
Buah mangga yang terbungkus plastik kresek hitam itu jatuh ke atas lantai. Karena terlepas begitu saja dari tangan Alva.
Lelaki itu menatap nanar istrinya, dengan bibir bergetar kesal. Kepalanya seolah berdenyut, saat mendengar Chilla sudah tak ingin memakan mangga yang berhasil ia bawa, padahal ia sudah mencarinya dengan susah payah.
"Kau benar-benar sudah tidak ingin memakannya?" Tanya Alva penuh harap. Ia menelan salivanya yang tercekat di tengah tenggorokan.
Seperti mendapat karma, Alva menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, Chilla menggeleng dengan wajah tanpa dosa. Tanpa rasa bersalah.
Anjingg!
Bahkan dia tidak melihat perjuanganku melawan anjingg. Rutuknya dalam hati tak habis-habis.
Alva manggut-manggut dengan gemuruh amarah di dadanya, lalu tiba-tiba telunjuknya menuding perut Chilla yang semakin terlihat membesar. "Apa ini semua kelakuannya?" Ucapnya mengagetkan.
"Maksud Kakak?" Terbata Chilla menjawab.
"Diakan yang menginginkan mangga itu? Bukan kau?"
Pelan, Chilla mengangguk-anggukkan kepala. Benar, begitulah artinya.
Tangan Alva terkepal kuat, lalu meninju udara yang bebas di atas sana. "Awas kau, kalau sudah lahir! Ku pastikan Mommymu lebih memilihku." Menjambak rambut frustasi, merasa dikerjai oleh calon anaknya sendiri.
Tiba-tiba Chilla merinding.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Honeymoon.
Pagi itu, ibu hamil yang telah bersiap untuk pergi honeymoon dengan sang suami, terlihat begitu bersemangat.
Ia memoles wajahnya sana-sini, berusaha tampil semaksimal mungkin. Baju berserakan, seperti satu lemari telah ia keluarkan.
Semalam mereka sudah sepakat untuk pergi hari ini, dan Juna sudah mengatur semuanya. Mereka akan bersenang-senang hanya berdua, ah tidak, bertiga dengan calon buah hati mereka.
Pukul sembilan pagi, Juna sudah membawa keduanya pergi menuju Bandara. Sambil nenyusuri tiap jalan yang akan menjadi tempat-tempat penuh kenangan. Dengan saling menggenggam erat, Chilla menyandarkan kepalanya di dada Alva.
"Sayang, apa villa yang kita sewa ada kolam renangnya?" Tanya Chilla sambil mengukir tulisan-tulisan abstrak, yang hanya bisa dibaca olehnya.
"Entah, Juna yang mengaturnya." Balas Alva, menopang dagunya di kepala Chilla sambil sesekali mengecupnya penuh cinta.
"Ah aku mau yang ada kolam renangnya, aku mau renang pakai baju mermaid." Rengek Chilla dengan bibir mengerucut lucu.
__ADS_1
"Kalau tidak usah pakai baju, bagaimana?" Tawar Alva, bukankah akan lebih bagus seperti itu, pikirnya.
"Ck! Itu Kakak, aku tidak mau. Aku mau pakai baju mermaid, titik!" Balas Chilla mulai membangkang, semenjak menikah dan dalam masa kehamilan, Alva benar-benar diuji kesabarannya.
"Iya-iya, biar Juna yang mencari bajunya." Lelaki itu menurut, tak mau banyak berdebat.
"Tapi, Tuan." Juna hendak memprotes, masa harus dia lagi yang mencari hal-hal aneh yang Chilla inginkan. Tidak cukupkah dengan honeymoon dadakan, yang membuat ia terpaksa harus begadang.
Namun, tak sempat menolak ia sudah diberi tatapan mengancam. Ikuti saja! Arti tatapan mata Alva.
Dengan menghela nafas, akhirnya Juna hanya bisa mengangguk pasrah. "Baik, Tuan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore di sebuah pulau.
Siang tadi mereka tiba di pulau yang memiliki pesona lautnya yang indah. Ombak berhamburan menerjang karang, hamparan pasir putih yang halus, dan birunya air yang membuat mata berbinar tak sabar untuk menceburkan diri.
Namun, Alva tak langsung mengizinkan gadis itu untuk keluar dari villa, meski istrinya merengek terus menerus, Alva tetap dalam pendiriannya, hingga akhirnya lelaki itu menyumpal sang gadis dengan jurus ampuhnya.
Seperti janjinya, sebelum pergi, Juna sempat membelikan baju mermaid yang Chilla minta. Dengan wajah yang cerah ceria, gadis itu memakainya, lalu meminta sang suami menggendongnya hingga di tepi kolam renang.
Sebelum mengiyakan permintaan sang istri, Alva lebih dulu terkekeh, merasa gemas. Dengan hanya berbalut celana boxer, lelaki itu mengangkat tubuh Chilla yang terasa semakin berat.
Berjalan sambil sesekali mencium bibir ranum itu, hingga tepat di depan kolam.
Tanpa diduga, Alva menceburkan dirinya bersama Chilla. Gadis itu sedikit terkejut, tetapi ia mampu dengan cepat menguasai dirinya, lalu berenang kesana-kemari persis seperti mermaid di laut lepas.
"Sayang, ayo kejar aku." Ucap Chilla sambil berkedip genit, menggoda suaminya. Lalu mulai mengayuh dirinya di dalam kolam tersebut.
Tak mau kalah, Alva segera mengejar sang wanita, lalu menarik-narik ekornya, iseng.
"Sayang, nakal." Cebik Chilla, merasa kostumnya merosot, ia muncul ke permukaan, lalu mengikat rambut basahnya tinggi-tinggi membentuk cepolan.
Dari jarak cukup jauh. Alva memperhatikan gadisnya.
Chilla mengulas senyum ke arah Alva, lalu menggerakkan jari telunjuk, meminta Alva mendekat. Lelaki itu tertantang, lalu berusaha secepat mungkin bergerak ke arah sang gadis.
Lagi, sebelum Alva tiba di depannya, Chilla justru kabur sambil terkekeh, menggerakan tubuhnya menjauh dari Alva. Namun sayang, gerakannya kurang cepat, hingga tubuh mungilnya langsung terperangkap.
Alva menarik pinggang itu hingga merapat dengan tubuhnya.
__ADS_1
"Kau yang nakal, Honey." Ucap Alva langsung menyerang bibir ranum itu. Mencecap dengan buas seperti tak pernah puas.
Di dalam dinginnya air, Alva mencari pusat resleting kostum yang tengah Chilla kenakan. Tanpa melepas pagutan, ia menarik pelan hingga tubuh yang membuatnya candu itu hanya terhalang lilitan-lilitan tali bikini.
Dengan lembut Alva membuat usapan di paha Chilla naik turun. Hingga gadis itu melenguh, disela-sela pagutan yang mereka lakukan.
Alva melepas lebih dulu bibir itu, lalu berenang tepat di bawah tubuh istrinya, melepas lilitan bikini itu hingga hanyut terbawa gelombang yang mereka ciptakan.
Menyisakan tubuh polos yang terpahat dengan begitu sempurna. Alva tak berhenti berdecak kagum di dalam hati, lalu tanpa segan menyerang kembali tubuh bagian bawah sang istri.
Benda lembut yang sukses membuatnya berkabut.
"Sayang, geli." Ucap Chilla bergerak erotis. Alva menyembulkan kepalanya, menyeringai penuh arti. Dengan gerakan cepat, lelaki itu melucuti pakaiannya sendiri.
Lembut, Alva menyusuri leher putih istrinya, menyesap semakin turun, dari bahu yang terbuka hingga berlabuh di pucuk yang tengah menegang, dan terlihat semakin membesar.
Dapat Chilla rasakan, benda panjang yang sudah tegak lurus itu mengenai pangkal pahanya. Namun, sang suami masih terus membuat pemanasan, menghasilkan desaah merdu dari bibir mungilnya.
Dengan tangan menggantung di leher Alva, dan di bawah langit senja. Keduanya kembali menyatukan raga asmara penuh cinta.
Riak ombak yang mereka ciptakan menjadi saksi, sore yang panas tengah mereka arungi. Tanpa melepas penyatuan, Alva membawa tubuh mungil itu ke tepian.
Di tangga kolam, dengan tubuh yang setengahnya masih tergenang air, Alva kembali bergerak. Menggoyangkan pinggulnya dengan berputar dan menghentak dengan sangat mantap.
Chilla menggigit bibir bawahnya, nampak terlihat semakin seksi dengan juntaian anak rambut yang menghiasi wajahnya.
Kedua mata mereka saling mengunci, dengan hasrat yang membuncang, selalu ada getaran hebat, serta desiran yang menyengat.
"Aku mencintaimu, Honey. Sangat mencintaimu." Ungkap Alva di tengah gerakannya yang semakin cepat. Dan dibalas usapan lembut di tengkuknya.
Chilla menjambak rambut Alva dengan begitu manja, mulut mungilnya tak berhenti menganga, tak mampu menjabarkan kenikmatan yang ia dapat dari suaminya.
Basah, tapi tak kentara. Alva mendorong tubuh mungil itu hingga pusakanya yang terhimpit, menyentuh titik senggama istrinya. Lahar panas itu berhasil membuncah di dalam sana.
"Aku mencintaimu, Chilla."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like dan komennya, biar Dede othor makin semangat anu, eh anu🙈
__ADS_1