Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Permen rasa buah


__ADS_3

Chilla keluar dengan perasaan gugup, entah kenapa ia tidak bisa melupakan kejadian panas yang baru saja berlangsung dengan sang pacar. Di ruangan yang sedikit sempit itu ia sempat melenguh, gara-gara Alva yang selalu membuatnya melayang, jauh ke atas awan. Lain dengan lelaki itu yang terlihat begitu santai. Seolah tidak terjadi apapun didalam sana.


"Tenanglah, kenapa mesti gugup seperti itu?" Ucap Alva, menangkup pipi Chilla dan sedikit menunduk untuk mengecup bibir itu sekilas.


Lalu beralih menggenggam tangan Chilla yang mengeluarkan keringat dingin, berjalan menuju kasir.


Tak menanggapi ucapan kekasihnya, Chilla hanya menunduk malu, karena para pelayan toko seperti tengah menatapnya penuh selidik, mencari kebenaran.


Alva selesai melakukan pembayaran, ia menatap nyalang para wanita cantik di sekelilingnya, "Lain kali, jangan buat kekasihku takut, atau ku tutup toko kalian," ucap Alva menyeret lengan Chilla keluar dari sana.


Menyisakan para penjaga toko yang tercengang, mendengar ancaman lelaki tampan nan kaya, yang baru saja membeli baju untuk kekasihnya.


Tampan sih, tapi galak.


So sweet yah.


Dih dasar posesif akut.


Kira-kira begitulah pemikiran para readers mengenai Alva. Ya nggak ya nggak? Yaiyalah masa enggak.


Sedangkan Chilla mulai tersenyum-senyum akan ucapan Alva, ia tidak mungkin salah dengar, lelaki itu tadi mengakuinya? Ah, gadis itu tidak menyangka, ia ingin berjingkrak-jingkrak sekarang juga, saking senangnya.


"Kak," panggil Chilla di sela-sela langkahnya mengikuti laju kaki Alva.


"Hemm,"


"Makasih," ucap Chilla, Alva berhenti, memandang wajah Chilla yang terlihat lebih cerah, setelah keluar dari sana. "Untuk apa?" Tanyanya.


"Yang tadi," malu-malu kucing, sambil mengayun-ayunkan tangan mereka yang tengah bertautan.


Alva mendekat, "Kalau kau ingin berterimakasih, berterimakasih lah dengan cara lain,"


Alva melepaskan genggaman tangannya, membiarkan gadis itu, menjelajahi apa saja yang ia suka. Kosmetik dan apapun itu, ia benar-benar ingin memanjakan kekasihnya hari ini.


Sedangkan ia mengekor di belakang Chilla, ikut melihat-lihat, dan tiba-tiba matanya tertarik dengan sesuatu, ia meraih benda itu dan membolak-balikkannya.


"Kakak,"


"Hem,"


"Sedang lihat apa?" Tanya Chilla, melihat benda yang ada di tangan Alva. Kotak kecil dengan perisa buah. Seketika mata gadis itu berbinar, seolah menemukan sesuatu yang menggiurkan.


"Wah, apa itu permen?" Tanya Chilla penasaran.


Mendengar itu, Alva mengulum senyum. Yakin, kalau gadis itu tidak mungkin tahu benda apa yang sedang ia pegang sekarang.


"Iya, kau mau?" Tawar Alva mengangkat benda itu.


Chilla mengangguk antusias, tanpa berpikir panjang ia memasukan semua benda itu kedalam troli. Dari rasa pisang, mangga, anggur dan strawberry.


"Kau membeli semua rasa?" Tanya Alva.

__ADS_1


"Benar, Chilla akan mencobanya satu persatu, karena Chilla suka permen,"


Senyum Alva berganti dengan kekehan, gemas melihat Chilla yang kelewat polosnya, tidak tahu benda apa yang tengah ia beli, dan apa fungsi sebenarnya, gadis ini justru membeli semuanya.


"Baiklah, kau benar-benar harus mencobanya saat dirumah, denganku," ucap Alva ambigu, tetapi gadis manis itu tidak curiga sama sekali.


Ia hanya mengangguk, dan menarik tangan Alva pergi ke kasir, karena ia merasa sudah cukup berbelanja hari ini.


"Kakak kasir," panggil Chilla.


Wanita muda itu seketika menoleh, menatap gadis manis berambut sebahu, yang berdiri didepannya dengan tersenyum.


"Iya Nona,"


"Apa Kakak kasir sudah mencoba permen itu?" Tanya Chilla menunjuk kotak yang tengah di pegang sang kasir, karena ia sedang mengscan.


Ditanya seperti itu, pipi wanita muda itu merona, ia belum menikah, mana mungkin sudah mencobanya, apa gadis ini bercanda?


Pelan, kasir menggeleng, melirik lelaki tampan yang sedari tadi, tersenyum sambil menatap lurus ke arah Chilla.


"Ah, berarti kita sama, Chilla juga baru mau coba soalnya, kalo begitu, nanti Kakak kasir Chilla kasih satu, supaya kalo ditanya rasanya, Kakak udah tahu,"


Si kasir kikuk di tempatnya, sedangkan Alva terkekeh semakin keras mendengar Chilla yang akan memberikan benda yang baru saja ia beli pada orang asing, yang pastinya lebih tahu apa fungsinya.


Gadis manis itu seketika menoleh, melihat kekasihnya, "Kakak kenapa tertawa?"


"Tidak, aku hanya menertawakan wajahmu, kau terlihat lucu," balas Alva mengusak gemas puncak kepala Chilla.


*******


Dengan semangat Chilla mengobrak-abrik isi belanjaan, mencari permennya yang tadi ia beli di kantung terpisah.


"Sayang, permenku mana?" Tanya Chilla pada Alva yang berdiri di depan lemari es, lelaki itu tengah menenggak satu gelas air putih, karena terlalu lama berjalan, ia merasa sangat haus sekarang.


"Kau mau mencobanya sekarang?" Alva menjawab dengan pertanyaan, ia berjalan dan menyerahkan air putih itu ke depan tubuh Chilla. Dan ikut duduk di samping kekasihnya.


Dengan cepat, Chilla menandaskan satu gelas air putih itu, lalu kembali merengek meminta permennya.


Terkekeh, Alva mengambil kantung belanja yang berisi benda yang Chilla minta.


"Kau benar-benar ingin mencoba ini sekarang?" Tanya Alva sekali lagi, tak peduli apapun Chilla hanya mengangguk, dan satu detik selanjutnya, tiba-tiba tubuh Chilla langsung di terjang oleh tubuh atletis Alva.


Lelaki itu menyatukan benda kenyal mereka. Memberikan ciuman panas untuk kesekian kalinya.


"Kakak aku mau permen," rengek Chilla saat pagutan terlepas sejenak.


"Sebentar lagi kau akan mendapatkannya," ucap Alva, menunduk dan kembali menyerang dengan buas.


Tubuh keduanya meringsek, tersulut api gairah yang mereka ciptakan di atas sofa. Tanpa sadar, Chilla mengalungkan tangannya di leher kekar kekasihnya, sedangkan tangan Alva bergerak, merayap mengelus tubuh bagian depan Chilla hingga bermuara di puncak gunung kesukaannya.


Entah kapan lelaki itu membukanya, yang jelas, kancing baju kemeja gadis itu sudah terlepas sempurna.

__ADS_1


Chilla terus meraup oksigen yang ada di sekitar mereka, seringnya melakukan membuat Chilla mudah mengaturnya sekarang.


"Honey, buka kemejaku," ucap Alva di sela-sela ciumannya, ingin Chilla ikut berinisiatif untuk menyenangkan dirinya.


Dengan patuh, tangan Chilla mulai menggapai satu persatu kancing kemeja yang Alva kenakan, merasa tak sabar, tangan Alva menarik paksa kemejanya, hingga kancing itu bertebaran diatas lantai.


"Kau terlalu lama honey," Alva merunduk, mengecup pucuk gundukan yang berhasil di lucutinya.


Menjilatinya dengan penuh penghayatan, hingga mendesaah, adalah satu-satunya yang Chilla lakukan, tangan mungilnya meremat bahu kokoh Alva, sedangkan lelaki itu terus bermain di pucuknya yang terlihat menegang.


"Sayang, aku ingin di gigit," rancau Chilla dengan tubuhnya yang semakin mosak-masik tidak karuan.


Mendengar permintaan gadisnya, dengan senang hati Alva menghisap dan menggigit benjolan kecil itu, hingga si empunya meraung keras dan menjambak manja rambutnya.


Seketika, ruangan itu berubah menjadi panas, hujan diluar sana menjadi pelengkap kegiatan mereka, yang kini tengah berusaha menuju puncak nirwana.


Alva menarik tubuhnya dari atas tubuh Chilla, memasangkan sesuatu yang gadis itu minta di pusaka kesayangannya.


Melihat itu, Chilla menelan ludah dan menggigit bibir bawahnya. Jadi itu bukan permen? Pantas saja Alva terus terkekeh, saat tahu ia ingin membeli semuanya.


"Permenmu," ucap Alva dengan senyum menawan, mengulurkan permen yang siap di kulum gadis itu.


Kini posisi berubah, Alva berada dibawah tubuh Chilla, karena gadis itu tengah mengulum pucuk belalai Alva yang berperisa mangga. Hingga lelaki tampan itu, mendesaah dengan permainan gadis kecilnya.


"Oh shitt ini luar biasa, honey," merancau, mengusak-ngusak kepala Chilla.


Bibir itu seolah sudah semakin lihai untuk melakukan itu, darah lelaki itu berdesir dengan cepat, Chilla benar-benar memberikan sentuhan yang membuat Alva ingin meledak sekarang.


Dengan cepat, Alva kembali membalikkan posisi, menyatukan dirinya dengan tubuh sang kekasih. Desaah dan lenguhan terdengar saling memburu, begitu Alva mulai bergerak dengan tempo yang pas.


"Open your eyes, honey," pinta Alva saat melihat Chilla memejamkan mata, diselingi gerakannya, Alva menciumi seluruh wajah Chilla, dan sesekali menjilati leher jenjang itu hingga basah.


Gadis itu menangkup wajah Alva, "Al," panggilnya tanpa di pinta, membuat lelaki itu tersenyum lebar. Chilla sudah semakin pintar, pikirnya.


"Yeah honey,"


"Aku mau yang lebih kasar," ucapnya sesuai naluri, ia ingin di sentak dengan kuat, karena meski sedikit sakit, tapi itu lebih menantang baginya.


Mendengar itu, Alva kembali tersenyum, "Kau akan mendapatkannya honey." Ia mulai bergerak lebih cepat dan liar. Sesuai permintaan sang kekasih yang tengah mendesaah dibawah tubuhnya.


Hingga tanpa sadar, Chilla ikut bergerak, seirama dengan hentakan Alva, hingga tak berapa lama kemudian, puncak itu serentak mereka dapatkan.


Tapi kegiatan itu tak serta merta selesai, Alva mengangkat tubuh Chilla dan memutarnya, hingga posisi Chilla berada didepan tubuh Alva.


"Aku hanya menginginkanmu," ucap Alva kembali menghentak, dan tangannya sibuk dengan kedua benda yang ada didepannya.


...****************...


Itu poin, koin, vote yang nganggur coba sumbangin buat kakak pacar, jempolnya juga jangan lupa tekan-tekan, biar makin lihai.


Yok bisa yok, salam perhaluan 💃

__ADS_1




__ADS_2