Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Belum berakhir


__ADS_3

Chilla mengeratkan pelukan tangannya di leher Alva. Malam panas nan memabukan itu sama sekali belum berakhir. Terus berlanjut entah kapan akan berhenti. Lelaki itu kembali menyergap tubuh mungil yang ada di bawah tubuhnya, menyusuri pundak terbuka Chilla dengan lidahnya.


Gadis manis itu mendesaah, membusungkan dada, gumpalan pegunungan itu bergetar, sesuai gelinjangan Chilla, Alva yang terus di penuhi kabut asmara, menatap dengan tatapan lapar. Kini, bayi besar itu menghisap kuat benjolan kecil berwarna pink itu.


"Ah, Sayang." Chilla tidak bisa untuk tidak mengaum, mendesis tanda kenikmatan yang Alva berikan tidak habis-habis.


"Keluarkan suaramu, Honey. Aku suka mendengarnya." Ucap Alva di sela-sela kegiatannya. Ia terus mencecap dari dada turun hingga kebawah. Mengusal-usal di perut rata Chilla dengan gemas, lalu kembali ke irisan yang tengah berkedut itu. Benda lembut yang menggairahkan.


"Sebut namaku, Honey." Seiring dengan itu Alva merampas benda kenyal milik istrinya, mengulum hingga Chilla menjerit. "Alvaaaa." Birahi lelaki itu semakin memuncak, ia melesakkan lidahnya kedalam sana.


Menyusur, dan berputar-putar. Membuat getaran di tubuh Chilla semakin hebat, semakin masuk, semakin nikmat. "Al, ini membuatku gila." Pekiknya dengan nafas tersengal-sengal.


Alva menyeringai, ia suka. Chilla mengakui permainannya, Alva terus memainkan lidahnya, ingin terus mendengar Chilla melenguh sambil menyebut nama Alva. Setelah puas, Alva menarik lidahnya dari liang itu, lalu menghisap pinggirannya, Alva membalikan tubuh Chilla. Pantat berisi itu terlihat semakin menggoda, Alva mengecupnya berkali-kali. Naik hingga ke telinga gadis itu.


"Kau terlihat sangat sexy, Sayang." Melenguh, Alva memainkan daun telinga Chilla hingga basah. Geli bercampur aduk dengan rasa yang tidak bisa di definisikan dengan kata-kata.


Chilla mencengkeram erat sprei, saat kepala Alva melongok dari balik ketiaknya. Pucuk dada itu kembali di raupnya, dikulum bagai permen yang terasa manis. Satu paha Chilla di angkat, bertumpu dengan paha milik Alva.


Belalai gajah itu menekan-nekan, namun belum mau memberikan apa yang Chilla inginkan. Alva masih ingin bermain-main, tangan besar itu mengusap-usap perut Chilla, semakin turun ke arah rumbai-rumbai tipis, Alva memasukan jari miliknya.


Sedangkan mulutnya terus mencecap puncak dada istrinya. Tenaganya seolah tidak akan pernah habis, rasa lelah meladeni tamu tak membuatnya menyerah begitu saja.


"Aaaaaaa.... Alva, Alva..." Chilla terus menyebut nama suaminya, ia ingin sesuatu yang lebih dari ini. Seluruh urat syarafnya sudah menegang, darahnya berdesir hebat.

__ADS_1


"Yeah, Honey... Terus sebut namaku, karena sebentar lagi, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan." Ucap Alva seraya menarik jarinya yang teraliri cairan hangat.


Sekali lagi, ia mengangkat lebih tinggi paha Chilla, lalu mengarahkan senjatanya kedalam sana. Gadis itu sedikit memekik, sesuatu dibawah sana kembali terasa penuh, liang sempit itu kembali terisi benda tumpul yang sudah berkali-kali memberinya kesenangan.


"Kau suka?" Tanya Alva sebelum kembali memompa tubuhnya. Tanpa malu, Chilla mengangguk, Alva sudah mengambil kesadarannya. Sehingga membuat gadis itu hanya mampu menurut, saat Alva memintanya ini dan itu.


Lelaki itu menyeringai, lalu memulai kembali aksinya, ia memompa tubuh Chilla. "Aaaaa... Honey, kau benar-benar membuatku tidak bisa berpaling." Puji Alva tepat di telinga istrinya. Tak mampu membalas, Chilla hanya bisa mendesaah, desahaan yang membuat kekuatan Alva semakin bertambah.


Tangan besar itu tak bisa menganggur, ia meraih benda kenyal didepannya untuk di mainkan. "Milikmu semakin membesar." Ungkapnya *******-*****.


"Itu karena ulahmu. Aaaa...hhh." Balas Chilla, Alva terkekeh, gadis itu tidak lagi malu-malu, malah terlihat ikut bergerak, sesuai irama hentakan yang Alva berikan.


Chilla menggigit bibir bawahnya, sedangkan kepala Alva tengah mengusal-usal di ceruk lehernya. Gigitan manis ia dapatkan, membuat Chilla menjambak rambut Alva.


"Al... Lebih cepat." Pintanya, matanya terpejam menikmati sengatan belalai suaminya. Tetapi bukannya semakin cepat, Alva justru memperlambatnya, wajah Chilla memerah, ia mencubit keras tangan Alva yang masih memainkan buah dadanya.


"Come on Al, lebih cepat! Aaaaaa..." Pekiknya dengan tidak sabaran, ledakan itu semakin terasa, mulut Chilla menganga, dengan terkekeh Alva memberikan apa yang gadisnya mau. Ia menghentakkan miliknya lebih kuat.


"Sekarang kau menjadi tidak sabaran." Menelusupkan kepalanya, merayap dan menggigit kembali pucuk yang menggemaskan itu. Alva menautkan satu tangannya dengan milik Chilla, gadis itu meremat kuat, hingga tangan itu terlihat memerah.


"Katakan kau mencintaiku, Honey. Ucapkan sebanyak-banyaknya." Meminta, diiringi pompaan Alva yang semakin terasa cepat, Chilla tak mampu lagi menahan hasratnya, ia biarkan tubuhnya meraih pelepasan.


Ia meremat kuat tangan suaminya dan menjerit. "Ah, aku mencintaimu Alva. Aku mencintaimu."

__ADS_1


Menyeringai, Alva merasai titik denyut yang telah melilit miliknya itu telah mendapatkan kepuasan, namun tidak untuk dirinya, Alva terus menggerakkan pinggulnya, menerjang himpitan sempit itu, hingga benih-benih itu sukses menyemai di rahim istrinya.


Seperti telah menyelesaikan lari maraton, nafas keduanya terdengar ngos-ngosan. Tubuh Chilla melemah, tetapi masih dalam posisi yang sama, Alva mengecupi kembali tubuh telanjang istrinya, dari depan hingga ke area belakang. "Thank you, Honey."


Chilla belum bisa menjawab, ia masih mengatur nafasnya setelah sengatan nikmat itu ia dapatkan. Membuatnya terlihat semakin cantik, tubuh basah dengan kesan sensual, Alva bisa menggila jika Chilla terus memasang wajah yang seperti itu di depannya.


"Kamu tidak lelah, Kak?" Tanya Chilla menelan ludahnya yang sedari tadi terasa tercekat di tengah tenggorokan.


Alva menyunggingkan senyum dibalik tubuh istrinya, mengecup pundak itu berkali-kali seperti tidak ada puasnya. "Jangan panggil aku seperti itu jika sedang di ranjang begini." Pinta Alva. Keduanya masih menyatu. "Atau kau menerima akibatnya." Menyentak, membuat Chilla terkejut.


"Memangnya Kakak mau di panggil apalagi? Sayangku? Suamiku? Cintaku?" Tanya Chilla tanpa berpindah posisi. Menebak-nebak apa yang diinginkan sang suami.


"Apa saja yang penting jangan yang itu." Balas Alva, menghembuskan nafas tepat di telinga Chilla, gadis itu meremang, tetapi ia tetap suka.


"Baiklah Kakak." Gadis itu membangkang.


Alva menyentak. Bukannya berontak Chilla malah terkekeh. "Kakak, Kakak, Kakak." Panggilnya dengan nada bercanda. Seolah ancaman Alva bukanlah apa-apa, untuk apa takut jika itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Bukan begitu?


"Ah, aku tahu, jadi kau menyukainya?" Menyetak beberapa kali, lalu meremas gemas bulatan indah didepannya.


"Sudah tahu, kenapa bertanya." Chilla terkekeh, dan kekehan itu berganti lenguhan, saat Alva kembali menggigit gemas daun telinganya. Turun hingga ke ceruk leher, meninggalkan jejak basah nan merah.


Dan percayalah, jika sudah di pancing, lelaki satu ini tidak akan berhenti begitu saja. Karena malam masih terlalu panjang untuk keduanya.

__ADS_1


__ADS_2