
Dari semalam. Rani sudah mengemasi barang-barangnya. Ia memasukkan semuanya tanpa ada yang tertinggal satu pun.
Setelah kejadian itu, Alva keluar dari ruang kerjanya. Lelaki itu sempat kembali, tetapi bukan untuk menahannya. Melainkan untuk memberinya uang pesangon.
Alva melemparkan uang itu ke bawah kaki Rani. Tanpa memandang ke arah wanita itu.
Sang Tuan berkata, hal itu semata-mata karena ia sudah melayani sang Nona, bukan karena ia kasihan atau apapun itu.
Terlebih Rani tidak sampai bertindak bodoh, untuk melukai atau melakukan hal-hal yang membahayakan, pada jabang bayi yang ada di dalam perut gadis itu.
Kalau saja Rani melakukan itu semua, Alva mungkin sudah mendepaknya dari dulu. Bahkan mungkin memberinya balasan yang setimpal.
Alva juga memberi perintah. Agar ia meninggalkan rumah ini sebelum Chilla terbangun.
Kalau satu detik saja pagi ini dia masih kelihatan berkeliaran di rumah ini. Dan Alva melihatnya.
Jangan salahkan lelaki itu, jika Rani akan menerima akibatnya.
Hingga pagi-pagi sekali, dengan tangis yang menderas, Rani benar-benar meninggalkan rumah besar itu. Sepertinya dia telah salah menilai, karena ternyata, sang Tuan bukanlah sosok pria yang mudah ditaklukkan.
****
Di dalam kamar.
Muah.Muah.Muah.
Kecupan manis sudah Alva sematkan di seluruh wajah sang istri. Ia menguyel-uyel pipi Chilla dengan pucuk hidung, sebelum melengang ke arah kamar mandi.
Gadis itu masih tertidur pulas di hari Minggu seperti ini. Alva yang sudah bangun lebih dulu, berniat membersihkan diri, dan membuatkan sarapan untuk istri tercintanya, Chilla.
Tak sampai lama, lelaki itu terlihat sudah segar bugar, dengan handuk yang melilit sebatas pinggang, Alva keluar.
Air masih mengucur di sebagian tubuhnya. Serta aroma sabun menguar kemana-mana.
Kakinya hendak melangkah ke arah lemari. Namun, sekilas melihat Chilla tidak ada di atas ranjang, Alva langsung panik sendiri.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan penampilannya. Alva langsung keluar dari kamar. Menuruni anak tangga seraya memanggil-manggil nama istrinya.
"Chilla, Sayang." Teriak Alva, netra itu mencari ke seluruh penjuru arah. Nafasnya terdengar memburu, seiring rasa cemas yang semakin mendarah daging.
Lelaki itu mengelilingi ruang tv. Tempat biasa ibu hamil itu menghabiskan waktu dengan menonton drama. Tetapi lagi-lagi, Chilla tidak ada.
Dan begitu ia mau masuk ke dapur. Dapat Alva lihat sosok bertubuh mungil dengan perut buncit itu keluar dari kamar bekas pembantu mereka.
Tanpa pikir panjang, Alva langsung menyeret langkahnya, menghambur ke arah Chilla.
Merengkuh tubuh itu masuk ke dalam dekapannya. "Sayang, kau habis kemana? Kenapa turun tanpa memberitahu aku? Aku mencarimu." Ucap Alva bertubi-tubi. Menetralkan rasa takut itu dengan menciumi puncak kepala istrinya.
"Aku hanya ke dapur Kak, tadi aku haus. Terus aku lihat, di meja makan belum ada sarapan. Jadi, aku ke kamar Mbak Rani. Kok dia nggak ada yah? Kakak tahu nggak Mbak Rani kemana?" Jelas Chilla.
Saat Alva masuk ke kamar mandi, tak lama dari itu Chilla terbangun, dan merasa tenggorokannya kering.
Ia melihat ke arah nakas, tetapi gelas itu kosong. Akhirnya ia memutuskan untuk ke bawah tanpa memberitahu lelaki itu.
Dan disana, dia tidak mendapati Rani yang biasanya sudah masak pagi-pagi. Atau membereskan rumah.
Mendengar istrinya yang bertanya tentang Rani, Alva melerai pelukannya, lalu menangkup kedua pipi gadis itu.
"Harusnya kau beritahu aku. Jangan gegabah untuk turun sendiri, perutmu sudah semakin besar Sayang..."
"Dan untuk pembantu itu, semalam dia pamit padaku. Katanya yayasan tiba-tiba menghubunginya, dan dia ditarik kembali kesana. Nanti beberapa hari lagi, ada pembantu baru yang akan datang, menggantikan dia." Terang Alva. Ia terpaksa berbohong, karena tidak mau Chilla berpikir macam-macam, hingga berujung stres.
Dan pada akhirnya, hal itu mengganggu tumbuh kembang bayi mereka.
"Yah, padahal aku udah lumayan akrab sama dia." Ujarnya dengan bibir yang mencebik. Melingkarkan tangan di leher Alva.
"Siapa yang mengizinkanmu akrab dengan orang lain? Hem? Kau hanya boleh akrab denganku." Menjawab dengan sorot mata menajam. Menandakan apa yang ia ucapkan tidak main-main.
Lantas, saat Chilla akan kembali buka suara. Tubuhnya justru sudah mengudara, digendong oleh Alva, masuk ke dalam dapur.
Di atas meja yang kosong itu. Alva meletakkan istri kecilnya, menghimpit tubuh gadis itu, dan menatap dengan intens.
__ADS_1
Netra pekat mereka bertemu, saling mengunci satu sama lain. Tanpa dipancing, ada kabut yang mulai berkelebat. Menutup akal sehat mereka, hingga bibir itu menyatu, tanpa ada yang tahu, siapa yang memulai lebih dulu.
Awalnya Alva ingin membuatkan Chilla sarapan. Namun, sepertinya takdir belum menghendakinya.
Alva justru memberikan sarapan pada mulut Chilla yang lain. Di atas meja sana. Kaki gadis itu terbuka lebar. Sedangkan handuk yang melilit terlepas begitu saja.
"Honey, kita lakukan di sini ya." Bisiknya menggoda.
Seperti terbebas, kini Alva bisa melakukan itu dimana pun ia suka. Dengan berdiri, belalai itu menerobos masuk ke dalam sarangnya.
Chilla memekik nikmat. Semakin meremat kuat bahu kokoh Alva, seiring hentakan yang baru saja lelaki itu buat.
Tak hanya maju mundur, ada juga putaran serta gerakan yang semakin menggelitik di inti tubuhnya.
"Al, lebih pelan." Pinta Chilla saat sang lelaki menggerakan pinggulnya tidak sabaran.
Alva menurut, lelaki itu mengurangi kecepatan. Mencoba untuk memberikan sang istri rasa nyaman.
Meja itu bersuara, berdecitan dengan lantai. Tangan Chilla berpindah ke belakang, menumpu tubuhnya yang merasa akan mendapat ledakan.
"Sayang..."
"Yeah, Honey."
Alva membekap mulut gadisnya, hingga lenguhan itu tertahan. Namun, terasa makin panas, saat pucuk belalai itu semakin menekan-nekan titik denyut di liang orgasmeenya.
Tubuh Alva yang baru saja mengering, kembali basah. Bermandikan keringat akibat sengatan nikmat yang ia terima. Percintaannya dengan Chilla memang tidak ada duanya.
Brak,brak,brak!
Suara meja ajaib seperti ingin ambruk, disusul erangan panjang dari bibir keduanya. Chilla memeluk erat leher Alva, selagi benda panjang itu memuntahkan laharnya.
Entah mungkin karena saking banyaknya, cairan itu sampai keluar, luber dari wadah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Ada yang lagi nunggu? Melek? Atau sejenisnya?