
Orang-orang terlihat telah berkumpul di meja bundar, yang telah dipesan oleh Jonathan. Bahkan meja itu sudah di penuhi oleh hidangan, dari pembuka sampai penutup.
Hanya satu yang masih kurang. Alva, lelaki itu masih belum terlihat kehadirannya.
Namun, tak berapa lama kemudian, batang hidungnya terlihat muncul dari balik pintu. Wajah tampannya sama sekali tak berubah, meskipun terlihat sedikit kuyu.
"Maaf, Alva telat. Tadi jalanan macet," ucapnya seraya menyerahkan satu kotak kecil ke arah Jonathan.
Dan dapat diyakini, bahwa itu adalah kado untuk sang ayah.
"Tidak apa-apa, duduklah." Balas Jonathan dengan tersenyum, tangannya mempersilahkan sang anak untuk duduk disampingnya.
Dan tentunya, disamping Yolanda.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Alva langsung duduk, ia melirik Chilla sekilas, gadis manis itu tepat didepannya. Namun gadis itu terlihat menundukkan kepala.
Merasa semuanya telah hadir, acarapun dimulai, dari acara doa bersama, memotong kue, makan malam dan di akhiri dengan bincang-bincang yang lebih di dominasi oleh kaum perempuan.
"Alva terlihat serasi yah dengan Yola," celetuk Sarah disela-sela ia mengunyah kue tart yang tersedia.
Sebuah pujian yang membuat senyum dibibir Yola mengembang seketika, dan semuanya mengangguk setuju dengan argumen Sarah.
"Calon menantuku memang yang terbaik," puji Mona menimpali, ia melirik sang calon menantu yang duduk disebelah putranya.
Hingga membuat kedua insan yang sedari tadi saling diam, semakin tak merasa nyaman.
"Bagaimana dengan Chilla, apa anak gadisku sudah punya pacar?" Goda Mona pada gadis manis yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
Mendengar itu, Chilla mendongak seraya tersenyum tipis.
"Sudah dong Mama Mona, anak gadismu sudah punya pacar, bahkan ia sangat tampan dan juga kaya," balas Sarah menggantikan sang anak untuk menjawab.
"Wah benarkah?" Kini Jonathan ikut menggoda.
Sedangkan Pram, jangan ditanya, ia hanya membisu di tempatnya.
Chilla meremat tangan Sarah, ia menggeleng lucu tidak mau Mamanya berbicara aneh-aneh.
"Tentu saja benar. Namanya kalau tidak salah Bryan," ucap Sarah dengan tersenyum lebar, melirik sang putri yang wajahnya terlihat gelisah. Menahan sesuatu dibawah sana.
"Bryan? Itu sih anak dari temanku, teman sekolahnya Yoona juga," timpal Mama Yola seraya melirik anak bungsunya, Yoona.
Gadis yang kini tengah meremat tangannya yang ada dibawah meja, dan menatap penuh kebencian ke arah Chilla.
"Jadi kalian satu sekolah sayang?" Tanya Sarah.
Bukannya menjawab, Chilla justru menggigit bibir bawahnya. Merasa tak nyaman dengan suasana di sekitarnya, terlebih perutnya.
Dan lelaki yang sedari tadi melihat ke arahnya, menganggap reaksi Chilla adalah bentuk, bahwa gadis itu telah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Mama Chilla pamit ke toilet dulu yah," ucap Chilla setengah berbisik. Perutnya benar-benar terasa panas.
"Kamu kenapa?"
"Sakit perut," balasnya jujur.
Akhirnya Sarahpun mengangguk.
"Ada apa?" Tanya Mona, melihat Chilla malah bangkit dari tempat duduknya.
"Sepertinya dia malu," balas Sarah terkekeh.
__ADS_1
Cukup lama mereka mengobrol dan saling melempar candaan, Chilla masih belum juga kembali, sepertinya makanan pedas yang meluncur ke lambungnya tadi siang, menjadi penyebab ia harus bolak-balik ke kamar mandi.
"Ma, kemana Chilla, kenapa belum kembali juga?" Tanya Pram pada sang istri. Sudah hampir setengah jam, gadis itu meninggalkan meja makan.
"Iya yah Pa, kemana anak itu?" Sarah bangkit, berniat untuk menyusul, tetapi Yola lebih dulu menyela.
"Tante, biar aku aja yang samperin Chilla," ucapnya cari muka.
"Tidak perlu, biar aku saja," tiba-tiba Alva juga buka suara.
Membuat semua orang yang ada disana melihat ke arahnya.
"Tapi Al," Yola merasa keberatan.
"Ku bilang, biar aku saja,"
Sedikit khawatir dengan gadisnya, Alva segera bangkit tanpa menunggu persetujuan siapapun. Mencari letak toilet, yang sekiranya paling dekat dengan ruangan mereka.
Tak berapa lama kemudian, sosok gadis keluar dengan wajah lega, seolah telah mengeluarkan seluruh beban yang ada dalam tubuhnya.
Begitu ingin melangkah, tangannya langsung dicekal oleh tangan besar, menyeret membawanya keluar.
"Kakak ada apa?" Tanya Chilla dengan raut wajah bingung.
Tanpa menjawab, Alva terus menggenggam tangan Chilla untuk keluar dari sana, melangkah ke tempat dimana mobilnya berada.
Alva membuka pintu, tanpa protes Chilla langsung masuk.
Hening, awal dari pembuka bagi keduanya. Hingga suara nafas terdengar nyaring di indera pendengaran mereka.
"Siapa lelaki itu?" Tanya Alva tanpa menoleh, tatapannya lurus kedepan dan menahan geram.
"Apa benar dia pacarmu?"
"Kau?"
"Kakak, bukan seperti itu!" Tukas Chilla.
"Lalu siapa dia?" Tanya Alva sedikit menyentak, untuk pertama kalinya ia sangat marah pada gadis yang duduk disampingnya.
Mendengar itu, Chilla lebih dulu meneguk ludahnya berat. Dan menunduk semakin dalam.
"Dia," Chilla menggigit bibir bawahnya, kebiasaan jika kegugupann telah melanda.
Alva masih setia menunggu, sebisa mungkin ia menahan gejolak yang sedari tadi ingin mencuat. Di meja makan, hatinya sudah cukup panas, tetapi bersyukurnya ia tidak sampai lepas kendali.
"Dia temanku, dia datang saat aku sedang bersama kakak waktu itu, jadi Mama yang menemuinya, dan Mama mengira, kalau dia adalah—"
"Kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak bicara padaku?" Sela Alva kesal, sumpah demi apapun sebenarnya ia ingin mengumpat.
"Karena Chilla merasa itu bukan sesuatu yang penting, lagi pula, jika Mama dan Papa mengira kalau dia pacar Chilla, hubungan kita pasti amankan?"
"Lalu, bagaimana denganku? Kau bilang akan percaya padaku, kau bilang tidak akan ada yang kau sembunyikan dariku? Dan kini—"
Ucapan Alva menggantung, lelaki itu menatap Chilla yang masih setia menunduk memainkan jari-jarinya.
Bahkan beberapa hari ini ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena terus memikirkan gadisnya, tentang perasaannya. Namun, sampai saat ini, belum ada juga jawaban yang ia terima.
"Kau telah sukses membuatku kecewa, karena sepertinya, sedikitpun kau tidak percaya padaku,"
Mendengar ucapan Alva Chilla menoleh, matanya sudah berkaca-kaca. Sekali kedip, maka ia yakin, bulir bening itu akan luruh dari sudut matanya.
__ADS_1
"Chilla tidak bermaksud seperti itu," ucap Chilla dengan bibir yang bergetar.
"Lalu? Apa kau bercerita pada temanmu itu?"
Chilla menggeleng, Nana memang tidak tahu tentang ini. Ia tidak bercerita pada siapapun, yang tahu hanya dirinya sendiri.
"Bagus, kalau sampai kau jawab iya, ku pastikan, aku akan lebih marah dari ini. Kemari,"
Alva meminta Chilla untuk duduk diatas pangkuannya. Semarah apapun, ternyata ia tidak bisa melihat Chilla menangis didepan matanya. Gadis itu terlihat ragu, karena kilatan amarah jelas sekali di mata Alva.
"Kau mau membuatku lebih marah?"
Pelan, Chilla menggeleng, lalu ia bangkit dan mendudukkan dirinya diatas pangkuan Alva.
Ia kembali menundukkan kepala, tetapi dengan cepat Alva menarik dagu itu, hingga netranya bersitatap.
"Jangan seperti ini lagi." Ucap Alva melunak, menatap dalam netra pekat itu, hingga akhirnya ia merapatkan tubuh, menarik tengkuk Chilla untuk mengikis jarak yang tersisa, dan berlabuh menyatukan bibir mereka.
Mencium penuh kelembutan seolah mencari jawaban, atas segala pertanyaan yang bersarang. Dan berharap, setelahnya akan ada kelegaan.
Dengan sendirinya, Chilla membuka mulut, memudahkan Alva melesakan lidahnya. Hingga lidah itu kini saling membelit, menaut didalam sana. Namun, Chilla merasa ada yang berbeda, karena nafas yang menerpa kulit wajahnya terasa lebih panas dari biasanya.
"Apa kakak baik-baik saja?" Tanya Chilla persis dengan pertanyaan Juna. Gadis itu menggantungkan tangannya dileher Alva.
Alva mengangguk, tak ingin membuat gadis didepannya merasa cemas. Meraih satu tangan Chilla, dan mengecupnya sekilas.
"Aku baik-baik saja, selagi ada kau disini," ucap Alva.
Ia kembali meraih bibir ranum itu, menyesapnya dengan kuat seolah ada obat didalamnya.
Panas dalam tubuhnya tak dihiraukan, yang ada hanyalah jiwa memburu, dan hasrat yang menggebu-gebu.
Tangan Alva bergerak mengusap lembut punggung Chilla, semakin merayap ke tempat-tempat yang ia suka.
Hingga tepat dibawah sana, Chilla seperti tersengat, memutus pagutan mereka.
"Jangan lakukan disini," ucap Chilla dengan menggigit bibir bawahnya, hingga terlihat memerah.
"Kenapa?"
"Kalau ada yang tahu bagaimana?"
"Mereka tidak akan tahu, kalau kau tidak mengadu,"
Mendengar itu Chilla mencebik, membuat Alva mengulum senyum. Warna dalam hidupnya seolah kembali, saat ia bersama gadis didepannya ini.
Alva mulai memainkan jarinya dibawah sana dengan gerakan menusuk-nusuk, tak mampu menjawab apapun Chilla hanya bisa melenguh. Lalu kembali pasrah dengan permainan kekasihnya.
Didalam mobil itu, keduanya kembali membuat gempa dadakan, meskipun getarannya kecil. Namun sukses membuat keduanya melayang-layang.
Pusaka kesayangan Alva benar-benar telah meluluh lantakkan kesadaran Chilla, dengan liar gadis itu terus bergerak diatas tubuh Alva.
Hingga membuat lelaki yang ada dibawah sana, mengerang tertahan dengan wajah sensual, melihat itu Chilla justru semakin bersemangat, karena Alva terlihat begitu mendambakan sentuhannya.
Malam ini, ia ingin memuaskan kembali sang kekasih, meskipun tanpa menanggalkan pakaian, tapi benda yang menyatu dibawah sana cukup mendapatkan kenikmatan.
"Kau semakin nakal." Desis Alva seraya meremat gemas pantatt Chilla.
Bukannya menggubris Chilla justru menyentak kuat, seperti yang sering Alva lakukan padanya. Membuat lelaki itu terkekeh disela-sela erangannya menuju puncak nirwana.
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...