Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Mommy nakal


__ADS_3

Hari berganti hari. Matahari kembali menyinari bumi. Di luar sana, langit membiru diselimuti gumpalan awan putih yang bergerak-gerak saling mendahului.


Sinar terang menyeruak melalui celah rumah. Dan naik semakin meninggi, tanda siang mulai menjelang. Namun, pintu kamar yang biasanya sudah silih berganti terbuka, kini nampak masih tertutup rapat.


Terlihat Alva baru saja keluar dari kamar mandi, mengelap sisa-sisa air di sekujur tubuhnya, lalu membuang handuk itu di kursi meja rias dengan asal. Melirik sekilas ke arah sang istri, yang masih nyenyak dengan tubuh polos berbalut selimut.


Lelaki itu mengulum senyum, seraya mengingat kejadian semalam. Saat ia tidak mengizinkan Chilla tidur untuk meladeninya. "Masih belum bangun juga dia." Bergumam yang mampu didengar oleh telinganya sendiri.


Tanpa membangunkan sang istri, Alva berjalan ke arah lemari sambil bersenandung kecil, lalu mencari setelan kemeja beserta jasnya. Karena hari ini lelaki itu berencana kembali bekerja. Bahkan agendanya, pagi ini akan diadakan rapat bulanan yang akan dipimpin langsung oleh dirinya.


Setelah rapih, ia tak langsung berangkat. Sambil menunggu jemputan Juna, lelaki itu justru tergoda untuk menjahili istri kecilnya. Alva naik ke atas ranjang, menjatuhkan tubuhnya dengan cukup keras di samping Chilla.


Gadis itu menggeliat, tapi tetap tidak bereaksi untuk membuka mata. "Wah, kau sangat nyenyak rupanya. Siapa yang membuat seperti ini, hah. Kenapa kau tidak mau bangun?" Tanyanya seraya menyibak selimut hingga ke pundak. Padahal sudah jelas Chilla kelelahan karena ulahnya.


Lagi, gadis itu sama sekali tidak terganggu, hanya mengusal pada bantal dan merapatkan kembali kelopak matanya.


Alva dengan seribu kejahilannya, menarik pelan selimut itu hingga ke bawah, dan jatuh ke atas lantai, menampilkan tubuh polos Chilla yang dihiasi totol-totol berwarna merah. Lelaki itu mulai merasa gemas, ia menciumi serta mencecap tubuh istrinya, hingga erangan kecil mulai terdengar.


"Sayang bangunlah." Melingkarkan tangan ke perut Chilla dan mengusap-usap secara perlahan. "Mommy bangun. Atau kau mau membangunkan yang lain?" Bisik Alva menggoda. Lalu mencium lagi karena Chilla benar-benar tidak menggubris ucapannya.


Tak ada reaksi apapun, akhirnya dengan terkekeh gemas Alva menggigit pucuk gunung hilamaya itu hingga si empunya melenguh. "Ugh." Lalu mengerjap-ngerjapkan mata.


"Kenapa kau susah sekali dibangunkan, hem?" Tanya Alva, yang ditanya masih mengumpulkan nyawa, lalu tangannya bergerak membalas pelukan sang suami. "Memang sekarang jam berapa?" Tak sadar, tubuhnya terbuka tanpa penghalang.


"Ini sudah siang Sayang. Semalam kau bilang mau ikut ke kantor sekalian kita ke dokter kandungan." Menyibak rambut Chilla ke belakang penuh perhatian.


"Benarkah?" Semakin memeluk erat, lalu menyembulkan kepala melihat ke arah jendela. Suasana sudah nampak terang benderang, tanda sang Surya sudah semakin naik ke atas singgasananya.

__ADS_1


"Ah ternyata benar."


"Kalau begitu cepatlah mandi. Juna pasti sudah menunggu kita di bawah." Titah Alva setelah memberikan kecupan di seluruh wajah sang istri.


Chilla menggeliat sambil terkekeh karena geli. Bukannya lekas bangun, gadis itu malam membenamkan wajah di dada suaminya sambil berkata. "Malas."


"Hei, jangan memulai." Cetus Alva, lalu mulai bangkit dari tempat tidur, berniat menunggu istrinya di bawah sambil mengobrol dengan Juna.


Kalau tidak, bisa-bisa niatnya yang sudah tersusun rapih untuk kembali bekerja, terancam gagal karena tak rela meninggalkan tubuh menggoda milik istrinya.


"Sayang, gendong." Ucap Chilla begitu Alva sudah berdiri didekat ranjang. Bola matanya mengedip-ngedip membuat Alva gemas.


"Aku bilang jangan menggodaku. Nanti ku makan baru tahu rasa!"


Haha, Chilla tertawa keras, lalu, eh. Dia baru menyadari kalau tubuhnya polos tak terhalang secarik kain pun. Ia meringkuk, kini giliran Alva yang menatap nakal. Dan mulai merangkak kembali ke atas ranjang.


"Cepat bangun, atau kau memilih untuk aku makan? Mommy nakal."


Kau mau apa? Isyarat tatapan matanya.


Sebelum menjawab, Chilla menangkup kedua sisi wajah Alva, lalu tersenyum menggoda. "Aku mau dimakan saja." Ucapnya.


"Kau?" Belum sempat melanjutkan kalimat protesnya, bibir tipis itu sudah diraup oleh sang istri. Menyerang dengan beringas, sama seperti yang sering Alva lakukan. Kini, gadis itu sudah sangat pintar sekali memuaskan hasrat suaminya. Sisi liar yang semakin ditunjukkan, dan kerap meminta duluan, membuat Alva semakin termanjakan.


Tangan lentik itu sudah sangat terlatih, membuka kemeja kerja Alva dengan tidak sabaran, bahkan tanpa melepas pagutan.


Pagi ini, lelaki itu benar-benar dibuat kewalahan. Tanpa dipinta Chilla sudah mengambil posisi untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan dirinya. Membawanya terbang melayang ke atas nirwana yang memabukan.

__ADS_1


Belalainya dimanjakan oleh permainan lidah sang istri. Alva melenguh, saat benda lembut itu berkali-kali mengulum secara menyeluruh. Berputar, dan menghisapnya dengan penuh kelembutan, bagai sesuatu yang candu.


Niat bekerja tak lagi diingatnya. Juna yang sudah ada di bawah, bahkan dengan setia menunggu Tuannya yang tengah asyik bercumbu dengan sang istri tercinta.


Chilla meminta lelaki yang ada di bawah tubuhnya untuk bangkit, Alva bersandar di kepala ranjang, sedangkan sang gadis mulai menyatukan diri.


"Honey, kau benar-benar membuatku gila." Alva mendesaah, dan Chilla terus menggerakkan pinggulnya sambil mengulum daun telinga suaminya.


Pucuk itu bergoyang, seiring hentakan nikmat yang Alva dapat. Pagi yang panas, sepanas cuaca di luar sana.


Puas mendengar lenguhan nikmat sang suami, Chilla pun ingin sesuatu yang sama, ingin Alva meruntuhkan seluruh urat syarafnya.


"Gigit aku, Sayang." Pintanya menarik kepala Alva dan membenamkannya di dada yang tumpah ruah.


Lelaki itu mengulum senyum, sekali lagi, ia senang Chilla yang seperti ini, berinisiatif lebih dulu tanpa malu-malu.


"Kau akan mendapatkannya, Honey. Bersiaplah, sengatan lebah ini mematikan." Dan Alva memberikan apa yang istrinya inginkan. Chilla mengerang, menjambak rambut Alva yang mulai memanjang.


Denyutan, desiran dan gelombang yang akan datang menjadi satu. Chilla memeluk leher Alva dengan kuat, seiring tubuhnya yang memacu dengan cepat, karena merasa pelepasan itu akan datang.


"Ya, sekarang, Honey." Pekik Alva seraya menekan miliknya.


Hah!


Juna yang sudah teramat bosan menghela nafasnya begitu panjang. Ia menyeruput kopi yang sediakan oleh pembantu rumah tangga Tuan dan Nyonyanya, sambil sesekali melirik ke arah atas, dimana kamar dua sejoli yang tengah di mabuk cinta itu berada.


Ia sudah menebak ini akan terjadi, tapi mau bagaimana lagi?

__ADS_1


"Sil, mundurkan jadwal satu jam lagi." Tulisnya cepat dalam sebuah pesan, karena ia terlalu malu untuk menelpon wanita muda tersebut. Mengingat kejadian kemarin, saat dirinya sedang bercumbu dengan Nana, dan tertangkap basah oleh Silvia. Membuatnya tidak punya muka.


Argh! Sepertinya aku harus cepat-cepat menikahi Nana.


__ADS_2