
Hari dimana Jonathan kecil di lahirkan telah tiba, sore itu Alva meminta Juna untuk mengantarkan dirinya ke apartemen. Padahal sang Mama telah memintanya untuk pulang, agar bisa datang bersama dari rumah.
Namun, putra kesayangannya tak mengindahkan permintaannya. Alva hanya meyakinkan Mona, bahwa ia pasti akan datang ke acara sang ayah.
"Jun, kau sudah menyiapkan semuanya dengan baikkan?" Tanya Alva begitu mobil itu baru saja keluar dari perusahaan.
"Sudah Tuan," balas Juna, ia sedikit melirik kaca spion. Melihat ekspresi Alva yang sama sekali tidak memancarkan gairah seperti biasanya.
Lelaki itu hanya sesekali mendesah pelan, seolah merasa tak nyaman. Hingga tak berapa lama kemudian, akhirnya mata yang kerap menyalak tajam itu terpejam.
Sepertinya Tuan sedang ada masalah.
Mobil yang di kendarai Juna melandas dengan kecepatan sedang, beruntungnya mereka pulang sebelum jam macet, jadi perjalanan mereka terlihat lancar.
"Tuan, kita sudah sampai," ucap Juna ketika mobil itu sukses menepi, dilihatnya sang bos masih betah dalam posisinya.
"Tuan,"
Sudah beberapa kali Juna membangunkan dengan suara, tetapi Alva tak kunjung membuka mata. Dengan berani akhirnya Juna menyentuh bahu bosnya.
Alva tersentak kaget, lalu mulai mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, untuk menyesuaikan cahaya.
Tubuhnya terasa hangat, apa dia sakit yah?
"Ada apa Jun?" Tanya Alva dengan suara lemah.
"Kita sudah sampai Tuan,"
"Hemm,"
Alva meregangkan otot-otot tubuhnya dan segera bangkit, keluar dari dalam mobil dan melangkah meninggalkan Juna. Namun, baru beberapa langkah, Juna kembali memanggilnya.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" Tanya Juna khawatir. Sudah beberapa hari ini, kondisi Alva memang terlihat memprihatinkan.
Tanpa menoleh Alva menjawab, "Aku baik-baik saja, kau boleh pulang,"
Lelaki itu kembali meneruskan langkah, sedangkan sang asisten masih terus menatapnya, hingga punggung itu menghilang dari pandangan mata.
******
Sebelum pulang, Juna berniat mampir ke supermarket untuk membeli kebutuhan dapur yang sudah kosong melompong, sesuai permintaan sang ibu yang telah tertulis didalam pesan.
Begitu melihat supermarket terdekat, Juna langsung menepikan mobilnya. Saat ia ingin membuka pintu, sang ibu menelpon, sepertinya ada lagi yang akan wanita tua itu titipkan kepadanya.
Dengan cepat, Juna merogoh benda pipih itu dari dalam saku jasnya.
"Apalagi Ma?" Tanya Juna, tanpa melihat sekitar ia membuka pintu mobil.
Jeduk!
__ADS_1
"Aw!" Pekik seseorang diluar sana.
Juna sedikit melongokkan kepala, tetapi tidak ada siapa-siapa. Hingga akhirnya ia keluar, dan menutup pintu mobil dengan santai.
"Iya-iya, yasudah ini Juna sudah sampai," ucapnya lagi, tanpa tahu ada sepasang mata merah, yang tengah menatapnya kesal.
Bahkan mulutnya sudah gatal ingin memaki.
Gadis itu bangkit dari posisinya, keningnya terasa berdenyut, sakit luar biasa, karena terbentur oleh pintu mobil yang dibuka tiba-tiba oleh Juna.
Bugh!
"Dasar pria sialan!" Makinya pada Juna.
Laki-laki itu langsung menoleh, begitu dirinya mendapat pukulan serta makian secara bersamaan.
Dilihatnya seorang gadis yang pernah di temuinya dulu, berdiri dengan kening yang sedikit membiru.
Oh shittt! Sepertinya ini akan menjadi hari kesialan lagi untuknya.
Menyadari itu, darah sang gadis semakin mendidih. Cuping hidungnya kembang kempis, rasanya ingin mencakar wajah Juna sampai habis.
"Oh ternyata kau lagi, kenapa aku selalu sial sih jika bertemu denganmu, lihat! keningku sakit. Itu karena kau tidak hati-hati," keluhnya dengan berapi-api.
"Hei, kenapa kau menyalahkan aku? Kau ini punya mata, seharusnya kau berjalan sambil melihat," elak Juna tak ingin disalahkan.
Gadis itu meremat tangannya geram, "Kali ini aku benar-benar minta double ganti rugi,"
"Dasar tidak berperikemanusiaan, kau ini sudah melukaiku, harusnya kau bertanggung jawab, lelaki macam apa kau ini sebenarnya hah?"
"Aku mau bertanggung jawab, tetapi bukan berarti kau bisa seenaknya padaku,"
"Seenaknya bagaimana, aku hanya meminta uang kecil tetapi kau tidak menyanggupinya, kali ini aku minta 10 juta,"
"Dasar gadis gila!" Juna ikut memaki, tak habis pikir, bagaimana cara kerja otak gadis didepannya.
"Aku akan bertanggung jawab, tetapi dengan caraku sendiri,"
Sejurus kemudian, Juna menarik paksa lengan gadis itu untuk masuk kedalam mobil, tak menggubris meskipun gadis itu meronta-ronta minta dilepaskan.
"Diam!" Pekiknya.
"Lepas!"
"Diam!"
"Aku tidak mau, kau pasti mau menculikku kan?" Tuduhnya.
"Ah atau jangan-jangan kau mau memperkosaku? Ya Tuhan, tolong lindungilah aku dari manusia bejatt seperti ini," Gadis itu kembali meronta.
__ADS_1
"Kau bisa diam tidak?" Pekikan Juna semakin meninggi.
Hingga membuat gadis itu tersentak, dan nyalinya menciut seketika, tiba-tiba wajah Juna jadi terlihat menyeramkan sekali di matanya, hingga akhirnya dia diam tak berkutik, bahkan tak sedikitpun mengeluarkan suara.
Juna segera menyusul, duduk di kursi kemudi dan memutar arah, matanya dengan jeli memindai setiap tempat yang ia lewati.
Dan saat tempat yang ia tuju dapat ia temukan, mobilnya langsung mengerem, dan Juna langsung melangkah keluar.
Meninggalkan sang gadis yang diselimuti tanda tanya. Sejujurnya, ia memang tidak beranggapan bahwa Juna adalah orang jahat, tetapi ia juga harus tetap hati-hati, karena kita tidak pernah tahu kapan bahaya akan datang menghampiri.
Setelah berapa lama kemudian, Juna kembali, membuka pintu yang didalamnya ada sang gadis yang dari tadi masih membisu.
"Keluarlah," pinta Juna dengan nada melunak.
Tanpa protes gadis itu menurut, mengikuti langkah Juna yang kini mendekat ke arah kursi yang ada didepan apotek. Keduanya duduk berdampingan, tetapi gadis itu seolah memberi jarak.
Juna mengambil salep pereda nyeri dari dalam plastik, membukanya dan meminta gadis itu untuk sedikit mendekat.
Tetapi gadis itu hanya diam, hingga akhirnya tubuh Juna lah yang bergeser.
Juna menyibak poni gadis itu, dengan telaten lelaki itu mengoles salep di dahi sang gadis yang terlihat semakin membiru. Gadis itu meringis, tetapi beberapa saat kemudian dahinya terasa dingin. Karena Juna kini sedang meniupnya.
Dalam posisi sedekat ini, gadis itu mampu merasakan aroma tubuh Juna yang masuk ke rongga hidungnya, dan tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan cepat. Seolah ada getaran yang mendebarkan. Ini aneh!
"Sudah," ucap Juna.
Namun gadis itu justru memegangi dadanya yang terasa ingin meledak.
"Kau kenapa?" Tanya Juna heran. Menelisik gerakan gadis disampingnya dengan seksama.
"Aku, aku tidak apa-apa." Balasnya salah tingkah. Cuping telinganya memerah, malu.
Bibir Juna berkedut, menatap lucu makhluk yang suka sekali marah-marah, tiba-tiba berubah jadi salah tingkah.
"Apa kau mulai terpesona padaku?" Tanya Juna menggoda.
Mendengar itu, mode galak sang gadis kembali menyala.
"Cih, jadi kau memikat wanita dengan cara seperti ini?"
Rasa jedag-jedug itu ambyar seketika. Saat gadis itu mengingat siapa lelaki didepannya, ia tidak boleh terperangkap dalam tipu muslihat Juna.
Karena ia yakin, kalau ini hanyalah taktik seorang buaya darat untuk menaklukkan para wanita.
"Maaf, caramu tidak mempan!" Cetus sang gadis lalu mulai melangkah pergi, dengan bibir yang terus menggerutu.
Bahkan ia melupakan uang ganti rugi yang ingin ia tagih sedari tadi, ini semua gara-gara jantungnya yang mudah sekali terprovokasi.
Sial!
__ADS_1
******