanda kepemilikan. Dan detik selanjutnya, tubuh mungil itu tergolek lemah di atas tubuh Alva.
Pelepasan yang terasa begitu menegangkan, sekaligus menyenangkan.
Dengan nafas yang terdengar memburu, Alva mengangkat tubuh sang istri, lalu membaringkannya ke samping, takut perut gadisnya tertekan dan merasa tidak nyaman.
Ia membiarkan lengannya dibuat sebuah bantalan, dan satu tangan yang lain, mengusap-usap surai hitam panjang milik istrinya dengan penuh kelembutan.
"Aku mencintaimu, Honey." Bisik Alva lalu mengecup kening basah itu.
Chilla mengulum senyum, dan membalas ungkapan kata cinta suaminya. "Aku lebih mencintaimu, Sayang."
Kedua netra mereka bertemu, dengan binar yang masih sama, bahkan semakin membuncah. Luber kemana-mana.
"Sayang, tadi siang aku habis curhat dengan Juna." Ucap Alva tiba-tiba.
"Curhat tentang apa?" Gadis itu mendongak, menatap wajah tampan suaminya.
"Tentangmu, dan dia." Alva mengusap perut yang semakin terasa menonjol itu. Usapan lembut yang menenangkan.
"Memangnya ada apa? Apa ada masalah?" Rancau Chilla, takut terjadi sesuatu dengan kehamilannya.
Sebelum menjawab, Alva meraih jemari lentik itu, berulang kali ia mengecupinya. Lalu meletakkannya di atas pipi. "Aku takut Sayang, aku takut saat kau melahirkan kau merasa kesakitan. Aku tidak bisa membayangkan kau merasakan itu sendirian, aku takut di tengah jalan kau gagal..."
Sttt...
Chilla langsung mendesis, meminta Alva untuk berhenti melanjutkan ucapannya, ia menatap netra teduh sang suami, dan benar adanya, ada sebuah ketakutan di bola mata jernih itu. "Aku tidak akan apa-apa, aku pasti bisa melakukannya, selagi Kakak ada untuk kita berdua. Dan ingat, jangan lupa untuk berdoa, selagi kita sedang berusaha. Aku akan kuat bersamamu, Suamiku."
Alva menelan salivanya, merasa haru, secepat mungkin ia merengkuh pinggang itu, lalu memeluknya erat, memberi kecupan di puncak kepala Chilla dengan begitu banyak.
__ADS_1
"Jangan sembunyikan apapun dariku. Saat kau merasa sakit, bicaralah padaku, saat sedih berbagilah denganku, saat kau senang ceritakan semuanya padaku, karena aku tidak ingin melewatkan sedikitpun tentangmu. Apapun, aku ingin selalu menjadi orang pertama yang kau ingat." Tutur Alva.
"Kau mengerti?"
Pelan, Chilla mengangguk dalam dekapan suaminya. Gadis itu merasa begitu dicintai, hingga ia tak mampu lagi membalas kata-kata Alva, ia sangat, sangat mencintai suaminya.
Mereka berpelukan cukup lama, hingga Alva teringat akan sesuatu.
"Honey, apa kau sudah minum susu?" Tanya Alva, rutinitas malam yang belum ia lakukan.
"Belum Kak."
"Aku buatkan dulu ya, setelah itu kita tidur." Ucapnya dan dijawab anggukan oleh Chilla.
Alva bangkit dari atas ranjang setelah memberikan kecupan manis di puncak kepala sang istri. Ia mengambil selimut yang sempat ia buang, dan membalutnya di atas tubuh Chilla.
Lelaki itu memakai pakaian lengkap terlebih dahulu. Merasa tidak lagi leluasa karena ada orang lain di sekitar mereka.
Sebelum melangkah keluar dari kamar, Alva kembali melirik sekilas istrinya yang tergolek lemas, dan saat itu juga bibir Alva langsung tertarik keatas.
*************
Sedangkan di rumah yang terlihat cukup luas. Jendela seseorang terbuka lebar. Gorden meliuk-liuk terkena terpaan angin, angin malam yang masuk, begitu menusuk. Tetapi seolah kulit itu adalah kulit baja, Juna hanya bergeming di tempatnya.
Telepon tidak yah?
Sedari tadi hanya kalimat itu yang ia tanyakan pada diri sendiri. Ia ingin mengungkapkan apa yang ia inginkan, tetapi ada rasa takut juga tentang penolakan.
Juna bangkit, ia mondar-mandir di depan jendela seraya menggenggam benda pipih tersebut. Waktu terus bergulir, tetapi lelaki itu belum menemukan jawaban.
"Ah telepon sajalah."
Akhirnya dengan gerakan cepat, ia mencari daftar nama teristimewa di buku kontaknya. Tanpa rasa sabar, lelaki itu menekan icon calling, hingga panggilan itu berdering.
Nana yang sudah ke alam mimpi begitu merasa kesal, karena ponselnya terus mengeluarkan bunyi yang membuat tidurnya tidak nyaman.
"Ck, sialan! Siapa sih, ganggu banget deh." Dengan gerakan malas, ia meraih benda pipih itu dari atas nakas. Lalu tanpa membaca nama si penelepon, Nana mulai menjawab panggilan.
"Hallo? Ada apa ganggu malem-malem gini? Gue ngantuk!" Cetusnya tidak sadar, bahkan suaranya terdengar sangat parau, khas seseorang yang baru saja bangun tidur.
"Na, ini aku, pacar kamu. Aku mau ngomong sesuatu." Balas Juna, berharap malam ini ia bisa berhasil mengutarakan isi hatinya.
"Siapa?"
__ADS_1
"Kok siapa? Memangnya pacarmu ada berapa."
"Hehe cuma Kak Juna." Tertawa sambil bergumam-gumam tidak jelas. Bahkan matanya senantiasa terpejam.
"Huh, aku kira. Aku mau ngomong sesuatu, Na. Dengerin yah."
"Ngomong apaan? Besok aja bisa nggak? Ngantuk banget nih." Keluh Nana, menarik guling lalu memeluk semakin nyaman.
"Na, serius. Aku mau bilang ini sekarang, supaya hati aku lega, aku tidak bisa tidur jika terus memikirkan ini."
"Duh Kak, mau ngomong apaan sih?" Tanya Nana mulai kesal sambil menggaruk pipinya yang terasa gatal.
Juna menjeda dengan menarik nafas, tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih kencang. Sumpah demi apapun, ia sangat gugup sekarang.
"Eum...." Juna bergumam, lalu menelan salivanya. "Na, kalau setelah kamu lulus sekolah terus kita menikah bagaimana? Kamu setuju tidak?" Ungkap Juna, lalu menggigit kepalan tangannya.
Ha? Otak Nana yang sudah mulai oleng mencerna ucapan Juna. Dan detik berikutnya gadis itu justru tertawa. "Ha-ha-ha jangan ngaco deh, garing banget becandanya."
"Na, aku serius." Ucap Juna dengan suaranya yang terdengar tidak main-main. Ia ingin segera mempersunting Nana. Di samping umurnya yang tidak lagi muda, sang ibu juga sudah beberapa kali mendesaknya untuk cepat-cepat menikah.
"Nggak, gue nggak percaya. Lo pasti bukan Kak Juna. Lo penipu iya kan?"
"Nana, ini beneran aku. Pacar kamu." Mulai menarik otot.
"Hah atau gue lagi mimpi." Gumam Nana seraya mengelap pinggiran mulutnya yang terasa basah. Dan gumaman itu masih terdengar oleh telinga Juna.
"Na, kamu nggak lagi mimpi, Sayang. Ini nyata."
"Wah tambah parah pake nyebut sayang-sayang segala. Gue jadi nebak kalo ini salah sambung."
"Ini beneran aku lho."
"Bodo amat, gue nggak kenal. Bye."
Lalu tut tut tut...
"Na, Nana... Nana!!!"
Ck! Sialan!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yah Bang Juna ditolak🙈🙈🙈
__ADS_1