
Pulang sekolah, Beby tak langsung pulang ke rumah. Dia justru mengajak Yosi ke supermarket, setelah dia mengirim pesan pada suaminya.
Dan pindahan mereka pun lagi-lagi tertunda. Shaka yang tak bisa meninggalkan meeting pun menjadi salah satu alasannya.
Dan akhirnya Shaka menyerahkan tugas itu pada Nana. Karena wanita itu sendiri yang menawarinya dengan senang hati, Nana akan membawa beberapa anak buah suaminya untuk ikut mengangkut barang-barang Beby.
Untuk pakaian dan sebagainya biar nanti menyusul. Yang penting sekarang barang-barang gadis itu sudah berada di apartemen Shaka.
Lagi pula di apartemen itu tidak terlalu kosong, karena selama tinggal di sana, Shaka sudah melengkapi perabotan rumah tangganya.
Dengan mengendarai motor Yosi, kedua gadis itu sampai di pusat perbelanjaan. Kali ini, Ale dan Bambang tidak ikut, karena mereka ada urusan lain.
Alias ogah menemani kedua cucunguk berbelanja, bisa-bisa mereka menjadi ajudan gratisan. Karena pasti Ale dan Bambang yang akan disuruh memegangi belanjaan Beby dan juga Yosi.
"Lu mau beli apa sih, Beb?" tanya Yosi sambil melangkah ke dalam, mengikuti Beby yang mulai berjalan ke arah rak-rak makanan.
"Eum, itu tuh, Yos," balas Beby dengan cengar-cengir, membuat Yosi jadi curiga.
"Itu itu apa?"
"Anu, Yos. Duh namanya apa sih, yang si Ale bilang itu, buat wadah calon bayi."
Mendengar itu, mata Yosi langsung melebar dengan sempurna. "Lu mau beli si Kokom?" tanyanya tak percaya, Yosi rasa Beby benar-benar sudah terkontaminasi oleh Tyrex Shaka.
Pemikirannya sampai jauh ingin membeli pengaman untuk suaminya. Bukankah harusnya, lelaki yang lebih agresif, ini kenapa Beby yang jadi seperti cacing kepanasan?
Beby nyengir kuda, menunjukkan giginya yang berbaris dengan rapih. Lalu dia manggut-manggut. "Iya, Yos. Biar Bang Shaka keluarnya di dalem."
"Astagaaaa... Demi apa? Lu bener-bener udah kepincut pisang tanduknya Kak Shaka?"
"Tyrex, Yos, Tyrex. Apa tadi namanya Kokom yah?"
__ADS_1
Bukannya menjawab Yosi justru geleng-geleng kepala. Lalu mengikuti langkah Beby yang mencari si Kokom, wadah calon bayi.
Namun, karena tidak tahu bentuknya yang bagaimana, dia melangkah untuk mendekati salah satu pramuniaga. Seorang wanita cantik tengah menata beberapa barang, agar stok tetap tersedia.
"Kak," panggilnya lengkap dengan senyum mengembang.
Merasa terpanggil, wanita itu menoleh ke samping.
"Iya, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" balasnya tersenyum pula. Bahkan terlihat sangat anggun dan ramah.
"Gini, Kak. Gue lagi cari yang namanya Kokom, tapi nggak tahu bentuknya yang kayak apa. Itu tempatnya di mana yah?"
Di belakang tubuh Beby, Yosi melongo mendengar pertanyaan gadis itu. Kokom? Kenapa beneran nanyanya Kokom? Mana ngerti si mbaknya.
"Beby!" panggil Yosi dengan suara tertahan, tetapi Beby tidak menyahut.
Gadis itu justru fokus, menunggu jawaban wanita di depannya. Namun, karena yang ditanya pun tidak mengerti apa maksud Beby, dia jadi ikut pusing sendiri.
"Kokom apa maksudnya ya, Kak?" wanita itu balik bertanya, supaya Beby bisa menjelaskan lebih detail, mengenai fungsi benda yang gadis itu sebutkan.
"Lho Kakak nggak tahu? Kan kakak yang jualan," protes Beby.
Yosi menepuk jidatnya. Rasanya dia ingin kabur saja, tapi nanti yang ada Beby mengamuk padanya.
Wanita itu tersenyum kikuk. Karena dia benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud Beby.
"Saya bukannya tidak tahu, Kak. Cuma saya baru mendengarnya, benda Kokom itu apa sejenis makanan? Atau apa?"
"Haish, bukan, Kak. Biar keluarnya di dalem itu lho!"
Yosi benar-benar kabur sekarang. Dari pada ikut menanggung malu. Ya Tuhan, demi si Ale yang mesumnya sampe ke tulang-tulang, nih bocah ngapa parah amat siii... Kalo mabok pisang tanduk, tolong jangan bawa-bawa gue lagi dah.
__ADS_1
Wanita di depan Beby semakin dibuat pusing, dia tidak mengerti dengan kisi-kisi yang Beby berikan.
"Kakak ada contohnya, bungkusnya gitu?"
Beby menghela nafas, merasa kesal sendiri karena orang yang dia tanya tak kunjung mengerti.
"Ya nggak ada lah, Kak. Gue kan baru mau beli. Itu tuh yang kalo apa yah, duh gue juga nggak tahu lagi!"
"Kondoom, Kak," lirih Yosi membantu Beby untuk menjawab.
Dari pada tidak ada ujungnya. Dan dia semakin dibuat malu, lebih baik dia yang meluruskan.
Wanita berseragam itu melongo. Sementara Beby langsung menggeplak lengan sahabatnya.
Plak!
"Bilang dong kalo namanya kondoom!"
Seketika semua orang yang sedang berjalan mendadak berhenti, alis mereka terangkat dan menatap ke arah Beby.
*
*
*
Neng Beby kenapa sih 🤣🤣🤣🤣🤣
Ini bukan ajaran othor, aku polos 🤧🤧🤧
__ADS_1