
"Mah boleh yah." Rayu Jonathan pada Mona. Wanita yang kini tengah malu-malu dengan rona bersemu merah. Berbaring membelakangi sang suami, Mona tersenyum-senyum.
Sedang pura-pura marah.
Melihat istrinya yang hanya bergeming, membuat Jonathan berinisiatif, melingkarkan tangannya di perut Mona. "Janji mainnya agak lama." Ucapnya sungguh-sungguh.
Mendengar itu, makin giranglah hati Mona, ternyata ucapan Alva ada gunanya juga.
Setidaknya, ada suara hati istri yang tersampaikan, meski ia malu-malu mengakui.
"Bener?" Tanya Mona, belum mau berbalik, suaranya sedikit dibuat ketus. Agar Jonathan percaya kalau dirinya sedang merajuk, minta untuk segera dijenguk.
"Iya, Ma. Tapi udahan yah marahnya." Jonathan semakin mengusal, merapatkan tubuhnya dengan sang istri.
Mana tahan, dia kalau tidak diberi jatah selama seminggu.
Ya itulah ancaman Mona dan Sarah sehabis memukuli Alva.
Jangan salah yah, bapak-bapak satu ini walaupun umurnya sudah setengah abad. Tetapi karismanya masih sangat kental. Tanpa perut buncit, apalagi kepala botak.
Oh, tidak. Tubuh Jonathan masih terlihat atletis, meskipun perut kotak-kotaknya sudah sedikit mengendur. Wajah tegas, dengan rahang keras, harusnya masih cukup oke untuk membuat istrinya kewalahan semalaman.
Namun sayang, inilah kelemahannya. Dia bukan sang putra yang tiap kali sudah masuk, lantas bisa meluluhlantakkan istri kecilnya.
Permainan Jonathan terkesan cepat dan sederhana, tidak neko-neko sampai harus bermain di atas meja atau pakai gaya terjungkal-jungkal diatas lantai.
Kalau kata Alva 'Payah' Tidak ada sensasi yang mendebarkan jiwa dan raga.
Berbeda dengan Jonathan dan Mona yang masih bujuk-membujuk. Di rumah sebelah, malah sudah terdengar suara desaah-mendesaah.
Sepertinya, kini kita tahu, sifat penurut Chilla itu turun darimana. Belum berapa lama Pram mengeluarkan segala bujuk dan rayu, ternyata eh ternyata, Sarah sudah tergoda.
Lalu apa kabar si biang kerok kita? Alva dan Chilla justru sudah terlelap sangat nyenyak, dengan saling memeluk satu sama lain. Akibat kelelahan, setelah menghabiskan sesi bercinta ala jaran goyang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Pagi harinya.
Kabar duka.
Di sebuah ruangan yang luas, suara gema orang mengaji saling bersahut-sahutan. Tangis memecah, penuh kepiluan, membuat hati siapa saja pasti ikut tersayat.
Tubuh semampai dengan wajah cantik itu kini sudah terbujur kaku. Dengan kulit yang menguning, karena memucat.
Tertutup selembar kain putih, ia di tutup dengan penuh duka.
Duka yang mendalam untuk keluarga Mario.
Sang istri tak berhenti menangis, sejak semalam saat jasad Yolanda dibawa pulang.
Bermandikan darah, wanita muda itu ditemukan sudah meninggal dunia. Di sebuah rumah aborsi, Yolanda telah meregang nyawa bersama calon bayinya.
Pendarahan hebat yang terjadi, menjadi satu-satunya pemicu tak terselamatkannya nyawa sang anak.
Padahal malam itu, ada dua bodyguard yang memata-matai putri sulungnya tersebut. Namun, tak berani sampai berjarak dekat dengan Yolanda, membuat kedua lelaki itu tidak tahu, apa yang sedang dilakukan wanita itu di dalam sana.
Entah, seperti apa isi hati wanita muda itu. Yang jelas saat itu, ia takut kalau sampai dunia tahu, dia hamil tanpa seorang suami, karena keberadaan Daniel yang entah dimana.
Takut akan makian semua orang, saat tahu kalau dirinya memiliki seorang anak di luar nikah.
Siapa yang tahan hidup dengan itu semua? Apalagi dia ingat, saat Mario memecut tubuhnya dengan sabuk pinggang, dan hal itu sukses, membuat Yolanda semakin tak tentu arah. Sumpah demi apapun, dia sangat takut.
Pada akhirnya, dia membulatkan tekad, dan memutuskan untuk mengaborsi bayinya. Namun naas, saat ia ingin melepas satu nyawa tak berdosa dari dalam tubuhnya, nyawanya justru ikut melayang ke atas sana.
Jonathan dan yang lain ikut berduka, mereka semua turut hadir dengan hati yang sama terpuruknya, melihat nasib wanita muda itu berakhir dengan sangat mengenaskan.
Bahkan Chilla tak berhenti menutup mulutnya, berusaha sebisa mungkin agar tangis itu tidak pecah. Menatap nanar jasad Yolanda yang berada di tengah-tengah mereka.
Sehebat apapun masalah diantara keduanya. Nyatanya itu semua tak mampu menutup hati kecil gadis itu, ia iba, sangat, sangat iba melihat ini semua.
Chilla sempat berpikir, bagaimana jika dulu Alva meninggalkannya? Mungkinkah dia juga akan bernasib seperti ini?
__ADS_1
Memilih jalan untuk menutup semuanya, dengan menghilangkan nyawa bayi tak berdosa?
Aku harus bersyukur, karena Kakak tidak melakukan itu semua. Kakak tetap berada di sampingku, melindungi kami berdua.
Alva merengkuh pinggang ramping itu, ia bisa merasakan bagaimana kekalutan sang istri, karena walau bagaimanapun, mereka bertiga pernah terlibat dalam satu hubungan, hubungan tidak sehat dan tidak sejalan.
"Kak." Panggil Chilla dengan suara yang bergetar.
"Tidak, Sayang. Ini semua sudah takdir Tuhan, tidak ada yang disalahkan dalam hal ini. Tapi jika kau ingin menyalahkan seseorang, jangan dirimu, salahkan saja aku."
Dan saat itu juga, tangis Chilla pecah. Di pelukan Alva air mata itu terus menderas tanpa henti, hingga membasahi dada sang suami.
Sedangkan di ujung sana. Ada sepasang mata yang menatap benci pada kedua pasangan itu. Karena mereka dia harus kehilangan kakaknya, karena mereka kakaknya harus menerima banyak masalah, bahkan sang ayah ikut membencinya.
Dengan sorot mata tajam, dan tangan yang terkepal kuat, Yoona berjanji akan membalaskan dendam sang Kakak. Setidaknya membuat gadis itu sedikit celaka.
Namun, niat itu sepertinya takkan terlaksana, karena Mario melihat itu semua, tatapan benci sang anak terhadap Alva dan Chilla.
Rencana untuk mengambil minum jadi terurung. Tanpa ba bi bu Mario justru berjalan ke arah Yoona, putri bungsunya.
Menarik tangan gadis itu menjauh dari kerumunan, dan menyentaknya dengan kasar.
Yoona menatap Mario dengan matanya yang memerah, dan dibalas tatapan tajam oleh sang ayah. Lelaki itu menunjuk wajah putrinya.
"Jadikan kematian Kakakmu sebagai pelajaran, bukan untuk ajang balas dendam." Sentak Mario, membuat Yoona langsung meneguk ludahnya. Darimana ayahnya tahu, kalau dia tengah merencanakan sesuatu?
"Dan ingat! Jika kau sampai melakukannya, aku tidak akan segan-segan membawamu ke rumah sakit jiwa!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Innalilahi...🤧🤧🤧
Ada yang sedih nggak sih Yolanda metong?
Besok part ayang Juna nikah ya sama Nana, siapin kado lagi😘😘😘
__ADS_1