
Di rumah besar Jonathan, kedatangan Chilla dan baby Shaka disambut begitu antusias. Maklum saja, dia adalah cucu pertama di keluarga Antarakna, serta cucu pertama pula untuk Pram dan juga Sarah.
Baby Shaka langsung diambil alih oleh Mona, karena keempat orang paruh baya itu langsung mengerubungi mobil yang dikendarai Juna.
"Wah, jagoan Opa sudah datang," sambut Jonathan, dan dibenarkan oleh Pram, kedua lelaki paruh baya itu saling memandang dengan tersenyum lebar.
"Sayang, Shaka sama Oma yah," ucapnya sambil menggendong Shaka untuk masuk ke dalam rumah.
"Iya, kita lihat kamar Shaka. Biar saja, bayi tampan ini main sama nenek-nenek dan kakek-kakek," timpal Sarah sambil terkekeh.
Jonathan dan Pram mengekor di belakang, mengikuti istri mereka yang berniat untuk memperlihatkan kamar yang sudah mereka siapkan untuk baby Shaka.
Daniah serta Juna tak ketinggalan, mereka berkemas dengan dibantu pak Yanto dan Bi Asmi, mengambil barang-barang yang ada di bagasi, untuk ikut dipindahkan ke kamar Shaka, karena itu semua adalah hadiah untuk bayi itu.
Sementara Chilla yang masih dinilai lemah oleh Alva langsung masuk dalam gendongan lelaki posesif itu. Dia selalu berusaha siap siaga untuk istri kecilnya yang baru saja melahirkan, sebisa mungkin dia tidak mau Chilla mengalami kesulitan.
Sudah cukup, Chilla kesakitan saat berusaha mengeluarkan buah cintanya.
"Makasih ya, Sayang," ucap Chilla, dia mengulum senyum sambil mengusap lembut pipi Alva.
Lelaki itu mengernyitkan keningnya. "Untuk apa berterimakasih, Honey. Aku yang harus banyak-banyak mengucapkan itu padamu. Karena kau sudah bertaruh nyawa untuk anak kita. Aku benar-benar tak bisa membalas semuanya."
Chilla mengalungkan tangannya di leher Alva, lalu mengecupi dada lelaki itu yang terhalang kemeja. "Cintai aku selamanya, itu sudah cukup, Sayang." Ucapnya sungguh-sungguh.
"Jangan menggodaku di sini, Honey. Kau tahu, aku paling tidak bisa menahannya. Dan sekarang, aku benar-benar tidak bisa menahannya."
Lengkungan senyum di bibir Chilla memudar begitu Alva menyatukan kembali bibir mereka. Dia sedikit memberikan lumaatan sebelum sampai di ambang pintu, agar keempat orang yang ada di dalam sana tidak mengetahui kelakuannya.
Bisa-bisa Alva dimaki oleh Mona. Dia tidak tahu saja, di belakang sana, pak Yanto melihat semuanya. Dia hanya bisa mengusap dada sambil memegang kado di tangan kirinya, agar gejolak yang tiba-tiba menyapa mereda.
"Sabar, sabar," gumamnya sambil menghela nafas panjang.
Alva melangkah ke dalam, dia langsung membawa Chilla ke kamar mereka. Tak perlu menaiki anak tangga, karena kamar keduanya sudah dipindah ke lantai bawah.
__ADS_1
Lelaki itu membaringkan tubuh Chilla di atas ranjang. Dia juga menarik selimut, agar wanita itu lekas istirahat. Terakhir kecupan di kening Chilla, Alva sematkan.
"Sayang, istirahatlah. Biar Shaka Mama yang mengurusnya, kau terlihat lelah," ucap Alva sambil mengusap kepala Chilla.
Bukannya menurut, Chilla justru berusaha untuk bangun, dan mendudukkan dirinya.
"Hei, kau mau apa?" tanya Alva, dia kembali duduk di sisi ranjang dan membantu istrinya.
Chilla beberapa kali meringis, membuat Alva menjadi khawatir. "Sayang, ada apa? Apa ada yang terasa sakit? Perutmu sakit?" tanya Alva beruntun.
Dan Chilla langsung menggeleng. "Sayang, coba lihat Shaka bangun apa tidak."
"Memangnya kenapa?"
"ASI-ku terasa penuh, kalau tidak hisap rasanya sakit," keluh Chilla kembali meringis, merasakan sedikit nyeri diantara buah dadanya.
Dia menanyakan Shaka karena mereka lupa untuk membeli pompaan ASI, kalau harus menunggu membelinya terlebih dahulu, rasanya tidak mungkin.
Chilla mengangguk, dan secepat mungkin Alva keluar untuk melihat anaknya. Kemarin Chilla tak merasakannya, karena Shaka rutin bangun saat air susunya terasa penuh.
Tak berapa lama kemudian Alva kembali seorang diri, karena bayi mungil itu sedang terlelap dalam box bayinya yang berbentuk ikan hiu, pilihan Mona dan Sarah.
"Sayang, Shakanya mana?" Chilla terlihat sudah tidak bisa menahannya, bajunya sudah basah dengan dua bulatan yang terlihat semakin membesar.
Melihat itu, Alva meneguk ludahnya kasar. Rasa-rasanya dia ingin segera menerkam Chilla, kalau saja kondisinya tidak sedang seperti ini.
"Shaka tidur, Sayang." Alva duduk di samping Chilla, matanya senantiasa menatap ke arah dada istrinya itu.
"Terus gimana? Nggak mungkin aku nunggu Kakak beli pompaan ASI dulu kan?"
Alva menggapai tangan Chilla, dan meletakkannya di atas pipi, hingga wanita itu menatap suaminya. "Bagaimana kalau Shaka besar yang menghisapnya?"
Chilla membulatkan matanya. "Sayang, kamu?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, ini kan sedang genting, Sayang."
"Tapi jangan macam-macam," ucap Chilla mewanti-wanti, karena dia sangat mengerti bagaimana sifat suaminya itu.
Alva mengangguk dengan seringai kecil, dan Chilla mulai membuka bajunya dengan dibantu oleh Alva, seketika dua bulatan yang menggunung itu terlihat sangat besar, Alva sampai tak berhenti meneguk ludahnya yang terus keluar.
Sialan, ini membuatku gila!
Tanpa ba bi bu, Alva langsung melahap pucuk yang menegang itu. Menghisapnya bergantian untuk membantu meringankan rasa sakit yang Chilla rasakan.
Namun, tak hanya merasakan kelegaan, Chilla justru dibuat mendesaah oleh tindakan Alva, dia menahan kepala suaminya, sementara Alva yang terus mendengar desaahan istrinya, langsung merasakan sesak di bawah sana.
Kedua tangannya masuk ke dalam dress yang Chilla kenakan, memberi usapan lembut di paha wanita itu, membuat Chilla kembali melenguh.
Alva mengangkat kepalanya, dia memandang wajah Chilla dengan kabut yang berkelebat, menyelimuti gairahnya.
Dan wanita itu sangat mengerti dengan tatapan mata Alva. "Ingat Kakak sedang puasa." Ucapnya mengingatkan lelaki yang tak bisa dibantah itu.
Alva meneguk ludahnya dengan tatapan mengiba. "Pakai yang lain kan bisa, Honey."
Kalau sudah begini, Chilla tak bisa berbuat apa-apa, mau mengingatkan seperti apapun dirinya sudah pasti akan kalah melawan Alva, hingga akhirnya wanita itu lebih memilih untuk mengangguk pasrah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hallo....
Vampir tampanku udah tamat nih, kalian nggak mau nengok gitu? Dia itu nggak kalah bucin dan anuanu lho, sama kaya si Kakak, bahkan bucinnya dia bisa langsung ngancurin satu gedung 🤣🤣🤣
Ini Daddy Kaisar sama Baby Aiden 🍭
__ADS_1