Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Kamu


__ADS_3

Awan tebal berjalan berarak-arak, saat matahari mulai condong ke arah barat, diiringi langit yang berubah menjadi gelap. Berganti bulan yang bertukar shift dengan sang surya, untuk menyinari dunia.


Alva dan Chilla baru saja menyelesaikan ritual mulia mereka, menjadi sepasang suami istri yang sedang berbahagia.


Keduanya keluar dari kamar mandi, setelah membilas tubuh mereka dari air kolam renang. Dengan hati-hati, Alva menurunkan Chilla dari gendongannya, dan mendudukkan tubuh itu di depan meja rias. Ia membantu mengeringkan rambut Chilla, dengan handuk kecil.


"Sayang, biar aku saja." Pinta Chilla, tetapi Alva menahan tubuh gadis itu untuk tetap menghadap ke kaca.


"Aku akan melayanimu, Ratuku. Jadi, diamlah." Alva mengibaskan handuk kecil itu dengan pelan, lalu kembali mengusak-ngusak, sedangkan Chilla yang merasa haru, hanya mampu terkekeh.


Tidak pernah, ia merasa untuk sejauh ini dapat dicintai oleh Alva, lelaki yang tak pernah pergi dari hatinya, lelaki yang selalu ada dalam otak dan pikirannya.


"Terimakasih, Daddy." Ucap Chilla menirukan suara anak kecil, mengusap lengan kekar Alva dengan mengembangkan senyum.


Senyum yang langsung menular ke diri Alva. Tak sampai disana, lelaki itu juga mengambil hairdryer yang biasa Chilla gunakan, lalu membantu sang istri memakainya.


Setelah selesai, Alva menciumi seluruh wajah Chilla penuh cinta, dan terakhir di bibir merah merona itu, Alva melumaatnya dalam lalu melepas dengan kecupan.


"Bersiaplah, malam ini kita akan makan malam di luar." Ucap Alva, kini kepalanya sudah bersandar di antara ceruk leher istrinya dan tangan yang melingkar sempurna. Menikmati pantulan wajah mereka di depan cermin.


Seketika wajah cantik yang semakin mengembang itu terlihat sumringah. "Wah benarkah?" Tanya Chilla mencari kesungguhan.


Alva mengangguk cepat. "Pakai baju hangat, supaya kau tidak kedinginan."


"Cih, tidak perlu, selagi ada Kakak, aku tidak mungkin kedinginan, Kakakkan selalu mengajakku panas-panasan." Chilla terkekeh di ujung kalimat ambigunya.


"Dasar, Mommy nakal." Alva menyentil hidung Chilla, sebelum mengaduh Alva mengecupnya lebih dulu. "Sudah sana, aku tunggu di luar."

__ADS_1


Ia yakin, jika di teruskan makan malam akan kembali gagal. Lelaki itu sudah hafal betul bagaimana hasratnya ketika bersama sang istri, setrum sedikit langsung jadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bukan di restoran mewah, atau di cafe yang mahal dan super duper wah Alva membawa gadisnya. Tetapi di tepi pantai yang terlihat sepi dan terasa hening, lelaki itu menggenggam erat tangan Chilla menuju tempat yang telah tersedia.


Tempat yang sudah dipenuhi lilin-lilin yang menyala.


Malam ini, lelaki itu menyewa seluruh pantai hanya untuk mereka berdua.


Mata gadis itu berbinar bahagia, saat Alva menarik tangannya menuju tenda kecil yang sudah dihias sedemikian rupa.



Bibir mungilnya tak berhenti untuk mengukir senyum, banyak mengucap syukur, karena Alva begitu sempurna memberinya rasa bahagia.


Air mata gadis itu tiba-tiba luruh tanpa bisa dicegah, momen mengharukan ini tidak ada dalam daftar mimpinya, tetapi Alva mewujudkannya tanpa ia duga.


Tanpa menjawab sepatah katapun, Chilla memeluk tubuh lelakinya erat, sangat erat. "Sayang terimakasih. Ini indah sekali." Ungkapnya dengan bibir yang terus bergetar. Ia tidak tahu, bagaimana lagi ia mengungkapkan buncahan hebat di dadanya.


Ini terlalu indah. Daddy memang yang terhebat ya, Nak. Apa kamu merasakannya?


"Harusnya aku yang berterimakasih. Karena kau, sudah bersedia ada di sampingku sampai sejauh ini. Aku tidak pandai berkata-kata Chilla, aku hanya mampu berusaha, melakukan sesuatu yang bisa membuatmu bahagia. Istri kecilku, aku mencintaimu." Ungkap Alva lalu mengecup puncak kepala istrinya dalam. Mengalirkan semua perasaan.


Cukup lama mereka dalam posisi itu, saling memeluk dengan penuh kasih, dan mengungkapkan kata cinta yang begitu banyak.


Setelahnya, Alva membawa Chilla untuk duduk, dan mulai makan malam romantis berdua.

__ADS_1


Ditemani semilir angin yang berhembus, api unggun kecil yang memberi kehangatan dan riak ombak yang berkejaran membawa pasir putih ke daratan.


Sepasang manusia itu terus mengukir senyum, dan melemparkan tatapan penuh cinta. Gelora hati saling menginginkan, dan debaran jantung yang terasa sama kuat. Menjadikan mereka merasa begitu sempurna.


Setelah makan malam selesai, Alva mengajak gadis itu duduk di depan api unggun kecil, menikmati kerlip bintang yang bertebaran di atas langit yang membiru, dengan saling memeluk satu sama lain.


"Sayang, apa kau suka?" Tanya Alva, mengusap lembut surai hitam itu penuh sayang. Sambil sesekali mengecupinya.


"Sangat, aku sangat suka. Aku menyukai semua yang ada disini." Ucap Chilla, mengusalkan kepalanya di dada Alva.


"Semuanya?"


"Ya, semua. Aku suka pantai ini, aku suka suara ombak yang berkejaran, aku suka bintang, aku suka api unggun. Dan terlebih aku suka kamu..."


"Melebihi apapun di dunia ini, Kakak adalah hal yang paling aku sukai."


"Hei, Alvaro Antarakna." Chilla mendongak, melihat wajah tampan suaminya. Wajah tegas dengan tatapan teduh, yang selalu membuatnya jatuh, sejatuh-jatuhnya.


"Kenapa? Kenapa memanggilku seperti itu?" Tanya Alva, tak dipungkiri, kini debaran di dadanya terasa sangat kencang. Tatapan Chilla seperti sihir yang mampu menghipnotisnya.


"Aku mencintaimu, sangat, sangat mencintaimu."


Keduanya mengulum senyum, di bawah rembulan yang bersinar terang, dan berpayung langit malam. Alva kembali memagut bibir mungil itu. Mencecapnya semakin dalam, hingga tubuh mereka berbaring di atas pasir putih yang terhampar.


Saling meneguk bulir asmara yang selalu memabukan dan selalu ingin mereka gapai.


Kamu♡♡

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa like dan komennya, biar Dede othor makin semangat anu, eh anu🙈


__ADS_2