
Selepas mereka bercinta, Alva tak serta-merta melepaskan gadisnya. Kini ia justru memasang kaki jenjangnya untuk mengunci pergerakan Chilla, agar gadis itu tidak mampu untuk lari kemana-mana.
Sedangkan tangannya ia gunakan untuk memegang ponsel, karena ia ingin mengirim pesan pada Juna. Meminta laki-laki itu untuk membelikan keperluan gadisnya.
Chilla berusaha memberontak, namun tetap saja ia kalah tenaga. Tenaganya hampir terkuras habis karena permainan Alva.
"Kakak, Chilla mau mandi," rengek Chilla seraya mencoba mengangkat kaki Alva dari atas tubuhnya. Ia ingin kabur, dan satu-satunya tempat paling aman adalah kamar mandi, pikir Chilla.
"Sebentar, kau akan mandi. Tapi tidak sendiri," balas Alva lengkap dengan senyum menggoda.
Melihat itu, Chilla yakin, Alva tidak mungkin melepaskan dirinya hanya untuk mandi saja. Sudah dipastikan lelaki itu memiliki rencana.
"Kakak," rengek Chilla sekali lagi.
Dan kyaaaaa!!!
Chilla berteriak.
Karena saat itu juga, Alva langsung menggendong tubuh mungil Chilla, membawanya kedalam kamar mandi bersama tubuh telanjangnya.
"Kita mandi bersama," ucap Alva seraya berkedip nakal, lalu mengecup bibir Chilla sekilas.
Sedangkan Chilla hanya bisa mengalungkan tangannya ke leher Alva seraya merutuk, kenapa Alva jadi bersemangat sekali sekarang untuk melakukan itu dengannya?
Alva menendang pintu kamar mandi dengan satu kakinya, hingga pintu itu suskes tertutup, dan ia tidak lupa untuk mengunci agar Chilla tidak kabur nanti.
Alva meletakkan Chilla diatas bathtub, lalu mulai mengisi air serta mengaturnya dengan suhu hangat, dan tak lupa juga ia menambahkan sedikit aroma terapi untuk memanjakan tubuh mereka berdua. Penyempurna.
Saat air terasa penuh. Barulah kini Alva menyusul Chilla masuk ke dalam sana. Keduanya berhadapan.
"Apa milikmu masih sakit?" Tanya Alva dengan vulgarr, karena ia tidak tahu harus menggunakan istilah apa untuk membahasnya.
Mendengar pertanyaan Alva, pipi Chilla bersemu merah. Mendadak rasa panas itu kembali menjalar dalam tubuhnya.
Pelan, Chilla mengangguk-anggukkan kepala, tanpa membalas tatapan mata Alva.
"Sedikit." Balasnya dengan menggigit bibir bawahnya, seksi.
Chilla tidak sadar, kalau kelakuannya justru mampu membuat hasrat Alva yang masih membara itu bisa kembali berkobar.
Karena entah mengapa, kini mudah sekali birahi itu datang.
"Apa—"
"Tidak boleh, kakak jangan melakukannya lagi," tukas Chilla cepat sebelum Alva bertanya, ia lelah dan takut tidak bisa berjalan nantinya.
Apalagi kalau sampai membuat kedua orang tuanya curiga, bisa panjang urusannya.
"Kenapa?"
"Aku lelah," rengek Chilla, bahkan ia telah melupakan rasa laparnya, gara-gara meladeni Alva.
"Baiklah aku tidak akan melakukannya lagi," ucap Alva akhirnya mengalah. Lebih tepatnya mencari akal untuk mengelabuhi Chilla.
Ia tidak mau melewatkan kesempatan emas ini.
"Janji?" Mata Chilla sudah berbinar bahagia. Sungguh ia sudah kewalahan menghadapi Alva.
Karena lelaki itu seperti punya tenaga lebih, jika untuk urusan yang satu ini.
__ADS_1
"Untuk apa membuat janji, jika tidak bisa ditepati," tukas Alva, dan mulai merapat ke tubuh Chilla. Kemesuman yang hakiki telah merasuki dirinya.
Chilla sedikit menjauh, namun Alva menangkapnya lebih dulu. Ia takkan menyerah.
"Itu karena kakak tidak berusaha untuk menepatinya,"
Mendengar itu, Alva mulai menyeringai.
"Benar, aku memang tidak bisa menepatinya,"
"Kakak, hmmpt!"
Sebelum Chilla menjawab Alva lebih dulu membungkam mulutnya, merampas bibir mungil itu, menyesap hingga benar-benar terasa kebas.
"Kakak aku lelah," keluh Chilla begitu pagutan itu terlepas.
"Kita buktikan, kau benar-benar lelah atau hanya pura-pura,"
Karena aku, akan buat kau yang memintanya lebih dulu.
Sejurus dengan itu Alva kembali menguasai tubuh gadisnya, satu tangannya menilin pucuk gundukan yang kini mulai menegang, menantang.
Sedangkan tangan yang lain bergerak dibawah sana, tepat di inti tubuh gadisnya.
Bibir Alva terus menyusuri leher putih milik Chilla, dari bawah hingga merayap ke atas tepat ditelinga, ia menggigit gemas, dan menjilatinya hingga basah.
Hingga membuat tubuh Chilla meliuk-liuk tak karuan, karena tindakan Alva atas tubuhnya. Buaian nikmat itu kembali mengambil alih, hingga membuat Chilla ingin meminta lebih dari ini.
Dan dapat Alva rasakan, gua dibawah sana kembali basah akibat ulahnya.
"Sayang," desis Chilla disertai desaahan.
"Hemmm..."
"Sayang," suara Chilla memohon.
"Apa kau menginginkannya?" balas Alva menggoda diiringi seringai licik. Anggota tubuhnya sama sekali tak berhenti dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Tubuh Chilla gemetar hebat, Alva benar-benar tahu kelemahannya, lelaki itu kini tengah menjilati kedua pucuk sensitifnya. Hingga yang bisa Chilla lakukan hanya mendesaah pasrah.
"Sayang ayolah," mohon Chilla dengan wajah memerah.
"Katanya masih sakit?" goda Alva.
Chilla menggigit bibir bawahnya berusaha menahan, namun sekuat apapun. Akhirnya desaahan itu lolos juga dari bibirnya, "Sayang—"
Mendengar rintihan Chilla, Alva tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya gadis didepannya ini kembali masuk dalam perangkapnya.
"Kau mau lagi?" Tanyanya semakin menggoda.
Chilla tak mampu lagi untuk menjawab dengan kata-kata. Pelan, ia hanya menganggukkan kepalanya. Ia kalah.
Melihat Chilla yang sudah sangat menginginkan dirinya, dengan semangat Alva merapatkan tubuh keduanya.
"As your wish honey," bisik Alva seraya menyatukan diri.
Tubuh Chilla merasa tersentak, namun selanjutnya ia kembali mendesaah dalam kubangan air itu.
Air yang semula bersuhu hangat, kini justru memanas karena ulah keduanya.
__ADS_1
Chilla memegang erat pinggiran bathtub, sedangkan Alva terus menggerakkan pinggulnya, hingga air didalam bathtub itu perlahan bergerak mengikuti irama hentakan yang Alva buat.
Suara desaahan keduanya menggema di kamar mandi, Alva benar-benar telah membuatnya gila, hingga tanpa tahu malu Chilla menarik kepala Alva untuk meraup dadanya.
Menyadari itu, Alva semakin tersenyum lebar, tanpa sungkan ia melahap gundukkan itu tanpa ampun, membuat si empunya melenguh tak habis-habis.
Sebelum puncak itu datang, Alva mengajak Chilla untuk berdiri tanpa melepas penyatuan. Ia menggiring tubuh mungil itu merapat ke tembok dan memulai kembali aksinya.
Kini kedua kaki Chilla melingkar penuh di pinggang kekasihnya. Sedangkan kedua tangan Alva dibuat untuk menahan bobot tubuhnya.
Alva menyentak Chilla dengan sedikit kasar, namun perlakuan seperti itu justru membuat Chilla semakin melayang-layang. Milik Alva yang cukup besar membuat ia sempurna mendapat kepuasan.
"Sayang," rintih Chilla bagai alunan lagu cinta yang Alva dengar, dirinya semakin bersemangat untuk menyentak kuat, hingga akhirnya Chilla lebih dulu mendapat pelepasan.
Chilla meringis, begitu Alva bermain cepat dengan tempo, sepertinya pelepasan juga akan menghampiri lelaki itu.
Hingga tak berapa lama kemudian, Alva menjerit nikmat seraya menekan miliknya lebih dalam. Lahar itu sukses keluar.
*****
Sedangkan di lain tempat, seorang pemuda tengah duduk diatas motornya, memandangi rumah bercat putih itu dari jarak jauh.
Karena hari ini, ia berniat mengajak gadis pujaan hatinya, untuk menikmati akhir pekan bersama.
Namun ia masih ragu, antara ingin mendekat atau malah kembali pulang. Mengingat, bagaimana wajah garang ayah Chilla malam itu, ia jadi bergidik ngeri sendiri.
Bagaimana bisa wajah garang seperti itu menghasilkan gadis seimut Chilla? Batinnya diselimuti tanda tanya.
Lama berpikir, akhirnya dengan mengumpulkan keberanian, ia melajukan motor sportnya ke arah gerbang, melepas helmnya dan turun menemui satpam rumah Chilla.
"Selamat pagi Pak," sapa Bryan dengan sopan pada Pak Anto sang satpam yang tengah berjaga.
Ya, lelaki itu adalah Bryan. Sang badboy sekolah yang katanya sudah tobat, demi mendapatkan gadis manis bernama Chilla.
Ia memutuskan untuk tidak menjadi pengecut dengan mendekati Nana terlebih dahulu agar bisa dekat dengan gadisnya. Ia akan buktikan sendiri, kalau ia sudah berubah dan layak menjadi pacar Chilla.
"Pagi Den, ada yang bisa saya bantu?" Balas pak Anto tak kalah sopan.
Namun sebelum Bryan menjawab, tiba-tiba saja Sarah keluar dari dalam rumah, membuat Bryan dan pak Anto, serempak menoleh ke arahnya.
"Pak Anto, ini siapa?" Tanya Sarah begitu ia sudah berdiri di hadapan keduanya, matanya menatap ke arah Bryan.
Pak Anto ingin menjawab, namun Bryan lebih dulu menyela.
"Aku Bryan Tante," ucap Bryan seraya mengulurkan tangannya, ia yakin ini adalah ibunya Chilla.
Sarah meraih uluran tangan itu, ia memindai penampilan Bryan dengan jeli dari atas hingga ke bawah. Terlihat tampan, kaya, dan sepertinya pintar juga.
Menyadari itu, Sarah langsung tersenyum sumringah. Ia yakin seyakin-yakinnya, kalau Bryan adalah...
"Kamu pacar Chilla yah?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
Dirgahayu Indonesia yang ke 76🇲🇨
__ADS_1
Readers ikut lomba apa aja nih?
Kalau Kakak Alva sama Dedek Chilla ikut lomba, enaknya ikut lomba apa yah? 🤔🤔🤔