
Pagi-pagi sekali Chilla sudah bergegas, rapih dengan baju kemeja sekolahnya, dan wajah yang terus saja terlihat sumringah.
Hari ini, ia berniat ke apartemen Alva terlebih dahulu, memastikan kekasihnya itu untuk sarapan dan meminum obatnya.
Gadis manis itu sudah menuruni anak tangga, melangkah ke dapur, untuk pamit pada sang Mama yang terlihat sedang membuat nasi goreng bersama Bi Inah, ART di rumahnya.
"Ma, Chilla berangkat yah," pamitnya hanya menongolkan kepala.
Sarah mematikan kompor, karena masakan yang ia buat memang sudah matang, lalu beralih pada sang anak yang terlihat buru-buru hingga melewatkan waktu sarapan.
"Sayang, kamu tidak sarapan dulu?" Tanyanya seraya melepas celemek.
"Nanti aja Ma, Chilla ada kerjaan sama Nana jadi harus berangkat pagi-pagi," kilah Chilla, selama ini, nama Nana memang paling ampuh untuk membuat alasan pada Mama dan Papanya.
"Kaliankan sudah ujian, memangnya apalagi yang perlu dikerjakan?"
"Mama, ini itu untuk nilai tambahan, sudah yah Chilla pamit," ucapnya sambil berkedip.
"Eh, sebentar. Mama habis masak nasi goreng, Mama bungkus yah,"
Tanpa menunggu Chilla berkata ya, Sarah membungkus nasi goreng itu dengan takaran penuh, untuk sang anak dan Nana yang sudah ia anggap juga sebagai putrinya.
"Hati-hati," ucap Sarah melepas kepergian sang putri.
Chilla hanya tersenyum, seraya mengacungkan jari jempolnya, meninggalkan halaman rumah yang penuh kenangan dengan lelaki yang sangat dicintainya, Alva.
*******
Langkahnya begitu riang, kala menapaki lantai apartemen sang pacar. Ada rasa tidak sabar dalam hatinya, meskipun semalam mereka telah menghabiskan waktu bersama.
Senyum yang dihiasi lesung itu seolah tak ingin memudar, terus memancar hingga saat pintu itu terbuka, seseorang menariknya masuk kedalam.
Chilla sedikit terhenyak, namun detik selanjutnya ia kembali mengulum senyum saat tahu, Alva telah memeluk tubuhnya dari belakang.
"Bagaimana Kakak tahu aku datang?" Tanya Chilla seraya menikmati aroma tubuh Alva yang baru saja selesai mandi.
"Tentu saja aku tahu, karena dari jarak berapa puluh kilometer, aku sudah bisa mengendus baumu," balas Alva asal, ia menciumi tengkuk Chilla, membuat gadis itu terkekeh dan merasa kegelian.
Alva menghentikan aksinya, memutar tubuh Chilla agar menghadap ke arahnya.
"Ada apa?" Tanya Alva seraya membenarkan letak poni sang gadis yang terlihat sedikit berantakan.
"Chilla bawa nasi goreng, kita makan bersama yah, habis itu kakak harus minum obat," balas Chilla dengan jujur.
"Kau yang membuatnya?"
"Tentu saja tidak,"
Alva terkekeh, ia lupa, bahwa gadis manis yang akan menjadi istri orang kaya ini, tidak bisa memasak.
Karena gemas Alva mengangkat tubuh Chilla, membawanya ke dapur dengan diiringi kecupan manis disetiap langkahnya.
__ADS_1
Alva mendudukkan tubuh mungil itu diatas meja, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Alva terus memagut bibir itu mesra, bagai orang yang kehausan, Alva tak berhenti meneguk Chilla untuk menghilangkan dahaganya.
"Siapkan saja, aku mau pakai baju dulu," ucap Alva setelah kedua bibir itu terlepas.
Chilla mengangguk-anggukkan kepala, dan berniat turun dari meja, tapi sebelum itu, Alva kembali mencium gemas pipi yang tengah merona didepannya.
Pipi Chilla semakin memerah, ia sampai memeganginya saat Alva meninggalkannya sendiri didalam dapur.
Menyebalkan!
Chilla mulai menyiapkan nasi goreng yang ia bawa, memindahkannya ke atas piring dan menyajikannya diatas meja. Ia hanya menyiapkan satu, karena ia akan makan dari kotak bekal saja.
Saat telah selesai, bersamaan dengan itu Alva kembali kedalam dapur, dengan kemeja yang kancingnya masih terbuka.
Otot-otot perut idaman semua kaum hawa terpampang nyata didepan mata Chilla, meski sudah sering melihatnya, tetapi tak dipungkiri hal itu sukses, membuat pipi mulusnya kembali merona, bahkan Chilla tak sengaja menggigit bibir bawahnya.
"Kau kenapa?" Tanya Alva saat ia sudah berdiri tepat didepan Chilla, ia mengusap pipi gadis muda itu yang nampak memerah.
"Ah, tidak!" Chilla membuang muka, membuat Alva semangat untuk menggoda.
"Kenapa Kakak tidak memakai baju dengan benar?" Tanyanya sedikit gugup.
Alva menarik satu sudut bibirnya keatas, "Aku ingin kau yang memakainya, karena tanganku masih belum bertenaga," bisik Alva tepat ditelinga Chilla.
Gadis itu bergerak kegelian, tahu kalau Alva hanya berbohong, dengan tingkah malu-malu ia mengancingkan baju kemeja Alva dengan cepat. Kalau tidak, ujungnya pasti gawat.
"Kakak terlihat rapih, apa Kakak akan bekerja?" Tanya Chilla, kini keduanya sudah duduk berhadapan.
"Bukankah kakak masih sakit?"
"Kau sudah menyembuhkanku, vitaminmu sangat ampuh, kau tahu?"
Mendengar itu Chilla mencebik, mengerti kemana arah pembicaraan Alva, tak ingin menanggapi, Chilla menyerahkan satu piring nasi goreng ke arah lelakinya yang tengah terkekeh.
"Ku bilang tanganku masih belum bertenaga," keluh Alva, melihat Chilla enggan untuk menyuapi dirinya.
"Lalu?" Tanya Chilla pura-pura tak mengerti.
"Kau harus membantuku." Ucap Alva seraya mengusak gemas hidung Chilla dengan pucuk hidungnya.
Hari ini Chilla benar-benar ingin selalu tersenyum menghadapi tingkah manja Alva, bahkan saat makan, lelaki itu sama sekali tak melepaskan rengkuhan di pinggang rampingnya.
"Mau Chilla buatkan susu?" Tanya Chilla, saat satu piring itu telah tandas, masuk kedalam perut mereka.
Pelan, Alva menggelengkan kepala.
"Tidak mau, aku mau yang asli." Ucapnya seraya memandang tepat di dua bulatan indah yang terbungkus sempurna.
Reflek Chilla memasang tangannya didepan dada, melihat Alva dengan tatapan nakalnya.
"Ck, mesumm," cibir Chilla.
__ADS_1
Alva terkekeh melihat wajah kesal itu, "Bukan aku yang mesumm, tapi kau yang terlalu menggoda," tudingnya.
"Cih, bahkan Chilla tidak melakukan apapun, bagaimana Chilla bisa dikata menggoda?" Belanya pada diri sendiri.
"Kau bahkan tidak tahu, dengan kau bernafas saja, itu sudah termasuk menggodaku,"
Haish!
********
Para karyawan menatap heran sang atasan yang tengah berjalan dengan terus mengulum senyum, bahkan sesekali membalas sapaan mereka dengan ramah, ini jauh seperti biasanya.
Padahal kemarin mereka tahu bahwa Alva sedang sakit, tetapi kenapa sekarang terlihat begitu sumringah?
Sakit apa dia sebenarnya?
"Selamat pagi Tuan," sapa Juna saat Alva sudah masuk kedalam ruangannya.
Lelaki itu tidak tahu kalau Alva akan datang, maka dari itu, ia tak menjemput ataupun menyambutnya di lantai bawah.
Lelaki berjas abu-abu itu tersenyum ke arah asistennya, senyum yang justru terlihat aneh di mata Juna.
Sama halnya dengan para karyawan yang lain, Juna pun ikut bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan wajah bosnya yang terlihat sangat cerah.
"Tuan, apa anda sudah baik-baik saja?" Tanya Juna perhatian, sebagai seorang yang sudah cukup lama disamping Alva Juna telah menganggap lelaki itu seperti saudara.
"Tentu saja, aku sudah mendapatkan vitamin, jadi aku bisa cepat pulih," balas Alva seolah apa yang ia katakan adalah kebenaran.
Dahi Juna mengkerut, "Anda meminum vitamin dari Dokter kemarin?" Tanyanya penasaran.
"Tidak, vitamin ini justru lebih manjur dari resep Dokter," balas Alva dengan mimik muka yang lebih serius.
Hingga membuat jiwa kepo seorang Juna meronta-ronta, ingin tahu, supaya bisa berjaga-jaga saat tubuhnya tumbang secara tiba-tiba seperti Alva.
"Apa itu Tuan?"
"Kau sungguh ingin tahu?" Tanya Alva dengan mimik wajah menyebalkan, yang membuat Juna sadar, kalau sebenarnya Alva tengah membodohinya.
Tetapi kalau dijawab tidak, bisa-bisa ia ditendang juga.
Pelan, Juna mengangguk.
Dan Alva menyeringai, "Carilah kekasih, maka kau akan tahu,"
Alva tergelak melihat raut wajah kecewa Juna, seraya meneruskan langkah untuk masuk ke ruang pribadinya.
Haish, ternyata aku bertanya pada orang yang salah.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...****************...