Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Pusat perhatian


__ADS_3

Sampai di lokasi yang dituju. Alva segera memarkirkan kijang besinya yang dia kemudikan sendiri. Setelah sukses mendapat tempat, dia keluar dari dalam mobil, dan memutar langkah untuk membukakan pintu untuk sang wanita.


Chilla keluar dari sana dengan menggendong baby Shaka. Begitu pun dengan Daniah, dia buru-buru mengambil stroller bayi dan melangkah ke arah majikannya itu.


"Nona, mau pakai ini atau tidak?" tanya Daniah.


"Oh iya, Shaka duduk di sana ya, Sayang. Nanti Mommy yang dorong." Chilla segera meletakkan bayi gembulnya itu, memindahkan Shaka dari gendongannya untuk duduk di stroller. Karena rasa-rasanya dia tidak akan sanggup, jika memutari gedung sebesar ini, dengan terus menggendong tubuh Shaka yang sudah semakin berat.


Chilla hendak mendorong kereta bayi itu, tetapi dengan cepat Alva mengambil alih pegangan. "Biar aku saja, Honey." Alva tersenyum ke arah istrinya, "come on baby, kau akan berburu dengan Daddy-mu yang tampan ini."


Wanita itu terkekeh mendengar ucapan Alva, dia mencubit gemas, hingga akhirnya satu keluarga kecil itu benar-benar masuk ke gedung besar tersebut.


Daniah yang seperti manekin hidup di antara mereka, hanya bisa mengulum senyum, lalu melangkah mengikuti dua majikannya yang setiap hari menebar cinta.


Baru saja melewati pintu otomatis, Alva yang mendorong kereta bayi tiba-tiba menjadi pusat perhatian para pengunjung yang ada di sana, wajahnya yang tampan, serta penampilannya yang begitu sempurna, menarik para wanita untuk menikmati pesonanya.



Apalagi beberapa dari mereka yang memang mengenal Alva, sebagai CEO Antarakna group. Sudah tampan, kaya, sayang istri dan anak pula.


Oh my God, dialah hot daddy sesungguhnya.


Menyadari tatapan-tatapan itu, dengan cepat satu tangan Alva merengkuh pinggang Chilla, agar wanita itu senantiasa berada di dekatnya, dan menunjukkan pada semua orang bahwa hanya wanita satu ini yang dicintainya.


"Sayang, kenapa rapat-rapat seperti ini jalannya?" tanya Chilla, dia sedikit kesusahan karena tak dapat bergerak dengan leluasa.

__ADS_1


"Ini lebih menyenangkan, Honey." Satu kecupan di pipi, berhasil membuat wajah wanita itu merona, hingga akhirnya dia hanya bisa mengangguk pasrah.


Kakinya mulai bergerak kesana-kemari, sesuai dengan kehendaknya. Masuk dari toko satu, ke toko yang lainnya. Untuk membeli beberapa barang atau hanya sekedar cuci mata.


Sementara Alva dengan setia mengikuti Chilla, dia terus mendorong kereta bayi tampannya itu, menemani sang istri membeli perlengkapan untuk Shaka dan juga dirinya.


Kini mereka berada di lantai lima gedung tersebut. Banyak orang silih berganti, karena suasana di akhir pekan membuat pusat perbelanjaan itu menjadi ramai.


Chilla yang merasa kantung kemihnya penuh, mendadak berhenti untuk meminta izin pada Alva. "Sayang, aku ke toilet sebentar yah."


"Ada apa?"


"Kantung kemihku terasa penuh, aku mau buang air kecil dulu."


"Mau aku antar?" tawar Alva, dan langsung dijawab gelengan oleh Chilla.


Chilla berjalan sedikit tergesa setelah dia mendapat izin dari Alva untuk memenuhi hajatnya. Namun, tak hanya sekedar buang air kecil, setelah Chilla keluar dari toilet, ternyata wanita itu juga menyempatkan diri untuk menghubungi Juna, asisten suaminya.


"Bagaimana, Kak?" tanyanya saat panggilan itu sudah terhubung.


"...."


"Iya-iya baiklah."


Hanya ada obrolan singkat di antara mereka, tetapi mampu membuat Chilla tersenyum kecil. Dia segera melangkah keluar untuk kembali menemui suami dan anaknya.

__ADS_1


Sementara lelaki itu terus celingukan, dia terus memperhatikan arah dimana istrinya menghilang dari pandangannya, sudah cukup lama wanita itu tak kunjung datang jua.


"Pergilah, lihat istriku! Pastikan dia baik-baik saja," Alva tiba-tiba memberi perintah pada Daniah.


Patuh, Daniah langsung pamit untuk menyusul Chilla ke toilet, tetapi belum ada beberapa langkah, netranya sudah bisa melihat Chilla yang tengah berdiri, tak jauh dari tempat mereka duduk. Posisi wanita itu membelakangi mereka, tetapi dari postur tubuhnya, Daniah yakin itu adalah nonanya.


"Tuan, bukan kah itu nona?" Tunjuk Daniah pada wanita yang mengenakan dress merah itu.


Alva mengikuti arah telunjuk Daniah, sama seperti wanita itu, Alva pun yakin bahwa itu adalah istrinya, meski Chilla membelakanginya, bibir yang hendak tersenyum itu mendadak mengatup, begitu menyadari Chilla tidak sendiri, melainkan dengan dua lelaki yang terlihat tengah menahan langkah istrinya itu.


Seketika wajah Alva berubah marah, tanpa menunggu lama, dia langsung melangkah lebar untuk segera menghampiri Chilla.


Sementara di ujung sana.


"Nona ayolah berikan nomor teleponmu." ucap satu remaja yang sedari tadi meminta nomor ponsel milik Chilla, padahal wanita itu sudah memberitahu bahwa dirinya sudah memiliki anak dan suami.


Tapi seolah tak mau mengerti, kedua remaja itu terus mencekal langkahnya.


"Aku sudah bilang padamu, kalau aku ini sudah punya suami, kenapa kamu tidak mengerti juga," kekeuh Chilla kesal.


"Aku tidak percaya, buktinya kamu sendiri. Lagi pula aku yakin, kamu ini masih sekolah kan? Di mana? Nanti kalau pulang aku jemput," satu remaja ikut menimpali, membuat Chilla menggelengkan kepalanya.


Hingga sebuah pukulan diiringi makian mengejutkan semua orang. "Dasar bocah ingusan!" Pekik Alva keras, tangannya terkepal kuat, mengayun kembali siap untuk melayangkan bogem mentah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hayo lo Daddy ngamuk🤧


__ADS_2